Sistem Islam Kaffah Menjaga Marwah Perempuan


Oleh: Naira Asfa Kamila (Forum Muslimah Indonesia)


MuslimahNews.com, OPINI — Perempuan menjadi isu yang santer dibicarakan pasca terjadinya penyerangan Mabes Polri oleh seorang perempuan bernama Zakiyah Aini, Rabu (31/3). Ini adalah kejadian yang menambah rasa was-was atas rasa ketidakamanan di tengah masyarakat yang ada saat ini. Selain itu, menambah deretan catatan kriminalitas kasus-kasus lain seperti pencurian, penculikan, perampokan, perkosaan dan lain-lain.

Kita juga mencium aroma tidak sedap pasca peristiwa ini pada baju Islam. Islam kembali dituduh sebagai agama yang mengajarkan kekerasan atas nama jihad yang membabi-buta, juga menarik-narik perempuan pada ranah eksekutor tindakan terorisme. Lalu bagaimana sistem Islam Kaffah menjawab semua tudingan ini?

Islam Melindungi Perempuan dan Menjaga Kemuliaannya

Perempuan di dalam sistem Islam Kaffah itu sangat dilindungi. Kedudukannya sangat terhormat dan dimuliakan. Ini berlaku baik dalam hubungan perempuan itu dengan dirinya sendiri, perempuan dengan keluarga, perempuan dengan masyarakat umum serta perempuan dalam lingkungan negara.

Dalam hubungan perempuan dengan dirinya sendiri, Islam menjaganya dengan syariat menutup aurat secara sempurna dengan mengenakan jilbab (Al-Qur’an surat Al Ahzab: 59) dan kerudung (Al- Qur’an surat An-Nuur: 31). Dengan perintah Allah Swt dalam Al-Qur’an ini perempuan terjaga kecantikan dan kehormatannya, serta terlindungi dari berbagai fitnah.

Baca juga:  Perempuan dan Khilafah Tanpa Gender Equality

Dalam hubungannya dengan keluarga, perempuan menempati posisi yang mulia sebagai al ‘umm wa rabbatul bait yaitu sebagai ibu dan manajer rumah tangga. Pahala perempuan mengalir di dalam rumah tangganya mulai dia bangun sampai tidur kembali saat mengatur seluruh kebutuhan keluarganya.

Dalam hubungannya dengan masyarakat umum, sistem Islam kaffah menjaganya dengan mengatur pergaulannya, menjauhi khalwat (berdua-duaan dengan non mahram) dan ikhtilat (bercampur-baur dengan non mahram) kecuali untuk keperluan mendesak seperti keperluan ekonomi (di pasar, dll), pendidikan (di sekolah, dll) dan kesehatan (rumah sakit, dll).

Disamping itu, dalam kehidupan bermasyarakat ini kaum muslimah tetap dapat menjalankan kewajibannya beramar ma’ruf nahi mungkar yaitu mengajak kepada kebaikan (Islam) dan mencegah segala bentuk kerusakan. Baik itu dengan kekuasaan/posisinya di masyarakat atau dengan lisannya. Dakwah muslimah harus tetap terjaga (dijaga) marwah dan kehormatannya dengan tetap memperhatikan kaidah syariat Islam, diantaranya dilakukan secara damai (tanpa kekerasan), dakwah muslimah ditujukan kepada sesama perempuan, tidak bercampur-baur dengan laki-laki nonmahram sehingga tetap terjaga hati dan kemurnian dakwah itu sendiri.

Dakwah muslimah yang mulia berupa penyadaran politik kepada umat dalam arti ri’ayatus su’unil ummah (pengaturan urusan umat/masyarakat) baik dalam aspek pemerintahan, pendidikan, sosial ekonomi, hukum, perundang-undangan dan lain-lain.

Baca juga:  Perempuan dan Khilafah Tanpa Gender Equality

Sedangkan untuk hubungannya dalam lingkungan negara (daulah) Islam, maka Islam memenuhi kebutuhan perempuan sebagaimana laki-laki warga negara Islam tanpa diskriminasi. Demikian pula dalam sektor lain seperti pendidikan, sosial, keamanan, dll. Bahkan seorang perempuan bisa menjadi anggota Majelis Umat sebagai badan pengoreksi penguasa dalam sistem Islam kaffah.

Pada masa pemerintahan sistem Islam kaffah, ada seorang muslimah yang pakaiannya disingkap dengan sengaja oleh seorang Yahudi. Muslimah ini langsung berteriak dan seorang laki-laki muslim yang berada di dekatnya menolongnya dan membunuh Yahudi tersebut. Laki-laki muslim ini akhirnya dibunuh oleh orang-orang Yahudi Bani Qainuqa. Berita ini sampai ke Rasulullah Saw.

Rasululah Saw. bersama pasukan kaum muslim berangkat menuju tempat Bani Qainuqa dan mengepung merekat. Akhirnya Bani Qainuqa menyerah setelah dikepung selama 15 hari. Allah SWT memasukkan rasa gentar ke dalam hati orang Yahudi ini. Hampir saja semua kaum laki-laki Bani Qainuqa ini dihukum mati oleh Rasulullaah Saw. Namun keputusan itu berubah ketika Abdullah bin Ubay memohon pada Rasulullaah Saw. untuk memaafkan mereka. Akhirnya Yahudi Bani Qainuqa diusir dari Madinah.

Sistem Islam Kaffah Mencegah Kekerasan Oleh dan Kepada Perempuan

Dalam hal kekerasan, Islam tentu melarangnya dengan alasan apapun. Islam sama sekali tidak pernah mengajarkan kekerasan, baik kepada laki-laki maupun kepada perempuan. Dalam hal ini Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An Nahl : 90)

Baca juga:  Perempuan dan Khilafah Tanpa Gender Equality

Selain itu, Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin menempatkan semua manusia, baik laki-laki maupun perempuan menempati posisi yang sama mulianya dan tidak ada yang direndahkan. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Qur’an Surat al-Hujurat (49): 13 yang artinya “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadi kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Demikianlah gambaran singkat bagaimana Islam menjaga warwah perempuan (muslimah). Maka apapun bentuk kekerasan yang terjadi hari ini, apalagi mengatasnamakan Islam dan jihad, terlebih lagi mencitraburukkan kedudukan muslimah, maka itu adalah fitnah keji kepada Islam dan kaum muslimin. Wallahu a’lam bishshawwab.[MNews]

Tinggalkan Balasan