Framing Sesat Perempuan dan Terorisme


Penulis: Arum Harjanti


MuslimahNews.com, FOKUS — Perempuan kembali menjadi sorotan karena menjadi pelaku dalam serangan teror di dua kejadian terakhir.​ Pelaku di Makassar (28/3/2021) adalah pasangan suami istri yang baru saja menikah enam bulan lalu, dan tiga perempuan ditangkap karena diduga terkait dengan peristiwa tersebut.[1] Sementara di Jakarta (31/3/2021), pelaku juga perempuan berusia 25 tahun.[2]

Keterlibatan perempuan dalam tindak terorisme sebenarnya bukanlah hal baru, mengingat peristiwa yang sama pernah terjadi pada peristiwa bom Surabaya tahun 2018, yang bahkan melibatkan anak-anak. Namun, dua peristiwa terakhir seakan menguatkan klaim makin banyak perempuan yang terlibat tindak terorisme.

Menurut Asisten Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Dalam Rumah Tangga dan Rentan Kemen PPPA, Valentina Gintings, perempuan dan anak dapat berada dalam tiga posisi pada pusaran terorisme, pertama sebagai kelompok rentan terpapar, kedua sebagai korban, dan ketiga sebagai pelaku.[3]

Menariknya, yang disorot oleh para pegiat gender adalah perubahan kondisi perempuan. Dulu sebagai korban aksi terorisme, baik sebagai korban langsung ataupun sebagai istri atau anak pelaku tindak terorisme, sekarang perempuan sebagai subjek, pelaku langsung aksi terorisme.

Keterlibatan Perempuan dalam Aksi Terorisme

Menurut analisis Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), ada banyak penyebab keterlibatan perempuan dalam tindak terorisme, baik dari aspek sosiologis, kultural, psikologis, maupun strategis.[4]

Perempuan dianggap sebagai kelompok rentan yang mudah terpengaruh. Dominasi budaya patriarki dianggap membuat perempuan harus taat pada suami, termasuk keikutsertaan dalam “jaringan terorisme”.

Salah satu penyebab ketaatan pada suami adalah ketergantungan dari sisi ekonomi, karena perempuan tidak mempunyai penghasilan sendiri. Selain itu, perempuan juga mengalami disinformasi, sehingga tidak mendapat informasi yang luas terkait radikalisme, sehingga membuat mereka nekat melakukan aksi terorisme dan radikalisme.[5]

Oleh karena itu, pelibatan perempuan ini dianggap sangat strategis karena tidak mudah dicurigai,[6] dianggap tidak mungkin berbuat kekerasan[7] apalagi jika bersama anak-anak.[8] Selain itu perempuan yang terpapar terorisme sangat militan.[9] Perempuan memiliki peran sangat strategis dalam mentransmisikan ideologi radikal,[10] sehingga sangat mudah membentuk family terorisme, satu tren baru di masa pemerintahan Jokowi ini.[11]

Fenomena family terrorism ini menunjukkan bahwa penyebaran paham radikal—terorisme—bisa melalui klaster keluarga, sehingga hal lumrah memengaruhi anggota keluarga lain untuk melakukan hal yang sama.[12]

Di sisi lain, perempuan ternyata bisa bergerak sendiri (teror lone wolf) seperti yang terjadi pada kasus Mabes Polri, meski hal ini merupakan fenomena yang jarang terjadi di Indonesia. Namun, Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict, Sidney Jones memprediksi aksi teror lone wolf dengan pelaku perempuan ini bakal terulang kembali.

Jones menyarankan, kepolisian harus memberikan perhatian khusus. Polisi harus melibatkan perempuan untuk memahami jaringan teror dan melakukan banyak diskusi dengan ratusan perempuan bekas simpatisan ISIS dari Turki agar memahami aksi teror di kalangan perempuan.[13]

Sudut Pandang Sesat ala Barat

Keterlibatan perempuan dalam terorisme jelas mengakibatkan berbagai dampak dalam kehidupan masyarakat. Dominasi opini yang diaruskan jelas sangat memengaruhi pandangan masyarakat.

Dari sudut pandang kesetaraan, perempuan pelaku tindak terorisme dianggap sebagai korban budaya patriarki. Mereka dianggap “terpaksa” jadi pelaku akibat tunduk pada suami yang memiliki relasi kuasa atas istri dan tergantung secara nafkah. Ketundukan ini ibarat hilangnya hak untuk memutuskan sesuatu atas dirinya sendiri.

Hal ini jelas bertentangan dengan kampanye global dalam berbagai event—perempuan sebagai pemimpin dan pengambil keputusan—yang merupakan poin ketujuh dari 12 area kritis yang menjadi amanat dari Beijing Declaration Platform for Action (BPfA).

Sebagaimana halnya “ketergantungan ekonomi pada suami” dianggap sebagai penyebab kemiskinan perempuan—karena hanya menjadi ibu rumah tangga saja dan tidak bekerja—sehingga tidak berdaya secara ekonomi. Hal ini juga menjadi amanat Deklarasi Beijing, khususnya poin pertama (perempuan dan kemiskinan) dan poin keenam (perempuan dan ekonomi).

Narasi-narasi tersebut seolah ingin memberikan “bukti” buruknya nasib perempuan “yang terjebak dalam pusaran terorisme” adalah akibat ketaksetaraan gender. Pengaitan dengan kesetaraan menjadi penting mengingat the Global Gender Gap Report 2021 melaporkan bahwa dunia membutuhkan waktu 136,5 tahun untuk terwujudnya kesetaraan di dunia, dan 145,5 tahun untuk terwujudnya kesetaraan dalam politik. Bahkan, untuk terwujud kesetaraan dalam bidang ekonomi, membutuhkan waktu 267,6 tahun mengingat kesenjangan dalam partisipasi kerja perempuan masih menjadi persoalan terbesar kedua.[14]

Kondisi ini lebih buruk jika dibandingkan dengan laporan tahun 2020.[15] Karena itu, narasi ini dipandang dapat mempercepat terwujudnya kesetaraan yang menjadi target SDGs dan lanet 50×50 pada tahun 2030.

Narasi “perempuan pelaku terorisme” sepertinya sengaja digulirkan untuk mengopinikan solusi yang sesuai dengan kesetaraan gender, dengan mengacu kepada area kritis BPfA sebagaimana yang disampaikan para pegiat gender.

Dr. Musdah Mulia menyarankan adanya pendidikan yang bisa merekonstruksi budaya dalam skala keluarga, reformasi kebijakan dengan mencabut aturan hukum yang diskriminatif terhadap perempuan dan reinterpretasi ajaran yang kompatibel dengan nilai kemanusiaan. Aktivis perempuan lain bahkan menyarankan untuk mengadopsi feminisme sebagai cara berpikir untuk mengalahkan fundamentalisme dan radikalisme.[16]

Jelaslah solusi-solusi yang ditawarkan tersebut menyelisihi Islam karena mengubah paradigma berpikir seorang muslim. Apalagi tafsir terorisme, radikalisme, dan fundamentalisme yang dipegang negara dan dunia global saat ini adalah melawan Islam ideologis. Narasi tersebut tampaknya “cocok” dengan kondisi “aksi terorisme” di Indonesia.

Dalam Perpers No. 7/2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN-PE), disebutkan faktor kunci yang menjadi latar belakang berkembangnya terorisme selain persoalan agama, politik, dan intoleransi, adalah kesenjangan ekonomi.[17]

Jadi, tampak nyata, framing peristiwa Bom Makassar dan Mabes Polri adalah untuk menguatkan kampanye global tentang kesetaraan gender, termasuk kepemimpinan perempuan, pemberdayaan ekonomi perempuan, sekaligus juga membuat umat jauh dari aturan Islam.

Solusi tersebut juga menjadikan seorang muslim mengikuti cara berpikir Barat dan menjadikannya muslim moderat. Muslim moderat inilah yang hendak diwujudkan oleh Barat demi mempertahankan hegemoninya atas kaum muslimin, mengikuti rekomendasi Rand Corporation dalam Building Moderate Muslim Networks. [18] Framing ini ibarat memadukan feminisasi dengan deislamisasi untuk menghalangi bangkitnya Islam ideologis.

“Terorisme” Haram dalam Islam

Islam memang mengharuskan setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan untuk menerapkan Islam secara kafah dalam semua aspek kehidupan. Namun, untuk dapat menerapkannya, seorang muslim haram melakukan kekerasan, karena Islam mengharamkan tindak kekerasan seperti pembunuhan dan perusakan fasilitas umum.

Oleh karena itu, tindak terorisme sebagaimana dalam terminologi Barat, tidak ada tuntunannya dalam Islam. Dalam QS Al Maidah ayat 32, Allah Swt. menyatakan bahwa membunuh seorang manusia tanpa hak, sama seperti membunuh manusia seluruhnya.

Islam memang memiliki aturan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, tetapi perbedaan itu bukanlah merendahkan perempuan, bahkan sejatinya bentuk kesesuaian dengan fungsi manusia berdasarkan jenis kelaminnya.

Demikian halnya ketika menjadikan laki-laki sebagai pemimpin, ia wajib mewujudkan kesejahteraan seluruh umatnya, laki-laki maupun perempuan. Begitu juga kepemimpinan laki-laki dalam rumah tangga, termasuk kewajiban nafkah, bukan bentuk inferioritas perempuan.

Dalam bingkai keimanan kepada Allah, semua itu menjadi satu tatanan yang harmonis, yang menjamin ketenangan semua pihak. Inilah yang tidak akan pernah dipahami oleh Barat, juga para pegiat gender dan semua pihak yang menjadikan akal dan hak asasi manusia sebagai landasan hidupnya.

Kehidupan harmonis dalam ketaatan kepada Allah tersebut hanya dapat terwujud ketika aturan Allah diterapkan secara kafah dalam kehidupan. Tegaknya Khilafah Islamiah yang menerapkan Islam kafah akan menghentikan tipu daya dan makar jahat orang kafir terhadap Islam. [MNews/Gz]


Catatan kaki:

[1] https://nasional.kompas.com/read/2021/03/30/17162831/polisi-tangkap-tiga-perempuan-terduga-teroris-terkait-bom-di-makassar

[2] https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-56579674

[3] https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/3132/perempuan-dalam-pusaran-terorisme-harus-dicegah-bersama

[4] https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210330133730-20-623828/kelompok-rentan-faktor-perempuan-jadi-pelaku-bom-bunuh-diri

[5]https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/3127/perempuan-rentan-terjerumus-aksi-radikalisme-dan-terorisme-saatnya-perkuat-ketahanan-keluarga

[6] https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210330133730-20-623828/kelompok-rentan-faktor-perempuan-jadi-pelaku-bom-bunuh-diri

[7] https://m.liputan6.com/news/read/4521920/pengamat-dianggap-tak-dicurigai-perempuan-kerap-disasar-jadi-pelaku-teror

[8] https://www.matamatapolitik.com/bom-bunuh-diri-makassar-didalangi-pasutri-baru-in-depth/

[9] https://www.voaindonesia.com/a/pengamat-perempuan-yang-terpapar-terorisme-sangat-militan/5837113.html

[10] https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/3132/perempuan-dalam-pusaran-terorisme-harus-dicegah-bersama

[11] https://tirto.id/bom-makassar-dan-teroris-keluarga-yang-muncul-di-era-jokowi-gbBV

[12] https://jalandamai.org/menyingkap-fenomena-family-terrorism-di-indonesia.html

[13] https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210401204106-12-625155/sidney-jones-ungkap-masih-akan-ada-lone-wolf-perempuan

[14] http://www3.weforum.org/docs/WEF_GGGR_2021.pdf

[15] www3.weforum.org/docs/WEF_GGGR_2020.pdf

[16] https://www.voaindonesia.com/a/perempuan-terorisme-dan-tawaran-feminisme-untuk-mengatasinya-/5836563.html

[17] Perpres no 7 tahun 2021 tentang RAN PE

[18] Building Moderate Muslim Networks, Rand Corporation, 2007

Tinggalkan Balasan