Riba Halal, Riba Haram?


Penulis: Ragil Rahayu, S.E.


MuslimahNews.com, OPINI — Polemik seputar riba kembali mencuat. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa selama ini isu mengenai riba selalu dimunculkan saat bicara tentang pinjaman atau utang. Padahal, saat ini suku bunga global mencapai 0 persen atau bahkan negatif di beberapa negara di Eropa.

Sri Mulyani yang juga Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) mengatakan bahwa pinjam-meminjam adalah sesuatu yang dibolehkan dalam Al-Qur’an. Namun harus dilakukan secara terukur, dicatat, dan digunakan secara prudent atau hati-hati (kumparan, 6/4/2021).

Membebek Barat

Membahas tentang utang dan riba harus berpijak pada definisi yang benar tentang keduanya. Jika tidak, akan terjadi penghalalan riba, padahal Allah Swt. telah mengharamkannya.

Penghalalan riba bukanlah sesuatu yang baru. Sejak dua generasi yang lalu, beberapa ulama dan syekh telah mengungkapkannya. Hal ini terjadi karena Eropa telah muncul sebagai kekuatan internasional setelah meletusnya revolusi pemikiran dan industri yang membawa pada kebangkitannya. Sementara saat itu Khilafah telah redup cahayanya.

Dunia Islam terus mundur hingga tidak mampu mencari solusi bagi problem yang muncul. Akhirnya dunia Islam mengekor pada solusi Eropa dengan kebebasannya. Kaum intelektual muslim berusaha mengkompromikan apa yang ada pada Islam dengan Eropa.

Terjadilah takwil terhadap nas syariat agar sesuai dengan hal baru yang dibawa Eropa. Hal ini persis perkataan Ibnu Khaldun, bahwa yang kalah selalu ingin mengikuti yang mengalahkan.

Muncullah pendapat bahwa riba yang haram adalah kalau berlipat ganda. Mereka juga membolehkan riba yang tidak mengandung eksploitasi dan penipuan. Mereka juga membedakan antara pinjaman konsumtif dan pinjaman untuk investasi (M. Ahmad ad Da’ur,  Bantahan atas Kebohongan-kebohongan Seputar Hukum Riba dan Bunga Bank).

Utang/Pinjaman dan Riba

Dalam fikih muamalah, terdapat dua istilah yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia artinya sama, yaitu utang/pinjaman. Istilah tersebut adalah dain dan qardh.

Dain memiliki pengertian lebih umum daripada qardh. Ibnu Abdin mendefinisikan dain sebagai berikut:

ما وجب في الذمة بعقد أو استهلاك وما صار في ذمته باستقراضه

“Tanggungan wajib yang dipikul seseorang, yang disebabkan oleh adanya akad, atau akibat dari menghabiskan/merusakkan (barang orang lain), atau karena pinjaman.”

Sedangkan qardh adalah bagian dari dain. Pengertian qardh menurut Kamus Pintar Ekonomi Islam adalah sesuatu (harta) yang diberikan (dipinjamkan) seseorang kepada orang lain untuk dikembalikan dengan sesuatu (harta) yang semisal di masa yang akan datang.

Peminjam tidak boleh mengambil manfaat transaksi peminjaman karena kalau mengambil manfaat apa pun bentuknya adalah riba. Peminjam (debitur) tidak boleh mengembalikan kepada yang meminjamkan (kreditur) kecuali yang dia utangi atau yang semisalnya.

Hal ini sesuai dengan kaidah:

كل قرض جر نفعا فهو ربا

“Setiap utang yang melahirkan manfaat adalah riba.” (Yusuf as Sabatin, Bisnis Islami dan Kritik atas Praktik Bisnis ala Kapitalis)

Sedangkan riba adalah perolehan harta dengan harta lain yang sejenis dengan saling melebihkan satu sama lain. Sifat yang tampak pada riba adalah adanya suatu keuntungan yang diambil oleh pemakan riba yang sebetulnya merupakan hasil dari eksploitasi atas tenaga orang lain.

Riba haram hukumnya dalam Islam berdasarkan nas Al-Qur’an, di antaranya QS al Baqarah: 275—279. Allah Swt. berfirman,

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَن جَاءهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهٰى  فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ )٢٧٥( يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ) ٢٧٦( إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُواْ الصَّلاَةَ وَآتَوُاْ الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ) ٢٧٧ ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ  )٢٧٨( فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ فَأْذَنُواْ بِحَرْبٍ مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ (٢٧٩)

  1. “Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”
  2. “Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.”
  3. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
  4. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.”
  5. “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”

Terdapat ayat lain dan juga hadis tentang keharaman riba.

Riba ada dua macam yakni nasiah dan fadhl. Riba nasiah adalah pembayaran yang dari sisi kuantitas lebih, yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. Riba ini biasa terjadi pada praktik qardh.

Dari definisi dain, qardh, dan riba tersebut tampak bahwa utang/pinjaman tidak selalu identik dengan riba. Praktik pinjam meminjam bisa berlangsung syar’i, yaitu ketika kuantitas barang yang dipinjamkan sama dengan yang dibayarkan, tidak ada tambahan.

Namun, di bawah sistem kapitalisme yang mendominasi dunia saat ini, mayoritas transaksi utang adalah riba, baik utang pada individu, lembaga keuangan, maupun utang luar negeri yang dilakukan negara.

Bahkan, ketika ada keterangan bunga nol persen sekalipun, hal itu tidak berarti bebas riba. Karena watak dasar kapitalisme adalah meraih keuntungan. Iming-iming pinjaman dengan bunga nol persen pasti mengandung syarat dan ketentuan berlaku (SKB). Misalnya hanya untuk periode tertentu, sehingga sifatnya promo. Jika lewat dari masa promo, bunga tidak lagi nol persen.

Juga adanya biaya administrasi dan denda atas keterlambatan pembayaran, maka hal itu termasuk riba. Karena riba adalah setiap kelebihan/tambahan atas pokok utang. Maka bunga adalah riba, biaya administrasi adalah riba, dan denda adalah riba.

Denda hukumnya haram jika objek akad muamalahnya adalah utang (ad dain), dikarenakan denda tersebut hakikatnya riba, yaitu tambahan yang disyaratkan atas utang (ad dain), baik utang berupa qardh (pinjaman) maupun bukan qardh, misal utang pada jual beli. (Ziyad Ghazal, Masyru’ Qonun al-Buyu, hal 120).

Mengenai haramnya tambahan atas utang, Imam Ibnu Abdul Barr berkata, “Telah sepakat para ulama dari generasi salaf dan khalaf, bahwa riba yang pengharamannya turun dalam Al-Qur’an adalah seorang pemberi utang mengambil kompensasi uang atau barang karena penundaan utangnya setelah jatuh tempo.” (Shiddiq al Jawi, Hukum Denda (Penalti)).

Demikianlah nasib hukum Islam dalam sistem kapitalisme global. Syariat Islam diposisikan sebagai pilihan, bukan kewajiban.

Riba yang sudah jelas-jelas haram malah dihalalkan. Sejatinya, kapitalisme tidak sedang hijrah menuju Islam kafah. Mereka hanya sedang menambal berbagai kesalahan dan kegagalan ekonomi yang diperbuatnya.

Tak masalah bagi barat untuk mencomot sebagian nilai Islam seperti zero interest untuk diterapkan di barat. Namun itu bukan sifat hakikinya, melainkan hanya trik untuk menarik umat Islam. Umat tak boleh teperdaya dengan tipuan barat ini.

Meskipun utang hukumnya boleh, umat Islam tak boleh suka utang, karena tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Selain itu, utang luar negeri akan membuat umat Islam tidak berdaulat dan lemah posisinya. Hal ini harus dihindari. Kelak Khilafah tidak akan melakukan utang luar negeri. Sehingga kedaulatannya akan terjaga. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan