[Ramadan Sedunia] Menjaga Tradisi Kuno Saat Ramadan di Hijaz

MuslimahNews.com, RAMADAN SEDUNIA — Bagi banyak umat muslim, Ramadan merupakan bulan khusus untuk ibadah dan perayaan. Di Hijaz, Arab Saudi, Ramadan menjadi momentum untuk meneruskan adat istiadat yang unik dan signifikan. Tradisi kuno di kawasan tersebut tetap hidup meski pergantian generasi terus terjadi.

Hijaz merupakan wilayah di sebelah barat Arab Saudi. Wilayah ini lebih dikenal sebagai tempat terletaknya kota suci Makkah dan Madinah. Oleh karena itu, Hijaz mempunyai kepentingan dalam lanskap sejarah dan politik Arab dan Islam.

Warga Hijaz dikenal sebagai masyarakat yang dermawan dan ramah. Mereka akan menyediakan penginapan bagi banyak jemaah yang hendak beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Makkah atau pun Madinah. Penginapan tersebut biasa disediakan oleh para pedagang kaya dari perkotaan.

Penduduk Hijaz, terutama Makkah dan Madinah, akan menyambut para peziarah ke rumah mereka dan menyediakan tempat tinggal sepanjang tahun. Rumah mereka memang dirancang mengakomodasi unit perumahan khusus untuk tamu di halaman mereka. Fitur arsitektur ini diadopsi dari Suriah dan Levant.

Keluarga-keluarga Madinah disebut Muzawareen, dari kata zeyara’ yang berarti kunjungan dalam bahasa Arab. Mereka biasa menyambut pengunjung yang akan datang berkunjung ke makam dan masjid Nabi. Sementara itu, masyarakat Makkah yang melakukan hal serupa kerap disebut sebagai Mutawafeen. Istilah itu diambil dari kata tawaf, salah satu ritual ziarah Islam selama haji dan umrah.

Baca juga:  Mari Menggapai Lailatuqadar (Tafsir QS Al-Qadr: 1—5)

Seluruh keluarga akan menyiapkan dua set hidangan yang sama untuk para tamu dengan keluarga di rumah sepanjang tahun, tidak terkecuali saat Ramadan. Sebab, kedermawanan merupakan ciri khas Hijaz.

Tepat sebelum azan Magrib berkumandang di Makkah dan Madinah, masyarakat biasa pergi ke Holy Mosques untuk berbuka puasa. Rumah mereka banyak berada di dekat masjid. Mereka membawa tas berisikan makanan untuk diberikan kepada para peziarah dan jemaah yang berada di sekitar masjid.

Kantong-kantong tersebut termasuk berisikan roti shouraik ootman, kurma, dan dugga, rempah-rempah yang terbuat dari jintan, garam, biji wijen, dan ketumbar. Sudah menjadi kebiasaan di Madinah untuk berbuka puasa dengan mencelupkan kurma ke dalam dugga dan memakannya dengan sepotong roti. Kopi atau yoghurt dingin kerap kali menjadi pelengkap.

Melayani para jemaah sudah menjadi kebiasaan masyarakat setempat sejak zaman nenek moyang bertahun-tahun lalu. Bahkan, beberapa keluarga yang sudah lama menampung jamaah haji mendirikan perusahaan untuk layanan tersebut. Tujuannya, agar mereka dapat memberikan layanan terbaik untuk jemaah yang ingin melakukan ibadah haji dan umrah.

Kedermawanan masyarakat Hijaz merupakan ajaran Islam. Rasulullah ﷺ telah memerintahkan dan mencontohkan bersikap dermawan, termasuk di bulan Ramadan.

Baca juga:  Tanda-Tanda Takwa

“Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan al-Quran. Dan, kedermawanan Rasulullah ﷺ melebihi angin yang berhembus.” (HR Bukhari)

Para Sahabat pun mencontoh sikap Rasulullah ﷺ tersebut, salah satunya adalah Abdullah bin Umar ra. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam tafsirnya (1422:II/176) menyebutkan, Abdullah bin Umar tidak akan berbuka puasa, melainkan bersama anak-anak yatim dan orang miskin (duafa). Artinya, setiap ia berpuasa, ia pun menyiapkan makanan berbuka. Tidak hanya untuk dirinya, melainkan juga untuk anak yatim dan duafa.

Sikap dermawan Rasulullah ﷺ juga ditiru oleh para Khalifah. Di masa Daulah Utsmaniyah, pada bulan Ramadan, Sultan mengundang masyarakat, baik yang muslim maupun yang bukan, untuk berbuka puasa bersama di istana. Diharapkan dengan langkah itu, akan terbuka pintu-pintu hidayah untuk mereka.

Bulan Ramadan juga menjadi kesempatan bagi sultan untuk bertemu rakyat secara langsung dalam jamuan buka puasa bersama. Sebagai timbal balik, hadirin kemudian mendoakan kebaikan untuk sultan. Tradisi ini disebut sebagai masabih murjaniyah.

Adapun para menteri dan pejabat lainnya, mereka membuka lebar-lebar rumahnya tiap hari Senin dan Jumat sepanjang Ramadhan. Masyarakat dijamu untuk berbuka puasa dengan berbagai macam hidangan, semisal buah-buahan, minuman, kacang-kacangan, serta berbagai jenis makanan lainnya. Acara buka puasa bersama itu biasanya diiringi dengan bacaan Al-Qur’an yang merdu. (At-Tarikh Kama Kana, hal 203, 204).

Baca juga:  Menggapai Lailatul Qadar Saat Haid atau Nifas

Demikianlah tradisi kedermawanan yang dilakukan penduduk Hijaz merupakan ajaran Rasulullah ﷺ yang senantiasa dihidupkan dalam Khilafah. “Bekas-bekasnya” masih tampak hingga kini. [MNews/Rgl]

Rubrik #RamadanSedunia adalah rubrik khusus yang dipersembahkan MuslimahNews.com untuk menyemarakkan bulan suci Ramadan. Klik #RamadanSedunia untuk membaca kisah lainnya.

Tinggalkan Balasan