Belajar Kesungguhan dan Kesabaran dalam Dakwah dari Ustaz Musa Muhammad Shabri


Penulis: M. Ali Dodiman*


MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF —  Ustaz Muhammad Shabri (Abu Imad) layak disebut sebagai politisi ulung. Mengapa? Karena, beliau bukan sekadar paham tentang ilmu-ilmu politik, tapi juga paham bagaimana melakukan analisis politik (tahlil siyasi), serta bagaimana beraktivitas politik (’amal siyasi) dengan melakukan berbagai kontak dengan intensitas yang tinggi.

Beliau lahir pada tanggal 5 Oktober 1936 di desa Jalil Waqi’ah di pinggiran Palestina sebelah utara kota Yafa. Di kota tersebut, beliau tumbuh dan belajar.

Ketika terjadi bencana di Palestina dengan berdirinya negara Yahudi tahun 1948, beliau dan keluarganya terpaksa  meninggalkan desa tersebut dan pindah ke kota Tulkarm. Kemudian masuk ke sekolah menengah di kota Tulkarm.

Sekolahnya terus berlanjut sampai keluar dari sana setelah menamatkan sekolah menengahnya tahun 1954/1955. Beliau, rahimahullah, dikenal sebagai seorang siswa yang memiliki keunggulan dan kecerdasan.

Menjadi Aktivis Dakwah dalam Usia yang Sangat Muda

Dengan segala keunggulan dan kecerdasannya, beliau sudah terdorong bergabung dalam kelompok dakwah khilafah dalam usia yang sangat muda.

Pada tahun 1956/1957 beliau menjadi guru di Sekolah Menengah As-Sa’diyah di kota Qalqiliyah, dan bersama keluarganya beliau pindah dan menetap di sana.

Setelah itu, beliau pergi ke Arab Saudi untuk bekerja sebagai akuntan di Perusahaan Nasional Arab Saudi. Beliau terus menjalani profesi ini sampai tahun 1962 M.

Di Arab Saudi, Ustaz Muhammad Shabri muda ini, belum menampakkan aktivitas yang bisa dicatat, karena Arab Saudi pada waktu itu melarang aktivitas yang masuk ranah politik.

Lalu pada tahun 1962 beliau pergi ke Kuwait untuk bekerja sebagai akuntan pada Departemen Kelistrikan. Pekerjaannya di Kuwait ini tidak menghalangi beliau untuk melakukan aktivitas dakwah.

Bahkan, beliau rahimahullah, kerap melakukan kunjungan dan kontak dengan menteri-menteri, wakil rakyat, dan staf diplomat asing untuk mengemban dakwah kepada mereka. Hal tersebut dilakukan sendiri oleh beliau berkali-kali.

Sempat Merasakan di Penjara Karena Dakwah

Pada tahun 1971, beliau mendapat amanah untuk memperkuat dakwah di Suriah. Maka beliau dan keluarganya pun pindah untuk berdomisili di Suriah. Aktivitasnya terus berlangsung hingga tahun 1972 beliau ditangkap.

Baca juga:  [News] Pengamat: Anak Muda, Pahami Islam Politik dan Khilafah Agar Tidak Tersesat

Beliau dipenjara tidak sampai enam tahun. Allah Swt. melapangkan kesulitannya hingga beliau dapat keluar dari penjara pada tahun 1977. Setelah dipenjara, alih-alih surut langkah, beliau justru lebih bersemangat untuk melakukan aktivitas dakwah.

Pada tahun 1977 itu pula,  beliau pindah ke Yordania untuk menjalankan amanah dakwah di sana dengan amanah yang tidak ringan. Bahkan beliau menjadi salah satu pimpinan tertinggi dalam kelompok dakwah tempatnya berkiprah.

Saat  itu, beliau mendapat amanah untuk mempersiapkan nasyrah-nasyrah (selebaran) politik karena memiliki keunggulan dalam fakta-fakta politik.

Beliau juga telah menulis buku yang berjudul “Adlwa’u ‘ala al-‘Alaqati ad-Dauliyah” dalam dua jilid yang diterbitkan oleh Darul Bayariq, Yordania.

Bukunya ini—jilid pertamanya—telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Hegemoni Barat terhadap Percaturan Politik Dunia yang diterbitkan oleh Wahyu Press, Jakarta.

Sekelumit Aktivitas Politik Abu Imad

Dalam wawancara dengan seorang teman dekatnya, diketahui bahwa ustadz Muhammad Shabri (Abu Imad) adalah seorang figur yang agung. Sahabat Abu Imad ini bercerita:

”Saya pertama kali bertemu dengan ustaz Abu Imad pada tahun 1953, di Fadhiiyah Tulkarm, saat sama-sama di kelas setingkat Sekolah Menengah. Saya kembali bertemu dengan ustadz Abu Imad di Suriah pada tahun 1971. Saat itu ia menjadi salah seorang aktivis dakwah di Damaskus (ibu kota Suriah).

Ustaz Abu Imad banyak melakukan kontak terhadap staf diplomatik negeri-negeri Islam. Kalau anggota wilayah yang lain kontak paling tidak empat kali dalam sebulan, beliau bisa melakukan kontak dengan staf diplomatik asing 30-40 kali dalam sebulan.

Ustaz Abu Imad adalah seorang yang serius dan selalu menjadikan urusan dakwah dan politik sebagai persoalan utama dalam benaknya. Dia sangat mencintai aktivitas politik.

Baca juga:  Islam Tidak Jadi Alat Politik? Bentuk Kegagapan Islam Moderat

Semua itu membuatnya ditahan rezim Suriah pada Maret 1972. Saya juga turut ditahan. Selama tiga bulan lebih kami disiksa di penjara dan diinterogasi setiap hari.

Tapi, alhamdulillah kami masih memiliki semangat yang tinggi. Kami menghabiskan waktu di penjara dengan menghapal Al-Qur’an.”

Halqah di Penjara

Masih berdasar kesaksian sahabat beliau, pada Maret 1973 mereka dipindah ke penjara yang lebih terbuka, bergabung bersama tahanan yang lain.

Mereka kemudian memutuskan untuk memulai kembali halqah di penjara dan menyelesaikan buku-buku pembinaan hampir dua buku per hari.

Mereka juga mulai mengkaji secara serius buku-buku teori politik dalam bahasa Inggris, peristiwa-peristiwa terkini, ekonomi dan sejarah.

Mereka memutuskan untuk membuat halqah dua kali dalam sehari, menerjemahkan buku-buku (edisi Inggris) tersebut ke dalam bahasa Arab, merekamnya ke dalam kaset supaya berguna untuk yang lain.

Tapi, setelah agen-agen rezim Ba’ats mengetahui hal ini, buku-buku mereka disita.

Ustaz Abu Imad menghabiskan hari-hari terakhir hidupnya di Yordania dengan amanah dakwah yang luar biasa. Beliau berkali-kali dijebloskan ke penjara, hingga menderita sakit jantung.

Beliau adalah politikus yang ulung, membaca banyak jurnal-jurnal politik berbahasa Inggris seperti Foreign Affairs setiap bulan. Demikian pula jurnal politik berbahasa Perancis dan surat kabar.

Beliau juga mengarang buku Afkar Siyasiyyah (Political Thought) dan dua jilid buku tentang 200 tahun perkembangan politik di Eropa. Beliau tetap menjalankan analisis politik sampai akhir hayatnya.

Pandangan Abu Imad Seputar Politik

Dalam mukadimah bukunya yang berjudul “Adlwa’u ‘ala al-‘Alaqati ad-Dauliyah”, beliau menyatakan “Orang biasa bisa terjerumus dalam kesalahan pandangan bahwa ketika dia konsisten memonitor berita dan membaca surat kabar, pasti akan menjadi pengamat atau analis politik. Padahal, hakikatnya dia tidak lebih dari sekadar pengutip berita. Seorang pengamat politik atau analis politik adalah orang yang menghukumi muatan berbagai aktivitas politik, yang biasanya disebut  dengan peristiwa politik, dari aspek motivasi dan tujuannya.”

Baca juga:  Tak Dihargai Sistem Sekuler, Guru Honorer Dimuliakan dalam Sistem Islam

Lebih jauh lagi beliau memaparkan, “Seorang politikus pada satu asisi aktivitasnya adalah seorang pengamat politik, sementara dari sisi yang lain adalah seorang decission maker. Kebanyakan kebijakan politik (political decission) itu merupakan respon terhadap berbagai informasi dan laporan atas berbagai peristiwa politik yang sampai ke mejanya.

Pengambilan kebijakan politik bukanlah aktivitas yang mudah. Seseorang bisa menemukan kesulitan dalam mengambil keputusan dalam salah satu urusan pribadi dan kehidupannya. Pengambilan keputusan dalam urusan keluarganya tentu lebih sulit, sedangkan pengambilan keputusan dalam urusan bangsa dan umatnya jelas jauh lebih sulit lagi.

Hanya saja, kesulitan tersebut seberapa pun kadarnya, seharusnya tidak menyulitkan orang tersebut untuk mengambil keputusan. Sebab, hal itu akan menyebabkan seseorang, keluarga, atau umatnya menjadi mainan pihak lain, sehingga seperti bulu yang diterbangkan angin yang akan diombang-ambingkan dan datang sesukanya.

Keputusan tersebut juga harus diambil secara objektif setelah melalui kajian dan analisis, sehingga keputusan diambil jauh dari sifat emosional, reaktif, dan tekanan realitas.”

Abu Imad Wafat di Jalan Dakwah

Beliau termasuk salah seorang yang bersemangat dalam mempertahankan dan membela dakwah Khilafah saat ada di antara rekan-rekannya yang gugur dari jalan dakwah. Beliau tetap dalam keadaan ini hingga akhir hayatnya.

Pada hari Senin (Ahad malam), 9 Syawal 1425 H/21 November 2004, Abu Imad, seorang yang sangat cerdas dan sungguh-sungguh dalam berdakwah akhirnya wafat. Beliau telah menghabiskan waktunya dengan aktivitas politik untuk menyeru kepada agama Allah Swt. dan Rasul-Nya.

Beliau juga menghabiskan hidupnya untuk menyeru umat Islam untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam dengan cara menegakkan Khilafah Islam.

Semoga Allah Swt. membalas segala kebaikannya dan menerimanya di surga dan mengangkatnya bersama para nabi, orang-orang yang mulia, para syuhada, dan orang-orang yang berpegang teguh pada kebenaran. [MNews/Juan]

*Penulis buku Memoar Pejuang Syariah dan Khilafah, Al-Azhar Fresh Zone Publishing

Tinggalkan Balasan