Syekh Ahmad ad-Da’ur (Abu Muhammad): Ulama, Politikus, Mujahid, Pendidik yang Bersahaja (1907—2001)


Penulis: M. Ali Dodiman*


 MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Syekh Ahmad ad-Da’ur rahimahullah lahir di kota Qalqiliyah, salah satu kota di Palestina sebelah utara Tepi Barat (West Bank).Tahun kelahirannya ada dua versi yang penulis dapatkan.

Dalam salah satu situs berbahasa Arab yang memuat ringkasan biografi tokoh-tokoh muslim dan mujahid dakwah abad ke-20, disebutkan bahwa tahun lahir Syekh Ahmad ad-Da’ur adalah tahun 1909. Sedangkan, dalam majalah Al-Waie berbahasa Arab disebutkan tahun kelahiran Syekh Ahmad ad-Da’ur adalah 1907 yang bertepatan dengan tahun 1325 H.

Riwayat Pendidikan dan Pekerjaan Beliau

Syekh Ahmad ad-Da’ur menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di sekolah-sekolah di Tulkarm. Kemudian pindah ke Al Azhar, pada tahun 1930, untuk mempelajari fikih dan syariat Islam.

Dalam periode tersebut beliau bertemu dengan syekh Taqiyuddin an-Nabhani, rahimahullah. Saat itu syekh Taqiyuddin sedang menimba ilmu juga di Al Azhar sejak tahun 1928.

Ia sendiri menyelesaikan kuliahnya di Al Azhar As Syarif lulus mengambil Spesialisasi Peradilan Syariah pada tahun 1934 M, kemudian kembali ke Palestina. Ia bekerja dalam bidang pendidikan dengan menjadi guru, kemudian diangkat sebagai pegawai di Mahkamah Syariah di Jenin.

Kiprah Dakwah Beliau

Saat revolusi tahun 1936, Syekh Ahmad ad-Da’ur ikut serta mengangkat senjata dalam pertempuran melawan  orang-orang Yahudi dan Inggris.

Beliau juga terlibat langsung perang pada tahun 1948 ketika Yahudi menduduki Palestina dengan bantuan negara-negara penjajah yang saat itu dipimpin oleh Inggris dan antek-antek penguasa di sekitar Palestina.

Bukan kebetulan, Qalqiliyah (tempat kelahirannya) posisinya memang ada di garis depan antara bagian daerah Palestina yang diduduki Yahudi dan bagian yang tersisa dari Palestina, dengan  Yordania. Oleh karena itu, kota Qalqiliyah menjadi daerah yang membara.

Syekh Ahmad ad-Da’ur adalah mujahidin pertama yang menolak pendudukan  Yahudi di daerahnya. Reputasi beliau di Qalqiliyah  sudah tersebar dalam hal perlawanannya terhadap musuh (Yahudi).

Di negerinya ini beliau adalah imam salat sekaligus pemimpin perlawanan terhadap Yahudi. Beliau juga dikenal sebagai pembawa obor/suluh dakwah mengembalikan Khilafah bersama jamaah yang didirikan oleh syekh Abu Ibrahim (Taqiyuddin an-Nabhani).

Beliau dan Syekh Taqi memang telah bersama sejak di Al-Azhar. Keduanya memiliki kesadaran yang sama terhadap kondisi dunia pascaserangan kafir penjajah terhadap Khilafah tahun 1924 M/1342 H.

Kedua syekh ini sama-sama menyadari bahwa menegakkan Khilafah adalah kewajiban. Keduanya memandang bahwa sesungguhnya kebangkitan dan kemuliaan umat Islam serta kembalinya umat Islam sebagai “Khairu Ummah” yang diturunkan untuk manusia adalah dengan menegakkan Khilafah, yang mana Rasulullah saw. telah memberikan kabar gembira tentang Khilafah tersebut.

Beliau berjuang sepenuh kekuatan dan ketakwaan atas pertolongan Allah dan taufik-Nya. Salah satunya tampak saat beliau dibolehkan mencalonkan diri pada pemilu di Yordania tahun 1954 dan 1956.

Program beliau saat itu sangat tegas dan jelas. Yaitu untuk menjadikan parlemen semata-mata sebagai mimbar dakwah dan sarana mengoreksi penguasa karena loyalitasnya terhadap Inggris dan ketiadaan penerapan Islam.

Aktivitas memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam dengan menegakkan Khilafah Rasyidah pun sangat jelas dilakukan oleh beliau.

Dalam program pemilunya, beliau secara jelas mengharamkan aktivitas parlemen yang lainnya, yaitu aktivitas legislasi (membuat undang-undang) dan loyal terhadap pemerintahan yang tidak menerapkan Islam.

Karena, Allah swt.-lah yang berhak membuat undang-undang—Al Qur’an dan Sunah sebagai sumber hukum—, bukan manusia. Dan penguasa yang pantas diberikan loyalitas pada mereka adalah yang menerapkan syariat Islam.

Jadi, kebolehan pencalonan beliau di parlemen saat itu, karena semata untuk mengoreksi penguasa yang tidak berhukum dengan Islam dan loyal terhadap kafir penjajah.

Selain itu, beliau memang menjadikan parlemen semata sebagai mimbar untuk mengatakan “Kalimatul Haq” dengan kemampuan, kebersihan ide dan keberaniannya, untuk mengoreksi penguasa dan kewajiban mengubahnya menjadi penguasa yang berhukum dengan  Islam dan loyal kepada Islam, bukan kepada kafir penjajah.

Dengan program pemilu seperti inilah, di samping karena umat mengenal baik ketakwaan dan keteguhannya memimpin perlawanan terhadap Yahudi dan antek Inggris, maka beliau berhasil dalam pemilu 1954 dan 1956.

(Untuk diketahui, bahwa dalam kebijakan berikutnya kelompok dakwah yang diikutinya itu telah memutuskan tidak melibatkan para anggotanya masuk ke dalam parlemen karena sistem pemilunya tak lagi memungkinkan untuk menjadi mimbar dakwah).

Parlemen: Mimbar Dakwah

Pada tahun 1955, beliau pernah berpidato di hadapan parlemen yang berisi kritikannya terhadap Undang-Undang Sipil (Qanun Madani) Yordania.

Beliau melemparkan wacana tersebut di parlemen pada tanggal 30 Jumadil Ula 1374 H yang bertepatan dengan tanggal 24 Januari 1955 M.

Pidatonya tersebut terekam dalam jurnal resmi parlemen No. 55 tanggal 22 Jumadilakhir 1374 H yang bertepatan dengan tanggal 15 Februari 1955.

Pidato tersebut dicetak tiga kali dalam bentuk buku dan diterbitkan oleh penerbit Darul Ummah. Cetakan terakhir tahun 1410 H/1990 M.

Dapat dikatakan bahwa sebenarnya hanya syekh Ahmad ad-Da’ur rahimahullah saja yang secara terus terang dan segenap upaya menyampaikan al Haq di parlemen, sampai mereka –para pemimpin zalim- tak mampu lagi melawan, karena bagi para pemimpin zalim, kata-kata yang hak lebih kuat daripada pedang.

Khususnya, dikarenakan syekh Ahmad ad-Da’ur tidak memberikan loyalitasnya sedikit pun terhadap pemimpin zalim tersebut. Beliau pun tak pernah diam mengomentari hubungan Yordania dengan Inggris.

Pada tahun 1956, Raja mengambil risiko dengan Perjanjian Yordania. Yakni perjanjian antara Inggris dan Yordania, yang kemudian disebut Perjanjian Inggris-Yordania.

Perjanjian yang dibuat oleh Inggris dengan negara-negara yang pernah dijajahnya. Ketika itu, orang-orang mengira, bahwa cengkeraman Inggris telah berakhir dari Yordania.

Kelompok dakwah yang dipimpin Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dan beliau ikuti, ketika itu justru melakukan serangan opini yang sangat kuat.

Mereka menunjukkan pada umat bahwa perjanjian ini belum berakhir. Tetapi, sengaja diakhiri, dan dimodifikasi dengan perjanjian baru.

Syekh Ahmad ad-Da’ur, beliaulah satu-satunya yang membongkar hal itu di parlemen. Sampai-sampai, semua anggota parlemen lainnya ketika itu mencaci dan mengecamnya.

Demikian juga masyarakat di Yordania juga menyerangnya. Mereka mengatakan, “Tidakkah semua paham, kecuali kelompok dakwah itu. Kalian itu memang aneh.” Ini terjadi pada 1956.

Pada tahun 1958, setelah Amerika merekayasa kudeta di Irak untuk menggulingkan keluarga Raja dan mendudukkan Abdul Karim Qasim, maka pasukan Inggris turun di bandara ‘Amman dan ‘Aqabah.

Orang-orang pun baru teringat apa yang pernah disampaikan oleh Syekh dan kelompok dakwahnya. Mereka mengatakan, “Tidak ada yang paham, kecuali (kelompok dakwah itu).”

Sikap beliau yang berani dalam mengoreksi penguasa yang tidak menerapkan Islam dan loyal terhadap Inggris, juga kritikan beliau terhadap hubungan penguasa dengan Yahudi perampas Palestina, mendorong penguasa Yordania menghapuskan imunitas beliau sebagai anggota parlemen. Maka, sejak saat itu beliau sering kali ditahan dan ditangkap.

Bagi Syekh Ahmad, Penjara (juga) Mimbar Dakwah

Syekh Ahmad ad-Da’ur hidup dari penjara ke penjara-penjara di Jordan. Dari penjara Yerikho (Ariha) ke penjara Al Karak kemudian ke penjara Thafilah dan diasingkan ke H4 (pengasingan di padang pasir).

Berikutnya beliau dipenjarakan di Zarqa dan penjara pusat di kota Amman. Lalu beliau mencoba untuk keluar dari Yordania ke Suriah dengan cara menyelundup. Namun beliau ditangkap dan dikembalikan ke Yordania.

Pada tanggal 6 Januari 1969 syekh Ahmad ad-Da’ur beserta 15 aktivis kelompok dakwah yang diikutinya ditangkap atas tuduhan ingin menegakkan Khilafah di Yordania dan negeri-negeri Islam tetangganya.

Tanpa rasa malu, penguasa menyebutkan daftar tuduhan terhadap mereka yaitu “Mereka bermaksud menegakkan Khilafah dan memilih Khalifah”.

Padahal menegakkan Khilafah adalah kewajiban yang agung bagi seluruh kaum muslim, tapi penguasa zalim malahan menjadikan hal tersebut sebagai perbuatan kriminal.

Beliau divonis hukum mati atas tuduhan tersebut. Tapi Alhamdulillah, Allah melapangkan kesulitan beliau. Dalam beberapa tahun beliau sudah bisa bebas. Beliau dibebaskan dari penjara pada tahun 1971.

Meskipun beliau bertahun-tahun lamanya mendekam di penjara, beliau manfaatkan kesempatan tersebut untuk melakukan dakwah di penjara-penjara tersebut.

Hingga banyak orang-orang Sosialis yang berada di dalam penjara al-Mahatthah akhirnya menjadi para pengemban dakwah.

Beliau mengatakan, ”Melalui penjara tersebut, seruan Allah dipenuhi… Mereka menyediakan urusanmu, menyediakan sajadah. Saya lebih suka di penjara, ketimbang bebas dari penjara. Karena orang-orang yang ada di penjara jauh lebih menghormati saya, ketimbang orang-orang di luar sana.”

Syekh Thalib Awadallah dalam kitab Ahbabullah mengungkapkan kisah tatkala syekh Ahmad ad-Daur dijebloskan ke penjara.

Sipir penjara pada awalnya memperlakukan syekh Ahmad dengan perlakuan yang kasar dikarenakan sipir tersebut diberi tahu bahwa syekh Ahmad adalah seorang komunis.

Sampai pada suatu ketika sipir tersebut merasa heran tatkala mendapati syekh Ahmad menggelar sajadah dan melakukan salat di sel tahanan. Ia menghampiri beliau dengan rasa heran dan bertanya mengapa syekh melakukan salat.

Yang ditanya (syekh Ahmad) juga heran mengapa dia bertanya demikian? (bukankah seorang muslim wajib salat?)

Akhirnya terbongkarlah kebohongan bisikan dari pejabat pemerintah yang menjebloskan syekh Ahmad tersebut. Berikutnya syekh Ahmad diperlakukan dengan baik sebagaimana para tahanan di penjara tersebut yang terlebih dahulu memperlakukan beliau dengan baik.

Syekh Ahmad menuturkan kisah ini kepada syekh Thalib sambil tertawa mengenang kejadian tersebut.

Ketika terjadi Revolusi Iran yang dipimpin oleh Khomeini, saat itu umat merindukan pemerintahan Islam. Akan tetapi, Khomeini malah mengumumkan Republik Islam Iran dengan UUD-nya yang tidak terikat dengan Islam dalam pasal-pasalnya.

Maka, kelompok dakwah yang beliau ikuti mengirimkan utusan yang dipimpin oleh syekh Ahmad ad-Daur kepada Khomeini di Qum. Kedatangan utusan ini untuk menjelaskan bahwa sistem pemerintahan Islam adalah “Al-Khilafah” bukan “Republik”.

Utusan ini kemudian mengirimkan kritik terhadap UUD Iran ke hadapan Khomeini, namun usaha tersebut tidak berhasil. Khomeini tetap memilih sistem Republik dan  UUD-nya pun tetap tidak berubah.

Sifat-Sifat Syekh Ahmad ad-Da’ur

As-Syekh ‘Abbas bin al-Hajj, menuturkan pengalaman sosok syekh Ahmad Ad-Da’ur rahimahullah.

“As-Syekh Ahmad ad-Da’ur adalah sosok dari jemaah ini yang banyak mendapatkan siksaan fi sabilillah dan dalam berdakwah. Sosok ini untuk beberapa waktu ditugaskan ke Suriah, dengan menaiki kendaraan. Ketika sudah berada di al-Mafradh, wilayah ar-Rumtsa, ada sejumlah polisi membuat brigade dengan tugas sebagai pasukan antinarkoba. Akhirnya mereka menangkap syekh Ahmad ad-Da’ur. Mereka mengatakan, ‘Ini Syekh Ahmad.’ Mereka pun memasukkannya kembali ke penjara.”

Syekh Ahmad ad-Da’ur rahimahullah dikenal karena perang pemikiran dan perjuangan politiknya. Beliau juga dikenal karena ketakwaan, kesabaran dan kezuhudannya terhadap dunia. Perhatiannya terhadap urusan akhirat di atas perhatiannya terhadap urusan dunia.

Meskipun beliau menekuni profesi di dunia pendidikan, profesi di bidang peradilan dan dua kali terpilih dalam pemilu di Yordania, akan tetapi beliau tinggal di rumah yang sederhana.

Orang yang memasuki rumahnya tidak akan menyangka bahwa yang tinggal di rumah tersebut adalah seseorang yang bekerja di dunia pendidikan, dunia peradilan, dan dua kali terpilih dalam pemilu.

Syekh Abu Muhammad, laqab syekh Ahmad ad-Da’ur, dalam hidupnya dipenuhi dengan kebaikan. Dengan izin Allah, sepengetahuan orang-orang di sekitar beliau, hampir tidak didapati pada diri beliau rahimahullah, kecuali perbuatan dan perkataan yang hak.

Wafat Syekh Ahmad ad Da’ur dan Karya yang ditinggalkannya

Beliau wafat pada malam Jumat, 22 Rabiuts Tsani 1422 H yang bertepatan dengan tanggal  13 Juli  2001 M. Semoga Allah swt. mengumpulkan beliau bersama para nabi, para shidiqiin, para syuhada, dan orang-orang saleh.

Beliau telah meninggalkan alam fana ini dengan “mewariskan” sikap sebagai pengemban dakwah sejati. Beliau menjadikan dakwah sebagai poros hidupnya. Beliau juga meninggalkan karya-karya yang beliau tulis, antara lain:

  1. Naqdlu al Qanun al Madaniy (Kritik Perundang-undangan Sipil)
  2. Raddun ‘ala Muftariyatin Haula Hukmi ar-Riba wa Fawa’idi al-Bunuk (Bantahan atas Kebohongan-kebohongan Seputar Hukum Riba dan Bunga Bank) yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Al-Azhar Press.
  3. Ahkamu al Bayyinaat (Hukum Pembuktian). Buku ini terbit tahun 1965 M/1385 H yang konon sebenarnya ditulis oleh syekh Taqiyuddin an-Nabhani.

Namun demikian, melihat latar belakang pendidikan beliau di Al-Azhar dengan spesialisasi Peradilan Syariat, maka beliau tentunya dapat mempertanggungjawabkan segala isi buku tersebut.

Apalagi, beliau bersama syekh Taqiyuddin an-Nabhani sama-sama menimba ilmu di Al-Azhar dan juga sama-sama tergabung sebagai pemimpin dalam kelompok dakwah yang didirikan syekh Taqi.

Demikianlah sekilas perjalanan hidup syekh Ahmad ad-Daur, sosok generasi awal yang berjuang bersama syekh Taqiyuddin an-Nabhani dan syekh Abdul Qadim Zallum, merintis perjuangan untuk melanjutkan kehidupan Islam, baik selama  mendapat amanah di parlemen, maupun ketika di penjara.

Beliau selalu siap mendakwahi siapa pun, ke mana dan di mana pun. Hingga Khomeini pun pernah beliau temui dan diajak untuk menerapkan sistem Khilafah.

Semoga Allah swt. melimpahkan rahmat yang luas kepada syekh Ahmad ad-Da’ur, menempatkannya di surga yang luas dan mengumpulkan kita semua dalam golongan hamba-hamba-Nya yang saleh. [MNews/SNA-Juan] 

*Penulis buku Memoar Pejuang Syariah Khilafah, Al-Azhar Fresh Publishing, 2012

Tinggalkan Balasan