[Nafsiyah] Rezeki dari Allah, Yakinkah Kita?

“Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di muka bumi melainkan semuanya telah dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediaman dan tempat penyimpanannya. Semua itu (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS Hud: 6)


Penulis: Muthiah Haniif


MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Ayat itu sudah jamak kita dengar, bahkan mungkin banyak yang hafal di luar kepala. Namun, benarkah keyakinan akan jaminan rezeki dari Allah itu sudah tertancap erat di benak kita? Sudahkah keyakinan bahwa Allah adalah Sang Maha Pemberi rezeki terejawantah dalam pilihan hidup serta sikap kita?

Ternyata, tidak semudah lisan berkata. Mewujudkan keyakinan bahwa Allahlah satu-satunya Zat Maha Pemberi rezeki tak semudah membalik telapak tangan. Terlebih ketika kita sudah berada di zona nyaman.

Diri masih terbelenggu oleh rasa takut pada makhluk Allah, khawatir kehilangan mata pencaharian jika terlibat dalam aktivitas dakwah Islam kafah, atau takut tidak bisa lagi menafkahi keluarga karena meninggalkan pekerjaan yang terkait riba.

Padahal, keyakinan bahwa rezeki dari Allah adalah konsekuensi dari iman pada Allah. Keyakinan yang bersifat tashdiqul jazm, yakni pasti, utuh, bulat, tanpa setitik pun rasa ragu akan ke-Maha-an Allah; keyakinan yang mendorong kita melangkah di jalan-Nya tanpa ragu, memperjuangkan syariat-Nya tanpa malu-malu. Karena kita menyadari, tak ada satu pun di dunia ini yang mampu menghalangi rezeki yang Allah berikan.

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak seorang pun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS Fathir: 2)

Kiranya firman Allah Swt. ini semakin menguatkan kita, bukanlah majikan yang memberi rezeki, bukan pula pemerintah, tetapi Allah saja satu-satunya. Allah akan mencukupkan rezeki makhluk-Nya hingga habis jatah hidup di dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ ، فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُ ، وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya, karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR Baihaqi dalam Sunan al-Kubro 9640, disahihkan Hakim dalam Al-Mustadrak 2070 dan disepakati Ad-Dzahabi)

Ada sebuah kisah menarik terkait hal ini. Dalam salah satu ceramahnya, Syekh Shalih al-Maghamisi menceritakan seorang lelaki yang jatuh ke dalam sumur. Ia berteriak minta tolong. Orang-orang berhasil mengeluarkannya dari sumur dalam keadaan selamat. Seseorang menyodorkan kepadanya segelas susu, lalu ia meminumnya.

Orang-orang bertanya, “Bagaimana bisa Anda jatuh ke dalam sumur?” Mulailah orang itu bercerita. Ia berdiri di bibir sumur untuk menceritakan kronologinya. Qadarullah, ia terjatuh lagi ke dalam sumur dan meninggal.

Inilah bukti bahwa Allah akan mencukupkan jatah rezeki seseorang, meski hanya segelas susu. Ketika telah genap jatahnya, Allah pun mencabut nyawanya.

Jelaslah, selama nyawa masih di kerongkongan, jangan pernah hadir sepercik ragu akan kekurangan rezeki. Laa tahzan, innallaha ma’ana. [MNews/My]

Tinggalkan Balasan