[Ramadan Sedunia] Ramadan di Cina, Berusaha Taat meski Tekanan Makin Kuat

MuslumahNews.com, RAMADAN SEDUNIA — Muslim di Cina merupakan minoritas. Jumlah warga muslim di Negeri Tirai Bambu ini mencapai 23 juta jiwa atau 1,8 persen dari penduduk Cina yang mencapai 1,37 miliar jiwa.

Secara umum, muslim Cina dilarang melakukan ibadah, termasuk puasa. Di beberapa tempat seperti Gansu, komunitas muslim masih bisa melakukan ibadah.

Namun di Provinsi Xinjiang, kaum muslim ditahan dan dilarang melakukan ibadah. PBB memperkirakan satu setengah juta muslim Uighur ditahan di kamp-kamp konsentrasi sejak 2017.

Foto: Kamp Penahanan Muslim Xinjiang (AP Photo)

Di Xinjiang, kamera dan perekam audio ditempatkan di setiap jalan dan memantau rumah warga. Pejabat pemerintah secara rutin menggeledah rumah warga muslim.

Jika ditemukan barang-barang seperti sajadah atau buku-buku keagamaan, mereka akan ditahan. Kebanyakan muslim di sana tak lagi menyimpan Al-Qur’an di rumah mereka.

Foto: Kamp Penahanan Muslim Uighur (whyy.org)

Di Beijing, adanya tekanan dari pemerintah Cina justru membuat komunitas muslim makin erat. Mereka menjalankan ibadah di masjid Niujie yang merupakan masjid tertua dan terbesar di Beijing yang sudah berumur 579 tahun.

Saat berbuka puasa, makanan diletakkan pada meja-meja sehingga semua orang dengan leluasa bisa mengambil dan memakannya bersama-sama. Masjid Niujie, menjadi pusat kegiatan umat Islam di Beijing.

Baca juga:  Ramadan di Afghanistan, di Antara Desing Peluru dan Dentuman Bom

Foto: Muslim di Cina (youtube@scmp)

Restoran-restoran yang menyediakan menu halal atau qing zhen ramai oleh pengunjung menjelang waktu buka puasa. Kuliner khas Cina yaitu mi daging sapi atau niuroumian tersedia di restoran tersebut. Namun daging sapi yang disuguhkan telah melalui proses penyembelihan dan pengolahan yang syar’i.

Kebanyakan restoran halal di Beijing menyediakan menu khas muslim Uighur yang sedikit berbau “keturki-turkian”. Mayoritas berupa daging sapi dan kambing yang dibakar. Minuman yang tersedia adalah teh dan rempah-rempah.

Foto: Muslim di Cina (tirto.id)

Restoran halal tidak hanya disukai kaum muslim. Warga Cina yang nonmuslim pun kerap mengunjunginya. Mereka menyadari pentingnya makanan halal bagi kesehatan. Hanya saja mereka menyebutnya qing zhen yang berarti bersih dan sehat. Restoran-restoran yang bertuliskan qing zhen hampir dipastikan berlabel “halal”.

Demikianlah, kaum muslim di Cina tetap berusaha taat menjalankan perintah agama, meski penguasa setempat menekan mereka. [MNews/Rgl]

Disarikan dari berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *