Paham yang Mengancam, Islam “Radikal”?

MuslimahNews.com, NASIONAL — Dikutip dari Antara (9/4/2021), Ketua DPR RI, Puan Maharani menekankan, menjadi tugas semua elemen masyarakat untuk saling mengingatkan dan mencegah paham yang dapat mengancam keberadaan Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Menjadi tugas bersama kita semua, untuk saling mengingatkan dan mencegah penyebaran paham yang dapat membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara, mengancam keberadaan Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia 1945, NKRI, dan kehidupan dalam Bhinneka Tunggal Ika,” ucap Puan dalam pidato Penutupan Masa Persidangan IV tahun Sidang 2020—2021 pada Rapat Paripurna DPR RI, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (9/4/2021).

Dalam kesempatan itu, legislator asal PDI Perjuangan ini  juga mengecam dan mengutuk keras pelaku bom diri di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, serta serangan teror di Mabes Polri, Jakarta beberapa pekan terakhir ini.

Ancaman Utama itu Kapitalisme Liberal dan Komunisme

Menyoroti hal ini, cendekiawan muslim, H. M. Ismail Yusanto menegaskan bahwa aksi teror bukan bagian syariat Islam. “Bahkan saat perang, Islam mengajarkan, gereja termasuk yang tidak boleh diserang,” ujarnya.

Ia pun menyayangkan penyematan aksi teror ini kepada organisasi keagamaan yang mengajarkan Islam dengan benar. Untuk itu, ia menilai yang menjadi ancaman utama negeri ini adalah kapitalisme liberal dan komunisme.

Baca juga:  [News] “Peminggiran” Islam, Upaya Memuluskan Kepentingan Korporatokrasi dan Sekuler Radikal?

“Ancaman faktual adalah kapitalisme liberal, dan ancaman potensialnya komunisme,” tegasnya.

Ia menjelaskan kapitalisme liberal sangat tampak pada banyaknya peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang memberi ruang lebih luas untuk kepentingan korporasi.

“Akibatnya negara ini makin masuk ke dalam korporatokrasi. Negara ini makin tergadai. Keadilan hukum dan ekonomi makin sulit tercapai. Hukum dipakai untuk kepentingan politik. Termasuk separatisme yang tidak terselesaikan,” tukasnya.

Sedangkan komunisme, meskipun masuk dalam ajaran yang dilarang di dalam TAP MPRS, tetapi faktanya Partai Komunis ini masih berkuasa di Cina dan tidak pernah mengalami periodisasi.

“Kekuatannya menjadi kumulatif dan berlipat. Bahayanya lebih besar, di satu sisi komunis, di sisi lain borjuis,” urainya.

Saat ini, komunisme borjuis itu terejawantah dalam sekularisme radikal yang berupaya menyingkirkan ajaran-ajaran Islam yang dianggap menghambat. Paham ini sangat khawatir dengan Islam politik apalagi Islam sebagai ideologi.

“Sehingga dengan kekuatan ekonominya, memberikan gula-gula untuk tujuan politik dan menarik orang-orang yang tidak sensitif,” cetusnya.

“Atau secara praktisnya dengan menawarkan pendanaan sebagai pintu masuk kepentingan politik yang intinya adalah penguasaan. Ironinya, seperti pada masa Aidit, Pancasila dan agama dijadikan alat untuk menarik dukungan, dan kemudian dibuang,” lanjutnya.

Baca juga:  Salah Kaprah Toleransi

Islam Dianggap Rival dan Ancaman oleh Kapitalisme dan Komunisme

Ustaz Ismail menerangkan, dalam kerangka kapitalisme dan kerangka komunisme, Islam selalu dianggap rival dan ancaman.

“Walaupun saat ini Islam belum mewujud tetapi dipandang oleh kedua ideologi tadi sebagai upcoming challenger. Mumpung belum besar, langsung dipukul,” paparnya

Ia mengungkapkan saat ini yang dianggap ancaman adalah Islam yang disemati sifat “radikal”. Ini bentuk indikasi. Sensitivitas terhadap Islam politik, apalagi Islam ideologis, sebenarnya merupakan tanda-tanda komunisme atau sekularisme radikal.

“Kalau di negeri mayoritas muslim, mestinya hal ini tidak ada. Tapi kalau ada, berarti bau dari komunisme yaitu kebencian terhadap Islam dapat diraba,” ulasnya.

“Mereka paham, yang memiliki kesadaran politik dan ideologi yang dapat menghambat tujuan mereka, adalah Islam. Setelah kapitalisme berhasil ditekuk di bawah selubungnya, tinggal Islam sebagai wajah tertuduh, baik dari kapitalisme maupun komunisme,” imbuhnya.

Rekomendasi Rand Corporation, Menciptakan Islam Ramah

Ustaz Ismail menguraikan, sesuai rekomendasi Rand Corporation, diciptakan “Islam yang baru”. Yaitu Islam yang ramah kepada Barat, demokrasi, dan sekularisme. Bukan Islam yang mengancam sekularisme dan nilai-nilai Barat. “Jadi radikalisme adalah politik labeling dan monsterizing,” kritiknya.

Baca juga:  Strategi Politik Busuk di Balik Narasi Radikalisme

Ia menggarisbawahi, sesungguhnya Islam adalah rahmatan lil ’alamin. Justru ancaman nyata terhadap negeri ini adalah kapitalisme, liberalisme, dan komunisme. Islamlah yang akan menyelamatkan negeri ini.

“Sayangnya, Islam yang menyelamatkan ini dianggap ancaman bagi yang menghendaki negeri ini meluncur ke arah mereka,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan