Menjadi Istri Penyejuk Mata (Belajar dari para Istri Rasulullah Saw.)


Penulis: Najmah Saiidah


MuslimahNews.com, KELUARGA — Mungkin kita pernah mendengar ungkapan seperti ini, “Berdandan jika ke luar rumah, tapi acak-acakan di dalam rumah.”

Ungkapan ini ditujukan kepada kita, kaum perempuan yang sudah menikah, terlebih lagi sudah memiliki anak. Banyak yang harus dikerjakan dan diopeni, sehingga ada hal lain yang penting juga sebenarnya menjadi terabaikan.

Karena sesungguhnya, di dalam rumah kita ada suami selain anak-anak kita, yang tentu saja harus kita penuhi hak-haknya juga secara penuh.

Tentu saja ungkapan ini sudah seharusnya menjadi introspeksi bagi kita dan berupaya memperbaiki diri kita.

Mari kita renungkan salah satu hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.

Ketika Rasulullah ditanya, “Perempuan seperti apa yang paling baik?” Maka Rasulullah bersabda, “Yang paling menyenangkan jika dilihat suami, menaati suami jika suami memerintahkan sesuatu, dan tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci oleh suaminya.” (HR An-Nasa’i)

Rasulullah saw. pernah bersabda kepada Umar bin Khaththab bahwa istri yang salihah adalah yang membuat suami bahagia ketika memandangnya.

“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri salihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan menaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR Abu Dawud)

Inilah karakter istri yang baik, yang paling menyenangkan jika dilihat, yang menjadi penyejuk mata suaminya, yaitu seorang istri yang selalu berusaha memperbagus dan mempercantik dirinya ketika berada di hadapan suaminya atau setiap kali bersama dengan suami, selalu taat kepada suami serta selalu memenuhi apa yang diinginkan suaminya.

Lalu, apa yang harus kita lakukan agar kita bisa menjadi istri penyejuk pandangan suami kita?

Kita harus belajar dari apa yang telah dilakukan para istri Rasulullah saw. dan mengikuti apa yang diperintahkan Rasulullah saw.

  1. Berusaha Berpenampilan Baik di Hadapan Suami Kita

Islam memerintahkan kepada istri untuk merawat dirinya dan berpenampilan baik di hadapan suaminya, dan ini bagian dari hak suami yang harus ditunaikan istrinya. Karenanya, berhias dan merawat diri untuk suami termasuk ibadah dan merupakan salah satu jalan untuk mewujudkan kasih sayang.

Dari Jabir bin Abdillah ra, Nabi mengingatkan, “Apabila kalian pulang dari bepergian di malam hari, maka janganlah engkau menemui istrimu hingga dia sempat mencukur bulu kemaluannya dan menyisir rambutnya yang kusut.” (HR Bukhari)

An-Nawawi mengatakan, dalam hadis ini terdapat dalil bahwa istri tidak boleh membuat suaminya lari darinya atau melihat sesuatu yang tidak nyaman pada istrinya, sehingga menyebabkan permusuhan di antara keduanya.

Hadis ini juga dalil bahwa selama suami ada di rumah, wanita harus selalu berpenampilan baik dan tidak meninggalkan berhias, kecuali jika suaminya tidak ada. (Syarah Sahih Muslim)

Seorang istri salihah yang mencintai suaminya akan berusaha merawat dirinya untuk menyejukkan pandangan mata suami, sehingga tidak memandang wanita lain yang bukan haknya.

Ia berhias ketika di rumah, dan di saat ia berada di samping suaminya, ia memakai parfum yang menghangatkan penciuman suaminya dan ia tidak memakainya ketika keluar rumah.

Berhias bagi seorang istri untuk suaminya bernilai ibadah. Seorang istri bisa berhias untuk suaminya kapan saja sejauh tidak menyebabkan kewajibannya terlalaikan.

  1. Taat Kepada Suami dan Mengikuti apa yang Dikehendaki Suami Kita dalam Hal-hal yang Tidak Bermaksiat kepada Allah

Rasulullah saw. bersabda, “Sekiranya aku boleh memerintahkan seseorang sujud kepada orang lain, maka akan aku perintahkan seorang istri sujud kepada suaminya. Sekiranya seorang suami memerintahkan istrinya untuk pindah dari gunung ahmar menuju gunung aswad, atau dari gunung aswad menuju gunung ahmar, maka ia wajib untuk melakukannya.” (HR Ibnu Majah)

Perincian tentang hadis tadi pun dijelaskan dalam hadis yang lain, Rasulullah saw. menjanjikan peluang paling menggiurkan, yaitu seorang istri yang menaati suaminya dan menjaga kehormatannya, ia bisa masuk surga lewat pintu yang mana saja.

صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا .قِيل لَهَا : ادْخُلِي إِذَا الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Apabila seorang istri melaksanakan salat lima waktu, puasa ramadan, menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, maka dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu yang mana saja.'” (HR Ahmad)

Dalam hadis lain Rasulullah saw. bersabda, “… Dan maukah aku tunjukkan kepada kalian wanita ahli surga? Yaitu istri yang penuh cinta pada suami dan penyayang kepada anaknya, yang ketika suaminya marah kepadanya ia berkata, ‘Inilah tanganku berada di tanganmu, aku tidak bisa tidur memejamkan mata sehingga engkau rida kepadaku.(HR Nasai)

Seluruh hadis-hadis ini telah sangat jelas memperkuat dan memperinci amalan apa saja yang bisa membawa para istri kepada surga Allah, yaitu dengan bakti dan taatnya istri kepada suaminya.

Perinciannya yakni dengan menjaga dan merawat rumah dan anak-anaknya, menjaga kehormatan dan harta benda suaminya, tidak mengizinkan memasuki rumah orang-orang yang tidak dikehendaki oleh suaminya, tidak keluar rumah kecuali dengan seizin suaminya, serta berpenampilan menarik dan berdandan yang cantik di hadapan suami.

Seluruh kebaikan ini dilakukan adalah dalam rangka untuk mencari rida suami.

  1. Menghiasi Diri Kita dengan Amal Kebaikan yang Diperintahkan Allah SWT.

Penampilan tentu saja tidak cukup, tapi harus dibarengi dengan akhlak yang baik, serta amal kebaikan sebagaimana yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarang Allah, sehingga seorang istri akan menjadi penyejuk mata suaminya.

Firman Allah Swt., “Maka wanita-wanita yang salihah, ialah yang taat (kepada Allah dan kepada suami) lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (An-Nisa: 34)

Dalam ayat yang mulia ini, Allah Swt, menjelaskan bahwa sifat wanita atau istri salihah adalah yang senantiasa taat kepada Allah dan taat kepada suami.

Al-Imam Qatadah rahimahullah berkata, “Maknanya: Wanita-wanita yang taat kepada Allah, dan kepada suami-suami mereka.” (Tafsir Ath-Thobari, 8/294 no. 9319)

Demikian pula Allah Ta’ala menerangkan bahwa wanita salihah adalah yang memelihara dirinya ketika suaminya tidak ada.

Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Maknanya: Wanita-wanita yang menjaga diri-diri mereka ketika suami-suami mereka tidak ada, yaitu menjaga kemaluan dan harta suami, serta menjaga hak Allah yang diwajibkan atas mereka dalam hal tersebut maupun selainnya.” (Tafsir Ath-Thobari, 8/295)

Suami adalah surga dan neraka bagi wanita. Maka, seorang wanita (istri) hendaknya berusaha keras untuk dapat membahagiakan suami. Dengan mengetahui ini, seorang wanita akan berusaha keras untuk menghiasi dirinya dengan sifat-sifat terpuji, sehingga dapat mengantarkannya kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

  1. Selalu Berseri-seri di Hadapan Suami

Selalu tersenyum dan menampakkan wajah berseri-seri di hadapan orang lain akan memberikan ketenteraman bagi orang yang melihatnya. Di balik senyum yang tulus di hadapan orang terdapat sebuah kelapangan jiwa, kerendahan hati, dan semangat penghormatan terhadap orang lain.

Oleh karena itu, Rasulullah mengingatkan agar kita tidak mengecilkan senyum di hadapan orang lain.

