[Editorial] Agar Ramadan Hadir Sepanjang Zaman

MuslimahNews.com, EDITORIAL — Tak terasa, sudah sepekan Ramadan kita lewati. Kondisi pandemi tampaknya tak mengurangi keriaan masyarakat untuk menikmati jamuan Ramadan yang istimewa.

Kita lihat, masjid-masjid lebih ramai dari biasanya, meski tentu tak seramai Ramadan tanpa wabah. Kaum muslimin pun begitu bersemangat menghidupkan rumah dengan Al-Qur’an, hingga suasana pun terasa begitu hangat.


TENTU semua ini sangat menggembirakan. Namun, tetap saja menyisakan pertanyaan, akankah spirit kebaikan ini tetap terjaga di bulan-bulan lainnya? Apakah takwa yang menjadi tujuan ibadah saum akan segera mewujud nyata?

Faktanya, dari Ramadan ke Ramadan suasananya nyaris sama. Kondisi umat nyatanya pun tidak jauh beda. Bahkan, kehidupan kaum muslim makin dicengkeram kekufuran. Hingga akhirnya kian jauh dari keberkahan.

Tampak ada gap lebar antara tujuan Ramadan dengan fakta kehidupan umat. Ramadan ke Ramadan tak membuat mereka dekat dengan seutuh-utuhnya syariat. Bahkan, praktik marginalisasi agama pun kian masif di berbagai ranah kehidupan.

Politik, terasa makin “Machiavelli’s“. Wajah-wajah hipokrit dan tak punya hati pun bermunculan bak jamur di musim hujan.

Ekonomi, nyatanya makin morat-marit. Bahkan, di tengah kesulitan yang mengimpit, penguasa kian tak canggung menggelar karpet merah penjajahan; menggadaikan masa depan bangsa dengan utang dari negara pemangsa.

Di bidang sosial, masyarakat kian tidak jelas warnanya. Mayoritas keluarga muslim tak lagi bisa jadi benteng penjaga. Begitu pun dengan lembaga pendidikan dan sekolah, tak lagi mampu menjadi wasilah melahirkan generasi pemimpin yang berperadaban mulia.

Apa yang tampak dari masyarakat muslim kita, yang Ramadan demi Ramadan selalu disambut dengan sukacita? Ternyata, kerusakan moral terjadi di mana-mana. Mayoritas generasi kehilangan adab dan ringkih dalam beragama. Ajaran Islam banyak yang mereka lupa, begitu pun dengan sejarahnya.

Mereka terjebak dalam sebuah life style yang serba liberal dan permisif.  Menempatkan agama sebagai aksesori semata. Sementara pemikiran “sepilis” (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme) seolah menjadi agama.


DIAKUI atau tidak, itulah fakta sebenarnya. Umat memang sudah lama kehilangan jati dirinya sebagai umat yang tinggi dan mulia. Bahkan, umat sudah tak layak lagi menyandang gelar yang disematkan oleh Rabb mereka. Yakni sebagai Khairu Ummah yang diamanahi Allah sebagai penebar rahmat Islam sebagaimana generasi-generasi sebelumnya.

Baca juga:  [Ramadan Sedunia] Ramadan Bersama Al-Azhar di Mesir

Umat hari ini justru tampak selalu jadi objek penderita. Para penguasanya pun tak punya wibawa, bahkan rela menjadi budak negara adikuasa. Ketika harta kekayaan rakyatnya dirampok di depan mata, mereka tak berkutik bahkan menyerahkannya dengan tangan terbuka.

Persatuan umat yang menjadi salah satu hikmah Ramadan pun ternyata menjadi begitu sulit direalisasikan. Saat muslim Palestina, Yaman, Uyghur, Dalit, dan Rohingya menghadapi Ramadan dengan penderitaan luar biasa, umat Islam yang lain, bil khusus para penguasanya, justru seolah menutup mata.

Bagi mereka, muslim di luar sana bukan saudara. Akidah Islam yang melekat pada diri mereka seolah tak cukup menjadikan muslim lainnya sebagai benar-benar saudara. Padahal Rasul saw. mengajarkan, di mana pun mereka, kaum muslim adalah satu tubuh yang wajib saling membela dan mencinta.

Lantas apa yang salah, hingga Ramadan ke Ramadan tak lagi mampu memperbaiki keadaan umat seperti yang semestinya? Apatah lagi mengantarkan umat kepada kemenangan hakiki tersebab diraihnya derajat takwa?


LEMAHNYA pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam kafah ditengarai menjadi salah satu faktor penyebabnya. Islam selama ini hanya dipahami sebatas agama ritual saja. Wajar jika ajaran Islam tak mampu berpengaruh dalam perilaku keseharian, baik dalam konteks individu, keluarga, maupun dalam interaksi masyarakat dan kenegaraan.

Bahkan, ajaran Islam nyaris kehilangan power-nya. Tak mampu menjadi penuntun dan pembeda antara hak dan kebatilan. Hingga tak sedikit individu muslim yang mengalami disorientasi hidup, mudah menyerah pada keadaan bahkan terjerumus dalam kemaksiatan.

Sementara dalam konteks keluarga, tak sedikit yang mengalami disharmoni bahkan disfungsi akut akibat impitan ekonomi dan gempuran budaya yang mengacaukan pola relasi di antara anggotanya. Wajar jika keluarga pun tak bisa lagi diharapkan menjadi benteng perlindungan dan tempat kembali yang paling diidamkan.

Baca juga:  Shaum Ramadan di Tengah Badai Qawl az-Zur

Kondisi ini diperparah dengan penerapan sistem sekuler yang menolak peran agama dalam pengaturan kehidupan, di mana negara justru menjadi pilar penjaganya. Dalam sistem rusak ini, sulit sekali mempertahankan kesalehan dan kafah dalam berislam.

Semua menjadi serba dilematis dan paradoks. Untuk menjadi saleh begitu susah. Bahkan orang saleh cenderung mudah terjebak dalam kesalahan. Kompromi antara Islam dan kekufuran bahkan menjadi hal yang diniscayakan. Masyarakat pun kehilangan fungsi kontrol akibat individualisme yang mengikis budaya amar makruf nahi mungkar.


SEKULARISME dengan paham-paham turunannya yang batil seperti kapitalisme, liberalisme, dan materialisme memang meniscayakan kehidupan yang serba sempit dan jauh dari berkah.

Terbukti, hingga kini dunia terus dilanda krisis, mulai dari krisis politik, krisis ekonomi, krisis moral, krisis hukum, dan krisis identitas  yang menjauhkan umat dari predikat khairu ummah. Akhirnya umat Islam terus menjadi bulan-bulanan dan sapi perah negara-negara kapitalis penjajah.

Tentu saja kondisi ini tak boleh dibiarkan berlama-lama. Umat Islam harus segera bangkit dari keterpurukan dengan jalan kembali kepada Islam kafah dalam naungan Khilafah.

Keluarga muslim harus kembali berfungsi sebagai benteng umat. Agar lahir darinya generasi terbaik dan individu-individu yang bertakwa. Generasi yang memiliki visi hidup yang jelas sebagai hamba Allah khalifah fil ardh.

Momentum itu ada pada bulan Ramadan. Di mana individu, keluarga, dan masyarakat terkondisikan untuk dekat dengan Islam. Apalagi sumber tuntunan hidup muslim yaitu Al-Qur’an dan hadis Nabi sedang menjadi sumber bacaan yang diutamakan.

Begitu pun interaksi antarindividu dalam keluarga dan masyarakat, sedang tersuasana untuk saling mendekat dan menguatkan. Termasuk media massa yang sedang masif menebar kebaikan.

Betapa ingin Ramadan hadir sepanjang masa. Agar individu tetap terpelihara dalam ketakwaan. Keluarga kukuh karena terfungsikan dengan benar. Masyarakat tetap terjaga sebagai mesin kontrol penguat ketakwaan. Negara pun menjadi penjaga umat dari celah kerusakan dan penjajahan.

Baca juga:  Meraih Keutamaan Lailatul Qadar

Di sinilah urgensi dakwah membangun kesadaran, bahwa Islam bukan cuma agama ritual, tapi juga mengatur seluruh aspek kehidupan, baik dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat, maupun negara.

Sehingga, Al-Qur’an yang sepanjang Ramadan hanya dibaca dengan target dikhatamkan, juga dipahami dan difungsikan dengan benar. Yakni sebagai solusi terbaik untuk berbagai persoalan kehidupan dan sebagai aturan yang mutlak harus dijalankan di bawah kepemimpinan Islam.


Terlebih Rasulullah saw. mengajarkan, bahwa ibadah saum dan imam—kepemimpinan Islam—sama-sama berfungsi sebagai junnah atau perisai. Saum sebagai perisai individu, sementara imam adalah perisai bagi umat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصِّيَامُ جُنّةٌ مِنَ النَّارِ

”Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari siksa neraka.” (HR Ahmad, sahih).

Dan beliau saw. juga bersabda,

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.(HR Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll.)

Karenanya, marilah kita jadikan Ramadan kali ini sebagai momentum untuk mewujudkan dua junnah kehidupan tersebut. Yakni saum yang mengantarkan pada ketakwaan individu, yang akan membentengi setiap muslim dari perbuatan maksiat yang tidak diridai Allah dan menjaganya dari api neraka.

Serta imam atau kepemimpinan Islam yang bisa mewujudkan ketakwaan masyarakat. Yang akan menjadi perisai pelindung bagi umat agar selalu ada dalam kemuliaan dan tercegah dari makar musuh yang tak menghendaki kebaikan ada pada mereka.

Dengan keduanya, kesakinahan dan kebahagiaan hidup pasti akan dirasakan. Tak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Juga tak hanya oleh individu-individu muslim yang menjalankan, tetapi juga oleh umat secara keseluruhan di bawah naungan kepemimpinan Islam.

Hanya dengan penerapan Islam kafahlah umat akan keluar dari keterpurukan dan kembali bangkit sebagai pemimpin peradaban, lalu menebar rahmat ke seluruh alam. Seakan Ramadan hadir sepanjang zaman. [MNews/SNA]

Tinggalkan Balasan