[Editorial] Mengharap Takwa

MuslimahNews.com, EDITORIAL – Syukur tak terkira, hari ini kita bisa mulai menapaki bulan Ramadan. Bulan yang Allah beri pujian sebanyak nama yang tersemat padanya.

Begitu besar harapan agar Ramadan tahun ini bisa kita lewati dengan sukses. Bernas dengan kesalehan, kian mengukuhkan kesabaran, dan di ujungnya, menjadikan kita sebagai manusia bertakwa, dengan sebenar-benar takwa.

Sungguh tak terasa, berpuluh kali Ramadan kita lewati. Namun selalu saja menyisakan tanya, sudahkan Ramadan ke Ramadan menghantarkan kita sukses meraih takwa? Dan sudahkah Ramadan ke Ramadan menambah baik kualitas diri dan umat seluruhnya?


UMAR Bin Abdul Aziz pernah berkata, bahwa takwa kepada Allah bukan hanya ditandai dengan seringnya puasa di siang hari, dan seringnya salat di malam hari, atau kedua-duanya. Takwa kepada Allah adalah meninggalkan apa yang diharamkan-Nya, dan melakukan apa yang diperintahkan-Nya.

Begitu pun Ibnu Qayyim pernah berkata, “Hakikat takwa adalah menaati Allah atas dasar iman dan ihtisab (ikhlas hanya mengharap rida Allah), baik terhadap perkara yang diperintahkan atau pun perkara yang dilarang. Oleh karena itu, seseorang melakukan perintah itu karena imannya, yang diperintahkan-Nya disertai dengan pembenaran terhadap janji-janji-Nya. Dengan imannya itu pula, ia meninggalkan yang dilarang Allah dan takut terhadap ancaman-Nya.”

Ternyata meraih takwa tak semudah yang kita kira. Tak bisa hanya sekadar dengan salat dan puasa. Karena takwa adalah buah keimanan yang maknanya begitu dalam. Ia mewujud dalam ketaatan, mutlak pada seluruh titah Rabb-nya. Tak hanya dalam urusan ibadah, tapi di seluruh aspek kehidupan.

Takwa seperti inilah yang menjamin seseorang dan umat jauh dari kesempitan. Jalan-jalan keluar akan terbuka lebar. Bahkan hidup umat yang takwa akan diliputi dengan selaksa keberkahan.


NYATANYA, telah berlalu Ramadan ke Ramadan. Namun tak sedikit aturan Allah yang dicampakkan. Kekufuran dan maksiat pun begitu merajalela. Bahkan sebagiannya dilegalkan oleh negara. Hingga kesempitan demi kesempitan tak pernah beranjak dari kehidupan umat Islam.

Hari ini, kita yang ingin meraih derajat takwa nyatanya hanya bisa taat dalam sebagian syariat Allah saja. Sementara begitu banyak aturan Allah yang tak bisa diterapkan. Dan itu dosa!

Bahkan ada sebagian besar di antara umat ini, memilih hidup berkepribadian ganda. Ibadah iya, tapi maksiat juga. Saleh saat puasa, setelahnya kembali durhaka. Adapun level masyarakat dan negara, tak usah ditanya.


KONDISI ini terjadi sejak umat Islam hidup dalam sistem rusak sekularisme. Karena sistem ini memang menolak campur tangan agama dalam urusan-urusan kehidupan.

Inilah yang menjauhkan umat dari kesempatan meraih sebenar-benar takwa. Karena umat tercegah dari hidup dengan seluruh aturan Rabb-nya. Bahkan sekadar berwacana pun sudah dianggap durhaka pada negara.

Maka takwa akhirnya hanya ada pada tataran wacana. Lantaran sistem ini memang tak memberi ruang napas untuk takwa. Bahkan memaksa umat Islam terus bergelimang dosa, meski dosa itu tak langsung dilakukan oleh mereka.

Bukankah dosa, saat umat diam melihat riba dan akad-akad rusak begitu merajalela, bahkan menjadi pilar ekonomi bangsa, sementara mereka tahu bahwa Allah mengharamkan keduanya?

Bukankah dosa, saat zina dan perilaku menyimpang dibiarkan menjadi budaya dengan dalih hak asasi manusia, sementara mereka pun tahu bahwa keduanya adalah perbuatan tercela?

Bukankah dosa, saat media massa dibiarkan meracuni umat dengan pemikiran dan life style rusak, lalu agama dinista dan dirusak, sementara mereka tahu bahwa menjaga generasi dan agama adalah amanah Rabb-nya?

Bukankah dosa, saat negara menyerahkan urusan rakyat dan semua milik mereka kepada asing, hingga negara tak punya kedaulatan dan kemandirian? Padahal Islam mengharamkan memberi jalan kepada orang kafir untuk menguasai kaum beriman?

Sungguh saat negara tak mau menerapkan aturan-aturan Islam, sementara dakwah amar makruf nahi mungkar dianggap kejahatan, akan sulit bagi umat untuk meraih ketakwaan. Karena, sekali lagi, takwa adalah kesiapan untuk taat pada seluruh perintah Allah, Rabb Semesta Alam.


SUNGGUH Allah telah menjadikan Ramadan sebagai Syahrul Qur’an, bulan turunnya Al-Qur’an. Di dalamnya ada perintah Allah yang akan membimbing manusia meraih derajat takwa dan kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat.

Di bulan mulia ini umat Islam biasa begitu dekat dengan Al-Qur’an. Mereka targetkan berkali-kali khatam. Namun sayang di sayang, fungsinya baru sebatas bahan bacaan, bukan menjadikannya sebagai tuntunan.

Maka tepat kiranya jika di momentum Ramadan kali ini, kita melakukan retrospeksi diri. Agar takwa yang jadi tujuan Ramadan bisa benar-benar terealisasi. Yakni dengan merevitalisasi fungsi Al-Qur’an sebagaimana yang Allah inginkan; sebagai undang-undang hidup bagi umat Islam dan manusia secara keseluruhan.

Allah Swt. berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)….” (QS Al-Baqarah: 185)

Sungguh Al-Qur’an adalah kitab yang turun dari Allah Swt. Rabb Pencipta manusia, kehidupan, dan alam semesta. Tidak ada sedikit pun keraguan di dalamnya. Ia sebaik-baik petunjuk bagi mereka yang bertakwa, dan hanya untuk yang bertakwa! [MNews/SNA]

Tinggalkan Balasan