Ramadan Terakhir Tanpa Junnah

Marhaban yaa Ramadhan, marhaban syahrash shiyaam…


Penulis: Asy Syifa Ummu Sidiq


MuslimahNews.com, OPINI — Tak terasa tamu yang agung akan datang. Tamu yang sangat istimewa, bulan Ramadan. Pada bulan ini, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka.

Ramadan adalah bulan saat umat muslim menjalankan ibadah puasa. Mereka menahan rasa lapar dan dahaga. Tak hanya itu, mereka pun menahan hawa nafsunya.

Ungkapan “saat orang berpuasa, tubuh dan jiwanya akan menjadi lemah” sepertinya tak cocok bagi kaum muslim. Justru pada bulan ini keimanan kaum muslim sedang tinggi-tingginya. Pasalnya, pada bulan penuh berkah ini, umat muslim sedunia akan berlomba dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Mereka memperbanyak ibadah, melakukan yang wajib, menambah yang sunah, dan menghindari yang makruh, mubah, serta haram. Mereka menginginkan rida Allah, karena khusus di bulan Ramadan, Allah melipatgandakan pahala. Istilah gaulnya “obral pahala”.

Setiap amalan kebaikan yang dilakukan manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat.

Allah Ta’ala berfirman,

“Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabb-nya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi.” (HR Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151)

Baca juga:  Mari Menggapai Lailatuqadar (Tafsir QS Al-Qadr: 1—5)

Perjuangan Melawan Kebatilan

Perjuangan di bulan Ramadan bukan hanya melawan hawa nafsu. Ternyata, Rasulullah saw. dan para Sahabat juga berjuang melawan kebatilan. Tercatat ada empat peperangan besar yang dilakukan Rasulullah saw. pada bulan Ramadan.

Pertama, Perang Badar Kubra. Perang melawan orang kafir Quraisy ini adalah perang pertama bagi kaum muslim. Terjadi pada 17 Ramadan tahun kedua setelah hijrah. Tentara kaum muslim yang berjumlah 313 orang mampu mengalahkan 1.000 orang tentara kaum Quraisy.

Kedua, Perang Khandaq atau dikenal dengan Perang Ahzab. Peristiwa ini terjadi pada tahun 5 Hijriah. Saat Rasulullah diserang sekutu Quraisy, beliau memilih bertahan di Madinah. Atas taktik yang disarankan Salman al-Farisi, orang-orang Quraisy berhasil dikalahkan.

Ketiga, penaklukan kota Makkah. Fathu Makkah terjadi di bulan Ramadan tahun 8 Hijriah. Peristiwa ini akhirnya menyelamatkan kota Makkah dari praktik syirik selama berabad-abad. Dengan memecah pasukan, Rasulullah memerintahkan Khalid bin Walid dan Zubair bin Awam sebagai pemimpinnya. Taktik ini berhasil menundukkan musuh-musuh Islam.

Keempat, Perang Tabuk. Peristiwa ini merupakan peperangan yang unik. Perang melawan pasukan Bizantium, Romawi Timur. Perang ini langsung dipimpin Rasulullah saw. Jarak yang cukup jauh membuat perang ini begitu berat dan melelahkan. Namun, Allah mengganti semua pengorbanan tadi dengan kemenangan tanpa peperangan.

Perjuangan Belum Usai

Peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadan mengisyaratkan agar kita tak surut semangat dalam perjuangan. Puasa bukanlah alasan untuk menjadi lemah, tapi sebaliknya, puasa menjadikan kaum muslimin lebih kuat. Sebab, bulan ini adalah bulan yang mampu mendekatkan kaum muslimin dengan Penciptanya.

Baca juga:  Tanda-Tanda Takwa

Tentu, perjuangan tak cukup berhenti di masa Rasulullah saw.. Saat ini pun kita masih harus terus berjuang. Bukankah hari ini Islam belum diamalkan sebagaimana mestinya? Masih banyak aturan Islam yang ditinggalkan, bahkan dengan mudahnya muslim meninggalkan ibadah puasa hanya karena alasan tak mampu berpuasa, padahal badan kekar, raga juga masih sehat.

Setelah 100 tahun kaum muslimin hidup tanpa junnah (perisai), kondisinya lebih buruk. Demokrasi yang dijanjikan akan menyelamatkan umat, nyatanya tak memperlihatkan hasil sedikit pun. Justru sejak Khilafah dihapuskan seabad yang lalu, umat Islam tak lagi memiliki muruah. Selain itu, umat kian jauh dari agamanya. Ibadah ritual dianggap sebagai pelengkap keimanan semata, sedang urusan dunia malah memakai aturan manusia.

Jika umat Islam ingin kembali berjaya sebagaimana Rasulullah saw. ada, hanya satu cara yang dapat dilakukan. Yakni dengan mengembalikan junnah agar mampu melindungi umat dari segala macam bahaya. Juga dapat menjaga kaum muslimin untuk senantiasa dekat dengan Rabb-Nya. Junnah inilah yang disebut sebagai Khilafah.

Sebagaimana Khalifah Umar bin Khaththab yang selalu melindungi umatnya, khalifah lainnya pun akan melakukan hal yang sama. Namun, khalifah seperti Umar tak akan ada tanpa Khilafah. Oleh karena itu, kita membutuhkannya.

Baca juga:  Menolak Khilafah= Watak Asli Demokrasi Sekuler?

Sistem pemerintahan Islam ini tidak serta-merta ada, kecuali ada yang memperjuangkannya. Mereka bersedia setulus jiwa memberikan pengorbanan harta, tenaga, pikiran, bahkan bisa jadi jiwa. Seperti perjuangan para Sahabat di masa Rasulullah saw.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS Al-Hujurat [49]: 15)

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS At-Taubah [9]: 111)

Masihkah ada keraguan untuk berjual beli dengan Allah Swt.? Bukankah kita berharap ini adalah Ramadan terakhir tanpa junnah?

Jika harapan itu ingin menjadi nyata, hanya satu yang dapat kita lakukan, yaitu terus berjuang hingga datangnya ajal. Sesungguhnya, perjuangan ini akan usai manakala kaki kita telah menapak di surga-Nya. Insyaallah. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan