Pelaku Teror Gagal Paham Makna Jihad?

MuslimahNews.com, KOMENTAR POLITIK – Pengamat terorisme yang juga merupakan mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Nasir Abbas, mengatakan, aksi teror yang dilakukan Zakiah Aini di Mabes Polri, dan suami istri bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Lukman dan Dewi, merupakan orang yang gagal memahami makna jihad.

“Dua pasang suami istri di Makassar, Zakiah Aini, mereka melewati ini (proses perekrutan) dari surat wasiatnya kita tahu. Ada gagal paham. Ada intolerannya,” kata Nasir dalam webinar yang diselenggarakan Universitas Budi Luhur, Selasa (6/4)

Benarkah demikian?

Jihad dalam ajaran Islam memiliki makna syar’i yaitu mencurahkan kemampuan untuk berperang di jalan Allah secara langsung atau dengan bantuan harta, pemikiran, memperbanyak perbekalan dsb. Jadi berperang untuk meninggikan kalimat Allah adalah jihad. Sedangkan yang dimaksud jihad dengan pemikiran, adalah jika pemikiran tersebut berkaitan langsung dengan perang di jalan Allah. (Syekh Taqiyuddin An Nabhany, Kitab Syakhshiyyah Islamiyyah jilid 1).

Di kitab yang sama disebutkan, bahwa jihad tidak ditujukan kepada sesama muslim, tapi kepada orang orang kafir yang enggan menerima dakwah. Perintah memerangi mereka adalah karena sifat mereka yang kufur. Terdapat banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskannya (lihat QS At Taubah 123, An Nisa 76, At Taubah 12 dll). Jika mereka mereka menerima dakwah, maka mereka menjadi muslim. Jika mereka enggan memeluk islam, lalu mereka mau membayar jizyah dan berhukum dengan islam, maka itu diterima dan peperangan dihentikan.

Tapi Jihad semacam ini tidak bisa dijalankan tanpa adanya penguasa yang menerapkan hukum Islam. Demikianlah yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Beliau saw. baru mendapatkan perintah Allah untuk berjihad memerangi kaum yang memusuhi islam saat beliau berhasil menerapkan hukum islam di Madinah. Ketika masih di Mekah, beliau saw bersama para shahabat sama sekali tidak melakukan kekerasan dalam dakwahnya.

Jadi Islam memang mengajarkan jihad bermakna perang. Tapi jihad dilakukan dengan berbagai macam aturan dan batasan. Jihad tidak dilakukan dengan melalui bom bunuh diri, aksi teror dan kekerasan di tengah massa. Jihad dilakukan di tengah-tengah medan peperangan ketika dua pasukan berhadap hadapan. Jihad diperintahkan oleh penguasa yang menerapkan hukum islam, dengan adab mulia seperti seperti tidak boleh membunuh perempuan , anak-anak, orangtua dan para agamawan. Rasulullah saw bersabda : “…Jangan kalian lari dari medan perang, jangan kalian memutilasi, jangan membunuh anak-anak, perempuan, orang yang sudah tua, dan rahib di tempat ibadahnya.” (HR. Muslim 1731, Abu Dawud 2613, at-Tirmidzi 1408, dan al-Baihaqi 17935).

Maka jelas, pelaku aksi teror ini memang belum sempurna pemahamannya tentang jihad bermakna perang (qital) dari sisi penerapannya. Mereka hanya paham bahwa jihad bermakna perang itu wajib, tapi tidak paham bagaimana syariat Islam mengaturnya.

Hanya saja, tidak tepat jika kemudian dikatakan bahwa jihad bermakna qital ini sekarang sudah tidak bisa digunakan karena sudah tidak relevan. Lalu dikatakan bahwa Jihad harus dimaknai dengan makna bahasanya yaitu ‘bersungguh sungguh’. Sehingga didapatkan makna yang lebih luas yaitu bil-maal dengan (bersungguh sungguh mengeluarkan –pen) zakat, infak, sedekah juga nafkah ke keluarga. Kemudian bi anfusikum dengan (bersungguh sungguh menggunakan-pen) kekuatan diri seperti jihad lisan dengan memberi nasihat, mengajar dll ( https://www.nu.or.id/post/read/127644/ancaman-bagi-para-pelaku-bom-bunuh-diri).

Tidak bisa dikatakan demikian, karena bila kita kaji dari nash-nash jihad, baik dari Al-Qur’an maupun sunah, tampak bahwa syara’ telah menanggalkan jihad dari makna bahasanya (yaitu bersungguh sungguh). Syara’ menggunakan kata jihad dengan makna qital (perang) dan apa saja yang terkait dengannya. Tidak ada kata jihad di dalam Al-Qur’an yang bermakna selain qital. Dengan demikian, istilah jihad merupakan lafazh yang memiliki makna syar’i, sehingga makna inilah yang harus kita ambil, bukan makna bahasanya. Syariat tentang jihad bermakna qital ini akan tetap ada, dan berlaku sepanjang masa.

Maka semakin jelas, ada upaya musuh musuh islam untuk menjadikan aksi teror ini sebagai momentum untuk memunculkan ketakutan di kalangan umat Islam sendiri terhadap jihad. Selanjutnya muncul reaksi dari para pemikir dan ulama Islam yang telah di-setting sedemikian rupa, yang menyatakan bahwa jihad bukanlah perang. Ini adalah upaya untuk mereduksi makna jihad.

Ketika jihad bermakna syar’i ini telah menghilang, maka hilang pula semangat kaum muslimin untuk mempertahankan kemuliaan dan kelangsungan kehidupan Islam. Umat akan kehilangan kekuatannya dan tunduk terhina di hadapan musuh-musuhnya yang leluasa menjarah kekayaan alamnya, memeras keringatnya, mengoyak koyak negerinya. Wallahu a’lam bishshawab. [MNews]

Tinggalkan Balasan