Batasan Bertaklid dalam Satu Masalah


Penulis: Ustaz M. Shiddiq Al Jawi


MuslimahNews.com, FIKIH – Tanya: Ustaz, mohon penjelasan mengenai hukum bertaklid, bahwa tidak boleh seorang muqallid bertaklid kepada lebih dari satu orang mujtahid jika masih dalam satu masalah?

Jawab:

Taklid menurut pengertian syariat adalah mengamalkan pendapat orang lain tanpa dalil yang bersifat mengikat (bighairi hujjah mulzimah), misalnya seorang muqallid yang mengambil pendapat seorang mujtahid, atau seorang mujtahid yang mengambil pendapat mujtahid lainnya (‘Atha Abu Rasytah, Taisir Al Wushul Ila Al Ushul, hlm. 272; Taqiyuddin An Nabhani, Al Syakhshiyyah Al Islamiyyah, 1/230).

Jika seorang muqallid bertaklid kepada seorang mujtahid (misal Imam Syafi’i) dalam satu masalah (misal salat), bolehkah muqallid itu bertaklid kepada mujtahid lainnya (misal Imam Abu Hanifah)? Jawabannya ada perincian (tafshiil) sebagai berikut:

Pertama, jika muqallid itu sudah mengamalkan pendapat mujtahid yang ditaklidnya dalam satu masalah, tidak boleh muqallid itu mengikuti pendapat mujtahid lainnya. Sebab dengan pengamalannya itu maka hukum Allah yang berlaku baginya adalah hukum syara’ yang digali oleh mujtahid yang ditaklidinya. Jadi, kalau seseorang sudah mengamalkan masalah salat menurut mazhab Imam Syafi’i, tidak boleh dia bertaklid dalam masalah salat menurut mazhab Imam Abu Hanifah.

Baca juga:  Muqallid Muttabi’

Kedua, jika muqallid itu belum mengamalkan pendapat mujtahid yang ditaklidnya dalam satu masalah, maka dia boleh mengikuti pendapat mujtahid lainnya dalam masalah itu. Misalkan orang yang mengikuti mazhab Syafi’i belum naik haji, maka boleh baginya pada saat dia naik haji mengikuti mazhab lain dalam masalah haji, seperti mazhab Abu Hanifah atau Ahmad bin Hanbal (Taqiyuddin An Nabhani, Nizhamul Islam, hlm. 77; Al Syakhshiyyah Al Islamiyyah, 1/234-235; ‘Atha Abu Rasytah, Taisir Al Wushul Ila Al Ushul, hlm. 272; Imam Al Amidi, Al Ihkam fi Usul Al Ahkam, 4/357;  Imam Syaukani, Irsyadul Fuhul, hlm. 272; Wahbah Zuhaili, Ushul Al Fiqh Al Islami, 2/1166).

Hanya saja untuk ketentuan kedua di atas, perlu diperhatikan batasan “masalah”. Menurut Syaikh ‘Atha Abu Rasytah, yang dimaksud “masalah” di sini, adalah satu perbuatan atau beberapa perbuatan yang berdiri sendiri (munqathi’ah), artinya perbuatan-perbuatan lain tidak bergantung pada perbuatan itu dalam keabsahannya. Misalnya salat, disebut satu masalah, karena perbuatan lain misalnya haji, sah dan tidaknya haji itu tidak bergantung pada salat.

Istilah “masalah” ini berbeda dengan istilah “bagian masalah” (juz’un min al mas`alah) yaitu satu perbuatan yang wajib diwujudkan demi keabsahan perbuatan lainnya, seperti perbuatan yang menjadi syarat atau rukun bagi perbuatan lainnya. Misalnya wudu, tak disebut masalah, tapi bagian masalah, karena wudu menjadi salah satu syarat salat.

Baca juga:  Muqallid Muttabi’

Contoh lain, membaca Al Fatihah, yang menjadi salah satu rukun salat. Perbuatan yang seperti ini disebut perbuatan yang muttashilah (terkait dengan perbuatan lainnya). (‘Atha Abu Rasytah, Taisir Al Wushul Ila Al Ushul, hlm. 275; Taqiyuddin An Nabhani, Al Syakhshiyyah Al Islamiyyah, 1/235).

Jika seseorang bertaklid kepada seorang mujtahid dalam satu “masalah”, dia wajib bertaklid kepada mujtahid yang sama dalam seluruh “bagian masalah”. Tapi dia boleh bertaklid kepada mujtahid lain dalam “masalah” yang lain.

Maka muqallid yang bertaklid kepada seorang mujtahid dalam masalah salat, wajib baginya bertaklid kepada mujtahid yang sama dalam seluruh bagian-bagian masalah salat, seperti wudu, mandi janabah, tayamum, menghadap kiblat, dan rukun-rukun salat.

Jadi tidak boleh misalnya seorang laki-laki yang mengikuti mazhab Syafi’i dalam salat, tapi mengikuti mazhab Abu Hanifah yang mengatakan menyentuh perempuan tak membatalkan wudu, atau bahwa membaca Al Fatihah bukan rukun salat. Namun demikian, dia boleh bertaklid kepada mujtahid lain dalam masalah lain, seperti haji (‘Atha Abu Rasytah, Taisir Al Wushul Ila Al Ushul, hlm. 275; Taqiyuddin an-Nabhani, Al-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah, 1/235). Wallahu a’lam. [Mnews/Rgl]

Sumber: fissilmi_kaffah.com

Facebook Notice for EU!
Baca juga:  Muqallid Muttabi’
You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *