Kisah InspiratifSahabat Nabi

Asy-Sya’bi, Murid dari 500 Guru

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Nama lengkapnya adalah Amir bin Syurahil bin Abd bin Dzu Kibar. Nama Dzu Kibar diambil dari salah satu nama kabilah yang menempati wilayah Yaman.

Ia dikenal sebagai imam yang menguasai hampir seluruh ilmu di masanya. Ia memiliki sebutan lain bernama Abu Amr al-Hamdzani. Ibunya merupakan tawanan perang Jaula, perang Persia termasyhur kala itu.

Amir Asy-Sya’bi lahir enam tahun setelah Umar bin Khaththab menjabat sebagai khalifah.

Meski bertubuh kecil, Asy-Sya’bi memiliki kecerdasan menyala, daya ingatnya kuat, dan memiliki pemahaman yang merangkum berbagai macam disiplin ilmu. Masanya dianggap sebagai masa terbaik. Dialah murid dari 500 guru. Belajar ilmu dari 500 sahabat Nabi Saw. yang mulia.

Kesabaran Asy-Sya’bi dalam Memburu Ilmu

Masa kecil Asy-Sya’bi dihabiskan di Madinah selama delapan tahun. Ia banyak mendengarkan hadis dari Ibnu Umar dan belajar ilmu hitung dari Al-Harits bin Al-Awar.

Amir Asy-Sya’bi berjumpa dengan 500 sahabat Nabi Saw. yang masih tersisa. Meriwayatkan hadis dari mereka, di antaranya  Ali bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqqash, Zaid bin Tsabit, Abu Said al-Khudri, Ubadah bin ash-Shamit, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, ummul mukminin Aisyah, dan lainnya.

Dengan kecerdasan dan daya ingat yang kuat, Asy-Sya’bi mampu menghafal dan memahami setiap hal yang ia dengar.

Daya ingat ini pula yang membantunya menyerap banyak riwayat atsar (pernyataan dari para sahabat) pada berbagai permasalahan yang muncul. Karenanya ia dikenal sebagai “pemilik banyak atsar“.

Ia menjelaskan prinsipnya dalam menghafal dan memahami, “Aku tak menuliskan tinta hitam dari yang putih hingga hariku ini. Tak ada seorang pun yang memberikan hadis padaku kecuali aku menghafalnya. Aku tidak begitu suka jika hadis itu diulangi lagi untukku.”

Para ulama sepakat bahwa Asy-Sya’bi adalah seorang imam dan seorang yang tsiqah dan semua ulama memujinya karena keluasan ilmu dan keutamaannya.

Ibnu Sirin berkata kepada Abu Bakar al-Huzaly, “Tetaplah engkau bersama Asy-Sya’bi, aku melihat bahwa beliau telah berfatwa di masa sahabat masih banyak jumlahnya.”

Sikap tawaduknya sangat tampak tatkala ada seseorang menyebutnya sebagai seorang alim, ia merasa malu. Saat orang tersebut berkata, “Jawablah, wahai ahli fikih lagi alim!” Maka, Asy-Sya’bi menjawab, “Jangan begitu. Janganlah engkau memuji kami dengan sifat yang bukan milik kami.”

Kemudian ia memberikan definisi ahli fikih dan alim dengan pernyataannya, “Ahli fikih adalah orang yang menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan Allah. Sedangkan orang yang alim adalah orang yang takut kepada Allah. Lalu, di manakah posisi kita dari definisi itu?”

Derajat Keilmuan Asy-Sya’bi

Asy-Sya’bi adalah ahli hadis yang mumpuni. Ia duduk di Masjid Kufah, namun orang-orang tidak merasa bosan dengan majelisnya.

Asy-Sya’bi pernah ditugaskan memimpin peradilan di Kufah. Gubernur Ibnu Hubairah al-Fazari mengatakan padanya, “Saya tugaskan kepadamu pengadilan ini. Aku bebankan kepadamu untuk selalu berbincang dengan kami pada malam hari di majelis kami.”

Lalu Asy-Sya’bi menjawab, “Saya tidak mampu, maka tugaskan kepadaku salah satunya saja.” Maksudnya, pengadilan atau teman diskusi di malam hari. Ibnu Hubairah al-Fazari setuju dengan pendapatnya itu.

Dalam bidang keilmuan, Asy-Sya’bi telah mencapai derajat yang hanya bisa dicapai oleh tiga orang masanya.

