Stigmatisasi Menjelang Ramadan, Umat Butuh Perisai


Penulis: Kanti Rahmillah, M.Si.


MuslimahNews.com, OPINI — Marhaban ya Ramadan. Selamat datang bulan mulia yang penuh dengan keberkahan. Tamu agung yang kehadirannya ditunggu-tunggu oleh umat Muhammad saw.. Disambut dan diterima dengan dada lapang yang penuh kegembiraan. Bulan penuh pengampunan dosa.

Telah banyak ayat Al-Qur’an dan hadis yang menjelaskan keutamaan bulan Ramadan. Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Maka, bagi kaum muslim, puasa adalah perisai diri dari segala kemaksiatan agar ketakwaan senantiasa mengiringi langkahnya.

“Puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah, ‘Aku sedang berpuasa.'” (HR Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, persiapan menyambutnya haruslah prima agar kita tidak tergolong orang-orang yang merugi karena tak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.

Isu Terorisme dan Radikalisme Menjelang Ramadan

Di tengah kesibukan umat muslim mempersiapkan datangnya bulan Ramadan, isu terorisme dan radikalisme yang menyudutkan Islam terus berdatangan mencederai bulan Syakban yang dirahmati Allah Swt. ini.

Ajaran jihad yang mulia, dituduh sebagai biang keladi atas terciptanya aksi terorisme. Padahal, aksi bom bunuh diri di depan Katedral Makassar dan penyerangan di Mabes Polri bertentangan dengan syariat Islam. Syariat turun untuk menciptakan kehidupan yang berkah di tengah umat, bukan untuk menciptakan teror. Sehingga, menghilangkan materi jihad pada buku-buku sekolah adalah tindakan yang juga mencederai syariat Jihad.

Bukan hanya syariat jihad yang dilecehkan, riba yang telah jelas keharamannya, malah menjadi darah perekonomian negara. Begitu pun kerudung, cadar, jenggot, celana cingkrang, rajin mengaji, menjadi atribut yang melekat pada pelaku terorisme.

Ajaran Khilafah pun dianggap berbahaya, sampai harus mengkriminalisasi ormas dan para pengembannya. Padahal, Khilafah adalah mahkota kewajiban umat Islam.

Makin miris saat pelecehan sudah sampai pada tahap akidah. Pelajaran akidah dianggap sebagai ajaran yang dapat menghantarkan pada radikalisme, sampai-sampai ada imbauan untuk mengurangi ajaran tentang akidah dalam rangka mencegah tersebarnya paham radikal di kalangan anak muda.

Sungguh ini adalah logika yang cacat akidah. Karena tanpa akidah, umat Islam tak akan mungkin bisa memahami agamanya dengan lurus.

Pelecehan juga terjadi bukan hanya terhadap ajarannya. Ulamanya pun dikriminalisasi dengan segala macam tuduhan. Pesantren dan majelis taklim sebagai tempat menimba ilmunya umat Islam, malah dianggap sebagai sarang yang melahirkan terorisme. Hingga khotbah Jumat dianggap titik penyebaran paham radikal.

Sungguh, kemuliaan Islam dan ajarannya benar-benar telah terhinakan. Perasaan umat yang gembira menjelang Ramadan harus juga tercampuri dengan kesedihan mendalam tersebab agamanya dilecehkan.

Moderasi Bukan Solusi, Kapitalisme Sekuler Biang Keladi

Radikalisme yang melahirkan intoleransi berwujud terorisme, terus dipropagandakan sebagai bagian dari ajaran agama Islam yang harus dibuang. Sehingga, moderasi beragama di tengah masyarakat dengan menghidupkan toleransi antarumat beragama, menjadi solusi yang kini tengah digencarkan.

Sayangnya, toleransi versi moderasi justru mengubrak-abrik kemurnian ajaran Islam. Syariat harus tunduk pada nilai-nilai Barat yang sekuler, yaitu memisahkan agama dengan kehidupan. Padahal, sekularisme bertentangan dengan Islam yang menjadikan agama sebagai pedoman hidup setiap manusia.

Sesungguhnya, makna toleransi dalam syariat Islam bukanlah membenarkan semua agama dan meleburkan ajarannya dengan nilai-nilai sekuler yang berlaku di tengah masyarakat. Semua itu bisa menyebabkan ajaran Islam ternoda. Toleransi yang Rasulullah saw. ajarkan adalah dengan menghormati dan tidak mengganggu peribadatan agama lain.

Tidak boleh ada paksaan dalam beragama. Seseorang yang masuk ke dalam Islam harus dengan kerelaan atas kesadarannya. Sehingga, dakwah dalam Islam adalah melalui pemikiran, bukan dengan paksaan dan kekerasan.

Oleh karena itu, upaya moderasi yang dilakukan sejatinya hanya menjauhkan umat dari ajaran Islam yang utuh. Moderasi yang tengah digencarkan Barat pada dunia Islam, sesungguhnya adalah agenda global dalam rangka makin menancapkan ideologi kapitalisme yang berasaskan sekuler. Kebebasan beragama dan kebebasan tingkah laku yang dipromosikan nyatanya hanya makin menjauhkan umat dari ajarannya dan mencederai moral bangsa.

Lihatlah persoalan remaja, pergaulan bebas, narkoba, aborsi, PSK online, geng motor, semua itu akibat jauhnya anak-anak dari agama dan nilai kebebasan yang berlaku. Padahal, mereka adalah generasi penerus bangsa yang seharusnya disibukkan dengan ilmu dan karya.

Kebebasan kepemilikan yang menjadi roh ideologi kapitalisme telah menzalimi umat hingga level akut. Penguasaan korporasi multinasional terhadap SDA yang melimpah, membuat rakyat sengsara. Padahal, SDA merupakan milik umat yang seharusnya dikelola negara dan hasilnya dimanfaatkan untuk menyelesaikan hajat hidup rakyat.

Namun, sistem politik demokrasi telah meniscayakan seluruh kekayaan negeri dijual pada asing dan hanya menguntungkan oligarki kekuasaan. Kesejahteraan rakyat di sistem ini hanya mimpi di siang bolong. Pengangguran terus meningkat, pembangunan infrastruktur menggusur tanah rakyat, gizi buruk melanda banyak balita, hingga kelaparan yang berujung pada kematian.

Semua itu berpangkal dari diterapkannya sistem sekuler kapitalisme. Sudah seharusnya penguasa fokus untuk mengusir paham ini dan melindungi umat dari segala-macam bahaya. Bukannya fokus pada moderasi yang justru menjauhkan umat dari nilai-nilai Islam.

Pemimpin adalah Junnah

Dalam kitab-kitab hadis, kata “junnah” ternyata hanya digunakan pada dua hal, yaitu puasa dan pemimpin. Rasulullah saw. bersabda,

“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)

Dari hadis di atas telah jelas bahwa seorang pemimpin dalam Islam adalah junnah/perisai/pelindung yang akan melindungi umat. Melindungi dari apa?

Menurut al-Hafizh Abu Zakariya bin Syarf al-Nawawi dalam kitab syarahnya atas Shahih Muslim.

“Sabda Rasulullah saw: Imam seperti al-sitr (pelindung), karena Imam (Khalifah) mencegah musuh dari perbuatan mencelakai kaum Muslimin, dan mencegah sesama manusia (melakukan kezaliman), memelihara kemurnian ajaran Islam, rakyat berlindung di belakangnya dan mereka tunduk di bawah kekuasaannya.”

Oleh karena itu, hadirnya pemimpin akan menjadi pelindung umat dari perbuatan musuh yang akan mencelakai kaum muslim. Seperti hegemoni korporasi yang merampas kekayaan milik umat dan merusak lingkungan tempat rakyat hidup. Pemimpin dalam Islam akan senantiasa melindungi rakyatnya bukan malah melindungi korporasi.

Penguasa dalam Islam pun akan senantiasa mencegah sesama manusia untuk saling melakukan kezaliman. Menciptakan kerukunan antar umat beragama, tanpa menodai kemurnian ajarannya. Menciptakan keadilan dalam hukum, tak pandang bulu, hukum berlaku bagi setiap warga, termasuk penguasa. Sehingga fenomena hukum tumpul ke atas, tajam ke bawah tak akan ditemui dalam peradilan Islam.

Penguasa pun harus memelihara kemurnian ajaran Islam. Jika ajaran jihad dan Khilafah didiskreditkan apalagi akidah dituduh sebagai biangnya radikalisme, seharusnya penguasa meluruskan narasi tersebut dan menghukum bagi siapa saja yang mempropagandakannya. Bukannya membuang materi jihad dan Khilafah dari buku sekolah.

Sehingga umat akan berlindung di belakang penguasa dengan rasa aman. Rakyat akan tunduk dan patuh pada seluruh aturan yang ditetapkan penguasa, karena mereka yakin itulah yang terbaik buat masyarakat. Umat selalu mendoakan penguasa bersebab cinta penguasa pada umat begitu terasa, dengan hadirnya keadilan dan kesejahteraan.

Sungguh, penguasa yang mencintai umatnya, melindunginya dengan segenap hati. Hanya akan terlahir dari sistem Khilafah Islamiah, sistem sempurna yang Allah Swt. turunkan untuk umat manusia.

Semoga kita segera memiliki dua perisai tersebut dalam waktu yang dekat. Sungguh, umat muslim sangat merindukan hadirnya Khalifah di tengah Ramadan yang mulia. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan