Bersiap Diri Menyambut Ramadan di Tengah Pandemi


Oleh: Najmah Saiidah


MuslimahNews.com, FOKUS — Marhaban yaa Ramadhan…

Alhamdulillaah wa syukru lillaah… ‘Tamu agung’ kita akan segera tiba. ‘Tamu’ yang membawa berkah, rahmat, dan ampunan akan segera tiba. Dialah Ramadan, bulan mulia yang penuh berkah, memiliki keutamaan dalam setiap detik dan menitnya, dalam setiap siang dan malamnya. Bulan istimewa, di mana Allah melipatgandakan pahala, bahkan tidurnya orang berpuasa bernilai pahala. Bulan di mana pahala dilipatgandakan, pintu ampunan dan tobat dibuka seluas-luasnya. Allah membukakan pintu-pintu kebaikan bagi orang yang menginginkannya. Sudahkah kita mempersiapkannya?

Seperti tahun lalu, Ramadan tahun ini, umat Islam di Indonesia harus melaluinya di tengah pandemi Covid 19. Tahun lalu, sebagian besar umat Islam tidak bisa salat tarawih berjamaah di masjid, tidak bisa tadarus bersama ibu-ibu di masjid yang biasanya rutin kita lakukan setelah salat tarawih atau setelah salat subuh. Tentu saja hal ini di satu sisi membuat kita sedikit bersedih hati. Walau demikian, kita harus menyambutnya dengan suka cita, penuh keimanan yang tinggi, penuh dengan harapan dan selalu berusaha lebih baik dalam melalui Ramadan kita tahun ini. Sudah seharusnya di bulan penuh berkah ini, kita tingkatkan taqarrub kita kepada Allah Swt., kita tingkatkan keyakinan dan keimanan kita agar kita bisa menjalani bulan Ramadan di tengah pandemi ini dengan baik dan mendapatkan derajat takwa. Aamiin.

Bulan Ramadan adalah sebuah kesempatan yang telah Allah berikan kepada kita untuk memperbanyak amal kebaikan, karena amal kebaikan apapun semua bernilai pahala, bahkan memberi seteguk dua teguk air ketika berbuka kepada orang berpuasa, pahalanya sama seperti orang berpuasa. Bahkan ketika Ramadan, Rasulullah Saw. dan para sahabat tidak hanya memperbanyak ibadah mahdhah saja, tapi melaksanakan semua amal kebaikan, termasuk berpolitik. Lebih dari itu, Rasulullah dan para sahabat melakukan jihad fii sabilillah di bulan Ramadan, di antaranya perang Badar al-Kubra dan penaklukan Makkah. Para sahabat dan umat Islam yang ikut berperang pada waktu itu tengah berpuasa! Masyaa Allah… Dan di bulan Ramadan ini pula berbagai kemenangan diraih oleh umat Islam dengan gilang gemilang.

Demikian istimewa dan pentingnya bulan Ramadan, tentu saja kita harus mempersiapkan dengan baik, sehingga tidak terjebak kepada puasa yang sia-sia. Rasulullah telah mengingatkan kita dengan sabdanya, “Berapa banyak orang yang berpuasa, hasil yang diperoleh dari puasanya hanyalah lapar dan hausnya saja, dan banyak orang yang melakukan salat malam (tarawih) tapi sebenarnya hanya bergadang saja” (HR. Ath Thabrani). Kekhawatiran Rasulullah ini seharusnya menyadarkan kita semua agar tidak terjebak dalam rutinitas, tren tahunan yang sekadar hanya menahan lapar dan haus, dengan asesoris-asesoris yang hampa makna. Lantas, apa yang harus kita persiapkan?

Pertama, Kokohkan komitmen dan meluruskan niat

Berhasilnya sebuah harapan dan cita-cita sangat tergantung komitmen dan niat. Maka hal yang pertama harus ditancapkan adalah mengokohkan komitmen dan meluruskan niat untuk mendapatkan kebaikan di bulan mulia ini. Sudah selayaknya kita menguatkan kembali komitmen bahwa semua amaliah Ramadan dikerjakan semata karena dorongan keimanan kepada Allah Swt. sebagai wujud ketaatan kita atas perintah-Nya.

Baca juga:  [Fikih] Hukum Salat Tarawih, Sahur, dan Niat Puasa Sebelum Terbuktinya Rukyatulhilal Ramadan

Tekad atau komitmen haruslah ditancapkan disertai dengan sikap tawakal kepada Allah Swt. Ini berarti setiap muslim harus memiliki kekuatan komitmen, diniatkan ikhlas karena Allah Swt. dan untuk mengharap ridha-Nya semata serta upaya yang sungguh-sungguh dengan penyandaran akan semua hasilnya kepada Allah. Allah Swt. berfirman: “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (TQS. Ali Imran: 159)

Setiap muslim harus berkomitmen bahwa Ramadan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, menambah amal sholih, membersihkan segenap dosa dan kesalahan serta bertobat untuk kembali kepada jalan kebaikan (Islam). Kita juga harus menguatkan harapan bahwa amaliyah Ramadan kali ini adalah yang terbaik dari yang pernah kita lakukan sebelumnya; bahwa semua kesalahan yang telah dibuat sebelumnya tidak terulang lagi. Kita awali Ramadan ini dengan jiwa yang bersih, niscaya kita akan menjalani semua aktivitas kebaikan di bulan Ramadan dengan ikhlas dan terasa ringan. Karenanya, sebelum memasuki bulan mulia ini, hendaklah kita berserah diri dan bert0bat kepada Allah Swt.

Kedua, Mempelajari kembali ilmu dan hukum-hukum seputar Ramadan

Aktivitas di bulan Ramadan adalah aktivitas yang istimewa, karenanya alangkah baiknya jika sebelum Ramadan tiba kita mempelajari kembali hukum-hukum seputar puasa dan berbagai amalan yang disyariatkan di bulan Ramadan. Hal ini bertujuan, agar kita memahami betul status hukum semua perkara yang dilakukan di bulan Ramadan. Dengan ilmu ini pula, kita tidak akan ketinggalan satu peluang kebaikan sedikit pun. Memiliki ilmu tentang amalan di bulan Ramadan menjadi fardhu ‘ain bagi setiap muslim. Ilmu laksana cahaya, akan menerangi ke jalan kebenaran dan akan menyelamatkan dari kemaksiatan. Sebaliknya, tanpa ilmu ibadah bisa sia-sia dan tidak sampai pada tujuan karena bisa jadi tidak sesuai dengan yang dikehendaki Allah Swt. sehingga amal tidak diterima Allah Swt., naudzubillaahi min dzalika..

Sebagaimana kita ketahui, kedudukan ilmu dalam Islam sangatlah penting. Banyak dalil yang menjelaskannya. Allah Swt. berfirman yang artinya: “Dan janganlah engkau ikuti apa yang engkau tidak mempunyai ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan ditanya.” (QS Al-Isra’: 36). Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah Swt., Dia berikan pemahaman tentang urusan agamanya.” (HR Bukhari-Muslim).

Terkait Ramadan, banyak ilmu yang harus kita kuasai, di antaranya adalah fikih seputar puasa dan amaliah Ramadan. Termasuk yang harus dipahami adalah tentang syarat wajib puasa, syarat sah puasa, hal-hal apa saja yang membatalkan puasa, zakat fitrah dan yang penting pula adalah kita mencari informasi tentang kapan masuknya awal puasa yang didasarkan kepada rukyatul hilal.

Selain ilmu seputar pelaksanaan puasa, kita juga perlu menyiapkan terkait amal apa saja yang disunahkan dikerjakan di bulan penuh berkah ini. Seperti makan sahur dan mengakhirkannya, menyegerakan berbuka, menahan lisan dari perkataan tidak berguna, memperbanyak sedekah, memperbanyak membaca Alquran, berzikir, memohon surga dan berlindung dari siksa neraka, terutama di 10 hari terakhir. Juga salat sunnah seperti tahajud dan tarawih serta memberi makan untuk berbuka, dan sebagainya.

Baca juga:  [Tanya Jawab] Kesatuan Matla dan Pemeriksaan Hilal Ramadan

Ketiga, Mempersiapkan Keluarga

Keluarga menjadi faktor penting agar pelaksanaan amal di bulan ini berjalan optimal di masa pandemi seperti ini. Hampir seluruh anggota keluarga ada di rumah, terlebih lagi jika ada anggota keluarga yang baru akan menjalani ibadah puasa pertama kalinya atau yang baru belajar puasa, tentunya membutuhkan dukungan dan perhatian dari anggota keluarga lainnya. Jika seluruh anggota keluarga bergembira menyambut Ramadan dan bersungguh-sungguh meraih kemuliaannya, maka hal ini akan memudahkan tercapainya berbagai target yang telah keluarga tetapkan. Bagaimanapun aktivitas di bulan Ramadan tidak sama dengan hari-hari biasa, karenanya dengan mempersiapkan seluruh anggota keluarga, aktivitas di bulan Ramadan ini akan benar-benar dipenuhi keberkahan.

Tentu saja, peran seorang Ibu sangatlah penting memberikan suasana yang kondusif pada keluarga. Mulai dari memahamkan makna puasa, mendidik dan mengajari anak berpuasa, mengajarkan amal kebaikan juga mengajarkan bersabar dalam setiap kesempatan, membangunkan sahur dan menyediakan hidangan untuk sahur dan berbuka. dan senantiasa bersyukur atas nikmat yang Allah Swt. berikan adalah di antara hal-hal yang bisa ibu lakukan. Demikian pula ayah dan anggota keluarga yang lebih besar bisa bekerjasama sehingga aktivitas yang keluarga lakukan akan terasa lebih ringan. Terlebih di saat pandemi ini, tentu kita bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah sekaligus semakin menguatkan tali persaudaraan dengan anggota keluarga dengan melakukan kegiatan bersama. Dapat dibayangkan dengan kebersamaan kita dalam keluarga akan menumbuhkan sikap saling sayang dan saling menghormati yang lebih kuat di antara anggota keluarga kita.