Imam Az-Zuhn berkata, “Para ulama itu hanya ada empat orang, yaitu Sa’id bin Musayyab di Madinah, Amir Asy-Sya’bi di Kufah, Hasan al-Bashri di Bashrah dan Makhul di Syam.”

Asy-Sya’bi memiliki kepribadian yang baik dan terpuji. Ia tidak menyukai perdebatan dan ikut campur dalam hal yang tidak bermanfaat.

Suatu hari, salah seorang teman membicarakannya lalu berkata, “Wahai Abu Amr!” “Ya,” jawab Asy-Sya’bi.

“Bagaimana pendapatmu tentang persoalan dua orang lelaki ini, yang persoalannya banyak dibicarakan orang?”

“Dua lelaki yang mana?” tanya Asy-Sya’bi.

“Utsman dan Ali,” jawab temannya itu.

“Demi Allah. Sesungguhnya aku tak akan datang pada hari Kiamat nanti dalam keadaan bermusuhan dengan Utsman bin Affan atau Ali bin Abu Thalib. Semoga Allah meridai mereka berdua.”

Kunci Memahami Ilmu

Suatu ketika, ada seseorang yang bertanya pada Asy-Sya’bi, “Bagaimana caranya sehingga engkau dapat mencapai derajat keilmuan seperti ini?”

Maka dijawablah oleh Asy-Sya’bi, yang jawabannya juga menjadi resep bagi kita untuk melahirkan generasi mendatang umat ini, generasi yang kokoh dan dicintai Allah.

Asy-Sya’bi berkata,

بنفي الاعتماد، والسير في البلاد، وصبر كصبر الجماد، وبكور كبكور الغراب

“Dengan tanpa bersandar (pada diri sendiri),  bersafar di belahan negeri, bersabar seperti sabarnya benda mati,  bersegera seperti bersegeranya burung gagak.”

Dalam kutipan hikmah Asy-Sya’bi, Ustaz Budi Ashari menjelaskan secara terperinci sebagai berikut:

  1. Pertama, tidak bersandar dengan kemampuan sendiri. Sebab, bagi seorang yang berilmu, hafalan kuat dan kecerdasan saja tidaklah cukup. Ada pertolongan dan izin Allah yang melandasi kemampuan manusia. Maka minta tolonglah kepada Allah!
  1. Kedua, menjelajahi negeri untuk belajar ilmu. Imam Syafi’i berangkat sejauh 500 km untuk belajar.

Ini baru generasi kokoh! Bukan generasi yang malas belajar, padahal sudah ada motor dan mobil. Akan tetapi, jangan sekadar menjelajah tanpa ada kebaikan yang diperoleh. Menempati satu tempat namun ada ahli ilmu di dalamnya bisa jadi lebih baik dari pada merantau.

Sebagaimana Imam Syafi’i yang baru meninggalkan Madinah setelah Imam Malik wafat.

Maka merantaulah, jika dengan merantau dapat menambah ilmu dan menambah rasa takutmu kepada Allah. Namun jika tidak ada yang kau dapat dari merantau selain berkurangnya usia dan lunturnya keimanan, tetaplah di negerimu.

  1. Ketiga, bersabar seperti sabarnya benda mati. Seperti kursi. Siapakah yang lebih bersabar dan mampu bertahan lebih lama, kita yang menduduki kursi atau kursi yang diduduki oleh kita?

Inilah nasihat emas dari Asy-Sya’bi. Sebab kita melihat generasi hari ini adalah generasi yang lemah kesabarannya. Tidak tahan dengan waktu belajar yang lama dan tempat belajar yang jauh. Tidak tahan dengan guru yang mendidik dengan ketegasan.

  1. Keempat, Cekatan seperti cekatannya elang yang memburu mangsa. Jangan lelet, lambat, dan klemar-klemer.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ dari Abu Hurairah,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ

“Antusiaslah terhadap segala sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.”

Itulah keempat kunci memahami ilmu menurut Asy-Sya’bi. Semoga kita bisa mengambil setiap butiran nasihat para ulama dan menerapkannya dalam kehidupan, baik untuk mendidik anak-anak kita maupun membina umat dalam memahami Islam dengan benar. [MNews/Chs]

Sumber: Hepi Andi Bastoni. 2006. Kisah 101 Tabi’in. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar; Muslimobsession.com, 22/11/2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *