Bagaimana Seharusnya Muslim Menyikapi Poligami


Penulis: Wiwing Noeraini


MuslimahNews.com, FOKUS TSAQAFAH — Menikah adalah menyempurnakan ibadah. Rasulullah saw. bersabda dalam sebuah hadis, “Barang siapa menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh ibadahnya (agamanya). Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Swt. dalam memelihara yang sebagian lagi.” (HR Thabrani dan Hakim)

Hadis ini bersifat umum mencakup semua pernikahan. Artinya, baik pernikahan monogami (dengan satu istri) maupun poligami (dengan beberapa istri), semuanya adalah menyempurnakan ibadah. Keduanya merupakan bagian dari syariat Allah.

Maka, menjadi sebuah pertanyaan besar, ketika lagi-lagi poligami disalahkan atas nasib yang menimpa kaum perempuan. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga mengatakan, poligami tanpa pengetahuan merupakan awal mula terjadinya berbagai perlakuan salah kepada perempuan.

“Poligami yang tidak dilaksanakan dengan kesiapan, pemikiran matang, dan pengetahuan yang cukup dari berbagai pihak, dapat berisiko menjadi awal mula terjadi berbagai perlakuan salah, terutama bagi perempuan,” katanya di acara diskusi ilmiah bertajuk “Poligami di Tengah Perjuangan Mencapai Ketangguhan Keluarga”, dikutip dari siaran pers, Kamis (15/4/2021). (kemenpppa.go.id)

Salahkah Poligami?

Semua pernikahan, baik monogami maupun poligami, membutuhkan kesiapan. Terutama kesiapan berupa pengetahuan dan pemahaman Islam yang cukup tentang bagaimana membangun sebuah keluarga. Ketika pernikahan tak dilandasi keimanan dan tak memiliki tujuan yang benar yaitu untuk beribadah kepada Allah, bisa dipastikan pernikahan akan sangat rapuh, kehancuran hanya tinggal menunggu waktu.

Faktanya, kehancuran keluarga ataupun terjadinya kekerasan pada perempuan tak hanya terjadi pada pernikahan poligami, bahkan justru banyak terjadi pada pernikahan monogami. Maka, siapa pun yang hendak menikah, harus paham bagaimana menjalani kehidupan pernikahan sesuai Islam, bagaimana hak dan kewajiban suami dan istri, bahkan perlu paham juga apa itu poligami dan segala hal yang berkaitan dengannya.

Karenanya, pendapat yang menganggap poligami sebagai penyebab perlakuan salah kepada perempuan, bahkan ada pula yang menyebutnya sebagai penghancur keutuhan keluarga, sungguh pendapat yang tak masuk akal.

Perlakuan buruk kepada perempuan, jelas bukan salah poligami. Kehancuran keluarga juga bukan salah poligami. Poligami adalah bagian dari syariat Allah, Mahasuci Allah dari membuat aturan yang menyebabkan derita perempuan dan keluarga.

Adil Bukan Syarat Poligami

Poligami adalah amalan yang mubah (boleh dilakukan), hanya saja Allah memerintahkan agar suami yang berpoligami bisa berlaku adil di antara istri-istrinya sebagaimana firman-Nya,

Baca juga:  Menolak Syubhat-syubhat Anti Poligami

فَٱنكِحُوا۟ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ مَثْنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ فَوَٰحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَلَّا تَعُولُوا۟

Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS An-Nisa: 3)

Keadilan yang dimaksud bukanlah syarat bagi kebolehan berpoligami, melainkan kewajiban bagi suami untuk memperlakukan semua istrinya secara adil ketika memilih berpoligami; juga dorongan untuk membatasi satu istri ketika takut tak dapat berlaku adil.

Hal ini karena makna kalimat dalam ayat tersebut telah sempurna pada firman Allah, … maka kawinilah dua, tiga, atau empat.” Artinya, kebolehan berpoligami adalah mutlak. Makna kalimat ini telah berhenti. Kemudian disambung dengan kalimat lain, “… fa in khiftum (kemudian jika kamu takut…).” Kalimat ini tidak bisa berposisi sebagai syarat karena tidak bersambung dengan kalimat pertama dengan hubungan syarat. Akan tetapi, kalimat tersebut merupakan kalimat selanjutnya.

Seandainya Allah menghendaki sebagai syarat, pasti akan berfirman, “… fa ankihu maa thaaba lakum min an-nisaa matsna wa tsulaatsa wa rubaa’a in ‘adaltum (maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat, jika kalian adil).” Akan tetapi, ungkapan seperti itu tidak ada, sehingga keadilan bukanlah syarat.

Adil di sini merupakan hukum lain yang berbeda dengan hukum yang pertama. Hukum pertama menyoal kebolehan poligami, hukum kedua yaitu bahwa yang lebih utama membatasi satu istri jika suami memandang berpoligami menjadikannya tidak mampu berlaku adil pada istri-istrinya.

Makna Adil dalam Berpoligami

Salah satu penyebab perlakuan salah terhadap perempuan dari berbagai praktik poligami adalah kurangnya pemahaman akan makna adil dalam berpoligami. Bisa jadi suami yang tidak berlaku adil, atau bisa jadi istri yang menuntut adil, yang tak mampu dipenuhi suami.

Islam telah menetapkan bahwa keadilan yang dituntut dilakukan oleh suami bukanlah keadilan yang bersifat mutlak dalam segala hal, melainkan keadilan dalam batas kemampuan seorang manusia melakukannya.

Baca juga:  Hukum Wanita Menawarkan Diri kepada Laki-laki untuk Dipoligami

Allah mengangkat dari hamba-Nya kewajiban adil dalam arti keadilan yang sempurna. Keadilan yang dibebankan adalah keadilan yang mampu dilakukan, dengan syarat telah mengerahkan segenap kemampuan dan potensi yang ada.

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Kitabnya An-Nizham al-Ijtimaiy fi al-Islam menjelaskan bahwa keadilan yang dituntut bagi suami dikecualikan untuk masalah cinta (kasih sayang) dan jimak (persetubuhan), karena manusia tak akan mampu berlaku adil dalam hal tersebut.

Ini adalah pengertian dari firman Allah,

وَلَن تَسْتَطِيعُوٓا۟ أَن تَعْدِلُوا۟ بَيْنَ ٱلنِّسَآءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا۟ كُلَّ ٱلْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَٱلْمُعَلَّقَةِ ۚ وَإِن تُصْلِحُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS An-Nisa: 129)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firman Allah “… sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil”, Ibnu Abbas berkata, “Yakni dalam masalah cinta dan jimak (persetubuhan).”

Pengertian ini diperkuat oleh hadis yang diriwayatkan Aisyah ra., ia menuturkan,

“Rasulullah saw. membagi (giliran di antara istrinya) dan berupaya berlaku adil lalu beliau berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya inilah pembagianku dalam apa yang aku miliki (kuasai). Maka janganlah engkau cela aku dalam hal yang Engkau miliki (kuasai) sementara tidak aku miliki (kuasai).’” (HR al Hakim dan Ibn Hibban)

Maksud yang dikuasai Allah dan tidak dikuasai Nabi adalah hati beliau saw..

Dalam ayat di atas (QS An-Nisa: 129), Allah memerintahkan untuk menjauhkan diri dari terlalu cenderung (kullu al-mayl), yang artinya bahwa Allah membolehkan untuk cenderung (biasa saja, tidak terlalu, pen.).

Atas dasar ini, Allah Swt. membolehkan seorang suami bersikap cenderung kepada sebagian istrinya, tapi melarang terlalu cenderung yang akan membuat istri lainnya terkatung-katung. Hal ini diperkuat sabda Rasulullah saw.,

Siapa saja mempunyai dua istri, lalu ia lebih cenderung kepada salah satu dan mengabaikan yang lain, niscaya ia akan datang pada hari kiamat nanti dalam keadaan berjalan, sementara salah satu kakinya lumpuh atau pincang).” (HR Ibn Hibban dalam Sahih-nya)

Baca juga:  Mencegah Perselingkuhan ala Islam

Maka, keadilan yang diwajibkan atas suami adalah berlaku sama di antara istri-istrinya, yakni dalam hal yang mampu dilakukan manusi, seperti menginap di malam hari, dalam hal makanan, pakaian, tempat tinggal, dsb.; bukan dalam masalah cinta (kasih sayang) dan jimak.

Bagaimana Menyikapi Poligami?

Allah Swt. telah membolehkan poligami dan membatasinya hanya sampai empat. Maka, sikap seorang muslim yang benar-benar beriman kepada Allah Swt. dan Hari Akhir seharusnya adalah merasa rida dan menerima dengan sepenuh hati semua ketentuan syariat yang telah ditetapkan oleh Allah ini.

Allah Swt. berfirman,

Dan tidakkah patut bagi laki-laki dan perempuan yang (benar-benar) beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.(QS al-Ahzab: 36)

Setiap muslim seharusnya meyakini bahwa semua hukum Allah pasti mengandung maslahat (manfaat), termasuk poligami. Hanya saja, memang perlu pemahaman yang benar tentang bagaimana Islam mengatur poligami.

Tanpa aturan Islam, maslahat yang terkandung di dalam syariat poligami tidak akan mampu dilihat dan dirasakan. Bahkan yang terjadi sebaliknya, yaitu keburukan atau bahkan kerusakan; yang dijadikan oleh musuh-musuh Islam sebagai alat untuk melemahkan dan menikam Islam. Mereka melakukan hal tersebut bukan karena adanya cacat (dalam pandangan mereka) dalam hukum Allah, melainkan karena motif ingin menikam Islam.

Sayangnya, propaganda ini juga telah memengaruhi kaum muslimin, termasuk para ulama dan kaum intelektual muslim. Mereka juga berusaha menakwilkan nas-nas syariat secara batil untuk melarang poligami. Ini karena pengaruh propaganda batil yang terus digulirkan oleh musuh-musuh Islam.

Walhasil, semua ini mendorong mereka yang masih punya perasaan islami untuk bangkit membela Islam. Maka, kaum muslimin perlu diingatkan, bahwa standar baik dan buruk, terpuji dan tercela, bukanlah dari akal manusia, tapi dari hukum syariat, yaitu hukum Allah.

Al-Qur’an menyatakan kebolehan poligami. Maka, poligami adalah perkara yang baik, yang terpuji. Sebaliknya, melarang poligami adalah perbuatan yang buruk dan tercela karena mengharamkan yang dihalalkan Allah. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan