Resensi Buku

[Resensi Buku] Islam, Mengembalikan Pemberdayaan Perempuan dalam Bingkai Ketakwaan

Judul buku: Revisi Politik Perempuan (Bercermin pada Shahabiyat ra.)


Peresensi: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si. (Koordinator LENTERA)

MuslimahNews.com, REVISI BUKU — Buku Revisi Politik Perempuan (Bercermin pada Sahabiyat ra.) diterbitkan pada tahun 2003. Buku ini ditulis oleh dua orang penulis, yakni Najmah Saiidah dan Husnul Khatimah. Diterbitkan oleh Idea Pustaka, dengan editor Arief B. Iskandar.

Buku ini terdiri dari lima bagian, yakni : 1) politik perempuan, feminisme, dan logika demokrasi; 2) politik kaum feminis di dunia Islam; 3) perempuan, politik, dan kekuasaan dalam Islam; 4) ekspresi politik muslimah dalam koridor Islam; 5) aktivitas politik para shahabiyat.

Merujuk tahun terbitnya, fakta-fakta yang dikritisi oleh buku ini memang perlu diperbarui. Terlebih, fakta sekularisasi perempuan di seluruh dunia saat ini sudah makin radikal. Namun demikian, konsep kritik yang diusung oleh kedua penulis, masih relevan sebagai pilar pembahasan. Karena itu, meski di satu sisi buku ini membutuhkan revisi, namun keberadaannya tetap patut diperhitungkan untuk meluruskan mindset sekuler kaum perempuan di era digital ini.

Menilik isinya, buku ini mengandung kritik penuh pada ide feminisme. Yang mana, di satu sisi feminisme berslogan bahwa para pengusungnya berperan memperjuangkan nasib perempuan. Tapi kenyataannya, upaya mereka itu hanya sekadar tambal sulam (pragmatisme) dari tiap masalah yang timbul dari arus sekularisasi.

Namun di sisi lain, kaum feminis juga begitu populer sebagai pihak yang senantiasa menyerang Islam. Mereka menganggap Islam sebagai aturan yang kolot dan kaku. Mereka juga menuding bahwa Islam mengekang bahkan merendahkan kaum perempuan.

Syariat menutup aurat, mereka katakan mengekang. Syariat poligami, mereka sebut merendahkan perempuan. Syariat keharaman pemimpin perempuan, malah mereka perjuangkan sebagai jalan politik demi kesetaraan dengan laki-laki.

Baca juga:  Dampak Merusak Feminisme dan Kesetaraan Gender terhadap Pernikahan, Peran Keibuan, dan Kehidupan Keluarga

Tapi ketika terjadi pelanggaran hak asasi manusia dari sisi kaum muslimah yang ingin taat pada ajaran agamanya, ternyata kaum feminis mendadak kehilangan kelantangan suara perjuangan. Padahal, hak beragama juga menjadi salah satu jargon kebebasan produk demokrasi, sebagai sistem yang turut melahirkan ide feminis. Ini bukti nyata, bahwa feminis takkan mungkin berpihak pada konsep selain sekularisme. Mereka sungguh telah sesat logika menyikapi problematik perempuan.

Mereka berstandar ganda sesuai kepentingan yang berlaku, bukan tulus ikhlas berpijak pada argumentasi yang benar untuk membela kaum perempuan. Tak pelak, feminis pun sejatinya tak punya argumentasi baku untuk tetap mengibarkan ide-ide kufurnya.

Sayangnya, sebagian kalangan yang mengklaim diri sebagai kelompok moderat atau feminis muslim, malah menerima tudingan ini dengan sikap apologetik. Alih-alih menunjukkan bagaimana sejatinya syariat Islam memuliakan perempuan, dan betapa politisnya peran dan fungsi perempuan dalam masyarakat Islam, mereka malah menggulirkan gagasan reinterpretasi nash-nash syariat Islam agar sesuai dengan yang mereka inginkan. Padahal, menurut penulis buku ini, metoda tafsir yang mereka gunakan sangat jauh dari kebenaran.

Belum lagi untuk di Indonesia sendiri, ada sosok RA Kartini yang selama ini telah “dibajak” profil dan sejarahnya, hingga beliau dikesankan sebagai pejuang pelopor emansipasi perempuan. Kendati pembelaannya kepada pencerdasan kaum perempuan tak diragukan, namun sungguh tidak semata-mata seperti itu. RA Kartini memiliki dimensi lain dari perjalanan hidupnya yang kemudian memengaruhi arah pandangnya terhadap kehidupan.

Meski tidak banyak literatur yang menceritakan pertemuan antara Raden Ajeng (RA) Kartini dengan sosok ulama besar KH Muhammad Shaleh bin Umar Assamarani atau Kyai Sholeh Darat. Namun, kisah pertemuannya dengan ulama penyusun kitab tafsir Faid Al-Rahman tersebut mengubah pandangannya terhadap Islam.

Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Di sinilah momentum titik balik ke-Islaman seorang Kartini. Pandangannya tentang Barat (Eropa) pun berubah. Ini mulai tampak dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, “Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah!”

Baca juga:  ABG Bunuh Bocah dan Rapuhnya Ketahanan Keluarga Indonesia

Juga suratnya tanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon, “Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami! Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban! Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan!”

Demikian pula suratnya kepada Ny Abendanon lagi yang bertanggal 1 Agustus 1903, “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah SWT!”

Andai mau adil dan berpikir benar, sejatinya problematik perempuan di era kapitalis, membutuhkan solusi tuntas dibandingkan sekadar solusi pragmatis milik feminis. Ibarat kata, jika payung hukum saat ini rusak (akibat berlandaskan sekularisme), maka semestinya pakailah payung hukum baru yang menjamin awet dan kokohnya payung hukum tersebut untuk masa penerapan hingga akhir zaman.

Payung hukum sepanjang zaman itu tak lain adalah sistem Islam yang berasal dari Sang Khalik. Yang oleh karenanya, Islam sudah pasti sesuai dengan fitrah perempuan sebagai manusia ciptaan-Nya, sehingga Islam pasti memberikan solusi tuntas bagi problematik perempuan.

Dengan demikian, melalui buku ini, pembaca diarahkan untuk merevisi mindset dan definisi politik Islam perihal peran kaum perempuan. Bahwa perempuan dan laki-laki diciptakan oleh Allah SWT beserta masing-masing peran mereka. Firman Allah SWT : “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (TQS At-Taubah [9] : 71).

Baca juga:  Cara Khilafah Melindungi Perempuan

Mereka diciptakan bukan untuk saling menyaingi, melainkan saling melengkapi. Laki-laki diwajibkan menjadi sosok penanggung jawab dan pencari nafkah keluarga sebagai peran politiknya. Perempuan diwajibkan sebagai ummun wa robbatul bayt (ibu dan pengatur rumah tangga) sebagai porsi utama bagi peran politiknya. Mereka memiliki porsi dan fitrahnya masing-masing untuk bersama-sama meraih derajat takwa.

Firman Allah SWT : “… Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu…” (TQS Al-Hujurat [49] : 13).

Karenanya tak heran, shahabiyat adalah teladan sepanjang hayat. Dalam sosok shahabiyat, Islam memberikan wujud nyata pemberdayaan perempuan dalam bingkai ketakwaan. Mereka adalah sekumpulan muslimah terbaik sepanjang sejarah Islam dan peradaban manusia. Mereka termasuk golongan manusia yang dipilih oleh Allah SWT untuk menyertai kehidupan Rasul-Nya saw.

Di buku ini disebutkan nama sejumlah shahabiyat Rasulullah saw beserta karakteristiknya masing-masing. Mereka adalah role model bahwa Islam hadir untuk mengangkat perempuan muslimah dari kerak lembah yang rendah dan hina, dengan cara menempatkan mereka pada kedudukan yang sangat terhormat.

Kiprah shahabiyat di awal perjuangan dakwah Islam bersama Rasulullah saw, adalah visualisasi riil bagi aktivitas politik hakiki bagi para muslimah masa kini. Kisah mereka tak lekang oleh libasan modernisasi. Kesalihannya tetap relevan hingga akhir zaman. Karenanya sungguh, urusan generasi akhir zaman ini tidak akan baik. [MNews]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *