Sistem Sekuler Demokrasi Tak Memberi Ruang kepada Syariat Islam Kafah untuk Bernapas Lega


Penulis: Ummu Naira Asfa (Forum Muslimah Indonesia/ForMind)


MuslimahNews.com, OPINI — Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas meminta setiap acara yang berlangsung di Kementerian Agama (Kemenag) juga memberikan kesempatan kepada agama lain dalam mengisi doa dan tidak hanya doa untuk agama Islam saja.

Pernyataan itu disampaikan Yaqut saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kemenag secara daring dan luring yang berlangsung mulai Senin hingga Rabu. (antaranews.com, 5/4/2021)

Yaqut menjelaskan, pembacaan doa lintas agama didasari karena Kementerian Agama tidak hanya menaungi satu agama saja. Tetapi semua agama yang ada dan diakui di Indonesia (kumparan.com, 7/4/2021).

Bentuk Toleransi Tidak dengan Berdoa Bersama-sama

Makna toleransi dalam Islam sudah jelas yaitu “lakum diinukum wa liyadiin” (bagimu agamamu, bagiku agamaku). Artinya kita memahami bagaimana syariat bagaimana syariat orang nonmuslim seperti apa, bukan mengakui (kebenarannya). Sebab, telah jelas dalam ajaran Islam bahwa “innaddiina indallahil Islam” artinya sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah Swt. hanyalah Islam. Agama selain Islam jelas batil.

Toleransi dalam Islam dimaknai dengan membiarkan orang penganut dan kepercayaan lainnya menjalankan aktivitas sesuai dengan keyakinan mereka, bukan membenarkannya.

Dalam urusan muamalah dengan masyarakat nonmuslim, kita tetap menghargai mereka dan menjalankan kewajiban kita dalam bermuamalah sebagaimana mestinya.

Toleransi tidak harus kita berdoa bersama-sama dengan orang nonmuslim dan saling mengamini doa masing-masing, karena dalam aktivitas doa bersama lintas umat beragama, tampak sekali sinkretisme, yaitu proses perpaduan yang sangat beragam dari beberapa pemahaman kepercayaan atau aliran-aliran agama. Ini jelas aktivitas yang tertolak/batil menurut Islam. Syariat Islam tidak membenarkan aktivitas mencampuradukkan kebenaran ajaran Islam dengan ajaran agama yang lain yang jelas salah.

Mewaspadai Narasi Moderasi Agama

Islam mengajarkan kita untuk menjaga kemurnian akidah. Kita diajarkan untuk berhati-hati dalam setip beraktivitas, termasuk dalam persoalan doa bersama lintas umat beragama ini. Dalam hal moderasi agama hal ini, memang diklaim baik, tetapi bagaimana harusnya kaum muslimin harus bersikap?

Narasi tentang moderasi agama berkembang sejak beberapa tahun ke belakang hingga sekarang. Narasi ini kemudian digaungkan kembali oleh Kemenag RI karena beberapa kejadian yang dianggap radikal seperti terorisme.

Kata moderasi berasal dari bahasa Latin ‘moderâtio’, yang berarti sedang. Maksud sedang di sini ialah tidak kelebihan dan tidak kekurangan.

Secara bahasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah moderasi berakar dari kata sifat “moderat” yang berarti selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem. Kata moderasi dalam bahasa Arab diartikan “al-wasathiyyah”. Secara bahasa, “al-wasathiyyah” berasal dari kata “wasath” artinya berada di tengah-tengah.

Menurut Komaruddin Hidayat (Guru Besar bidang Filsafat Islam), pengertian moderasi beragama muncul karena ada dua kutub ekstrem, yakni ekstrem kanan dan ekstrem kiri. Ekstrem kanan terlalu terpaku pada teks dan cenderung mengabaikan konteks, sedangkan ekstrem kiri cenderung mengabaikan teks (iqra.id, 8/7/2020).

Di dalam buku Moderasi Beragama terbitan Kemenag RI (2019), definisi moderasi beragama yang digariskan dalam buku Kemenag tersebut adalah:

Semangat moderasi beragama adalah untuk mencari titik temu dua kutub ekstrem dalam beragama. Di satu sisi, ada pemeluk agama yang ekstrem meyakini mutlak kebenaran satu tafsir teks agama, seraya menganggap sesat penafsir se­lainnya. Kelompok ini biasa disebut ultra­konservatif. Di sisi lain, ada juga umat beragama yang ekstrem mendewakan akal hingga mengabaikan kesucian agama, atau mengorban­kan kepercayaan dasar ajaran agamanya demi toleransi yang tidak pada tempatnya kepada pemeluk agama lain. Mereka biasa disebut ekstrem liberal. Keduanya perlu dimoderasi.” (hlm. 7).

Moderasi beragama dengan konsep Islam moderat versi Barat sangat erat kaitannya satu sama lain, perbedaannya sangat tipis bahkan hampir tak terlihat.

Konsep Islam moderat versi Barat seperti yang diungkapkan oleh Daniel Pipes, Presiden Middle East Forum (Forum Timur Tengah), bahwa Islam moderat harus digaungkan untuk mengakhiri terorisme. Islam moderat menurutnya adalah sarana kontraterorisme yang efektif.

Menurut Daniel Pipes, sarana kontraterorisme paling efektif ada dua.  Pertama, mengalahkan gerakan-gerakan islamis, sama seperti gerakan fasis dan komunis dikalahkan. Tugas ini pertama-tama diarahkan pada kaum nonmuslim dan berbagai komunitas muslim yang umumnya tidak mampu atau tidak bersedia membersihkan pandangan mereka sendiri.

Sebaliknya, hanya kaum muslim yang dapat menjalankan langkah kedua, yaitu merumuskan dan menyebarluaskan Islam yang modern, moderat, demokratis, liberal, hidup bertetangga secara baik, manusiawi, serta menghargai kaum wanita.

Di sini, kaum nonmuslim bisa membantu dengan membuat jarak terhadap kaum Islamis serta mendukung kaum muslim moderat. (id.danielpipes.org)

Beratnya Berislam Kafah dalam Sistem Sekuler

Bagi umat Islam, hidup di dalam sistem kehidupan yang sekuler saat ini memang sangat sulit. Ada banyak aturan-aturan kehidupan bermasyarakat atau bernegara yang tak sejalan dengan syariat Islam sendiri.

Contohnya saja tentang menjaga pandangan. Dalam Islam, muslim, baik laki-laki maupun perempuan, diajarkan untuk menundukkan pandangan dan menjaga aurat mereka dalam kehidupan publik. Dalam kondisi tata pergaulan sekuler yang serba bebas ini, aturan kehidupan yang ada membebaskan warganya berekspresi dalam berpakaian. Akhirnya, banyak aurat terlihat di mana-mana. Ini adalah kondisi yang sulit untuk muslim yang ingin menjaga pandangan tadi.

Kembali lagi ke soal doa bersama lintas umat beragama yang diwacanakan di lingkungan instansi pemerintah  ini. Secara terang-terangan, negara membawa publik mempraktikkan sinkretisme agama dan pelanggaran syariat lainnya. Akidah umat makin tak terjaga. Liberalisasi akidah makin banyak dijalankan, bahkan menjadi kebijakan negara. Tentunya ini sangat berbahaya bagi umat Islam.

Dari sini, kita bisa merasakan bahwa sistem sekuler tidak memberi ruang kepada syariat Islam kafah untuk bernapas lega. Sistem sekuler demokrasi tidak bisa berkompromi dengan syariat Islam. Tanpa sistem Islam kafah, umat Islam akan sulit menjalani kehidupan sebagai muslim yang hakiki. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan