Syekh Abdul Aziz al-Badri, Mujahid Dakwah dari Irak (1930—1969) Bagian 1/2

Sejarah Irak penuh dengan perjuangan. Sejak masa Khilafah Abbasiyah yang menjadikan kota Baghdad sebagai ibu kota Kekhilafahan saat itu hingga abad ke-21 sekarang.


Penulis: M. Ali Dodiman*


MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Dahulu, Irak pernah diserang pasukan Tartar, ulama dan pejuang Islam pun bermunculan. Adapun sekarang, Irak masih diduduki tentara sekutu pimpinan AS yang berhasil membentuk pemerintahan boneka di sana.

Ulama-ulama dan pejuang Islam yang melakukan perlawanan pun bermunculan dari bumi kisah 1.001 malam ini.

Pada awal abad ke-20 tepatnya sejak 11 Maret 1917, Baghdad dikuasai oleh Britania Raya/Inggris. Pada tahun 1920 seluruh Irak benar-benar dikuasai Inggris.

Pendudukan oleh Inggris ini merupakan hasil PD I, di mana Khilafah Utsmaniyah yang berada satu kubu dengan Jerman kalah dari sekutu Inggris dan Prancis.

Sejak saat itu, Irak yang sebelumnya merupakan bagian dari sistem Khilafah, berganti-ganti dipimpin seorang raja, presiden sekuler, hingga rezim komunis. Kudeta pun sering terjadi di Irak dengan berbagai latar belakang kepentingan politik Inggris dan AS yang bermain di sana.

Dalam situasi politik seperti itulah Syekh Abdul Aziz al-Badri hidup. Irak di era sekarang pun tampaknya membutuhkan pribadi seperti Syekh Abdul Aziz bin Abdul Latif al-Badri.

Mengapa “Syekh al-Badri” lainnya harus muncul? Inilah sekelumit sosok al-Badri tersebut.

* ولادته ونشأته:
ولد الشيخ عبد العزيز بن عبد اللطيف البدري في بغداد في العام 1930 ونشأ على تربية إسلامية رصينة، وتلمذ على يد علماء بغداد منذ صغره وعلى رأسهم الشيخ امجد الزهاوي والشيخ محمد فؤاد الالوسي والشيخ عبد القادر الخطيب والشيخ شاكر البدري الذين كانوا من ابرز وجوه بغداد العلمية الإسلامية آنذاك.

Kelahiran dan Pertumbuhan Syekh al-Badri

Syekh Abdul Aziz bin Abdul Latif al-Badri lahir di kota Samira’ Irak. Tahun kelahirannya ada dua versi yaitu tahun 1929 dan tahun 1930, dan beliau wafat dalam usia sangat muda.

Beliau terlahir dari lingkungan islami yang berjuang untuk dakwah. Masa kecilnya diisi dengan tarbiah islamiah yang intensif.

Sejumlah ulama besar di Baghdad, seperti Syekh Amjad az-Zahawi, Syekh Muhammad Fuad al-Alusi, Syekh Abdul Qadir al-Khatib pernah menjadi gurunya.

Syekh Al-Badri adalah sosok ulama hasil gemblengan gerakan Islam kontemporer di Irak. Beliau adalah satu dari sedikit ulama yang juga seorang mujahid terdepan dalam menghadapi ketakadilan dan kesewenang-wenangan atas sejarah politik kontemporer Irak.

Dengan sikap dan keteguhannya atas kebenaran, beliau menjadi  mercusuar yang memberikan petunjuk atas jalan dakwah menuju kalimat “Laa ilaaha illa Allah”.

Selain seorang ulama, beliau dikenal pula sebagai orator, penulis, dan mujahid di negerinya. Beliau ikut serta berperang melawan pendudukan Israel atas Palestina dengan penuh kesabaran dan keberanian.

Aktivitas dakwah dan lidahnya yang tajam menyerukan kebenaran, serta hatinya yang teguh, menjadikannya sosok yang disegani dan dibenci para penguasa diktator di Irak.

Kehidupan Sosial

Asy-Syahid Syekh Abdul Aziz al-Badri menikah dengan anak perempuan pamannya (sepupu) yaitu Hajah Maryam Husein. Dari istrinya ini, Syekh Abdul Aziz dikaruniai delapan orang anak, yaitu Ahmad, Mahmud, Sa’ad, Umar, Ala’, Zahra’, Asma’, dan ‘Ulya’.

Baca juga:  Al-Hafizh al-Muqri’ Mulla Syekh Yasin Thaha al-'Azzawi, Bagaikan Abdullah bin Ummi Maktum (1938—2006)

Salah seorang anaknya, ‘Ulya’, menuturkan sifat-sifat yang dimiliki ayahnya, yakni seorang ayah teladan, pendidik, memiliki keutamaan, dan seorang yang adil yang tidak membeda-bedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan.

Beliau menganjurkan kepada mereka untuk menunaikan salat tepat pada waktunya. Lebih khusus lagi  salat Fajar. Beliau mengharuskan mereka untuk menghadiri salat Jumat.

Adapun anak perempuannya yang tertua yakni Hajah Ala’ Abdul Aziz (Ummu Musthafa) bercerita tentang ayahnya,

“Kami sangat kehilangan sosok orang tua yang sering kali kami rindu padanya, belas kasih sayangnya sebagai seorang ayah dan teladan kami. Padahal, beliau sibuk dalam aktivitas “Jihad Ashghar” dan “Jihad Akbar”-nya.

Kami kehilangan beliau yang aktivitas selama hidupnya kalau tidak sedang menunaikan tugasnya di negara-negara Islam, kadang-kadang di penjara, atau sedang sibuk menulis.

Beliau mendorong kami untuk menghafal Al-Qur’an dan agar kami menjadi du’at (pengemban dakwah) di tengah masyarakat.

Alhamdulillah, saya dan ketiga saudara perempuan saya mengelola kajian kaidah bahasa, taklim, dan menyelenggarakan pendidikan islami. Kami pun melakukan Tahfiz Al-Qur’an al-Karim dan penyampaian nasihat-nasihat keagamaan.”

Aktivitas Dakwah Menuju Tegaknya Syariat

Aktivitas dakwah Syekh Abdul Aziz al-Badri dalam menegakkan syariat dapat diketahui dari Syekh Abu Abdullah al-Kurdi. Beliau adalah seorang Profesor Syariat di salah satu universitas di Irak sekaligus salah seorang aktivis dakwah yang bertujuan melangsungkan kembali kehidupan Islam di Irak.

Ketika beliau ditanya dalam sebuah wawancara, “Apakah Anda mempunyai ulama yang beraktivitas untuk Khilafah di Irak?”

Maka, Syekh Abu Abdullah al-Kurdi menjawab, “Ulama pertama yang dapat diingat adalah Syekh Abdul Aziz al-Badri yang mana beliau telah dibunuh oleh pihak rezim Ba’ats dan beliau adalah seorang aktivis gerakan dakwah syariah dan Khilafah. Banyak juga ulama dan pemuda yang beraktivitas untuk menegakkan kembali Daulah Khilafah,” demikian jawaban  syekh Abu Abdullah.

Meski usianya sangat muda, Syekh al-Badri sudah sangat menonjol dalam aktivitas kifah siyasi (perjuangan politik). Aktivitas beliau untuk melangsungkan kembali kehidupan Islam telah menyebabkan dirinya sering ditahan oleh penguasa Irak. Hal itu dikarenakan kegiatannya menyebarkan selebaran (nasyrah) yang menyerang realitas buruk di negerinya atau karena mencela kebijakan kolonial.

Sosok Pengoreksi Penguasa dan Khatib yang Pemberani  

Syekh Abdul Aziz memang dikenal sebagai seorang ulama yang kritis terhadap para penguasa. Mengkritisi atas perilaku para penguasa, sudah menjadi ciri khas ulama yang satu ini.

Beliau seakan sosok penghulu para syuhada yang digambarkan dalam sebuah hadis, ”Sayyidu asy-Syuhada Hamzah wa Rajulun qaama ’inda imaamin jaairin fa nashahahu fa qatalahu (seorang laki-laki yang berdiri di depan pemimpin jahat ia menasihatinya, kemudian (pemimpin itu) membunuhnya).”

Syekh Abdul Aziz al-Badri adalah ulama pemberani yang berdiri di hadapan penguasa, mengatakan yang hak, menasihati para pemimpin negeri agar taat terhadap hukum-hukum Allah Swt.. Karena itu pulalah ia menjemput syahid.

Beliau benar-benar mengikuti teladan para ulama yang digambarkannya dalam buku karyanya Al-Islam Baina al-’Ulama wa al-Hukaam dalam memperjuangkan Islam.

Baca juga:  Ustazah Najah As-Sabatin, Teladan dalam Dakwah Kaum Muslimah

Jalan dakwah adalah pilihan yang telah dimantapkan oleh Syekh Abdul Aziz al-Badri. Jalan dakwah tersebut dijalaninya dengan penuh semangat, keberanian, dan teladan yang baik, sebagaimana para salafush shalih terdahulu.

Kesibukan sehari-harinya selalu diwarnai dengan dakwah, memberikan nasihat, pengarahan, dan khotbah, di masjid-masjid di Baghdad, dan lain-lain.

Kepiawaiannya dalam berdakwah tak diragukan lagi. Ia adalah seorang orator ulung, berani dalam menyatakan yang hak, penuh semangat ketika mendakwahkan Islam, dan selalu siap beradu argumentasi terhadap ide-ide destruktif di luar Islam.

Syekh Abdul Aziz selalu siap menantang mereka di mana dan kapan saja, mematahkan argumentasi, menyingkap kebobrokan dan kepalsuan ide-ide serta strategi-strategi mereka, hingga mereka berpaling darinya.

Dalam buku Hukmul Islam fil Isytirakiyah, Syaikh Abdul Aziz menentang habis-habisan pendapat yang menyatakan adanya sosialisme dalam Islam. Dalam kata pengantar buku tersebut yang disampaikan oleh Syekh Amjad Az-Zahawi, tertulis,

“Ketika tersebar pendapat ada bentuk sosialisme tertentu dalam Islam, Syekh Abdul Aziz al-Badri segera meng-counter perkataan tersebut dengan menjelaskan tidak adanya sosialisme dalam Islam. Sosialisme menurutnya justru bertentangan dengan hukum-hukum Islam yang mulia dan kaidah-kaidah Islam menolaknya.

Dalam meng-counter ide-ide menyimpang tersebut, Syekh Abdul Aziz Al Badri selalu menggunakan bahasa yang gamblang dan didukung oleh dalil-dalil qath’i sehingga tidak ada ruang untuk ragu-ragu, karena sesuai dengan nas-nas syariat yang qath’i.

Keberanian Al-Badri dalam menyampaikan kebenaran pun tidak pilih-pilih. Dalam setiap kesempatan, baik itu khotbah ataupun ceramah-ceramah keislaman, Syekh Abdul Aziz al-Badri selalu menyampaikan kalimat yang hak walaupun di hadapan penguasa.

Abdul Karim Qasim, penguasa Baghdad pada saat itu, memerintah dengan “tangan besi”. Dia menobatkan dirinya sebagai “Penguasa Tunggal”. Tindakan ini langsung dikomentari oleh Al-Badri dengan menjuluki Abdul Karim Qasim sebagai “orang kaku, kasar, dan terkenal kejahatannya”.

Koreksi Syekh Abdul Aziz Al-Badri terhadap pemerintah mencapai puncaknya ketika Abdul Karim Qasim menetapkan hukuman mati kepada sebagian komandan pasukan yang ikhlas, seperti Nazhim Ath-Thabqajali, Rafa’at Haji Siri, dan lain-lain.

Syekh Abdul Aziz al-Badri pun menggerakkan massa dan memimpin demonstrasi besar yang jumlahnya diperkirakan mencapai empat puluh ribu demonstran. Semuanya menuntut lengsernya Abdul Karim Qasim.

Syekh Abdul Aziz al-Badri juga mengeluarkan fatwa memvonis kafir orang-orang komunis yang menjadi pembela dan pendukung Abdul Karim Qasim. Abdul Aziz al-Badri menuntut memerangi dan menggagalkan rekayasa jahat mereka.

Atas tindakan tersebut, Abdul Karim Qasim akhirnya menetapkan status tahanan rumah kepada Syekh Abdul Aziz al-Badri sejak 2 Desember 1959 sampai 7 Agustus 1960.

Namun, perjuangan Syekh Al-Badri tidak terhenti hanya karena tahanan rumah tersebut. Ketika hukuman ini dicabut, Abdul Aziz al-Badri tidak menghentikan khotbah-khotbahnya, memobilisasi massa untuk melawan Abdul Karim Qasim dan antek-anteknya.

Atas tindakannya tersebut, kembali ia dijatuhi hukuman untuk kedua kalinya, dengan menetapkan status tahanan rumah.

Suatu saat, Syekh Al-Badri bepergian untuk melakukan ibadah haji. Setelah kembali ke Baghdad, sepulang dari Tanah Suci, dakwah beliau menjadi lebih kencang dan lebih agresif. Tidak hanya dalam khotbah Jumat, namun dalam perayaan-perayaan tertentu beliau ambil kesempatan tersebut untuk berdakwah.

Baca juga:  Ketabahan dan Pengorbanan Syekh Shabri Aruri

Abdul Karim Qasim muak kepada Syekh Al-Badri. Maka, setelah tidak mampu menahannya, Abdul Karim Qasim memerintahkan tahanan rumah lagi kepada Syekh Al-Badri mulai dari 7 Agustus 1961 sampai 24 Desember 1961.

Beliau bebas karena adanya amnesti umum yang dikeluarkan oleh Abdul Karim Qasim terhadap semua narapidana, baik tahanan kriminal maupun tahanan politik.

Abdul Karim Qasim diganti setelah kudeta militer pada tahun 1963. Pemimpin kudeta tersebut adalah Abdul Salam Arif. Maka, Syekh Al-Badri menjalani era “jihad” yang baru. Abdul Salam Arif menjadi kepala negara untuk menggantikan Abdul Karim Qasim. Abdul Salam Arif pun tak lepas dari kritikan Syekh Al-Badri yang pemberani ini.

Pada suatu hari Jumat, beliau menyampaikan khotbah kepada para jemaah di Baghdad. Abdul Salam Arif memasuki masjid untuk turut salat Jumat bersama dengan sekelompok menteri, para pengawal, dan perwira senior. Maka, Syekh serta-merta mengubah topik pembicaraan isi khotbahnya–Allah telah memberkati padanya kecerdasan dan kecepatan berpikir dan berbicara.

Saat itu beliau mengarahkan pembicaraannya langsung kepada Abdul Salam Arif yang sedang duduk, beliau berkata, “Dengarlah, wahai Abdul Salam—(langsung disebut namanya).” Jemaah salat pun tertegun oleh kata-kata dari Syekh Al Badri.

Para menteri dan ajudan militer juga kaget terhadap keberanian Syekh, yang berbicara dengan jelas dan berani memulai konfrontasi antara Syekh Badri dan Abdul Salam Arif.

Hasilnya adalah perintah yang diberikan kepada Syekh setelah khotbah tersebut. Beliau dikenai hukuman tahanan rumah dan diberhentikan dari mengajar. Setelah menjalani tahanan rumah lebih dari dua bulan, Syekh diperbolehkan pergi (dibebaskan).

Namun demikian, Syekh Abdul Aziz tetap kritis terhadap pemerintahan Abdul Salam Arif, sehingga terjadi lagi penangkapan dan ditahan selama empat bulan, kemudian dilepaskan lagi.

Dalam versi yang lain, Al Hajjah A’la al-Badri menuliskan kisah keberanian Syekh Al-Badri,

“Dalam sebuah pembukaan Masjid Raya, Syekh Al-Badri sedang berada di atas mimbar menyampaikan pidato. Maka, ketika Presiden Abdul Salam Arif masuk, sebelum sempat mengambil tempat duduknya, Syekh Abdul Aziz al-Badri mulai menasihatinya dengan perkataannya yang terkenal kepada Arif, tanpa merasa ragu dan takut Syekh Al-Badri berkata,

Wahai Abdul Salam! Terapkan Islam! Jika engkau mendekat kepada Islam, sehasta, maka kami akan mendekat sedepa. Wahai Abdul Salam, nasionalisme tidak layak bagi kami. Hanya Islam tempat kami berlindung!’

Ketika pidato selesai, Syekh Al-Badri duduk di sampingnya tanpa menoleh kepada Presiden Irak itu. Akhirnya, Abdul Salam Arif berdiri dan menyalaminya dan berkata, “Aku berterima kasih atas “keberanian” ini!””

Setelah konfrontasi ini, Syekh Al-Badri dipindahkan ke Masjid Al-Khulafa’ selama dua tahun (1964—1966) untuk melumpuhkan aktivitas keislamannya. [MNews/SNA-Juan]

Bersambung ke Bagian 2/2

*Penulis Buku Memoar Pejuang Syariah dan Khilafah, Al-Azhar Fresh Zone Publishing, 2012.

Tinggalkan Balasan