[Nafsiyah] Hikmah dalam Berdakwah

MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Sebagai seorang muslim yang sedang melakukan aktivitas dakwah (menyeru pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran), terkadang kita lupa untuk memiliki sifat hikmah dalam berdakwah.

Ibnu Qayyim pernah berkata tentang hikmah, “Hikmah ialah melakukan sesuatu yang harus dilakukan, dalam bentuk yang sebagaimana mestinya, dan pada waktu yang tepat.”

Maka, hikmah yang dimaksud di sini ialah berkata atau berbuat dengan sebaik-baiknya, atau bisa disebut dengan bijaksana.

Firman Allah dalam QS An-Nahl: 125, “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Kita semestinya memahami bahwa Nabi saw. telah mengajarkan kebijaksanaan dalam berdakwah. Saat Nabi mengirim Muadz bin Jabal ra. untuk berdakwah ke negeri Yaman, Nabi bersabda, “Engkau akan mendatangi orang-orang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), maka hendaklah ajakan pertama yang engkau sampaikan kepada mereka adalah bersyahadat bahwasanya tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, jika mereka menerima ajakanmu maka beritahulah mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka salat lima waktu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Jika kita telah memilih jalan dakwah sebagai jalan untuk mengembalikan kehidupan Islam, kita akan mengutamakan cara yang hikmah saat menyampaikan pemikiran Islam di tengah umat, bukan dengan cara kekerasan ataupun melakukan pemaksaan pada objek dakwah kita.

Ibnul Qayyim dan Ibnu Taimiyah menyatakan ada tiga rukun hikmah dalam dakwah. Pertama, ilmu. Agar bisa berlaku bijaksana dalam dakwah, maka seorang aktivis dakwah membutuhkan bekal ilmu, sehingga saat berdakwah ia bisa menimbang dan mengambil sikap yang tepat.

Kedua, sabar. Menahan diri saat melonjaknya amarah. Dalam berdakwah, sering kali kita menemukan berbagai perkara yang menyulitkan, apakah diuji dengan penolakan atas kebenaran yang disampaikan, dilabeli dengan sesuatu yang keji oleh musuh-musuh Islam, ataupun ditangkap karena menyampaikan kebenaran Islam.

Allah Swt. berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali-Imran: 134)

Ketiga, anaat (tidak terburu-buru). Seorang aktivis dakwah harus berpikir secara matang sebelum mengambil suatu keputusan atau memberikan suatu jawaban, tidak terburu-buru dalam berbuat yang dapat menyisakan penyesalan bahkan bisa berakibat fatal.

Maka, kita dituntun oleh Islam agar tidak cepat berfatwa, serta tidak malu mengatakan, “Saya tidak tahu,” jika belum memahami dengan benar suatu perkara.

Allah melarang sikap terburu-buru, “Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.'” (QS Thaha: 114)

Semestinya tiga rukun di atas menjadi tuntunan kita dalam berdakwah. Memiliki sifat hikmah saat berdakwah, insyaallah akan mendapat pertolongan dan rida Allah dalam berdakwah, dan Allah segerakan kemenangan Islam dengan tegaknya Khilafah Islamiah. [MNews/Rnd]

Tinggalkan Balasan