Subsidi Dicabut, Orang Miskin Dilarang Ribut


Oleh: Asy Syifa Ummu Sidiq


MuslimahNews.com, OPINI — Episode bawang merah dan bawang putih telah dimulai. Jika di cerita anak-anak, si bawang putih selalu menang, kali ini berbeda. Bawah putih hanya bisa menangis dan gigit jari. Karena melihat bawang merah mendapatkan keringanan harga saat membeli kendaraan. Sedang bawang putih tambah sulit kehidupannya  karena tak ada lagi bantuan.

Cerita ini menjadi awal kegalauan orang-orang kecil yang hidup di negeri yang melahirkan kisah bawang merah dan bawang putih. Ketidakadilan menghantui mereka. Turunnya keputusan penghapusan Bantuan Sosial Tunai (BST) oleh Menteri Sosial per 1 April lalu menjadi momentum berat bagi mereka.

Saat ini, rakyat miskin harus membanting tulang dan memeras keringat untuk mendapatkan sesuap nasi. Mereka tak lagi mendapat bantuan, khususnya di masa pandemi. Namun, di sisi lain justru diskon pajak pembelian mobil mewah (PPnBM) diperlebar. PPnBM dibebaskan pada mobil 1500 cc hingga 2500 cc.

Menurut mantan stafsus Menteri BUMN, M. Said Didu, keputusan itu tidak tepat. Pasalnya di waktu yang bersamaan, dalam keadaan susah akibat pandemi, subsidi dicabut. Sedangkan pajak bagi orang kaya justru dibebaskan. Ia menilai sama saja dengan memindahkan subsidi dari orang miskin ke orang kaya (jpnn.com, 4/4/21).

Baca juga:  Subsidi dalam Pandangan Islam

Memihak Siapa?

Dengan keputusan ini, lengkaplah penderitaan rakyat miskin. Sebagian besar menjadi korban PHK, pekerjaan tidak ada, kalau pun bekerja hanya seadanya. Biaya hidup semakin meningkat, ditambah biaya sekolah anak, susu anak, belum nanti kalau ada yang sakit. Dari mana mereka mendapat tambahan uang?

Jika alasan pemberhentian subsidi dikarenakan kas kosong, bisa saja dimaklumi. Nanti jika kasnya berisi, disubsidi lagi. Tapi, ternyata di saat pemerintah butuh uang, pajak pembelian mobil mewah justru ditiadakan. Padahal, kalau dihitung-hitung jumlahnya bisa cukup besar.

Alasan keputusan ini adalah agar industri tetap jalan. Kalau industri tetap jalan, siapa yang akan diuntungkan? Bukan rakyat jelata kan? Mereka si pembuat atau pemiliki perusahaan mobil yang akan menerima labanya.

Menjadi sebuah pertanyaan besar, apakah artinya saat ini penguasa bersama pengusaha? Bukan rakyat jelata? Jika bukan penguasa, siapa yang akan memikirkan kepentingan rakyatnya?

Konsep Tambal Sulam

Seperti biasanya, solusi yang ditawarkan dalam sistem saat ini lahir dari kapitalisme. Dalam kapitalisme solusi yang diambil bukan berdasar pada akar masalah. Tapi sebatas masalah luar yang tampak. Negara dalam pandangan kapitalisme hanya sebatas fasilitator, bukan periayah (pengurus umat). Sehingga, keputusan diambil disesuaikan dengan kebutuhan/kepentingan tertentu.

Baca juga:  Subsidi dalam Pandangan Islam

Sebagai contoh, subsidi adalah solusi tambal sulam ala kapitalisme. Konsep seperti ini harusnya tidak ada. Karena kapitalisme mengharamkan negara turut campur dalam urusan rakyat. Namun, karena jurang kemiskinan makin besar, mau tidak mau negara kapitalisme berusaha mencari solusi dengan subsidi.

Sebagaimana prinsip kapitalisme yang berlandaskan materi, kebijakan selalu didasarkan pada untung dan rugi. Jadi, saat mentok dan berhadapan dengan kepentingan lain yang dianggap lebih besar. Juga lebih menguntungkan dari sisi materi, subsidi akan terus dikurangi bahkan ditiadakan.

Konsep Periayah Ada pada Islam

Islam memiliki konsep yang sempurna. Selain sebagai agama, Islam adalah sebuah sistem yang lengkap. Mulai dari sistem pergaulan, pendidikan, ekonomi hingga pemerintahan. Tidak ada satu masalah pun yang luput dari tata aturan. Sebab Allah telah menyatakan bahwa Islam adalah agama sempurna.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Maidah: 3)

Dalam pandangan Islam, mengurusi kebutuhan umat adalah tanggung jawab penguasa. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh khalifah Umar bin Khaththab. Saat menemui rakyatnya yang kesusahan, Beliau langsung memberikan perintah agar kebutuhan rakyatnya ditanggung oleh Baitul Mal. Tak peduli apakah rakyatnya itu muslim atau nonmuslim. Hal ini dilakukan semata-mata untuk memenuhi kewajibannya sebagai pemimpin.

Baca juga:  Kebijakan Perumahan Rezim Zalim Membuat Rakyat Makin Sengsara

Abdullah bin Umar mengatakan, Rasulullah saw. berkata, “Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, seorang pemimpin umat manusia adalah pemimpin bagi mereka dan ia bertanggung jawab dengan kepemimpinannya atas mereka.”

“Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggung jawab atas mereka, seorang wanita adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anaknya, dan ia bertanggung jawab atas mereka.”

“Seorang budak adalah pemimpin bagi harta tuannya, dan ia bertanggung jawab atasnya. Maka setiap dari kalian adalah adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR Abu Dawud)

Jadi, khilafah yang berperan sebagai penguasa dalam Islam tidak akan membedakan rakyat satu dengan yang lain. Semua akan dianggap sama, baik kaya atau miskin. Seluruh kebutuhan mereka akan dipenuhi. Bahkan jika ada yang kekurangan akan dijamin oleh Baitul Mal. Sehingga tidak ada cerita seperti bawang merah dan bawang putih seperti di atas. Jika konsep ini begitu sempurna dan dijamin oleh Allah Swt., mengapa masih ada yang meragukannya? Wallahu’alam. [MNews]

Tinggalkan Balasan