Nisab Zakat

Oleh: Syekh ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasythah

MuslimahNews.com, TANYA JAWAB — Di dalam kitab Al-Amwal halaman 158 dinyatakan sebagai berikut:

“Adapun jika nisab emas atau perak telah terpenuhi sejak awal haul, dan terjadi penambahan selama haul, maka jika pertambahannya dari perdagangan; pertambahan itu ditambahkan pada harta pokok, dan haul harta tambahan itu dianggap sama dengan haul harta pokok. Sebab pertambahannya berasal dari pertumbuhan harta tersebut dan jenisnya, sehingga mengikuti harta pokoknya.”

“Adapun jika pertambahannya tidak dari jalan pertumbuhan harta tersebut, melainkan dari warisan atau hibah, maka pertambahan ini wajib berlalu atasnya satu haul penuh, dan tidak digabungkan kepada harta pokok, dan tidak mengambil hukum haul harta pokok).” Selesai.

Paragraf pertama adalah mafahim-nya. Adapun paragraf kedua, apakah itu berarti jika saya punya harta mencapai nisab pada bulan Muharam tahun ini, dan empat bulan setelah itu—yakni pada bulan Jumadilawal—saya mendapat harta seribu dinar dari warisan, apakah harta saya itu berlaku dua haul?

Yaitu nisab harta pokok saya zakati pada bulan Muharam tahun depan, sedangkan harta warisan saya zakati pada bulan Jumadilawal tahun depan? Artinya, ada dua waktu jatuh tempo zakat tersebut?

Atau bolehkah saya bayarkan zakat dari harta warisan itu pada akhir haul nisab harta pokok, yakni saya zakati seluruh harta itu pada bulan Muharam tahun depan?

Baca juga:  Jubir HTI Apresiasi dan Kritik Rencana Pemerintah Menarik Zakat PNS Muslim

Jawab:

Harta yang tidak berasal dari pertambahan nisab harta pokok, maka zakatnya wajib pada waktu sempurnanya haul harta itu dan bukan pada haul nisab harta pokok.

Misalnya, Anda punya harta telah sampai nisab (85 gram emas atau 200 dirham perak) pada bulan Muharam tahun ini. Maka zakat nisab ini wajib dibayar setelah berjalan satu haul, jika tidak berkurang dari nisab.

Jika dari hasil perdagangan nisab harta pokok itu ada pertambahan sebesar 1.000 dinar pada bulan Jumadilawal, maka harta tambahan itu ditambahkan pada harta pokok itu dan dizakati seluruhnya pada bulan Muharam tahun depan.

Sedangkan jika Anda mendapat warisan, (yakni bukan disebabkan nisab harta yang Anda miliki), maka harta warisan ini wajib dizakati setelah berlalu atasnya satu haul, dan bukan setelah berlalu satu haul nisab (harta pokok).

Ini artinya seperti yang ada di dalam pertanyaan. Anda zakati nisab harta pokok itu pada bulan Muharam tahun depan, jika tidak berkurang dari nisab pada saat itu, dan Anda zakati harta warisan itu pada bulan Jumadilawal tahun depan.

Jadi untuk nisab harta pokok tersebut punya haulnya sendiri, dan untuk harta dari warisan itu punya haul sendiri. Ini dari sisi kewajiban.

Baca juga:  Ekonomi Syariat di Tengah Panggilan Taat atau Sekadar Manfaat?

Akan tetapi boleh, engkau keluarkan zakat harta warisan itu pada akhir haul nisab harta pokok yakni pada bulan Muharam, tanpa menunggu sampai akhir haul harta warisan itu pada bulan Jumadilawal.

Dengan ungkapan lain, engkau zakati hartamu sekaligus setelah berlalu haul atas kepemilikanmu untuk nisab (harta pokok), yakni pada bulan Muharam, yang demikian itu karena boleh mempercepat pengeluaran zakat, yakni dikeluarkan sebelum haulnya.

Maka engkau boleh mengeluarkan zakat harta warisan sebelum sempurna haulnya, dan engkau keluarkan pada saat sempurnanya haul nisab pokok.

Sebab syara’ memperbolehkan percepatan zakat setelah mencapai nisab dan sebelum berlalu atasnya satu haul.

Adapun yang wajib adalah setelah berlalu satu haul. Di antara dalil percepatan pengeluaran zakat sebelum berlalu haul atas nisab tersebut adalah sebagai berikut:

–  Al-Baihaqi telah mengeluarkan di as-Sunan al-Kubra dari Ali:

أَنَّ الْعَبَّاسَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي تَعْجِيلِ صَدَقَتِهِ قَبْلَ أَنْ تَحِلَّ فَأَذِنَ لَهُ فِي ذَلِكَ

“Bahwa al-‘Abbas ra., bertanya kepada Rasulullah saw. tentang percepatan sedekah (zakat)nya sebelum berlalu haul dan beliau mengizinkannya dalam hal itu.”

–  Ad-Daraquthni telah mengeluarkan di Sunan-nya dari Hujrin al-‘Adawi dari Ali ra., ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda kepada Umar:

Baca juga:  Zakat untuk Penanggulangan Covid-19, Sudahkah Sesuai Hukum Syariat?

«إِنَّا قَدْ أَخَذْنَا مِنَ الْعَبَّاسِ زَكَاةَ الْعَامِ عَامِ الْأَوَّلِ»

“Kami telah mengambil dari al-‘Abbas zakat tahun ini pada tahun pertama (tahun lalu).”

–  Ad-Daraquthni telah mengeluarkan dari Musa bin Thalhah dari Thalhah bahwa Nabi saw. bersabda:

«يَا عُمَرُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَمَّ الرَّجُلِ صِنْوُ أَبِيهِ؟ إِنَّا كُنَّا احْتَجْنَا إِلَى مَالٍ فَتَعَجَّلْنَا مِنَ الْعَبَّاسِ صَدَقَةَ مَالِهِ لِسَنَتَيْنِ»

“Ya Umar tidak tahukah engkau bahwa paman seseorang itu adalah saudara sekandung bapaknya? Sesungguhnya jika kami memerlukan harta maka kami percepat dari al-‘Abbas sedekah (zakat) hartanya untuk dua tahun.”

Mereka berbeda pendapat tentang al-Hakam yang ada dalam sanadnya, dan yang benar dari al-Hasan bin Muslim mursal.

Ringkasnya, harta waris yang Anda dapatkan beberapa bulan setelah Anda memiliki nisab harta, maka Anda wajib menzakatinya setelah sempurna haulnya, dan bukan setelah sempurna haul nisab (harta pokok) tersebut.

Akan tetapi, Anda boleh menzakatinya bersamaan dengan sempurnanya haul nisab (harta pokok) itu, yakni sebelum sempurna haul harta waris yang Anda dapat. Hal itu karena bolehnya mempercepat zakat, sesuai dalil-dalil syara’ pada masalah itu. [1 Syakban 1435 H/30 Mei 2014 M] [MNews/Juan]

Sumber: https://tsaqofah.id/soal-jawab-nishab-zakat/

Tinggalkan Balasan