[News] Kemauan Taat, Esensi Takwa

MuslimahNews.com, NASIONAL — Sebagai muslim, menjadi apa pun, tidak pernah lepas dari syariat Islam. Syariat bukan sekadar ibadah, tetapi juga dakwah. Sehingga, saat kembali kepada Allah Swt., akan ada rasa kepuasan karena telah menjalani hidup dengan benar.

Demikian disampaikan cendekiawan muslim, Ustaz H. M. Ismail Yusanto yang menjelaskan bahwa dengan begitu, puasa ini menjadi ibadah yang luar biasa.

“Luar biasa, karena sepenuhnya fisikal tetapi hasilnya bersifat nonfisikal yaitu takwa. Padahal, biasanya fisikal menghasilkan fisikal, tetapi tidak dengan puasa. Dan bisa terjadi seperti itu karena ada hal yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu penghayatan,” ungkapnya.

Puasa sesungguhnya memerlukan kemauan, tidak hanya kemampuan, serta keyakinan bahwa setiap ibadah masih berada di bawah kemampuan kita.

“Tidak ada ceritanya puasa ini membuat sakit, sebaliknya, puasa ini menyehatkan. Namun, saat kemampuan menurun, Allah memberikan rukhsah (keringanan),” jelasnya.

Hanya saja, Ustaz Ismail menyayangkan, ibadah yang ringan ini masih banyak yang tidak mau melaksanakan.

“Bahkan ada istilah hormatilah orang yang tidak berpuasa. Ini kebalik-balik. Jadi, selain kemampuan, yang diperlukan adalah kemauan,” tegasnya.

Kalau ada kemauan, seperti saat berpuasa, jangankan meninggalkan yang haram, meninggalkan yang halal pun bisa.

Baca juga:  [Nafsiyah] Mereguk Keberkahan Ramadan

“Jadi kemauan ini penting sekali. Esensi takwa ini adalah kemauan taat. Tanpa kemauan, agama yang ringan seringan-ringannya tidak bisa dilakukan,” cetusnya.

Namun dengan taat, lanjutnya, jangankan yang ringan, yang berat sekalipun bisa dilakukan. Jihad yang berat karena harus menyabung nyawa, misalnya, akan tetap dilakukan.

“Terlebih kita melihat semua peristiwa besar dipicu dari kemauan yang hebat, seperti penaklukan Andalusia, Perang Badar, penaklukan Konstantinopel, dan lainnya,” lanjutnya.

Waspada jika Ramadan Tidak Membekas

Ustaz Ismail mengungkapkan, inilah yang kurang dipahami. Sehingga, selepas Ramadan seperti sudah selesai, tidak ada bekasnya.

“Itulah mengapa Rasulullah bersabda banyak orang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga. Tidak menghayati apa yang dilakukan, dan kita harus waspada jangan sampai menjadi bagian di dalamnya,” nasihatnya.

Karena itu, jelasnya, sebenarnya kita dijaga Allah dengan berbagai titik-titik kontrol. Setahun sekali dengan adanya Ramadan, mingguan dijaga dengan salat Jumat, dan hariannya dijaga dengan salat lima waktu.

“Kalau diikuti pola hidup dan ibadah, seorang muslim insyaallah aman karena dijaga Allah sebegitu rupa. Kalau sudah dijaga masih ambyar, berarti orang itu bolong-bolong di pos-pos penjagaan tadi,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan