[News] Aksi Iklim 2021, Tahun Sukses atau Gagal?

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL — Dilansir dari public.wmo.int (20/4/2021), Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres menyatakan, 2021 harus menjadi tahun untuk aksi iklim.

The make it or break it year,” tekannya pada peluncuran laporan World Meteorological Organization (WMO) tentang Keadaan Iklim Global 2020 yang menyoroti percepatan indikator perubahan iklim dan dampak yang memperburuknya.

“Ini adalah laporan yang menakutkan. Ini perlu dibaca oleh semua pemimpin dan pembuat keputusan di dunia, ”katanya.

Menurutnya laporan ini menunjukkan 2020 merupakan tahun bencana cuaca dan iklim ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Penyebabnya jelas. Perubahan iklim antropogenik dan gangguan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia, keputusan manusia, dan kebodohan manusia,” jelasnya.

Laporan ini menyoroti konsentrasi gas rumah kaca, peningkatan suhu darat dan laut, kenaikan permukaan laut, pencairan es dan penyusutan gletser, serta cuaca ekstrem. Termasuk dampak pada pembangunan sosial-ekonomi, migrasi dan perpindahan, ketahanan pangan, dan ekosistem darat dan laut.

Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal WMO Prof. Petteri Taalas menyatakan perubahan iklim terjadi terus-menerus tanpa henti. “Kejadian dan intensifikasi peristiwa ekstrem meningkat, serta kerugian dan kerusakan parah yang memengaruhi orang, masyarakat, dan ekonomi,” ucapnya.

Selain “pukulan” pandemi, tahun 2020 menjadi salah satu dari tiga tahun terhangat yang pernah tercatat. Meskipun terjadi peristiwa La Niña yang mendingin, tetapi suhu rata-rata global sekitar 1,2° Celsius di atas tingkat praindustri (1850—1900). Enam tahun sejak 2015 menjadi rekor terpanas. Dan 2011-2020 adalah dekade terhangat yang pernah tercatat.

Baca juga:  Prof. Fahmi Amhar: Gerakan 212 Jangan [Hanya] Menjadi Gerakan Emosional dan Nostalgia

Guterres mengatakan  untuk mencegah dampak terburuk dari perubahan iklim, harus dibatasi kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat dari garis dasar praindustri.

“Itu berarti mengurangi emisi gas rumah kaca global sebesar 45 persen dari tingkat 2010 pada tahun 2030 dan mencapai nol emisi bersih pada tahun 2050,” katanya.

Menjelang negosiasi Perubahan Iklim PBB, COP26, di Glasgow November ini, Guterres memberi catatan yaitu,

Pertama, koalisi global yang berkomitmen pada emisi nol bersih untuk mencakup semua negara, kota, kawasan, bisnis, dan lembaga keuangan.

Kedua, sepuluh tahun ke depan perlu menjadi dekade transformasi, dengan kontribusi yang ditentukan secara nasional lebih ambisius dan rencana iklim di bawah Perjanjian Paris.

Ketiga, komitmen ini harus didukung dengan tindakan nyata yang segera. Triliunan dolar yang dihabiskan untuk pemulihan Covid-19 harus selaras dengan Perjanjian Paris dan tujuan pembangunan berkelanjutan.

Keempat, subsidi bahan bakar fosil yang mencemari harus dialihkan ke energi terbarukan. Dan negara maju harus memimpin penghapusan batu bara secara bertahap. Pada tahun 2030 di negara-negara OECD, dan tahun 2040 di tempat lain.

Kelima, negara-negara maju juga perlu memberikan pendanaan iklim untuk negara berkembang, khususnya janji $100 miliar dolar per tahun. Separuh dari semua pendanaan iklim baik dari donor maupun bank pembangunan multilateral dan nasional harus mengalir ke ketahanan dan adaptasi, dari tingkat yang jauh lebih rendah yaitu 20 persen saat ini. Akses ke sumber keuangan ini juga harus dipermudah bagi mereka yang paling rentan.

Baca juga:  Energi Hijau Tanpa Komersialisasi, Mungkinkah?

“Ini benar-benar tahun yang sangat penting bagi masa depan umat manusia. Laporan ini menunjukkan kita tidak punya waktu untuk disia-siakan,” urai Guterres.

Harus Mengubah Cara Pandang kepada Islam

Cendekiawan muslim Prof. Dr.-Ing Fahmi Amhar menilai harus ada perubahan cara pandang hidup manusia dalam hal ini.

“Kalau ingin serius mencapai target dari konvensi lingkungan dunia itu memang harus ada perubahan yang cukup drastis pada cara pandang manusia hidup,” ujarnya.

Konvensi lingkungan disusun untuk mengurangi tren climate change dengan cara mengurangi secara bertahap dan terukur serta teragendakan dengan jelas yakni penggunaan bahan bakar fosil diganti dengan energi baru yang terbarukan.

“Jadi, energi fosil diganti dengan surya, bayu, pasang surut atau gelombang laut, dan dengan nuklir,” jelasnya.

Hanya saja tren yang ada bahan bakar fosil atau energi fosil itu masih sangat tinggi dan tidak tampak menurun secara signifikan sekalipun gara-gara Covid-19 ini lumayan turun. Tapi, secara umum belum menurun secara signifikan.

“Tidak seperti yang diagendakan oleh konvensi lingkungan  dunia. Pada saat yang sama ternyata kemajuan dalam bahan energi baru yang terbarukan juga tidak seperti yang diharapkan sehingga dunia masih memakai energi fosil,” tuturnya.

Prof. Fahmi menilai masih ada masalah teknis. “Contohnya energi matahari yang tidak terbatas, bisa hidup hingga miliaran tahun ke depan. Tetapi bahan baku yang digunakan untuk membuat solar panel itu terbatas, termasuk rangkaian elektronik dan silikonnya. Demikian juga pembangkit listrik tenaga angin. Itu juga. Angin tidak terbatas, tetapi materi untuk membangun PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu) itu terbatas,” ulasnya.

Baca juga:  Karhutla, Antara Takdir Allah, Kelalaian Penguasa, dan Hegemoni Negara Adidaya

Menurutnya, riset di bidang ini masih cukup baru dan di negara-negara Barat terkait penemuan-penemuan ini masih harus diperbaiki lagi. “Investasinya balik dulu karena masih terlalu mahal,” katanya.

Oleh sebab itu, ia berharap khususnya pada negara yang saat ini mengonsumsi energi paling banyak agar mengganti energi lain untuk mengurangi emisi global yakni dengan nuklir atau PLTA.

“Konsumsi energi terbesar di dunia itu di AS. Itu paling tinggi. Bahkan dibandingkan dengan negara maju yang lain. AS memiliki cara pandang kapitalis yang menganggap bahwa kebahagiaan itu dicapai dengan kepuasan berupa materi,” terangnya.

Ia menegaskan ini adalah masalah ideologis. Selama orang yang berpandangan hidup sekuler akan seperti itu, karena agama tidak dijadikan acuan.

“Orang berpikir, saya ini bebas, sesuka saya selama tidak mengganggu kebebasan orang lain. Nah, ini ideologis,” tegasnya.

“Akibatnya energi akan lebih cepat habis dan pada saat yang sama akan mengotori lingkungan. Membuat climate change. Orang-orang kaya yang mobil cc-nya besar berkontribusi kepada kerusakan lingkungan lebih besar daripada orang yang tidak punya mobil,” lanjutnya lagi.

Untuk itu ia menekankan, harus ada perubahan paradigma dari sisi ideologi jika nanti Islam memimpin dunia. “Tentunya umat Islam diharapkan menjadi leader, menjadi pemimpin dalam mengatasi krisis lingkungan global ini,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan