Al-Ustadz Hafizh Shalih, Berdakwah di Enam Negara


Penulis: M. Ali Dodiman*


MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Farid Shalih adalah nama lain dari Syekh Hafizh Shalih. Beliau lahir di sebuah desa di Palestina. Penulis tidak mendapatkan data lengkap kelahiran beliau, baik tanggal, bulan, maupun tahunnya.

Riwayat Akademisnya

Beliau pada masa kecilnya menyelesaikan sekolah dasar dan kemudian pergi meninggalkan sekolahnya untuk mulai bekerja.

Beliau telah bekerja di desanya di kota Haifa. Kemudian pindah untuk bekerja di Kuwait pada awal tahun lima puluhan.

Lulus dari sekolah tinggi pada akhir tahun enam puluhan di Yordania. Beliau menerima gelar sarjana dan gelar master di bidang Studi Islam dari Pakistan, pada pertengahan tahun delapan puluhan.

Kehidupan Sosial

Rasulullah saw. pernah bersabda, “Nikahilah oleh kalian perempuan-perempuan yang penuh kasih sayang dan banyak anak.”

Di negeri kita, para Kyai atau ulama yang banyak mengamalkan hadis ini. Namun pada dasarnya, siapa pun dapat mengamalkannya.

Hadis ini merupakan dorongan dari Nabi saw. karena kelak beliau saw. akan membanggakan umatnya di hadapan umat-umat lainnya di akhirat kelak.

Nah, dalam hal ini syekh Hafizh Shaleh termasuk yang memiliki banyak anak. Beliau menikah dan dikaruniai oleh Allah dua belas anak, laki-laki dan perempuan.

Beliau memiliki tiga puluh empat cucu, 16 laki-laki dan 18 wanita. Beberapa anak dan cucunya merintis sebuah forum di situs khusus yang mempublikasikan karya-karyanya.

Kehidupan Politiknya

Beliau mengemban dakwah sejak tahun lima puluhan. Karena aktivitas dakwahnya, beliau sering meninggalkan orang tua dan anak-anaknya yang mengkhawatirkannya.

Syekh Hafizh Shalih beraktivitas dakwah di Irak, Yordania, Lebanon, Mesir, Pakistan, dan Tunisia.

Dipenjara di Yordania pada tahun 1969 dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Di Irak pun pernah dipenjara pada masa pemerintahan Abdul Ilah, Abdul Karim Qasim, Ahmad Hasan al-Bakar dan Saddam Husein.

Beliau pun dipenjara di Mesir pada era Anwar Sadat, dikejar oleh otoritas Bourguiba maupun oleh Intelijen Hafez al-Assad di Suriah (Syria).

Semua rezim pemerintahan ini, ingin memisahkan antara Syekh Hafizh Shalih dari aktivitas mengemban dakwah dan membangkitkan umat, bahkan ingin memisahkan antara dirinya dan kehidupan (baca: menghilangkan nyawa) beliau.

Namun, pelajaran dari semua ini, bagi yang memiliki penglihatan dan akal, beliau tetap masih hidup meskipun ia dikejar-kejar Abdul Ilah, Abdul Karim Qasim, Anwar Sadat, dan rezim lainnya.

Baca juga:  Syekh Yusuf Ahmad Mahmud as-Sabatin (Abu Izz), Imam Keluarga Pengemban Dakwah (1928—2005)

Wilayah Dakwah Syekh Hafizh Shalih

Beliau mengemban dakwah di Tepi Barat dan Irak di tahun enam puluhan, dan kemudian kembali ke Yordania.

Kemudian pindah ke Mesir pada masa Anwar Sadat beliau bekerja di sana sampai akhirnya dipenjara.  Beliau kembali ke Yordania dan Irak di era Ahmad Hasan Al-Bakr beliau pun dipenjara dan setelah bebas beliau kembali ke Yordania.

Dari Yordania beliau keluar secara sembunyi-sembunyi ke Lebanon. Sebagian besar perjalanan yang dilakukannya tersebut tidak disertai paspor, akan tetapi beliau menyamar dengan nama lain.

Syekh Hafizh Shaleh pernah tinggal di Lebanon bersama Syekh Taqiyuddin an-Nabhani—rahimahullah —tidak lebih dari tiga tahun sampai syekh Taqiyuddin an-Nabhani meninggal.

