Ramadan Bersama Keluarga: Momen Mengukuhkan Syakhshiyah Islamiyah Keluarga


Penulis: Najmah Saiidah


MuslimahNews.com, KELUARGA — Alhamdulillah kita hampir menyelesaikan 10 hari pertama bulan Ramadan. Semoga di bulan yang penuh berkah ini, kita bisa terus mengisinya dengan berbagai amal kebaikan bersama dengan keluarga. Karena kita pahami bersama bahwa bulan Ramadan adalah bulan di mana pintu surga dibuka lebar-lebar, pintu neraka ditutup rapat-rapat, dan setan dibelenggu.

Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadis dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda, “Apabila Ramadan telah tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu. (HR Bukhari Muslim)

Berdasarkan hadis tersebut, bulan Ramadan merupakan bulan di mana setiap muslim diberi kesempatan oleh Allah untuk memaksimalkan diri beribadah baik ibadah mahdhah (ritual) maupun ibadah ghairu mahdhah (nonritual). Sudah seharusnya kita tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Pada Ramadan 1442 H ini, untuk kedua kalinya kita berada dalam situasi pandemi, umat Islam saat ini mendapatkan ujian dari Allah dengan adanya pandemi Covid-19 yang menyerang hampir seluruh bagian dunia. Namun, situasi ini tentu tidak menyurutkan langkah kita untuk meraih berbagai kebaikan, keberkahan, dan pahala di bulan Ramadan.

Banyak hikmah yang kita dapat di situasi ini, kita bisa lebih banyak berkumpul keluarga, mengerjakan berbagai amal kebaikan bersama, dan meraih pahala bersama-sama dengan keluarga. Insyaallah keluarga kita makin harmonis dan lebih mengenal satu sama lain. Di samping itu, keluarga kita pun mendapatkan pahala yang melimpah dari Allah Swt. Masyaallah… harus kita syukuri.

Dalam kebersamaan ini pula, kita bisa meningkatkan berbagai potensi yang kita dan anggota keluarga lainnya miliki. Terlebih lagi kita pun bisa makin meningkatkan kepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyah) kita sehingga makin meninggi dan terus makin meninggi.

Di sinilah sesungguhnya hal penting yang bisa kita lakukan bersama keluarga, menjadikan Ramadan saat ini sebagai momen untuk membina dan meningkatkan syakhshiyah islamiyah kita dan keluarga. Apa yang dimaksud dengan kepribadian Islam atau syakhshiyah islamiyah itu dan bagaimana upaya yang harus keluarga Islam lakukan untuk terus meningkat?

Apa yang Dimaksud Syakhshiyah Islamiyah (Kepribadian Islam)?

Jika kita mencermati fakta dengan baik, akan kita temukan bahwa sesungguhnya kepribadian bukanlah dinilai dari penampilan luar atau nilai-nilai fisik pada diri seseorang, juga bukan pada kebiasaan atau keturunannya. Kepribadian sebenarnya adalah perwujudan dari aqliyah atau pola pikir (yakni bagaimana ia berpikir) dan nafsiyah atau pola sikap (bagaimana ia bersikap dan bertingkah laku) (Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Asysyakhshiyah Islamiyah juz 1)

Pola pikir seseorang ditunjukkan dengan pandangan atau pemikiran yang ada pada dirinya dalam menanggapi dan menyikapi berbagai pandangan dan pemikiran tertentu. Pola pikir pada diri seseorang sangat ditentukan oleh ideologi atau akidah yang diyakininya. Dari pola pikir inilah bisa diketahui bagaimana pandangan atau pemikiran yang dikembangkan oleh seseorang atau yang digunakannya dalam menanggapi berbagai pandangan dan pemikiran yang ada di masyarakat sekitarnya.

Sedangkan pola sikap adalah aktivitas nyata yang dilakukan seseorang dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya baik kebutuhan biologis maupun naluriahnya. Pola sikap pada diri seseorang pun sangat ditentukan oleh ideologi atau akidah yang diyakininya.

Dapat kita simpulkan bahwa pola pikir dan pola sikap inilah yang menentukan “corak” kepribadian seseorang. Dan karena pola pikir dan pola sikap ini sangat ditentukan oleh nilai dasar atau ideologi yang diyakininya, maka “corak” kepribadian seseorang memang sangat bergantung kepada ideologi atau akidah yang dianutnya.

Ideologi atau akidah kapitalisme akan membentuk masyarakat berkepribadian kapitalisme-liberal. Ideologi sosialisme pasti akan membentuk kepribadian sosialisme-komunis. Sedangkan ideologi atau akidah Islam akan menjadikan kaum muslimin yang memeluk dan meyakininya, memiliki berkepribadian Islam.

Dalam bahasa yang lebih praktis, kepribadian (syakhshiyah) terbentuk dari pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah), yang kedua komponen tersebut terpancar dari ideologi (akidah) yang khas atau tertentu. Dari sinilah maka ketika membahas tentang kepribadian Islam (syakhshiyah islamiyah) berarti berbicara tentang sejauh mana seseorang memiliki pola pikir yang Islami (aqliyah islamiyah) dan sejauh mana ia memiliki pola sikap yang Islami (nafsiyah islamiyah).

Aqliyah islamiyah hanya akan terbentuk dan menjadi kuat bila ia memiliki keyakinan yang benar dan kokoh terhadap akidah Islamiyah dan ia memiliki ilmu-ilmu keislaman yang cukup untuk bersikap terhadap berbagai ide, pandangan, konsep, dan pemikiran yang ada di masyarakat, di mana semua pandangan dan konsep tersebut distandarkan dengan ilmu dan nilai-nilai Islami.

Sedangkan Nafsiyah Islamiyah hanya akan terbentuk dan menjadi kuat bila seseorang menjadikan aturan-aturan Islam dalam memenuhi kebutuhan biologisnya (makan, minum, berpakaian, dan sebagainya), maupun kebutuhan naluriahnya (beribadah, bergaul, bermasyarakat, berketurunan, dan sebagainya).

Jadi, seseorang dikatakan memiliki syakhshiyah Islamiyah, jika ia memiliki aqliyah Islamiyah dan nafsiyah islamiyah. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa bersikap atau berpikir atas dasar pola berpikir Islami dan orang-orang yang senantiasa memenuhi kebutuhan jasmani dan nalurinya sesuai dengan aturan Islam, tidak mengikuti hawa nafsunya.

Di sinilah sesungguhnya peran kita, terutama sebagai orang tua untuk terus meningkatkan kualitas diri kita dan keluarga, yaitu senantiasa memperkuat pola pikir dan pola sikap sehingga kita dan keluarga menjadi orang-orang yang memiliki syakhshiyah Islamiyah yang kukuh, kuat akidahnya, tinggi tingkat pemikirannya, dan tinggi pula tingkat ketaatannya terhadap ajaran Islam.

Dan saat ini, di bulan Ramadan, merupakan momen yang sangat tepat bagi kita untuk meningkatkan kepribadian Islam kita, karena memang di saat ini bi’ah atau suasana keislaman tengah menaungi umat Islam. Jangan sampai kita menyia-nyiakannya dan terus berusaha menjaga bahkan meningkatkannya selepas Ramadan nanti. Lalu bagaimana kita mewujudkannya dalam keluarga kita?

Bagaimana Meningkatkan Kepribadian Islam Keluarga

Dalam pandangan Islam, selain memiliki fungsi sosial, keluarga juga memiliki fungsi politis dan strategis. Secara sosial, keluarga adalah ikatan terkuat yang berfungsi sebagai pranata awal pendidikan primer, dengan ayah dan ibu sebagai sumber pengajaran pertamanya, sekaligus sebagai tempat membangun dan mengembangkan interaksi harmonis untuk meraih ketenangan dan ketenteraman hidup satu sama lain.

Secara politis dan strategis, keluarga berfungsi sebagai tempat yang paling ideal untuk mencetak generasi unggulan, yakni generasi yang bertakwa, cerdas dan siap memimpin umat membangun peradaban ideal di masa depan, sebagaimana telah terbukti berhasil membangun peradaban ideal umat Islam di masa lalu hingga umat Islam muncul sebagai khairu ummah.

Karenanya keluarga dalam fungsi-fungsi ini bisa diumpamakan sebagai madrasah, rumah sakit, masjid bahkan camp militer yang siap mencetak pribadi-pribadi mujtahid sekaligus mujahid. Sosok generasi yang memiliki kepribadian Islam yang tinggi, tidak hanya cerdas secara intelektual tapi ia piawai dalam hal adab dan mengontrol kehendak dan keinginannya sesuai dengan syariat.

Di sinilah sesungguhnya orang tua memiliki peran yang sangat penting untuk melakukan pembinaan anggota keluarganya dengan Islam sehingga seluruh aturan Islam bisa diterapkan dan dijadikan pijakan keluarga dalam menjalankan kehidupan, dalam berpikir maupun dalam bersikap.

Dan saat ini, kita berada di bulan yang penuh kemuliaan, di bulan Ramadan di mana suasana keislaman keluarga kita dan umat tengah meningkat, maka sudah seharusnya kita makin meningkatkan derajat syakhshiyah islamiyah yang telah kita miliki. Lalu seperti apa Islam mengajarkan kepada kita proses pembinaan syakhshiyah ini sehingga makin tinggi dan terus meninggi? Tentu saja dengan memperkuat komponen pembentuk syakhshiyah itu sendiri, yaitu memperkuat aqliyah dan nafsiyah.

Memperkuat Aqliyah

Upaya untuk memperkuat syakhshiyah islamiyah adalah dengan cara meningkatkan aqliyah dan nafsiyah islamiyah-nya. Meningkatkan kualitas aqliyah Islamiyah adalah dengan cara menambah khazanah ilmu-ilmu Islam (tsaqafah Islamiyah), sebagaimana dorongan Islam bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu kapan pun dan di mana pun.

Dengan ilmu Islam yang cukup seorang muslim akan mampu menangkal berbagai bentuk pemikiran yang merusak dan bertentangan dengan Islam. Ia pun akan mampu mengembangkan ilmu-ilmu Islam bahkan dapat menjadi seorang mujtahid, insyaallah.

Dalam bulan Ramadan ini, di mana seluruh keluarga berkumpul, maka menjadi kesempatan bagi keluarga untuk mengkaji pemahaman Islam, dengan mengadakan kultum bersama atau menghadiri majelis-majelis ilmu. Banyaknya forum-forum keislaman di bulan Ramadan melalui media sosial bisa dimanfaatkan, orang tua bisa memilihkan mana kajian-kajian tsaqafah Islam maupun wawasan yang bisa memperkaya pemahaman keislaman keluarganya, kemudian dikaji dan didengarkan bersama.

Bisa juga dengan mengkaji kitab-kitab tertentu, dipimpin oleh kepala keluarga. Memperbanyak membaca buku, menghafal ayat Al-Qur’an dan hadis, atau berguru untuk mempelajari berbagai tsaqafah Islam adalah sebagian dari aktivitas yang bisa dilakukan bersama keluarga untuk meningkatkan kualitas kita, terlebih lagi kita sebagai pengemban dakwah.

Lalu kebiasaan baik yang kita lakukan di bulan Ramadan ini kita lanjutkan selepas Ramadan dan di bulan-bulan lainnya sehingga pemahaman kita tentang Islam makin bertambah. Hal ini akan makin mempermudah bagi kita untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang kita dan umat hadapi dengan solusi Islam.

Memperkuat Nafsiyah

Adapun nafsiyah islamiyah dapat ditingkatkan dengan selalu melatih diri untuk berbuat taat, terikat dengan aturan Islam dalam segala hal dan melaksanakan amalan-amalan ibadah, baik yang wajib maupun yang sunah, serta membiasakan diri untuk meninggalkan yang makruh dan syubhat apalagi yang haram.

Islam pun menganjurkan agar kita senantiasa berakhlak mulia, bersikap wara’ dan qana’ah agar mampu menghilangkan kecenderungan yang buruk dan bertentangan dengan Islam.

Dalam sebuah hadis qudsi Allah Swt. berfirman, “…dan tidaklah bertakarub (beramal) seorang hamba-Ku dengan sesuatu yang lebih aku sukai seperti bila ia melakukan amalan fardu yang Aku perintahkan atasnya, kemudian hamba-Ku senantiasa bertakarub kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya…” (HR Bukhari dari Abu Hurairah)

Di bulan Ramadan ini, justru kita dan keluarga diberi kesempatan oleh Allah untuk makin menguatkan dan meningkatkan nafsiyah kita dan anggota keluarga. Amalan sunah dan amal kebaikan lainnya sangat banyak di bulan Ramadan ini, tentu saja tidak boleh kita sia-siakan.

Salat wajib kita lakukan secara berjemaah baik di rumah atau pun di masjid. Demikian halnya salat sunah yang hanya ada di bulan Ramadan (salat tarawih), tidak ketinggalan dikerjakan secara berjemaah pada saat Ramadan

Demikian pula salat sunah lainnya, seperti salat duha, salat hajat, atau pun salat tahajud tentu saja harus makin digencarkan. Setiap anggota keluarga yang satu saling mengingatkan anggota keluarga lainnya.

Terlebih ketika tahajud (di sepertiga malam) suami atau istri membangunkan pasangannya kemudian membangunkan anak-anak untuk melakukan salat tahajud sebelum makan sahur. Kemudian memanjatkan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan salat Subuh berjemaah, baik di rumah atau di masjid.

Tentu hal ini akan makin menguatkan nafsiyah kita sekaligus menguatkan ikatan keluarga dan melimpahkan pahala dan keberkahan untuk keluarga.

Selanjutnya amalan ini kita barengi juga dengan memperbanyak sedekah dan berzikir kepada Allah serta menahan diri dari berbagai hal-hal yang mengundang amarah, karena sesungguhnya bulan Ramadan adalah benteng bagi kita. Hal penting lainnya yang harus kita lakukan adalah banyak berdoa kepada Allah agar Allah berkenan memberikan kesehatan, kemudahan, kelapangan, dan kelancaran serta keberkahan bagi kita dalam menjalankan semua amal kebaikan di bulan mulia ini dan juga di bulan-bulan selanjutnya.

Selain itu, dengan kita banyak memanjatkan doa, kita makin dekat kepada Allah Swt. dan hal ini insyaallah akan makin menguatkan kita dan makin bersemangat dalam menjalani Ramadan sekalipun masih diliputi oleh pandemi.

Demikianlah Islam telah mengajarkan bagaimana kita dan keluarga beraktivitas di bulan Ramadan ini, agar syakhshiyah Islamiyah keluarga kita akan makin terbina dan meningkat terus. Pemikiran Islam kita makin cemerlang, dan jiwa Islam kita makin mantap dan istikamah.

Selanjutnya kita akan makin dekat dengan Allah Swt. Menjadi sosok-sosok yang khalis al-mukhlis, siap mengarungi kehidupan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan