[Editorial] Taat Itu Wajib Sepanjang Masa

MuslimahNews.com, EDITORIAL — Menyambut Ramadan, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengeluarkan surat keputusan yang melarang lembaga penyiaran memuat adegan tak sopan. Pelukan, kecabulan, perilaku menyimpang, dan yang sejenisnya untuk sementara harus dihentikan.

Ketua KPI Pusat Agung Suprio mengatakan, keputusan ini bertujuan untuk meningkatkan kekhusyukan ibadah Ramadan, sekaligus sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai agama, serta demi menjaga dan meningkatkan moralitas.

Namun ironisnya, dalam butir 6 dari 14 poin ketentuan itu diatur pula soal kriteria dai yang boleh dan tidak boleh tampil selama Ramadan. Di situ tertulis,

“Mengutamakan penggunaan dai/pendakwah kompeten, kredibel, tidak terkait organisasi terlarang sebagaimana telah dinyatakan hukum di Indonesia, dan sesuai dengan standar MUI, serta dalam penyampaian materinya senantiasa menjunjung nilai-nilai Pancasila.”


SEBAGAIMANA dimaklumi, selama ini mayoritas lembaga penyiaran, khususnya media televisi, sudah menempatkan diri hanya sebagai alat hiburan semata-mata. Ini Tampak dari dominannya konten-konten receh yang hanya berfungsi sekadar sebagai tontonan dan sangat jauh dari fungsinya sebagai tuntunan.

Kita lihat saja. Ada saluran televisi yang nyaris 24 jam menampilkan acara drama yang menguras air mata pemirsa, baik buatan lokal maupun impor dari India, Turki, Korea, dan tentu saja Cina.

Ada juga TV yang kerap menggelar acara-acara live, baik musik, kompetisi-kompetisi menyanyi yang bersesi-sesi, maupun talk show dengan topik-topik yang sama sekali tak berfaedah. Cuma mengajak penonton ketawa-ketiwi sambil saling bully, atau mengumbar gibah, dan bahkan berisi fitnah.

Banyak juga acara-acara yang mengumbar kehidupan artis, terutama soal keglamoran dan permisifnya hidup mereka, di tengah kondisi masyarakat yang serba sulit. Sampai-sampai serangkaian acara pernikahan artis nan super mewah pun ditayangkan live di media mainstream mengalahkan acara kenegaraan atau pernikahan keluarga pejabat.

Baca juga:  [Editorial] Menghidupkan Kembali Tradisi Amar Makruf Nahi Mungkar

Sementara konten-konten yang sifatnya mendidik, informatif, dan membuka wawasan berpikir publik cenderung sangat minim. Bahkan, acara-acara talk show atau dakwah yang bernuansa politik, atau yang kritis terhadap kebijakan penguasa makin dipersempit ruang napasnya, hingga akhirnya menghilang entah ke mana.


MATINYA fungsi media sebagal alat tuntunan dan pencerdasan masyarakat memang sejalan dengan kian kukuhnya sekularisasi dan liberalisasi di berbagai bidang kehidupan, termasuk di bidang politik pemerintahan.

Paham sekuler dan liberal inilah yang telah melahirkan kebijakan-kebijakan yang jauh dari nilai-nilai agama, sekaligus kian menjauhkan umat dari agama mereka. Adapun yang menjadi standar adalah manfaat materi dan duniawi semata, bukan halal haram atau kaidah-kaidah hukum syara.

Bahkan, negara cenderung berlepas diri dari urusan agama dan moral rakyatnya. Agama dan moral dalam pandangan mereka adalah urusan pribadi rakyat dengan tuhannya.

Penguasa benar-benar tak merasa berdosa manakala kemaksiatan dan budaya rusak merajalela di tengah rakyatnya, terutama akibat masifnya propaganda media yang hanya berpikir keuntungan semata.

Pemerintah paling hanya hadir di momen-momen jelang Ramadan seperti sekarang saja. Itu pun benar-benar ala kadarnya agar negara tak dicap abai terhadap umat beragama. Masa di bulan Ramadan, pemerintah diam saja melihat tayangan media yang ingar bingar dan merusak suasana khidmat rakyatnya?

Maka, selama Ramadan rakyat pun diminta bersabar untuk tak bermaksiat sementara. Kalau pun mau bermaksiat, ya cari cara masing-masing saja. Toh akses ke internet tetap dibuka lebar dan konten-kontennya jauh lebih dahsyat dibanding media-media televisi yang tayangannya pun begitu-begitu saja.

Baca juga:  Meluruskan Makna Amar Makruf Nahi Mungkar

MIRIS memang. Masyarakat diminta menjaga agama selama satu bulan. Sementara sebelas bulan lainnya dibiarkan bergelimang dalam dosa berkepanjangan.

Namun, demikianlah konsekuensi hidup dalam sistem sekuler liberal. Masyarakat harus siap menerima dampak dunia akhirat yang tidak ringan. Mereka dikondisikan untuk hidup dalam kerusakan. Atau minimal dipaksa toleran terhadap kemaksiatan. Lantaran taat dan maksiat harus hidup berdampingan secara damai.

Adapun mereka yang terjaga sikap hanif-nya, tentu akan terus diliputi kekhawatiran. Anak-anak dan keluarga mereka benar-benar hidup dalam ancaman. Benteng pendidikan yang mereka bangun di rumah dengan susah payah ternyata tak cukup kuat untuk membendung serangan udara melalui media massa.

Apalagi sistem pendidikan yang ada sama-sama sekulernya. Alih-alih mampu membangun karakter lurus pada generasi bangsanya, lembaga-lembaga pendidikan yang lahir dari sistem sekuler justru membuat mereka tak paham agama, malah memiliki orientasi hidup yang tak jelas mau ke mana.


SEMESTINYA masyarakat peduli dengan kondisi generasi yang makin lemah kepribadiannya ini. Merebaknya kasus-kasus dekadensi moral di kalangan remaja, serta cueknya mereka terhadap persoalan-persoalan bangsa dan masa depan negara, seharusnya menjadi pertimbangan penting bagi umat untuk segera merekonstruksi asas berbangsa dan bernegara.

Allah Swt. berfirman,

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS An-Nisa: 9)

Baca juga:  Amar Makruf Nahi Mungkar Mencegah Azab Turun

Terlebih hari ini kian tampak kelemahan yang menimpa bangsa ini tersebab telah salah jalan memilih sekularisme. Krisis demi krisis terus dialami bangsa ini, bahkan kedaulatan negara kian tergadai karena diurus generasi ruwaibidhah yang tak paham arti kata ibadah dan pengabdian.

Mereka malah berlomba menjadi penguasa, karena privilese menggiurkan yang mengiringi kekuasaan. Bukankah fakta, jika dengan menjadi penguasa artinya bisnis pribadi dan kroni akan berjalan lancar? Tak sedikit yang rela menjadi makelar kepentingan asing dengan kompensasi dukungan politik dan fee proyek yang tak main-main.

Sungguh, umat ini butuh sebuah sistem yang menghadirkan kebaikan. Yakni sistem Islam yang pemimpinnya benar-benar menjadi pengurus dan penjaga. Yang lahir darinya aturan hidup yang tak hanya akan menyejahterakan rakyatnya, tapi juga menjaga moral dan agama mereka. Hingga ketaatan akan terjaga sepanjang masa dan kebaikan tak hanya akan mereka dapatkan di dunia, tapi hingga ke akhirat sana.

Allah Swt. berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh (taat), baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl : 97) [MNews/SNA]

Tinggalkan Balasan