Kemudian beliau tinggal sebentar bersama Syekh Abu Yusuf (Abdul Qadim Zallum), lalu pindah ke Tunisia, di mana mereka—syabab di Tunisia—menyebutkan kepada kami (anak cucu beliau) bahwa ia memegang lebih dari empat puluh kelompok kajian usbu’iyyah/mingguan (mungkin selama beliau di Tunisia, bukan selama seminggu).

Beliau meninggalkan Tunisia kembali ke Lebanon dan kemudian ditugaskan ke Pakistan, di mana beliau menghabiskan waktu selama dua tahun dan kemudian kembali ke Lebanon.

Setelah menjalani berbagai perjalanan tersebut kemudian mulai kesehatannya memburuk dan terkena stroke hingga mengalami lumpuh.

Setelah itu, beliau memutuskan untuk kembali menjalani kehidupannya di Yordania. Beliau kembali ke Yordania sejak akhir tahun 90-an hingga Allah mewafatkan beliau.

Keluarga Besar Pengemban Dakwah

Menurut keluarganya, mereka bersaksi bahwa Syekh Hafizh Shalih memandang dan menganggap dirinya sebagai keluarga besar pengemban dakwah syariah dan Khilafah.

Setiap orang yang lebih tua darinya ia anggap pamannya, mereka yang sebaya sebagai saudaranya, dan semua yang lebih muda adalah anaknya.

Siapa pun yang suatu hari sejalan dengan pemikiran ini maka baginya akan dianggap sebagai paman, saudara, atau anak oleh Syekh Hafizh. Tidak ada perbedaan antara mereka di mana pun mereka tinggal atau pindah.

Inilah barangkali salah satu bentuk perhatian beliau terhadap para pengemban dakwah yang sama-sama sedang berjuang melanjutkan kehidupan Islam.

Beliau akan menganggapnya sebagai keluarga besar pengemban dakwah syariah dan Khilafah.

Karya-karya Syekh Hafizh

Karya beliau yang dicetak dalam bentuk buku antara lain:

  1. Ad-Dimuqrathiyyah wa Hukmu al- Islam Fiiha (Hukum Islam atas Demokrasi). Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Mengadili Demokrasi” yang diterbitkan oleh Pustaka Thariqul Izzah, Bogor, tahun 2005.
  2. An-Nahdhah (Kebangkitan). Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Falsafah Kebangkitan” yang diterbitkan oleh Idea Pustaka, Bogor, tahun 2003.
  3. Minhaj al Qur’an al Kariim fi ad Da’wah (Metode Al Qur’an Al Kariim dalam Dakwah). Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Metode Dakwah Al-Qur’an” yang diterbitkan oleh Al Azhar Press, Bogor, tahun 2003.
  4. Nazharat Da’iyah fi as Suwar al Makiyah (Diterbitkan oleh Daar an Nahdhah dan Daar al Qahirah tahun 1994-1995, cetakan pertama)
  5. Nazharat Da’iyah fi as Suwar al Madaniyah.

Syekh Hafizh Shalih mempunyai kumpulan puisi yang direvisi beberapa hari sebelum beliau wafat. Ada beberapa puisinya yang dicetak namun disepakati oleh keluarga beliau hanya dijadikan koleksi khusus keluarga dan tidak untuk dipublikasikan.

Baca juga:  Syekh Yusuf Ahmad Mahmud as-Sabatin (Abu Izz), Imam Keluarga Pengemban Dakwah (1928—2005)

Syekh Hafizh Shalih juga memiliki koleksi buku-buku yang belum diterbitkan, antara lain:

  1. Syarhu Kitabi at Takatul (Penjelasan Buku Takatul) akan tetapi sayangnya hilang di tangan penerbit yang akan menerbitkannya dan dua buah buku yang tidak diketahui judulnya juga hilang.
  2. Sebuah buku berjudul Shukhur ‘Ala Ath-Thariq yang rencananya akan dipublikasikan oleh keluarganya.
  3. Beliau juga telah memulai menulis buku untuk menanggapi wacana mengenai mengangkat senjata dalam mendirikan Khilafah dan membangkitkan umat. Akan tetapi beliau belum dapat menyelesaikannya kecuali bagian pendahuluannya. Beliau lebih dulu meninggal dunia.

Al-Qur’an Menurut Syekh Hafizh

Syekh Hafizh memiliki pandangan yang spesifik terhadap Al-Qur’an. Beliau memandang bahwa Al-Qur’an harus dijadikan sebagai sumber pegangan para aktivis gerakan dalam berdakwah.

Terutama dari segi metode dan tahapan-tahapan yang harus ditempuh. Pandangan syekh Hafizh ini tertuang dalam kitab Nahju al’Qur’an fi Ad-Da’wah.

Berikut ini seruan syekh Hafizh pada Bab I tentang Al-Qur’an:

“Karena itu, saya menyerukan secara terbuka kepada ulama umat ini, kalangan intelektual, para pemuka (masyarakat), para pemimpin partai agar mereka memberikan perhatian besar pada permasalahan ini, serta mengkaji ulang sirah (nabi Muhammad saw) yang agung dengan perspektif Al-Qur’an al-Kariim, agar sirah tersebut dipahami sebagai strategi dakwah dan metode tertentu yang baku untuk mengembalikan pemerintahan kaum muslimin dan melanjutkan kembali kehidupan Islam serta mengemban risalah Islam ke seluruh dunia, sama persis seperti tata cara yang telah ditempuh oleh Rasulullah saw. dan selamat dari keterperosokan ke dalam perkara yang diharamkan, seperti yang menimpa sebagian kalangan.”

Baca juga:  Syekh ‘Adil ‘Ali asy-Syuruf, Aktivis Dakwah, Pemikir Politik, dan Ahli Hadis

Berdasarkan kajian Syekh Hafizh terhadap ayat-ayat Makiyah, maka karakter dakwah dan fase yang ditempuh Rasulullah saw. dipaparkan oleh syekh Hafizh sebagai berikut:

“Siapa saja yang ingin terikat dengan metode Al Qur’an dan metode Rasulullah saw., dia wajib menempuh tata cara yang sama, yang telah ditempuh oleh Rasulullah saw.:

Pertama, menjelaskan ajaran yang dibawanya dengan menjelaskan akidahnya; baik keseluruhan maupun bagian-bagiannya, dasar-dasar dan derivatnya, sambil menyeru daya intelektualitas manusia.

Kedua, menunjukkan kesalahan pemikiran yang rusak dan akidah yang batil seperti: ateis, syirik, dan kekufuran.

Ketiga, membeberkan, menyerang, menentang (pemikiran kufur para tokoh/pemimpin).

Keempat, menjelaskan berbagai kerusakan yang ada di tengah masyarakat dan segala macam interaksinya.

Kelima, menyiapkan anggota untuk memimpin umat yang memiliki aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap) yang islami.”

Wafatnya Syekh Hafizh

Syekh Hafizh Shaleh meninggal sesuai keinginan dan harapannya. Beliau menginginkan agar kematiannya tidak menyulitkan siapa pun.

Allah Swt. memberikan kepadanya apa yang ia inginkan sehingga kematiannya tidak dirasakan oleh anaknya yang duduk berbicara dengannya. Beliau meninggal dalam keadaan hatinya yang sedih atas penghancuran Irak hingga menjadi negara termiskin yang membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Sebagaimana beliau katakan dalam pendahuluan buku barunya, yang belum tuntas.

Beliau mengatakan bahwa ia melihat kesehatannya tidak memungkinkannya beraktivitas dan bergerak mengemban dakwah. Maka, beliau memutuskan untuk menulis, yang mudah-mudahan dengan demikian beliau dapat menjalankan sebagian dari kewajiban beliau.

Demikian besar perhatian beliau terhadap dakwah ini, sehingga dalam kondisi sakit pun beliau berusaha menyumbangkan pemikirannya dalam dakwah dengan melalui bukunya.

Kesabaran dalam menjalani konsekuensi dakwah hingga harus keluar masuk penjara, ketaatannya dalam menerima tugas ke berbagai negara meskipun harus meninggalkan anak cucunya, akan menjadi ibrah bagi penerus perjuangannya.

Semoga Allah mengampuni beliau, menerima seluruh amalnya dalam mendakwahkan kembalinya kehidupan Islam melalui tegaknya Khilafah.

Semoga Allah Swt. menempatkannya bersama para nabi, shidiqiin, dan orang-orang saleh. Amiin. [MNews/SNA-Juan]

*Penulis buku Memoar Pejuang Syariah dan Khilafah, Al-Azhar Fresh Zone Publishing, 2012

Tinggalkan Balasan