Kekuatan Politik Pemuda di Tengah Pertarungan Islam dan Demokrasi


Penulis: Zikra Asril


MuslimahNews.com, ANALISIS — Bonus demografi telah membuat kekuatan generasi milenial dan Gen-Z patut untuk diperhitungkan dalam segala hal. Mengingat dominasi generasi ini akan memengaruhi kondisi kehidupan nantinya. Tak heran banyak lembaga survei yang mencoba untuk membaca potensi mereka.

Survei terbaru dilakukan Indikator Politik Indonesia berjudul “Suara Anak Muda tentang Isu-Isu Sosial Politik Bangsa”. Survei ini menggunakan metode random sampling dengan sampel sebanyak 1.200 responden rentang usia 17—21 tahun yang dipilih secara acak. Margin of error survei ini kurang lebih sebesar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Anak Muda Menilai Demokrasi Telah Gagal?

Survei ini menemukan bahwa 58,6 persen kalangan muda menilai pembangunan ekonomi lebih penting dari demokrasi. Ditambah lagi sebanyak 40 persen anak muda menilai Indonesia menjadi kurang demokratis saat ini.

Kondisi ini membuktikan demokrasi secara fakta telah gagal memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Diperkuat dengan hasil 47,5 persen menilai keadaan ekonomi nasional sekarang buruk dan sangat buruk.

Sebanyak 64,7 persen anak muda menilai DPR, partai politik atau politikus di Indonesia tidak terlalu baik atau tidak baik sama sekali dalam mewakili aspirasi masyarakat. Ini tentu menjadi tamparan keras bagi sistem demokrasi. Karena DPR, partai politik dan politisi adalah representasi suara rakyat. Di saat aspirasi rakyat tidak lagi menjadi suara yang dikumandangkan DPR dan partai politik, lantas apa yang masih diharapkan rakyat dari demokrasi?

Narasi Radikalisme Semakin Ditinggalkan Generasi Muda

Ditemukan, 49,4 persen anak muda menilai radikalisme merupakan persoalan mendesak dan sangat mendesak untuk segera ditangani pemerintah. Namun menariknya, nilai ini mengalami penurunan dari Survei Nasional (Susenas) Januari 2020 yaitu sebesar 58,3 persen. Ini menunjukkan narasi radikalisme sudah mulai ditinggalkan generasi muda.

Hal ini diperkuat temuan bahwa persoalan radikalisme harus menjadi perhatian serius pemerintah karena mengancam kehidupan bermasyarakat di Indonesia, juga mengalami penurunan yaitu 41,6 persen, yang sebelumnya pada Susenas Januari 2020 sebesar 56,3 persen.

Ditambah lagi, nilai pemerintah yang tidak adil terhadap umat Islam—radikalisme ditujukan kepada umat Islam saja—mengalami kenaikan 24,1 persen, di mana pada Susenas Januari 2020 sebesar 20,5 persen. Yang menonjol adalah 34.3% tidak menjawab, sebelumnya pada Susenas Januari 2020 sebesar 23,2 persen.

Baca juga:  Reshuffle Kabinet, Bongkar Pasang ala Demokrasi

Ini menarik untuk ditelusuri karena tidak ada pertanyaan lain yang memiliki persentase di atas 20 persen untuk pilihan tidak menjawab selain pada isu radikalisme dan intoleransi keagamaan.

Dugaan terbesar adalah para responden mengalami kegalauan ketika menjawab isu ini. Di satu sisi keimanan mereka tidak mampu menolak kebenaran ajaran Islam, di sisi lain ada pihak yang menyudutkan Islam sebagai ajaran yang mengancam.

Temuan survei ini semakin menunjukkan narasi radikalisme telah mulai disadari generasi muda sebagai upaya menyudutkan Islam dan umatnya. Tentu hal ini membawa harapan akan semangat generasi muda yang turut mendamba kemenangan Islam yang hanya tinggal menunggu waktu.

Perlahan tapi pasti, generasi muda Islam semakin nyata melihat kebohongan narasi propaganda yang selalu digulirkan musuh-musuh Islam.

Tak ketinggalan, pertanyaan tentang penerapan syariat Islam dalam tataran negara pun diajukan. Ternyata, 52,9 persen memilih netral pada pertanyaan, “Apakah Indonesia harus diperintah sesuai hukum atau syariat Islam?”

Hasil netral ini tentu mengindikasikan anak muda bisa jadi setuju, bisa jadi tidak, tergantung kondisi. Namun, bila dikaitkan dengan pertimbangan mereka dalam mengambil keputusan, dijumpai dari hasil survei bahwa 79,3 persen anak muda menjawab cukup sering dan selalu/sangat sering mempertimbangkan nilai agama ketika membuat keputusan penting bagi hidup mereka.

Tentu saja jawaban ini menunjukkan generasi muda menganggap agama sebagai faktor terpenting dalam kehidupannya. Sehingga, tidak mustahil yang lebih dominan di antara mereka bakal setuju bila syariat Islam diterapkan.

Di pihak lain, bisa jadi mereka memilih netral sebagai pilihan aman karena khawatir atau takut akibat framing yang selalu dilekatkan pada syariat Islam.

Musuh Islam Tidak Akan Tinggal Diam

Saat kesadaran politik Islam generasi muda Islam mulai menggeliat, tentu saja musuh-musuh Islam tidak akan tinggal diam. Mereka bekerja terstruktur, sistematis, dan masif untuk terus membungkam kesadaran politik Islam kaum muslimin.

Baca juga:  Sistem Negara Bobrok, Pengamat: Saatnya Keluar dari Ideologi Kapitalisme

PBB sebagai corong untuk menyuntikkan ide-ide demokrasi dan kepentingan negara Barat, akan selalu mengontrol negara anggotanya atas nama ratifikasi. Plan of action to prevent violent extremism, merupakan propaganda AS yang diadopsi PBB untuk seluruh negara anggotanya.

Terdapat dua isu kritis kepemudaan dalam dokumen ini. Pertama, terdapat upaya untuk menjauhkan pemuda muslim dari pemahaman Islam yang benar. Kedua, terdapat upaya untuk membajak potensi pemuda muslim dalam rangka mempertahankan hegemoni Negara Barat.

Keberpihakan rezim Jokowi dengan mengeluarkan Perpres 7/2021 tentang Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Ekstremisme (RAN-PE) adalah sikap tunduk terhadap skenario global ini. Sehingga, narasi radikalisme akan terus dikumandangkan untuk semakin meningkatkan ketakutan generasi muda Islam terhadap ajaran Islam.

Penggiringan opini kasus Bom Makassar dan penyerangan Mabes Polri ke arah ajaran radikalisme menjadi bukti baru. Narasi radikalisme masih dipandang potensial untuk memengaruhi anak muda agar jauh dari pemahaman Islam yang kafah.

Waspadai Provokasi dan Serangan Pemikiran Kufur

Ketika anak muda melihat demokrasi telah gagal memberikan kesejahteraan dan mewakili aspirasi masyarakat, Islam menjadi pilihan yang harus diambil para pemuda akibat iman yang terpancar dalam hati dan pikiran mereka.

Tentu saja keimanan menjadi modal dasar untuk melahirkan kesadaran politik Islam. Kesadaran politik yang jernih dengan tidak mencampurkan Islam dengan pemikiran kufur, seperti pemikiran yang lahir dari sekularisme dan demokrasi. Begitu pun kesadaran politik yang tidak diboncengi kepentingan kekuasaan pribadi.

Oleh karena itu pergerakan politik pemuda harus mewaspadai:

  1. Provokasi dan intervensi kepentingan pribadi.

    Seperti adanya dugaan intervensi yang menjadi sebab molornya kongres PMII. Zulfahmy Wahab Kaharuddin yang mengaku ikut bursa kandidat ketua umum mengaku ada pihak luar organisasi yang diduga mengintervensi pemilihan.

    Begitu pun kericuhan yang terjadi di kongres HMI karena provokasi pihak eksternal sebagaimana diungkapkan kandidat ketua umum PB HMI, Hasan Basri Baso yang menilai masuknya pihak eksternal ke arena kongres memicu kerusuhan dan bisa melanggengkan dua kubu. (tirto.id, 25/3/2021).

  2. Ide-ide yang yang bertentangan dengan hukum Allah, seperti arus opini kesetaraan gender yang digulirkan kaum feminis.

    Gerakan pemuda harus jeli melihat strategi dan pilihan diksi yang mereka gunakan untuk mengecoh umat. Seperti ungkapan Menteri PPPA bahwa diperlukan pengoreksian atas budaya patriarki yang telah mengakar dan berlaku secara turun-temurun. (koran-jakarta.com, 20/3/2021).

    Pilihan diksi patriarki ditujukan untuk menyerang syariat Islam tentang laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. Oleh karena itu, pemuda jangan sampai terkecoh terhadap pilihan kata ataupun narasi yang digaungkan di tengah perang pemikiran saat ini.

Islam Kafah Adalah Jalan Baru Anak Muda

Survei Indikator Politik Indonesia telah menunjukkan, hal terpenting bagi anak muda adalah terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Islam memiliki sistem politik dan ekonomi yang bisa mewujudkan harapan tersebut insyaallah.

Agar bisa meraih itu semua, tentu saja generasi muda Islam harus berjuang mengembalikan kehidupan Islam kafah dalam naungan Khilafah. Sebab, hanya Khilafah yang akan menerapkan sistem politik ekonomi tersebut.

Khilafah adalah negara independen yang tidak bisa diintervensi lembaga atau negara mana pun. Ketundukan Khilafah hanya pada hukum Allah.

Khilafah dengan minhaj kenabian adalah janji Allah dan kabar gembira Rasulullah. Sehingga, hal itu pasti akan terwujud dan hanya menunggu waktu.

Sejarah membuktikan, tegaknya negara Madinah adalah kontribusi perjuangan kaum muda di masa Rasulullah. Sesungguhnya, Khilafah minhaj kenabian ini pun menunggu kontribusi perjuangan para pemuda yang melayakkan dirinya seperti pemuda di kalangan Sahabat Rasulullah; para pemuda yang berjuang sesuai thariqah dakwah Rasulullah melalui jalan politik dan pemikiran serta tanpa kekerasan.

Sekaranglah saatnya anak muda meninggalkan pemikiran kufur dan batil yang telah memengaruhinya. Kaji, pahami, dan terapkan pemikiran Islam yang hanya lahir dari dalil syariat.

Sampaikan dakwah Islam ke seluruh komunitas masyarakat tanpa rasa takut dan gentar, karena orang beriman meyakini Allah selalu melindungi dan memberikan kekuatan. Sesungguhnya, hanya Islam kafah yang akan membawa generasi muda selamat dunia dan akhirat. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan