Membersamai Ibadah Anak Prabalig di Bulan Ramadan


Penulis: Nabila Ummu Anas


MuslimahNews.com, KELUARGA — Ramadan tahun ini adalah kali kedua kaum muslimin menjalaninya di masa pandemi covid19. Walaupun berbagai permasalahan menimpa kehidupan masyarakat sebagai dampak dari masa pandemi, tentu tidak mengurangi kebahagiaan kaum muslimin dalam menyambut bulan mulia ini.

Ramadan di masa pandemi harus menjadi Ramadan yang istimewa bagi keluarga-keluarga muslim. Aktivitas taqarrub ilaLlah (ibadah mendekatkan diri kepada Allah) lebih sering dilakukan bersama-sama anggota keluarga di rumah.

Kesempatan ini harus dimanfaatkan oleh orang tua untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah dirinya dan anak-anak. Sehingga Ramadan menjadi wadah penempaaan kepribadian Islam bagi seluruh anggota keluarga.

Gembira Menyambut Ramadan

Anak-anak pun harus berbahagia menyambut kedatangan bulan mulia ini. Jangan sampai karena ibadah lebih banyak di rumah sehingga Ramadan terasa hambar bagi anak, tidak asyik.

Atau luput dari perhatian orang tua untuk melibatkan dan membersamai anak dalam menjalani agenda ibadah di bulan Ramadan.

Agar anak tetap gembira menjalani Ramadan tentu berawal dari orang tua mengajak anak untuk bersama-sama mempersiapkan diri menyambutnya.

Bukan sekedar asyiknya menyusun jadwal menu sahur dan berbuka. Namun juga disertai menjelaskan kepada anak kenapa kita mempersiapkan menu terbaik untuk sahur dan berbuka.

Sebab ada keberkahan di kala sahur dan mengumpulkan energi di kala berbuka sehingga tetap bersemangat menjalankan ibadah di malam harinya.

Melatih Anak Untuk Menahan Diri

Perlu disampaikan kepada anak hakikat berpuasa di bulan suci ini. Sehingga anak pun menjadi tahu bahwa ini adalah bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT,  tidak seperti bulan-bulan lainnya.

Berpuasa pada bulan ini adalah sebuah kewajiban bagi kaum muslimin yang sudah mukallaf.

Sejak dini anak dilatih menjalankan ibadah puasa ini terutama anak-anak mendekati usia baligh. Puasa bukan sekedar menahan diri dari makan dan minum.

Meskipun bisa jadi anak belum kuat untuk puasa sehari penuh, namun dia tidak akan menggoda, dengan makan dan minum di hadapan orang yang sedang berpuasa.

Selain menahan diri dari makan dan minum, anak juga dilatih untuk menahan emosinya, amarahnya dan kesabarannya.

Termasuk juga melatih kebiasaan anak untuk tidak memancing emosi orang lain. Biasa dengan latihan menahan diri pada anak akan membuat anak tidak merasa berat menjalankan ibadah puasa di usia balignya nanti.

Membaca Al-Qur’an Bersama Anak Setiap Hari

Ramadan dimuliakan oleh Allah karena di bulan ini diturunkan al-Qur’an.

Allah SWT berfirman, “Bulan Ramadan, yang didalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas (dari petunjuk tersebut) dan pembeda (antara haq dan batil). Siapa saja dari kalian menjumpai bulan ini, hendaklah ia berpuasa pada hari-harinya.” (QS Al Baqarah : 185).

Mengajak anak untuk memperbanyak membaca al-Qur’an bersama-sama. Orang tua dan anak membuat jadwal membaca al-Qur’an setiap hari di bulan Ramadan.

Mungkin di antara anak ada yang belum bisa membaca al-Qur’an atau baru belajar ataupun ada yang sudah lancar membacanya.

Dengan mendengar bacaan al-Qur’an akan membuat anak dekat dengan lafaz al-Qur’an dan dia akan mengingatnya. Kebersamaan dalam membaca al-Qur’an juga akan merekatkan hubungan orang tua dengan anak.

Tidak hanya membacanya namun dilanjutkan dengan mengkajinya. Misal secara bergiliran juga membaca terjemahnya, sehingga anak terbiasa mengenal arti dari lafaz al-Qur’an yang dibaca.

Melatih Kebiasaan Memberi Orang yang Kekurangan

Di bulan ramadan kepekaaan sosial anak juga dilatih dengan mengajak mereka untuk bersedekah kepada orang-orang yang memerlukan.

Melihat kekurangan hidup orang-orang sekitar juga akan membuat anak bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan kepadanya.

Rasulullah Saw. adalah orang yang paling dermawan. Beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan ketika bertemu dengan jibril, dan beliau berjumpa dengan Jibril pada setiap malam di bulan Ramadan” (HR. alBukhari, Muslim, Ahmad dan an Nasai).

Banyak Berdoa, Memohon kepada Allah SWT

Mengajak anak untuk sering berdoa di siang dan malam Ramadan. Sampaikan kepada anak, bahwa Allah sangat suka kepada hambaNya yang senantiasa merengek dan meminta kepada Allah.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah : 186).
Doa orang yang berpuasa adalah termasuk permohonan yang dikabulkan oleh Allah SWT.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw. bersabda, ““Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang terzalimi.” (HR. Tirmidzi).

Menghidupkan Malam Lailatulqadar

Agar anak senang menyambut sepuluh hari terakhir Ramadan, orang tua bisa mengajak anak membuat hasta karya penghias rumah yang indah dipandang di kala malam.

Misal membuat tempat lampu dari kertas minyak atau memasang lampu kecil warna warni di teras rumah, dll.

Memandang hiasan indah di malam hari menjadi salah satu cara membuat anak senang untuk bangun malam dan beribadah bersama keluarga menghidupkan lailatulqadar.

Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an pada malam Lailatulqadar, tahukah engkau apakah malam Lailatulqadar itu ? Malam Lailatulqadar itu lebih baik dari seribu bulan, pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Allah Tuhan mereka (untuk membawa) segala urusan, selamatlah malam itu hingga terbit fajar.” ( QS. Al-Qadar : 1-5)
Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa berdiri (salat) pada malam Lailatulqadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keteladanan orang tua dalam beribadah di bulan Ramadan adalah hal yang utama. Apa yang dilakukan orang dewasa disekitarnya akan dicontoh oleh anak.

Akan lebih kuat lagi pengaruhnya ketika orang tua menjelaskan kenapa melakukan ibadah tersebut dan bersama-sama anak melakukan berbagai ibadah di bulan Ramadan.

Bersaing dengan tayangan handphone dan televisi menjadi tantangan sendiri bagi orang tua dalam membersamai ibadah Ramadan anak di masa pandemi.

Hendaknya ada komitmen bersama antara orang tua dan anak dalam pemanfaatan dua fasilitas tersebut, agar target Ramadan yang dipenuhi dengan ibadah taqarrub ilaLlah dapat tercapai. Wallahu’alam bishshowab. [MNews/Juan]

Tinggalkan Balasan