Menyusun Berbagai Program dan Aktivitas

Untuk mengoptimalkan kesempatan istimewa ini, sudah seharusnya kita menyusun rencana aktivitas dan target capaiannya. Beberapa rencana kegiatan tersebut misalnya tadarus dan tadabbur al Qur’an, mempelajari buku-buku ke-Islaman, mengikuti atau bahkan merancang training ke-Islaman, menyantuni fakir-miskin, amar ma’ruf nahi munkar dan lain-lain. Program bersama keluarga juga lebih berpeluang untuk dilakukan karena semua berada di rumah. Tadarrus Alquran, kultum bergantian selepas salat subuh berjamaah, belajar bahasa Arab dan baca kitab atau kajian rutin bersama bisa menjadi ajang pembinaan dan menjalin kedekatan di antara anggota keluarga yang sebelumnya mungkin memiliki aktivitas masing-masing sehingga sulit bertemu dalam satu waktu.

Selain itu, sebagai pengemban dakwah, penyusunan program tentu saja menjadi hal yang sangat penting. Pasalnya, Ramadan menjadi saat yang paling spesial. Mengapa? Karena pada bulan ini, umat pada umumnya berada pada tingkat ghirah Islam yang tinggi. Maka kecermatan para pengemban dakwah untuk menangkap dan menyalurkan ghiroh Islam tersebut sangat diperlukan. Inilah saat yang amat mendukung untuk mengajak umat kembali ke jalan Allah Swt. dan memuliakan agama-Nya. Menyadarkan umat tentang permasalahan besar yang dialami kaum muslimin yaitu tidak diterapkannya syariat Islam secara kaffah dan tidak adanya junnah, perisai kaum muslimin yaitu Khilafah menjadi agenda penting kita. Menyeru manusia ke jalan Islam, menentang kebijakan penguasa yang bertentangan dengan Syariah Islam dan mengajak manusia agar bersiap menyambut tamu agung ini adalah aktivitas penting yang harus semakin dikencangkan. Sebab, jika umat tidak siap memasuki Ramadan maka akan sia-sialah harapan agar umat kembali ke jalan Islam dengan datangnya Ramadan.

Baca juga:  Ramadan dan Ketakwaan Hakiki

Alokasi waktu yang berbeda dibandingkan hari-hari di luar Ramadan juga dimanfaatkan oleh para pengemban dakwah untuk merancang aktivitas untuk meningkatkan kualitas diri, dengan memperkaya tsaqafah dan kemampuan untuk berdakwah. Memperbanyak membaca buku, menghafal ayat al-Qur’an dan hadis atau berguru untuk mempelajari berbagai tsaqafah Islam, hingga menghadiri majelis-majelis taklim, adalah sebagian dari aktivitas yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas kita sebagai pengemban dakwah. Tentu saja semua ini membutuhkan perencanaan yang matang, agar saat Ramadan tiba, segala persiapan telah dilakukan. Tinggallah menjalankan dan mengevaluasi, apakah targetnya telah terpenuhi.

Memperbanyak Doa

Hal penting lainnya yang harus kita persiapkan adalah memperbanyak berdoa kepada Allah agar sampai usia kita kepada Ramadan tahun ini dan Allah berkenan memberikan kesehatan, kemudahan, kelancaran serta keberkahan bagi kita dalam menjalankan semua amal kebaikan di bulan mulia ini dan juga di bulan-bulan selanjutnya. Selain itu, dengan kita banyak memanjatkan doa, kita semakin dekat kepada Allah Swt. dan hal ini in syaa Allah akan semakin menguatkan kita dan semakin bersemangat dalam menyambut Ramadan sekalipun masih diliputi oleh pandemi. Allah Swt. berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Dan untaian doa-doa ini makin kita kuatkan lagi di bulan Ramadan, karena di bulan mulia ini Allah akan mengijabah semua doa, sebagaimana penjelasan Ibnu Katsir rahimahullah tentang ayat ini, bahwa masalah ini disebutkan di sela-sela penyebutan hukum puasa. Ini menunjukkan mengenai anjuran memperbanyak doa ketika bulan itu sempurna, bahkan diperintahkan memperbanyak doa tersebut di setiap kali berbuka puasa. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2: 66). Pernyataan ini menunjukkan bahwa bulan Ramadan adalah salah waktu terkabulnya doa. Namun doa itu mudah dikabulkan jika seseorang punya keimanan yang benar.

Demikianlah beberapa persiapan menyambut tamu agung, bulan Ramadan. Semoga kita dapat melaluinya dengan penuh keikhlasan dan mengharap rida Allah Swt. sehingga Allah Swt. berkenan memberikan kesehatan, meningkatkan kualitas takwa dan memudahkan semua urusan kita.

Allahumma sallimnaa fii Ramadhan, wa sallim Ramadhana liy. Aamiin [MNews]

Tinggalkan Balasan