[Editorial] Islam Kafah Kunci Keluarga Samawa

MuslimahNews.com, EDITORIAL — Gagasan moderasi Islam begitu gencar diaruskan hingga masuk dalam ranah hukum-hukum keluarga muslim. Bahkan muncul narasi baru, bahwa potret keluarga ideal dan samawa adalah keluarga yang menerima nilai-nilai Islam moderat.

Dalam situs Kemenag disebutkan bahwa keluarga yang moderat adalah keluarga yang bisa memperlihatkan prinsip dan batasan dalam moderasi beragama. Keluarga tersebut menjalankan konsesus bersama, bahkan dimulai sejak akad nikah yang prosesnya didaftarkan dan dicatatkan di KUA.

Dengan definisi ini, maka profil keluarga moderat digambarkan sebagai keluarga yang selalu menjunjung tinggi nilai perbedaan (inklusif) dan toleran. Juga menghargai nilai-nilai kemanusiaan, menjaga ketertiban umum dan lingkungan masyarakat secara luas berdasarkan nilai-nilai kemaslahatan.

Dengan demikian penerapan prinsip-prinsip Islam yang mereka sebut “kaku” atau skriptualis, baik dalam pola relasi antar anggota keluarga, maupun dalam hubungan mereka di tengah masyarakat dipandang sebagai ketakidealan. Bahkan dianggap sebagai biang problem yang harus dihilangkan.

Tentu saja bagi kalangan feminis munculnya gagasan ini seakan menjadi angin segar. Karena moderasi Islam sangat sejalan dengan gagasan yang mereka perjuangkan. Yakni mengubah hukum keluarga muslim yang dianggap melegitimasi ketimpangan, menjadi terbuka pada prinsip kesetaraan yang lahir dari prinsip kemaslahatan.


JIKA dicermati, gagasan memoderasi keluarga muslim sesungguhnya bukan gagasan yang tunggal. Gagasan ini lahir bersamaan dengan pengarusan gagasan moderasi Islam yang didukung penuh oleh lembaga internasional PBB dan negara adidaya, khususnya Amerika.

Adalah Rand Corporation, lembaga think tank Amerika yang menggagas proyek Building Moderate Muslim Network di dunia Islam. Proyek ini dianggap sebagai strategi jitu untuk membangun dan melanggengkan kepemimpinan Amerika atas dunia tanpa menimbulkan hal-hal yang kontraproduktif bagi tampilan wajah bopeng Amerika sendiri.

Maklum, sebelumnya Amerika telanjur menggagas sebuah strategi yang seiring waktu justru berbalik merugikan dirinya sendiri. Yakni proyek perang global melawan teror yang digunakan untuk menekan negara-negara lemah, sekaligus memberangus potensi kekuatan Islam yang mulai menggeliat di mana-mana.

Baca juga:  Islam Kaffah Solusi Krisis Multidimensi

Dengan proyek ini Amerika benar-benar tak mampu menutup ambisinya menjadi penguasa dunia. Bahkan semua aksi serangan dan kisah-kisah terorisme kelas dunia makin dipercaya sebagai rekayasa. Semata demi melegitimasi tindakan Amerika memimpin perang salib baru pada umat yang mulai merindukan kepemimpinan Islam.

Wajar jika kebencian yang dia harapkan akan tertuju pada Islam dan para pengusungnya justru berbalik tertuju padanya. Bahkan pergerakan Islam ideologi makin mendapat tempat di tengah umat dan ajaran Islam kian dipercaya bisa menjadi ideologi alternatif untuk menggantikan kapitalisme global yang terbukti hanya melahirkan kerusakan dan melanggengkan penjajahan.

Maka dari itulah muncul rekomendasi baru berupa narasi perang global melawan radikalisme. Yang tohokannya bukan hanya pada gerakan Islam saja, tapi juga pada pemikiran-pemikiran Islam ideologis yang dipandang berbahaya karena mulai diterima oleh umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.


CARA yang direkomendasikan adalah dengan melibatkan para penguasa muslim dan kelompok-kelompok masyarakat yang bisa dirangkul untuk membangun tradisi keberagamaan baru. Yakni tradisi Islam moderat atau sekuler yang mau menerima nilai-nilai Barat seperti sekularisme, pluralisme, liberalisme dan relativisme. Lalu di saat yang sama diharapkan mampu menggeser paham Islam ideologis dan kelompok pengusungnya yang berpotensi memimpin kebangkitan Islam.

Itulah target proyek Building Moderate Muslim Network yang dijalankan Amerika atas rekomendasi Rand Corporation. Yakni agar umat Islam kian terjauhkan dari sumber kekuatannya berupa pemahaman Islam ideologi. Lalu mereka pun dipecah belah berdasar pemahaman mereka terhadap Islam.

Tak heran di negeri-negeri Islam, termasuk Indonesia, kian marak kasus-kasus konflik internal umat Islam. Di mana serangan terhadap gagasan Islam kafah atau Islam ideologi terus masif dilakukan kalangan Islam moderat. Mereka terus menyerang dan mem-bully kelompok yang dikategorikan radikal atau fundamentalis, seraya mengopinikan bahwa Islam ideologilah biang perpecahan, biang kekacauan, dan biang praktek intoleransi yang menjadi pintu masuk aksi-aksi teror dan radikal di tengah umat.

Baca juga:  Memelihara Alquran

DENGAN demikian jelaslah bahwa gagasan moderasi Islam memang sengaja diaruskan di tengah situasi di mana Islam kian dipojokkan sebagai pihak tertuduh. Mereka seolah ingin menuding bahwa ajaran Islam adalah biang teror dan radikalisme. Sehingga pemahaman Islam harus diubah sesuai yang mereka inginkan.

Dua narasi ini (terorisme dan radikalisme) dibuat sedemikian rupa hingga menjadi hantu yang menakutkan. Semua komponen masyarakat, termasuk keluarga, perlu dipastikan bebas tak terpapar. Seakan-akan Islam kafah adalah sumber kekerasan dan kekacauan.

Pesantren, pengajian, masjid, dan rohis lalu dituding sebagai sumber calon para teroris. Hingga dibuatlah proyek-proyek moderasi di dunia pesantren, majelis taklim, sekolah, dan lain-lain. Arah pendidikan dan kurikulum pun diubah sedemikian rupa, hingga bebas dari nilai-nilai Islam kafah dan berganti dengan nilai-nilai Islam moderat.

Setelah menggarap pesantren, masjid, pengajian, dan rohis, giliran keluarga yang dituding bisa menjadi pabrik terorisme. Dalih yang dipakai adalah kasus bom Surabaya dan kasus-kasus teror yang melibatkan kaum perempuan, milenial, dan anak-anak.

Mereka menuding bahwa penanaman Islam yang saklek dalam keluarga merupakan biang munculnya pemahaman yang eksklusif dan intoleran, bahkan memicu tindakan radikal. Sehingga muncullah narasi soal pentingnya menanamkan pemahaman Islam moderat dalam keluarga. Termasuk menciptakan keluarga moderat sebagai profil keluarga ideal dan samawa.


PERTANYAANNYA, mungkinkah keluarga sakinah mawadah wa rahmah tercipta dengan konsep Islam yang dimandulkan sesuai keinginan Amerika? Yakni Islam yang ramah dan toleran terhadap nilai Barat, menerima sekularisme, demokrasi, dan kebebasan yang justru menjadi sumber berbagai kerusakan?

Bukankah syariat Islam kafah adalah syariat yang Allah berikan agar mereka bisa meraih kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat? Bahkan bukan hanya umat Islam saja yang akan mendapat kebaikan, karena syariat Islam adalah rahmat bagi alam semesta!

Allah Swt. berfirman,

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya: 107)

Baca juga:  Meneladani Nabi Muhammad saw. dalam Membangun Negara

Yang justru harus diluruskan adalah fitnah-fitnah yang sengaja dilontarkan kepada ajaran Islam ideologi atau Islam kafah. Bukan malah menerima tudingan Amerika bahwa Islam ideologis atau Islam kafah adalah biang penderitaan dan kekacauan atas dunia. Karena bukankah semua krisis yang terjadi hari ini dan dirasakan oleh masyarakat dunia justru berlangsung saat Islam tidak diterapkan sebagai sistem hidup?

Maka jelas bahwa gagasan moderasi Islam, termasuk gagasan membangun keluarga muslim moderat, bukan bertujuan untuk kebaikan umat sebagaimana narasi yang dimunculkan. Gerakan ini sebetulnya hanya merupakan sekuel baru dari proyek-proyek liberalisasi keluarga muslim yang sudah berlangsung sejak lama dan dilancarkan kekuatan kapitalisme global untuk melanggengkan penjajahan.

Targetnya adalah memastikan agar keluarga muslim sebagai benteng terakhir umat Islam benar-benar hilang kekuatan. Dengan demikian tak ada lagi benih-benih perlawanan yang bisa menggoyahkan hegemoni kapitalisme yang kian menggurita dan mengglobal.

Umat semestinya menyadari bahwa justru dengan Islamlah mereka akan dimuliakan. Sebagaimana sejarah mencatat bahwa saat Islam menjadi sistem kehidupan mereka mampu tampil sebagai kekuatan di dunia.

Bahkan lahir dari keluarga-keluarga muslim sosok-sosok generasi terbaik yang memahami visi penciptaan mereka di muka bumi. Yakni sebagai hamba Allah yang mengabdi sebagai pemakmur bumi. Hingga saat Islam diterapkan, belasan abad kaum muslim tampil sebagai pionir peradaban.

Ya, Islam adalah ajaran yang pas bagi kehidupan manusia sekaligus pas bagi peradaban dunia. Hukum-hukumnya yang terkait individu, keluarga, masyarakat maupun bernegara, semuanya akan membawa kemaslahatan dan samawa hakiki yang dibutuhkan oleh seluruh manusia. Bukan hanya oleh sebagian manusia.

Maka jika ada yang berpikir bahwa ada syariat Islam yang berbahaya, atau tak pantas mengatur dunia, jelas mereka termasuk sesesat-sesatnya manusia. Sadar atau tidak, mereka telah menjadi antek penjajah yang menginginkan keburukan tetap menimpa Islam dan umatnya. Na’udzubillaah. [MNews/SNA]

Tinggalkan Balasan