[Ramadan Sedunia] Iktikaf Ditemani Kopi di Negeri Asal Wali Songo, Yaman

MuslimahNews.com, RAMADAN SEDUNIA — Negeri Yaman memiliki kaitan erat dengan kaum muslimin Indonesia. Tersebarnya Islam di Indonesia tak lepas dari jasa Wali Songo. Sembilan dai tersebut merupakan keturunan Sayyid Alawiyin Hadramaut. Kota Hadramaut sendiri terletak di Yaman bagian selatan.

Di Yaman ada tradisi yang disebut sebagai Mesaharaty atau “penyeru malam”. Tradisi ini juga ada di negara-negara Arab lainnya.  Dengan mengenakan busana khas, Mesaharaty akan berkeliling di jalan-jalan desa sambil menabuh gendang dan berseru untuk menandai waktu bangun sahur. Mesaharaty juga berteriak menyebut nama keluarga di setiap rumah yang dilewati dan dikenalnya.

Tradisi mesaharaty pertama kali muncul saat masa kekhalifahan Abbasiyah. Gubernur Mesir saat itu, Orbat bin Ishaq, adalah mesaharaty pertama dalam sejarah. Orang nomor satu di Mesir ini pada tahun 852 berjalan di Kairo untuk mengingatkan warga bangun sahur.

Selama masa Fatimiyyah, khalifah Al-Hakim bin Amrillah memerintahkan rakyatnya untuk tidur lebih awal setelah tarawih. Kemudian di waktu sahur, dia memerintahkan tentara untuk mengetuk setiap pintu untuk membangunkan sahur.

Seiring berjalannya waktu, para pemimpin Islam saat itu menunjuk seorang mesaharaty untuk membangunkan sahur. Kini, mesaharaty tidak mendapatkan upah, namun warga secara sukarela memberikan hadiah di akhir Ramadan.

Sambusa

Jika di Indonesia kita biasa makan lengkap ketika berbuka puasa, di Yaman tidak demikian. Mereka berbuka puasa hanya demi mengganjal perut saja. Yaitu hanya dengan memakan kurma, meneguk minum secukupnya, lalu memakan gorengan seperti sambusa, bakhomri, dan lain-lain. Makan malamnya nanti sekitar pukul sembilan malam, sebelum mengerjakan salat tarawih.

Menjelang magrib, kaum muslimin Yaman akan menuju ke beberapa masjid untuk mengikuti rohah (pengajian rutin Ramadan), sekaligus memperoleh pembagian hidangan takjil berupa zanjabil (wedang jahe), kurma, syurbah (mirip bubur ayam yang dicampur dengan potongan daging kambing), dan sambusa (mirip martabak mini berbentuk segitiga).

Selain menu berbuka puasa, Kota Tarim di Hadramaut, Yaman juga memiliki tradisi unik berupa salat tarawih yang berbeda-beda waktu penyelenggaraannya. Di kota kecil dengan sekitar 350 masjid ini, setiap masjidnya mempunyai jadwal tarawih sendiri-sendiri.

Ada yang tarawih pukul sembilan malam, 11 malam, 12 malam, dan bahkan ada yang dimulai pukul dua dini hari. Jadi, dalam semalam, seseorang yang menghendaki bisa melaksanakan 100 rakaat salat tarawih dengan berpindah-pindah masjid. Setelah tarawih, tersedia jamuan makan malam gratis dengan menu istimewa berupa daging mandhi.

Qahwa

Pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, terdapat tradisi menyeduh kopi dalam teko besar. Gelas-gelas ditumpuk, kudapan diletakkan di atas piring berjajar. Tua, muda, lelaki, perempuan, berkumpul di masjid melakukan iktikaf. Mereka melakukan aktivitas ibadah hingga subuh dengan ditemani kopi.

Beribadah ditemani kopi ini merupakan tradisi yang sudah dilakukan sejak berabad-abad silam pada masa Khilafah. Kopi memang memiliki kaitan erat dengan peradaban Islam. Kopi pertama kali hadir di Abyssinia, sekarang Ethiopia. Namun, orang Yaman adalah yang pertama membudidayakan kopi.

Di Yaman, minuman ini dikenal sebagai qahwa. Kata qahwa kemudian diserap menjadi coffee,cafe, maupun kopi.

Orang kaya di Yaman memiliki ruangan khusus untuk ngopi. Sedangkan orang umum minum kopi di kaveh kanes, alias rumah kopi.

Masuknya kopi ke Indonesia berawal dari pedagang Belanda yang pada 1699 membawanya dari Malabar, India, ke Jawa. Hingga pada 1700-an, Jawa dan Mocha (kota pelabuhan di Yaman), menjadi pemasok kopi terbaik.

Kopi ini juga yang menemani dalam acara khataman Al-Qur’an. Seperti yang dilakukan di masjid Al-Muhdlor, selama Ramadan, khataman Al-Qur’an dilakukan setiap empat hari sekali. Kopi Arab dan kacang Arab membuat acara khataman yang bisa sampai pukul dua dini hari terasa lebih semarak. MasyaAllah!

Sayangnya, sudah bertahun-tahun Yaman diliputi nestapa karena perang berkepanjangan yang diotaki Amerika Serikat. Kaum muslimin Yaman pun harus berpuasa dalam suasana yang mencekam. Semoga segera terwujud Khilafah sebagai junnah (perisai) yang melindungi rakyat Yaman agar bisa menikmati Ramadan dengan penuh suka cita. Aamiin. [MNews/Rgl]

Gambar: Mesaharaty. Sumber: Reuters

Gambar: Muslim Yaman pada masa lampau minum kopi.  Sumber: tirto.id

Tinggalkan Balasan