Berita Majalah Times (1924—1931) Mengenai Khalifah Terakhir (Bagian 2/2)

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Pada Senin, 3 Maret 1924 menurut penanggalan Barat, adalah hari di mana secara resmi institusi Khilafah dihapuskan. Khilafah dan peristiwa-peristiwa yang berkait dengannya menjadi berita internasional. (Sambungan dari Bagian 1/2)


Wanted: a Calif

TIME Magazine (Monday, May. 31, 1926)

The potent representatives of Islam who assembled at Cairo (TIME, May 24) to select a new Calif, disbanded last week after irreconcilable rivalries had kept the Califate Congress in an uproar almost from its inception.

The Conference’s most notable act was to adopt a resolution stressing the fact that when a new Calif should be appointed he must be a free sovereign capable of defending Islam. Since the two other traditional qualifications for a Calif—descent from Mohammed and possession of the Holy Cities of Mecca and Medina—were not mentioned, it was inferred that these latter qualifications may be explicitly waived at a later date…..

Senin, 31 Mei 1926

Perwakilan-perwakilan potensial dari kaum muslim yang berkumpul di Kairo (TIME, 24 Mei) untuk memilih seorang Khalifah baru dibubarkan minggu kemarin setelah perseteruan yang tak dapat didamaikan membuat Kongres Khalifah berakhir dengan kegaduhan dari sejak awalnya.

Tindakan konferensi yang paling utama adalah untuk mengadopsi sebuah resolusi yang menekankan pada kenyataan bahwa jika seorang Khalifah baru akan dipilih, maka dia haruslah orang yang bebas berdaulat sehingga mampu membela Islam.

Karena dua syarat lainnya adalah seorang keturunan dari Nabi Muhammad dan berkuasa atas dua kota suci Makkah dan Madinah tidak disebutkan, dapat disimpulkan dua syarat itu akan disebutkan kemudian.


Sebuah resolusi yang penting mencatat pendapat, “Seorang Khalifah dapat memperoleh posisi itu melalui penaklukan, sepanjang dia adalah seorang muslim.”

Ringkasnya, Islam akan menantang seorang muslim yang menyerahkan diri kepada musuh untuk tunduk dan menyatakan dirinya Khalifah—penguasa kaum muslim secara temporal dan spiritual. Apa yang disebut sebagai “Khalifah terakhir yang sejati”, seorang Sultan Turki yang digulingkan, Muhammed IV, wafat baru-baru ini di Italia.


Caliph’s Beauteous Daughter

TIME Magazine (Monday, Nov. 09, 1931)

If there were an ex-Pope, if he had a beauteous daughter, if she became secretly engaged to the eldest son of “The Richest Man in the World,” then Catholics would be as excited as Moslems were last week.

In a sun-drenched Riviera villa, high above champagne-soused Nice, lives the ex-Caliph of Islam who has no successor. Deposed and physically ousted from Turkey in 1924 by agnostic President Mustafa Kemal, Caliph Abdul Medjid Effendi is still to millions of Moslems “Commander of the Faithful” and “Viceregent of Allah.”……

Senin, 9 November 1931

Seandainya ada mantan Paus, seandainya dia memiliki saudara perempuan yang cantik, dan seandainya saudara perempuannya itu memiliki hubungan dengan anak laki tertua dari “Orang Terkaya di Dunia”, maka orang Katolik akan merasa senang seperti senangnya orang muslim pada minggu lalu.

Di Vila Riviera yang penuh dengan cahaya matahari, yang terletak di ketinggian kota Nice, tinggal seorang mantan Khalifah Islam yang tidak memiliki pelanjut setelah diberhentikan dan diusir dari Turki tahun 1924 oleh Presiden Mustafa Kemal, Khalifah Abdul Madjid Effendi bagi jutaan kaum muslim masih merupakan seorang “Panglima kaum beriman” dan merupakan “Wakil Allah”.


Ongkos perawatan atas vila Khalifah yang besar (seukuran istana dan penuh dengan perhiasan) dibiayai oleh seorang Islam yang kaya dan saleh, khususnya oleh Yang Mulia Nizam dari Hyderabad, raja India yang terkaya, yang sering kali disebut sebagai “Orang Terkaya di Dunia”.

Minggu lalu di kota Nice, “pertunangan rahasia” antara anak laki-laki Nizam, Sahib Zada Nawah Azam, dan anak perempuan khalifah yang cantik, Durri Chehvar diungkapkan. Jika rahasia itu diketahui oleh 200,000,000 kaum muslim, maka itu bukan lagi rahasia, melainkan sebuah fakta yang jelas. Para pengamat mencurigai bahwa itu adalah tipu muslihat Yang Mulia Nizam.

Menurut Al-Qur’an, Khalifah Islam hendaklah seorang penguasa temporer. Kaum muslim Palestina telah mencoba selama bertahun-tahun, dan masih mencobanya minggu lalu untuk mengangkat Khalifah terguling di Jerusalem sebagai “penguasa” atas sebidang tanah yang kurang lebih sebesar Negara Paus.

Di London, rencana ini didorong oleh Shankat Ali, perwakilan delegasi muslim pada Konferensi Meja Bundar India. Namun, orang Kristen Inggris—yang menguasai Jerusalem—enggan untuk menjadikan “Kota Suci” Yahudi dan Jerusalem sebagai tempat Khalifah Islam. Apa yang harus dilakukan?

Bertahun-tahun yang lalu, Nizam yang berkuasa di Hyderabad mencoba menjadikan dirinya seorang Khalifah yang diakui. Bagi kaum muslim yang saleh, ambisinya itu mengejutkan. Mereka mendiamkannya.

Namun, “pertunangan rahasia” antara anak perempuan Khalifah dengan pewaris Nizam pada minggu lalu membuat banyak kaum muslim berbahagia. Seandainya kedua anak muda itu menikah dan memiliki anak lelaki, dia akan memiliki garis keturunan yang temporal dan spiritual. Dia akan dinyatakan “Khalifah Sejati”.

Di Nice, mantan Khalifah Abdul Madjid, walaupun dia menjadikan pertunangan itu untuk mengetes opini publik, berusaha untuk tidak membuyarkan pencalonannya di Jerusalem minggu lalu. Sekretarisnya Hussein Nakib Bey, yang memakai kacamata tunggal, menyatakan, “Tuanku, Yang Mulia Khalifah Abdul Madjid Effendi, tetap berhubungan terus dengan Imam Besar Jerusalem.”

Di Jerusalem, para wartawan mengejar Imam Besar untuk mengeluarkan pernyataan yang tersamar. “Pertanyaan atas pendirian kembali Khilafah tidak akan diputuskan pada Kongres Kaum Muslim di Jerusalem Desember nanti,” kata Mufti sambil mengelak, “Tapi jika tidak ada khalifah yang dipilih Kongres, kami akan menangani pertanyaan ini secara abstrak.”

Di London, Kedubes Turki mengungkapkan bahwa Pemerintah Turki meminta pemerintah Inggris dua minggu yang lalu untuk tidak mengizinkan pemulihan Kekhalifahan di mana pun di Imperium itu, khususnya tidak di Jerusalem. Turki, yang telah melakukan sesuatu yang sangat baik dengan negara Republiknya yang pragmatis, mengkhawatirkan munculnya kebangkitan kaum muslim, suatu reaksi dari Presiden Kamal jika seandainya Khilafah dipulihkan lagi. [MNews/Gz]

Sumber: Time Magazine Archive, (Riza Aulia, khilafah[dot]com)

Tinggalkan Balasan