Tayangan Media Sekuler Mengukuhkan Sekularisme


Penulis: Ustazah Noval Tawang


MuslimahNews.com, FOKUS — Menyambut bulan Ramadan, KPI mengeluarkan surat edaran (SE) sebagai panduan siaran selama Ramadan. Di antara 14 poin ada larangan menampilkan adegan bermesraan dengan lawan jenis, cabul, elgebete, baik live (langsung) maupun tapping (rekaman).

KPI meminta tambahan durasi dan frekuensi program bermuatan dakwah selama Ramadan. Permintaan ini sebenarnya lebih tepat disebut memenuhi “permintaan pasar/konsumen” dan rating daripada tanggung jawab dalam mencerdaskan masyarakat.

Aturan terkesan baik, namun aturan yang berlaku pada bulan Ramadan membuktikan bahwa sekularisasi (pemisahan agama dari kehidupan) sedang berjalan di negeri ini. Agama hanya ibadah ritual semata (salat, puasa, zakat, haji). Di luar ibadah ritual, negara memberlakukan hukum buatan manusia.

Masyarakat Sekuler Kapitalis

Penambahan program Ramadan dan muatannya tampak makin mengukuhkan sekularisme. Sebagian program Ramadan itu berisi penjelasan tentang hukum-hukum agama seputar Ramadan. Konten program Ramadan juga hanya seputar perbaikan diri (ini pun hanya sedikit sekali), konten tentang perbaikan masyarakat sama sekali tidak bisa kita temui.

Program lain yang menyajikan pemikiran liberal di aspek ekonomi dan politik tetap jalan. Acara gosip, reality show yang hanya pamer materi, unboxing barang mewah, justru membuat masyarakat bingung atau bahkan makin sekuler.

Sejalan dengan media sekuler, masyarakat menganggap bahwa semua permasalahan manusia harus selalu diselesaikan sendiri oleh manusia demi kepentingan manusia. Agama tidak boleh ikut campur sama sekali. Masyarakat memandang kebahagiaan itu identik dengan teraihnya uang/materi sebanyak-banyaknya dan kenikmatan fisik (pemenuhan seksual dan kepemilikan).

Pada awal tahun 2000-an mereka menemukan cara paling efektif untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Mereka berusaha meraih dominasi yaitu melalui kelahiran perusahaan-perusahaan “super” yang akan bertambah besar dari waktu ke waktu dengan jalan mengeksploitasi dunia.

Merger (penggabungan perusahaan) yang terjadi antara Time-Warner dan AOL menunjukkan bagaimana industri-industri media yang memiliki keterkaitan dalam beberapa bidang usahanya menggabungkan diri untuk membangun kekuatan yang lebih besar.

Pengendalian persaingan bukan lagi di “pasar” tapi di ruang direksi. Mereka tidak hanya menciptakan bentuk ekonomi monopoli tapi mereka membuat jaminan agar budaya pop yang mereka produksi menjadi satu-satunya budaya pop yang dominan dan dikonsumsi masyarakat.

Dengan demikian, ungkapan bahwa pembeli adalah raja hanyalah mitos, sebab yang sebenarnya terjadi adalah “produsen adalah raja”. Inilah cara bisnis ala barat alias kapitalisme.

Semua ini Sangat Berlawanan dengan Islam

Islam mengajak manusia kepada kebenaran hakiki tentang hakikat kehidupan tanpa paksaan. Penerapan sistem Islam kafah dalam naungan Khilafah Islamiyah hingga sekitar 13 abad dengan luas wilayah hampir 2/3 dunia menjadi bukti nyata bahwa Islam diterima secara luas. Dalam sejarah kekuasaannya, pemerintahan Islam mendakwahi rakyatnya untuk masuk Islam dengan cara damai. Masyarakat diajak berpikir tentang hakikat kehidupan, tentang makna dan tujuan hidup, serta menjelaskan kehidupan akhirat yang kekal sesudah kematian.

Di tengah masyarakat Islam tidak ada tempat bagi penyebaran pemikiran dan pemahaman yang rusak dan merusak, pemikiran sesat dan menyesatkan, kedustaan dan berita manipulatif. Karena baik negara maupun warga negara terikat dengan pemahaman hukum syara’ yang melarang penyiaran berita bohong, propaganda negatif, fitnah, elg3b3t3, penghinaan, pemikiran porno dan a-moral, dan sebagainya. Memblokir semua situs-situs yang berbau pornografi. Melakukan sensor pada semua tayangan yang akan ditampilkan di media televisi maupun media sosial. Melarang majalah, koran, siaran televisi dan situs-situs milik asing untuk beredar bebas. Semua ini dilakukan tidak hanya pada bulan tertentu semisal Ramadan, akan tetapi dilakukan sepanjang waktu. Sehingga media menjadi alat konstruktif untuk memelihara identitas keislaman masyarakat.

Pandangan Islam terhadap Media

Media Islam sebagai media komunikasi massal yang berfungsi dalam menciptakan sebuah opini publik yang kemudian akan menjadi opini umum. Pembentukan opini umum adalah hal yang tidak bisa disepelekan dalam sistem Islam (Sya’rawi, 1992: 140).

Di dalam negeri, media massa berfungsi untuk membangun masyarakat Islami yang kukuh. Di luar negeri, ia berfungsi untuk menyebarkan Islam, baik dalam suasana perang maupun damai, untuk menunjukkan keagungan ideologi Islam sekaligus membongkar kebobrokan ideologi kufur buatan manusia (Masyru’ Dustur Dawlah al-Khilâfah, pasal 103).

Tayangan yang diproduksi adalah tayangan yang membantu terbentuknya masyarakat Islam yang sempurna. Media memiliki peran strategis untuk ikut menyebarluaskan dakwah Islam (sebagai ideologi) baik untuk skala lokal, nasional, maupun internasional.

Untuk itu, kita sebagai masyarakat harus terus mengingatkan penguasa bahwa keberadaan media harus dimaksimalkan untuk mencerdaskan masyarakat.

Kita harus melakukan aktivitas dakwah kepada masyarakat dan saling mengingatkan antar sesama bahwa perubahan perlu dilakukan demi menyelamatkan umat manusia secara keseluruhan. Dan harus menuntut penerapan Islam secara kafah yang telah terbukti bertahan belasan abad dalam menjaga masyarakatnya sebagai masyarakat Islam yang mampu membawa perubahan cemerlang. Menjadi trend setter dalam semua bidang. [MNews/Tim WAG]

Artikel ini adalah pengantar diskusi WAG Muslimah News ID pada Ahad, 4/4/2021

Tinggalkan Balasan