Dari Abu Dzar ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jangan mengecilkan kebaikan sekecil apa pun, meski hanya menampakkan diri dengan wajah berseri di hadapan saudaramu,” (HR Muslim dan At-Tirmidzi)

Demikian halnya selalu tersenyum dan berseri-seri terhadap orang terdekat, seperti keluarga, kerabat, atau bahkan suami dan istri.

Tentu lebih dianjurkan, Rasulullah saw. pernah berpesan kepada putrinya, Fathimah ra. untuk senantiasa senyum dan menjaga air muka berseri-seri di hadapan suami.

Pasalnya, senyum seorang istri terhadap suami memiliki ganjaran besar dari Allah SWT.

Rasulullah bersabda, “Wahai Fatimah, tiada seorang istri yang tersenyum di hadapan suaminya kecuali Allah akan memandangnya dengan pandangan kasih (rahmat). (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Uqudul Lujain fi Bayani Huquqiz Zaujain)

Senyum dan air muka yang cerah suami dan istri satu sama lain dapat melahirkan pandangan rahmat Allah terhadap rumah tangga.

Dari senyum satu sama lain ini, Allah menurunkan rahmat, berkah, kasih sayang, ketenteraman, dan keharmonisan di dalam rumah tangga tersebut. Karena itu, melepas suami untuk bekerja dengan senyum agar memiliki semangat dalam mengais rezeki.

Demikian pula, sambut dia kala pulang kerja dengan senyum merekah sebagai tanda bahwa rumah telah siap sebagai surga bagi keluarga.

  1. Berkomunikasi dengan Makruf dan Memberikan Ketenteraman Kepada Suami

Komunikasi merupakan hal penting dalam sebuah pernikahan. Dengan komunikasi yang baik, ketenteraman dalam rumah tangga akan terwujud yang akan menjadi jembatan pembentuk kepercayaan.

Dengan komunikasi, pasangan lebih bisa menentukan langkah ke depan menuju kebahagiaan yang diinginkan.

Pada diri bunda Khadijah, kita akan melihat kecerdasan dan kecerdikan seorang istri berkomunikasi dengan suami yang sedang berada dalam kepanikan karena peristiwa yang dihadapinya.

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim serta Musnad Ahmad disampaikan tentang keadaan Nabi saat baru menerima wahyu pertama di Gua Hira.

Bahwa Nabi saw. pulang ke ibunda Khadijah dalam keadaan gemetar fisik dan hatinya. Beliau masuk dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku…”

Ketika telah mulai tenang, beliau berkata, “Khadijah, aku khawatir diriku akan tertimpa musibah, aku khawatir diriku akan tertimpa musibah.”

Khadijah berkata untuk menenangkan dan menentramkan suaminya, “Bergembiralah, demi Allah, Allah tidak akan merendahkanmu selamanya. Engkau benar-benar jujur dalam ucapan, menjaga silaturahmi, menanggung beban, memuliakan tamu, dan membantu orang yang kesulitan.”

Kata-kata yang mengalir jujur dan bukan basa-basi. Menyejukkan hati yang sedang panas, menenangkan jiwa yang sedang gemetar, memantapkan keyakinan akan pertolongan Allah.

Menjadi istri salihah dan penyejuk hati suami tentu menjadi harapan mulia setiap istri yang merindukan kebahagiaan dunia dan akhirat. Islam sebagai dien yang sempurna telah memberikan contoh terbaik untuk umatnya dari kehidupan pernikahan Rasulullah saw. dan para istrinya. Karenanya, wajib bagi kita untuk mencontoh teladan kita, Rasulullah Saw.

Dan pastinya, setiap pasangan selalu menginginkan agar pasangannya dan anak-anaknya menjadi penyejuk pandangannya, sehingga kita dan pasangan kita tidak akan pernah melewatkan dalam doa-doa kita untuk bermohon pada Allah,

“Rabbanaa… Hablanaa… min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrata a’yuun. Waj’alnaa lilmuttaqiina imaama.” (Ya Rabbana, anugerahkanlah kepada kami, pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati kami. Jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa). Aamiin. [MNews/Juan]

Tinggalkan Balasan