Shaum Ramadan di Tengah Badai Qawl az-Zur


Penulis: Iwan Januar


MuslimahNews.com, TSAQAFAH — Baru-baru saja MUI mengeluarkan fatwa adab-adab penggunaan media sosial. Komisi Fatwa MUI menyebutkan, setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial diharamkan melakukan gibah (membicarakan keburukan atau aib orang lain), fitnah, namimah (adu domba), dan penyebaran permusuhan.

MUI juga mengharamkan aksi bullying, ujaran kebencian, serta permusuhan atas dasar suku, agama, ras, atau antargolongan. Haram pula bagi umat muslim yang menyebarkan hoaks serta informasi bohong, meskipun dengan tujuan baik, seperti informasi tentang kematian orang yang masih hidup.

Umat muslim juga diharamkan menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala hal yang terlarang secara syar’i. Haram pula menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai tempat dan/atau waktunya.

MUI juga melarang kegiatan memproduksi, menyebarkan, dan/atau membuat dapat diaksesnya konten maupun informasi yang tidak benar kepada masyarakat.

Selain itu, aktivitas buzzer di media sosial yang menyediakan informasi berisi hoaks, gibah, fitnah, namimahbullying, aib, gosip dan hal-hal lain sejenis sebagai profesi untuk memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun nonekonomi, hukumnya haram.

Kita menyambut gembira fatwa yang sebenarnya berisi penegasan akan haramnya perbuatan tercela tersebut. Mengingat hari ini berbagai aktivitas yang tercela seperti disebutkan di atas seperti sudah menjadi budaya.

Ditambah lagi, fatwa yang keluar di bulan mulia ini semoga bisa membuat ibadah shaum kita menjadi sempurna. Bukan lagi sekadar menahan lapar dan haus, tapi juga menjaga lisan dan tulisan dari konten yang mengandung kemaksiatan.

Para ulama telah memberikan pesan; salamatul insan fi hifdzil lisan (keselamatan manusia itu ada pada penjagaan lisan). Adapun mengenai status tulisan adalah sama seperti lisan.

Al-Hafizh (Ibnu Hajar al-Asqalani) menjelaskan bahwa tulisan juga sama halnya seperti lisan, “Tangan bisa juga mempunyai pengaruh yang luas sebagaimana lisan, yaitu melalui tulisan. Dan pengaruh tulisan juga tidak kalah hebatnya dengan pengaruh tulisan.”

Merugi orang yang menahan lapar dan haus, tapi tak menahan lisan dan tulisan dari konten yang dibenci Allah Swt.. Benar, secara bahasa, makna shaum adalah imsak atau menahan diri. Dalam tinjauan fikih, para ulama umumnya menyepakati makna shaum adalah menahan diri dari makan dan minum dan segala perkara yang membatalkan puasa, sejak terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari.

Tangan bisa juga mempunyai pengaruh yang luas sebagaimana lisan, yaitu melalui tulisan. Dan pengaruh tulisan juga tidak kalah hebatnya dengan pengaruh tulisan

Namun demikian, banyak hadis yang memberikan kita penjelasan bahwa ada perkara yang membatalkan puasa dan ada perkara yang menggugurkan atau dapat merusak pahala puasa.

Orang-orang yang berpuasa diminta bukan saja menahan diri dari hal yang dapat membatalkan puasa mereka, seperti makan, minum, atau jimak, tapi juga mencegah diri dari perkara yang merusak pahala puasa.

Baca juga:  Hukum Shalat Tarawih, Sahur, dan Niat Puasa sebelum Terbuktinya Rukyatul Hilal Ramadan

Di antara pesan agung dari Nabi saw.. tentang perkara yang merusak pahala puasa adalah sebagai berikut:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Siapa yang tidak meninggalkan qawl az-zur dan mengerjakannya, maka tidak ada bagi Allah kebutuhan (darinya) untuk meninggalkan makanan dan minumnya.” (HR Bukhari)

Dalam riwayat lain ada tambahan lafaz al-jahlu. Sabda beliau,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Siapa yang tidak meninggalkan qawl az-zur dan mengerjakannya juga al-jahl, maka tidak ada bagi Allah kebutuhan (darinya) untuk meninggalkan makanan dan minumnya.” (HR Bukhari)

Shaum itu hakikatnya adalah perisai (junnah) dari siksa neraka karena pelakunya dapat mengekang syahwatnya, sementara neraka itu membutuhkan syahwat. Maka, jika seorang yang berpuasa dapat mengendalikan syahwatnya di dunia, ia akan terjaga di akhirat dari siksa neraka.

Terhadap hadis-hadis ini para ulama berbeda pendapat; di antara mereka ada yang berpendapat bahwa seorang muslim yang tidak mengendalikan syahwatnya dari perbuatan maksiat seperti gibah, maka dianggap telah batal puasanya dan wajib mengqadanya (Fathul Bariy, Li Ibni Hajar, juz 6 hlm. 129, Maktabah Syamilah).

Para ulama ini mendasari pendapat mereka dari  keumuman hadis-hadis di atas. Di antara mereka adalah Imam al-Awza’iy dan Ibnu Hazm. Adapun jumhur ulama meski menyatakan bahwa kemaksiatan dan qawl az-zur adalah haram, namun mereka mengkhususkan batalnya puasa adalah karena makan, minum, dan jimak. Adapun perbuatan maksiat yang dikerjakan seorang muslim yang berpuasa adalah merusak pahala puasa mereka. Wallahualam.

Namun demikian, meski tidak membatalkan puasa, apakah rela seorang muslim berpayah-payah puasa, namun kelak akan menerima kenyataan pahit kalau pahala puasa mereka rusak bahkan binasa? Nabi katakan mereka tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga belaka?

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

“Berapa banyak orang berpuasa, balasan dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga.” (HR Ibnu Majah)

Pantang bagi kaum muslimin yang mengharapkan balasan besar dari ibadah shaum mereka melakukan qawl az-zur dan al-jahl yang disebutkan Baginda Rasulullah saw. dalam hadis-hadis tersebut.

Imam Ibnu Hajar menyebutkan makna qawl az-zur adalah kebohongan. Sedangkan dalam kitab Tuhfah al-Ahwadziy yang merupakan syarah hadis Imam at-Turmudzi, karya Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Mubarakfuriy,  dicantumkan bahwa makna az-zur sebagai kebatilan.

Kemudian dalam kitab itu dijelaskan pula yang dianggap mengucapkan dan mengerjakan az-zur adalah orang yang tidak meninggalkan perkataan batil, berupa perkataan yang mengandung kekufuran, kesaksian palsu, mengada-ada, gibah, kepalsuan, qadzf, mencela orang lain, melaknat, dan lain sebagainya yang merupakan perkara yang wajib dijauhi dan diharamkan bagi kaum muslimin untuk mengerjakannya.

Adapun makna al-jahl yang disebutkan dalam hadis yang lain adalah seluruh kemaksiatan yang telah diharamkan Allah Swt..

Az-zur adalah orang yang tidak meninggalkan perkataan batil, berupa perkataan yang mengandung kekufuran, kesaksian palsu, mengada-ada, gibah, kepalsuan, qadzf, mencela orang lain, melaknat.

Karenanya, merugilah seorang muslim yang sudah lelah berpuasa tapi tak kunjung meninggalkan perbuatan dan perkataan batil lagi maksiat. Lidahnya suka menyebar kabar bohong atau hoaks, lalu sering menuding saudaranya sebagai penjahat dan musuh masyarakat, merendahkan status mereka, dan malah memuji-muji orang yang memusuhi kaum muslimin dan menistakan agama.

Baca juga:  Meraih Takwa Pascapuasa di Tengah Wabah Corona

Sungguh kita patut merenung dan cemas karena dekade ini ujaran kebohongan, kepalsuan, fitnah, celaan, dan kebencian justru dibudayakan oleh sistem yang berlaku, bukan saja oleh individu, tapi bahkan oleh penguasa.

Ironisnya, perkataan-perkataan keji itu justru ditujukan pada kaum muslimin dan orang-orang yang tengah giat berdakwah menyelamatkan negeri. Padahal, jangankan kepada sesama muslim, mencela nonmuslim yang tidak bersalah diharamkan oleh syariat.

Penguasa tanpa malu membiasakan diri dengan kebohongan. Dulu berjanji tak akan menaikkan tarif listrik dan BBM, berjanji akan menurunkan harga berbagai komoditi, yang ada hari ini, di bulan mulia ini, umat tercekik kehidupannya. Banyak rumah yang berhari-hari listriknya tidak menyala karena tak sanggup membeli token listrik, juga banyak warga kelimpungan mencari gas elpiji karena semakin langka.

Selain itu, berkali-kali umat muslim yang sedang membela kehormatan agama dilabeli berbagai macam perkataan tercela; pemecah belah negeri, radikal, intoleran, dsb.. Perkataan itu kerap kali ditopang dengan berlapis-lapis kebohongan dan perkataan kotor lainnya.

Berbagai kasus direkayasa untuk menjatuhkan kehormatan umat muslim. Misalnya di Solok, kaum muslimin dituding melakukan persekusi pada seorang dokter wanita yang mengkritik seorang tokoh muslim nasional [kasus tahun 2017 silam, ed.].

Di depan media massa, korban mengaku dicaci maki, dicap pelacur, diintimidasi, keluarganya diancam oleh sejumlah muslim di rumah sakit tempatnya bekerja. Seperti biasa, media massa sekuler dengan bersemangat mengangkat berita ini, aparat kepolisian juga langsung bertindak bahkan mendisiplinkan Kapolres Solok karena dianggap lalai mencegah persekusi.

Tapi belakangan, tokoh-tokoh muslim yang mendatangi sang dokter, termasuk pihak rumah sakit angkat suara. Mereka menceritakan kejadian yang sebenarnya, bahwa sama sekali tak ada persekusi atau ancaman dan intimidasi sedikit pun. Pertemuan kala itu berjalan damai, termasuk pihak RSUD dan kepolisian juga memfasilitasi proses klarifikasi tersebut dengan baik-baik.

Lihatlah, bagaimana qawl az-zur, buhtan wa kadz begitu vulgarnya dipertontonkan di bulan yang suci ini.

Lalu dalam kasus tudingan “chat mesum” yang dilakukan seorang tokoh muslim, justru sarat berbagai tudingan ganjil. Alih-alih mengusut tuntas siapa penyebar chat itu, aparat malah lebih gigih menyeret sang tokoh ke meja hijau.

Padahal, pihak perusahaan penyedia jasa telekomunikasi yang disebut aparat memiliki bukti chat mesum itu, justru membantah pernyataan kepolisian. Bukankah ini sudah kesaksian palsu dan kebohongan? Astaghfirullah.

Sungguh kita patut merenung dan cemas karena dekade ini ujaran kebohongan, kepalsuan, fitnah, celaan dan kebencian justru dibudayakan oleh sistem yang berlaku, bukan saja oleh individu, tapi bahkan oleh penguasa.

Kini, umat muslim juga diadang dengan tindak pidana persekusi bila membantah, menegur, apalagi bila mengancam orang lain, meski orang itu menghina agama Islam. Perkataan batil mendapat pembelaan, sedangkan perbuatan mulia dinistakan.

Baca juga:  Mari Menggapai Lailatuqadar (Tafsir QS Al-Qadr: 1—5)

Inilah qawl az-zur dan al-jahl yang diingatkan oleh Nabi Saw., bahwa pelakunya bila mereka berpuasa, sungguh tak akan dibutuhkan oleh Allah SWT.

Anehnya berbagai persekusi, intimidasi, pengadangan, hingga pemukulan di mana umat muslim yang menjadi korban, tak pernah mendapat pembelaan. Didiamkan bahkan dibela dengan berbagai qawl az-zur.

Publik mungkin tidak lupa bagaimana Wakil Sekjen MUI Tengku Zulkarnain diadang gerombolan bersenjata, bahkan beliau hampir kena bacok. Ironisnya, hal itu terjadi di dalam bandara yang semestinya steril dari pengunjung gelap.

Begitu pula ketika pengemban dakwah Hizb ut-T4hrir tengah mengusung bendera mulia raya dan liwa, kemudian diadang oleh gerombolan massa, bendera mereka direbut, bahkan terjadi intimidasi dan pemukulan, tetapi sepi dari pemberitaan dan pembelaan.

Para pelakunya jangankan diseret ke dalam penjara, diinvestigasi juga tidak. Bandingkan dengan sejumlah pemuda muslim di Jakarta yang membela kemuliaan agama mereka karena hinaan seorang nonmuslim, langsung diborgol, foto mereka ditayangkan di seantero Nusantara, dipermalukan, dan dihinakan. Sementara, pelaku penistaan agama itu mendapat pembelaan besar-besaran dari penguasa dan media massa.

Akibatnya, di berbagai akun media sosial bermunculan status yang menistakan agama Islam yang minim penindakan dari penguasa. Bahkan, bila ada muslim yang berusaha membela kehormatan agamanya, bisa dipidana dengan tudingan melakukan persekusi.

Sungguh, keimanan dan keistikamahan orang-orang beriman tengah diuji. Mereka harus tetap menghadapi berbagai macam fitnah, kebohongan, dan kepalsuan dengan kesabaran, dan puasa adalah bagian dari kesabaran.

Ini adalah dekade penuh kebohongan sebagaimana yang dikabarkan Rasulullah saw. akan datang menimpa umat. Pendusta dibenarkan, sedangkan pejuang kebenaran didustakan.

Nabi saw. telah mengingatkan bahwa kelak di Hari Akhir, para pendusta akan mendapatkan cap “kadzib” pada jidat mereka. Seantero Padang Mahsyar akan tahu bahwa mereka di dunia adalah orang-orang yang terbiasa melakukan perbuatan bohong, fitnah, dan merekayasa kisah untuk menghancurkan umat muslim.

Adapun para penguasa yang gemar melakukan kebohongan, memperdaya rakyatnya, nasibnya akan lebih buruk lagi. Nabi saw. bersabda,

مَا مِنْ رَاعٍ غَشَّ رَعِيَّتَهُ، إِلا وَهُوَ فِي النَّارِ

“Tidaklah seorang pemimpin menipu rakyat, melainkan ia berada di neraka.” (HR Thabraniy).

Sungguh mengerikan. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan