[News] Ramadan untuk Penerapan Syariat Kafah

MuslimahNews.com, NASIONAL — Mubalig nasional, K.H. Rokhmat S. Labib mengutarakan Ramadan adalah bulan istimewa yang dipilih oleh Allah, sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an pertama kali.

Sesuai firman Allah,

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS al-Baqarah: 185)

Ustaz Labib, sapaan akrabnya, menjelaskan dari ayat tersebut disebutkan Al-Qur’an diturunkan Allah sebagai petunjuk untuk seluruh manusia, bukan untuk kaum atau bangsa tertentu.

Baca juga:  Menggapai Lailatul Qadar Saat Haid atau Nifas

“Sebagai jalan kebenaran, kebaikan, dan rida Allah, serta menjadi penjelas dari petunjuk itu, sekaligus pembeda yang memisahkan antara hak dan yang batil,” urainya.

Allah muliakan bulan Ramadan ini. Siapa saja yang hadir dan menemui bulan Ramadan, maka hendaklah berpuasa, karena merupakan ibadah istimewa dan termasuk dalam rukun Islam.

“Saat ibadah ini dikerjakan akan mendatangkan ketakwaan,” ujarnya.

Ustaz Labib mengingatkan, di bulan Ramadan ini mesti banyak membaca, mempelajari, mengajarkan, bahkan memperjuangkan isi Al-Qur’an.

“Tidak boleh bagi muslim yang tidak memiliki uzur, tidak melaksanakan ibadah ini karena merupakan perkara yang diwajibkan,” cetusnya.

Selain itu, Allah pilihkan satu malam di bulan ini yang lebih baik dari 1.000 bulan. Itulah lailatulkadar., malam yang penuh keagungan. Sehingga, di malam-malam akhir Ramadan, para sahabat menunggu dan menghidupkannya untuk mendapatkan lailatulkadar.

“Di bulan ini pula Allah lipatgandakan pahala bagi amal perbuatan. Untuk itu jangan sampai kita absen mengerjakan yang sunah, apalagi yang wajib,” katanya.

Ustaz Labib menguraikan, di kesempatan lain Rasulullah saw. bersabda, tatkala datang Ramadan, pintu-pintu surga dibuka dan neraka ditutup. Hal ini diterangkan oleh Qadhi Iyad sebagaimana dikutip Imam Nawawi, bahwa makna hadis ini bisa hakiki, bisa majasi.

“Yaitu Allah berikan banyak pahala bagi hamba-Nya yang akan mengantarkannya ke surga. Sebaliknya, kemaksiatan dilarang keras, sehingga bisa mencegahnya dari neraka,” ucapnya.

Baca juga:  Ramadan, Momentum Mengukuhkan Persatuan Umat

Penyebab Rasa Takwa Hanya di saat Ramadan

Hanya saja, Ustaz Labib menyayangkan ada yang merasakan takwa itu hanya di bulan Ramadan, tetapi di luar Ramadan biasa-biasa saja. Menurutnya ada tiga penyebab,

Pertama, tidak memahami dan menghayati puasa itu sendiri. Padahal, ketika puasa dilaksanakan dengan benar, akan menghasilkan ketakwaan, yaitu kesadaran melaksanakan perintah Allah saat Ramadan dan tidak mau melanggar aturan-Nya walaupun tidak ada orang yang melihatnya.

“Ini karena ada keyakinan kepada Allah. Maka, saat keyakinan akidah itu tertancap kuat sampai di luar bulan Ramadan, kehidupan akan tercegah dari kemungkaran dan kemaksiatan. Disertai keyakinan kalau Allah akan mengadili kita,” ungkapnya.

Kedua, tidak memiliki pemahaman tentang Islam secara kafah. Ingin taat kepada Allah, tapi yang dipahami bahwa Islam hanya mengatur ibadah dan keluarga. Tidak memahami Islam mengatur kehidupan, ekonomi, pendidikan, politik, bahkan negara.

“Ini membuatnya tidak memiliki ketakwaan yang sempurna, sehingga hanya mengambil sebagian aturan Islam, dan tidak mengambil atau malah menolak aturan Alla h yang lain. Padahal, takwa menuntut manusia mengambil Islam seluruhnya,” jelasnya.

Ustaz Labib juga menggambarkan, ada banyak tindakan yang berada di luar kemampuan karena dipaksa melakukannya di luar keyakinan kita. Contohnya di sebuah peradilan, hakim mengatakan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis tidak menjadi pertimbangan hukum karena bukan bagian undang-undang. Jadi, saat terdakwa ingin dihukumi dengan Al-Qur’an sesuai keyakinannya, tetapi peradilan malah berhukum dengan hukum tagut, maka itu dicela dengan celaan yang keras oleh Allah.

Baca juga:  Ramadan Bulan Turunnya Alquran Petunjuk Kehidupan

Bukan hanya terdakwa, saat hakim ingin memutuskan berdasarkan Al-Qur’an dan hadis, akan sulit karena hukum-hukum Allah itu bukan undang-undang. Ini mengindikasikan ada sistem di luar kemampuannya yang memaksanya untuk tidak taat kepada syariat Islam.

“Itulah mengapa Islam mewajibkan Khilafah yang akan menerapkan seluruh aturan Islam, sehingga akan diperoleh ketakwaan yang sempurna,” tegasnya.

Ketiga, dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Ramadan akan menjadikan orang bertakwa. Namun, Ustaz Labib mengingatkan bukan hanya ibadah mahdhah yang bisa menjadikan manusia bertakwa, tetapi sanksi hukum Islam yang diterapkan akan menghasilkan ketakwaan.

“Seluruh syariat Islam ketika dilaksanakan, akan menghasilkan ketakwaan, kebaikan, karamah, kemuliaan, kemudahan, dan keutamaan-keutamaan lainnya. Bukan hanya untuk pribadi dan masyarakat, tetapi juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” jelasnya.

Beliau menambahkan, Allah Swt. berfirman bahwa andai penduduk negeri itu bertakwa, akan Allah turunkan keberkahan dari langit dan bumi.

“Oleh sebab itu, ketika kehidupan saat ini makin banyak problematik, adakah ingat jika itu karena syariat-Nya tidak diterapkan?” tutupnya retorik. [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan