Teror Deradikalisasi terhadap Islam dan Perempuan


Penulis: Endiyah Puji Tristanti


MuslimahNews.com, OPINI — Jelang Ramadan 1442 H, umat Islam kembali diteror serangkaian peristiwa keji yang dikaitkan dengan ajaran Islam. Polanya serupa dengan teror jelang Ramadan 1439 H lalu. Bedanya, tahun 2018 lalu peristiwa “Bom Surabaya” melibatkan satu keluarga, sedangkan tahun 2021 ini melibatkan perempuan muda sebagai aktor lapangan.

Anehnya, sampai saat ini, dari berbagai kasus teror yang menimpa umat Islam, tidak pernah terungkap siapa dalang di balik tindakan keji “bom bunuh diri”. Meski demikian, satu-satunya yang jelas adalah ada narasi liar yang sengaja dipaksakan agar dibaca publik bahwa ajaran Islam telah menginspirasi terorisme.

Mengapa narasinya bukan maraknya aksi teror ini bukti negara telah gagal memberikan jaminan keamanan dan ketenteraman kepada perempuan dan keluarga?

Siapa pun yang objektif menilai ajaran Islam sejak awal kedatangan Islam sampai saat ini dan sampai kapan pun, tentu mampu menyimpulkan dengan benar, bahwa Islam telah mengharamkan seorang muslim melakukan tindakan menimpakan bahaya kepada sesama manusia tanpa hak. Hak-hak manusia telah dijamin dengan baik melalui penerapan syariat Islam secara kafah (maqasid asy-syar’i).

Will Durant jelas mengatakan,

“Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapa pun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah, dan seni mengalami kejayaan luar biasa; yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.” (Will Durant – The Story of Civilization)

Teror Baru kepada Perempuan dan Generasi

Ketua Centra Initiative dan peneliti Imparsial, Al Araf, menyarankan kepada Kepolisian RI untuk memperketat pengamanan di seluruh kantor polisi. Al Araf mengatakan upaya mengungkap kasus untuk membongkar sel-sel teroris yang ada di Indonesia juga menjadi suatu hal yang penting. (republika.co.id, 1/4/2021)

Baca juga:  Good Looking jadi Parameter, Narasi Dangkal Menag soal Radikal

Saran peneliti Imparsial ini agar aparat membongkar sel-sel terorisme, jelas sangat gegabah dan serampangan. Pasalnya, pelaku telah meninggal, tidak bisa dimintai keterangan terkait dugaan adanya keterlibatan dirinya dengan jaringan terorisme.

Dalam dunia terorisme dikenal istilah “lone wolf” atau “serigala kesepian”, yang mana pelaku bisa tidak terkait dengan jaringan, berbuat hanya berdasar inisiatif pribadi.

Sementara, pengamat teroris dari Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya melihat banyak kejanggalan dari kejadian dugaan tindak terorisme di Mabes Polri. Dia mengatakan sebaiknya spekulasi ke arah terorisme jangan dulu dilakukan. (republlika.co.id, 1/4/2021)

Harits juga menjelaskan, seorang “lone wolf” merupakan sebuah aksi serangan yang dilakukan seseorang secara mandiri. Kemandirian tersebut mulai dijalankan sejak dari persiapan hingga tiba waktunya eksekusi aksi. Di samping itu, seseorang yang menjalankan aksi “lone wolf” umumnya tidak mempunyai jaringan dengan kelompok teroris mana pun. (nasional.kompas.com, 1/4/2021)

Artinya, saran Al Araf bila benar dilakukan kepolisian, akan menimbulkan teror baru kepada perempuan dan generasi muda. Teror ini lebih keras kepada masyarakat karena dilakukan oleh lembaga negara hanya atas dasar dugaan tanpa bukti.

Setiap perempuan dan generasi muda bisa digeledah atas tuduhan diduga terlibat jaringan terorisme. Lembaga negara berpeluang melakukan tindak kekerasan fisik dan psikologis terhadap perempuan dan generasi.

Irasional bukan? Upaya menghentikan teror justru dengan memunculkan teror baru yang lebih terstruktur dan masif!

Jadi, tanggung jawab negara adalah menjamin kehidupan yang aman, tenang, tenteram bagi masyarakat, bukan malah membuat kegaduhan dan teror opini tanpa argumentasi dan bukti.

Selama negara belum mampu memberantas terorisme hingga akarnya tanpa menciptakan teror aparat di tengah masyarakat, selama itu pula fitnah keji terhadap Islam dan umat Islam akan terus berlangsung.

Feminisme Mengacak-acak Syariat

Sangat genit. Tokoh feminisme Indonesia, Musdah Mulia menawarkan tiga langkah, yaitu pendidikan, reformasi kebijakan, dan reinterpretasi ajaran keagamaan untuk mengatasi ekstremisme.

Baca juga:  Framing Kampus Terpapar Radikalisme, Waspadai Pecah Belah Umat

Musdah memberi contoh, upaya gerakan aktivis perempuan untuk mendukung SKB 3 Menteri terkait seragam sekolah yang disambut sekitar 1.200 lembaga. Aktivis perempuan harus terus mendesak pemerintah mencabut aturan hukum yang diskriminatif terhadap perempuan. Dilaporkan ada sekurangnya 400 produk hukum yang perlu dikaji terkait ini, dan sebaiknya tidak dilakukan satu persatu.

“Negara harus mampu membuat interpretasi-interpretasi keagamaan yang kondusif, yang kompatibel dengan nilai kemanusiaan, itu menjadi interpretasi yang dominan. Menjadi interpretasi mainstream di masyarakat. Pasti ada cara,” tambahnya. (voaindonesia.com, 1/4/2021)

Mulut liar feminis satu ini terang-terangan menyatakan bahwa aturan “seragam jilbab” harus dicabut sebagai solusi mengatasi ekstremisme. Musdah juga menghendaki penafsiran ulang syariat karena dianggap trouble maker dan tidak berperikemanusiaan.

Dalam artikel yang sama, pendiri Kalyanamitra, Myra Diarsi menyinggung isu radikalisme di tengah pembicaraannya mengenai feminisme. Menurutnya, feminisme itu adalah cara berpikir dan juga cara melawan yang tepat untuk mengalahkan semua fundamentalisme dan radikalisme.

Bagi Myra, fundamentalisme dan radikalisme menekan perempuan dari hal sederhana. Awalnya, pakaian adalah anjuran atau perkenalan, tetapi dalam proses panjang, hal itu kemudian berubah menjadi kewajiban. Lebih jauh lagi, upaya mewajibkan model pakaian itu kemudian disertai intimidasi bahkan persekusi untuk mereka yang tidak bersedia.

Nastaghfirullah. Kewajiban menjalankan syariat dilabeli sebagai bentuk intimidasi dan persekusi bagi perempuan. Sungguh, cara berpikir yang terjungkal.

Bukankah ketinggian peradaban manusia dinilai dari penemuan mereka terhadap pakaian? Bahwa tanpa pakaian penutup tubuhnya, manusia tak ubahnya seperti binatang. Berarti, kewajiban menutup aurat bagi perempuan sebenarnya adalah bentuk penghormatan Islam terhadap kaum perempuan.

Bargaining Position Muslimah

Muslimah berpikir wajib kritis. Namun, berpikir liar tanpa guidance akidah Islam itu akan menghancurkan pemikiran muslimah.

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS Shad: 29)

Baca juga:  Atasi Hoaks dengan UU Terorisme Jelang Pilpres, Diktatoris?

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS an-Nisa’: 82)

Maka, menjadi keharusan bagi muslimah agar memiliki cara berpikir yang benar berdasarkan tuntunan akidah Islam dalam menilai segala sesuatu. Berikutnya, muslimah akan mampu bersikap dengan benar sesuai dengan pola sikap islami yang dimilikinya.

Aktivitas yang bisa menghantarkan muslimah agar berkepribadian Islam (syakhshiyah islamiyyah) ialah mengkaji Islam dibimbing para guru. Bukan mengkaji Islam secara mandiri melalui internet atau buku-buku secara bebas tanpa pembimbing. Meski demikian, menambah wawasan khazanah pemikiran Islam melalui berbagai media (termasuk internet) bukan hal yang dilarang.

Selanjutnya, muslimah memahami peran strategisnya dalam keluarga sebagai ibu yang mendidik anak-anak untuk taat syariat, serta menjadi istri salihah bagi suaminya.

Peran ibu sebagai madrasatul ula, pendidik pertama dan utama bagi anaknya, merupakan peran yang langsung diberikan Islam kepada muslimah. Sehingga, anak-anak akan tumbuh dengan kasih sayang dan terjauh dari perbuatan-perbuatan yang menyalahi syariat semata takwa kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dalam lingkungan pergaulan bermasyarakat, muslimah dituntut syariat untuk berdakwah menjalankan amar makruf nahi munkar, menyampaikan risalah Islam kafah kepada orang-orang di sekitarnya.

Muslimah memang tidak dicetak untuk “eksklusif” menjauhkan diri dari masyarakat sekitar, sebab kewajiban dakwah mengharuskan interaksi yang terus-menerus dengan masyarakat. Dakwah Islam kafah sendiri membatasi muslimah untuk beramal pada ranah edukasi masyarakat nonkekerasan, nonmiliteristik. Maka, tuduhan ciri muslimah yang berdakwah Islam kafah sebagai pribadi “eksklusif”, jelas bertolak belakang. Ini adalah fitnah yang akan kembali kepada pihak pemfitnah.

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS an-Nisa’: 165) [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan