Perempuan dalam Pusaran Terorisme


Penulis: Arini Retnaningsih


MuslimahNews.com, FOKUS — Keterlibatan perempuan dalam kasus pengeboman gereja di Makassar serta penembakan di Mabes Polri, mengundang perhatian dari banyak pihak, termasuk dari para aktivis perempuan.

Memang mengundang tanya, bagaimana perempuan yang dikenal dengan kelembutan hatinya, tega untuk membunuh orang lain? Ada apa di balik fenomena ini?

Mengapa Melibatkan Perempuan?

Para pakar terorisme memberikan bermacam-macam analisis terkait fenomena perempuan sebagai pelaku teror. Ada yang mengatakan 1S1S mulai mengalami krisis maskulinitas, sehingga menurunkan perempuan kombatan[1]. Ada juga yang melihat hal ini merupakan buah radikalisasi perempuan yang membuat mereka ingin masuk surga bersama keluarga sebagai syuhada.[2]

Namun, kalau kita analisis secara mendalam, terorisme ini merupakan suatu rekayasa untuk memojokkan Islam. Pelibatan perempuan dalam berbagai aksi teror hakikatnya merupakan salah satu bentuk upaya kriminalisasi yang bertujuan untuk menciptakan teror yang lebih kuat. Sebab, perempuan yang dikenal sebagai pihak yang lemah, telah berani untuk melakukan pengeboman.

Efeknya adalah munculnya ketakutan secara menyeluruh terhadap kaum muslimin, bukan hanya laki-lakinya saja, tetapi juga perempuan, karena sama-sama berjiwa “teroris”. Inilah yang diinginkan siapa pun yang berada di balik layar skenario pengeboman ini.

Islam Tak Pernah Mengajarkan Terorisme

Bila radikalisme diidentikkan dengan bom bunuh diri, aksi teror, dan kekerasan di tengah massa, maka radikalisme yang seperti ini layak untuk ditinggalkan. Pasalnya, ajaran Islam tentang jihad yang dianggap sebagai pemicu munculnya aksi radikalisme, jauh dari gambaran tersebut.

Jihad dalam ajaran Islam memiliki makna syara’, yakni pengerahan seluruh kemampuan dan tenaga dalam berperang di jalan Allah, baik dengan jiwa, harta, lisan, ataupun yang lainnya (Al Kasani dalam kitab Bada’i as-Shana’i).

Jihad dilakukan dalam rangka menjaga wilayah dan kehormatan kaum muslimin serta untuk menghilangkan hambatan dakwah dalam menerapkan sistem Islam.

Saat ini, yang bisa dilakukan adalah jihad defensif, yakni mempertahankan diri seperti jihadnya warga Palestina menentang pendudukan Israel atas tanah mereka. Sedangkan jihad dalam meninggikan kalimat Allah tidak bisa dijalankan tanpa adanya penguasa yang menerapkan hukum Islam.

Baca juga:  Advokat Ini Ungkap Dua Kejanggalan Dijadikannya Mbai sebagai Ahli Di PTUN

Ini seperti apa yang telah dicontohkan Rasulullah saw sepanjang sejarah kenabiannya. Beliau tidak pernah melakukan upaya mengambil kekuasaan dengan jalan kekerasan.

Beliau hanya mendatangi kabilah-kabilah, mendakwahi mereka dan meminta mereka untuk memberikan nushrah (pertolongan) kepada kaum muslimin. Hal tersebut terus berlangsung sampai kemudian kabilah Aus dan Khazraj dari Yatsrib memberikan nushrah dan menyerahkan kekuasaan kepada beliau.

Setelah itulah, dalam posisi beliau sebagai kepala negara, beliau memimpin umat untuk melakukan jihad terhadap kaum yang memusuhi Islam, serta yang menolak dakwah dan penerapan hukumnya.

Namun, perlu dicatat bahwa jihad memiliki adab yang mulia, seperti tidak boleh membunuh perempuan  anak-anak, orang tua, dan para pemuka agama.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar r.a, ia berkata, “Aku mendapati seorang wanita yang terbunuh dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah saw. Kemudian beliau melarang membunuh kaum wanita dan anak-anak dalam peperangan.(HR Bukhari [3015] dan Muslim [1744]).

Rasulullah saw. juga bersabda, “Berperanglah dengan menyebut nama Allah dan di jalan Allah. Perangilah mereka yang kufur kepada Allah. Berperanglah, jangan kalian berlebihan (dalam membunuh). Jangan kalian lari dari medan perang, jangan kalian memutilasi, jangan membunuh anak-anak, perempuan, orang yang sudah tua, dan rahib di tempat ibadahnya.” (HR Muslim 1731, Abu Dawud 2613, at-Tirmidzi 1408, dan al-Baihaqi 17935).

Dengan demikian, aksi-aksi teror seperti bom bunuh diri, penabrakan truk, penembakan massal, dan sebagainya, yang dilakukan di tengah-tengah masyarakat yang tidak dalam kondisi berperang, hukumnya adalah haram.

Agenda Moderasi Islam di Balik Isu Terorisme Perempuan

Kasus merebaknya pelaku pemboman dari kalangan perempuan, membuat agenda kontraradikalisme di kalangan perempuan akan semakin diperkuat. Jalur-jalur formal dan nonformal ditempuh untuk program ini. Dari jalur pendidikan, berbagai pelatihan, pengajian serta penggunaan media massa dan media sosial.

Narasi-narasi kontra radikalisme, deradikalisasi, dan moderasi Islam, kita lihat sudah bertebaran di media massa hari-hari ini. Bahkan, khotbah Jumat juga menyerukan hal yang sama, misalnya, memerangi ekstremisme dan terorisme tidak akan berhasil dilakukan kecuali dengan menyebarkan wasathiyyah; juga jika cahaya wasathiyyah telah tersebar, api ekstremisme akan padam.[3]

Baca juga:  Analis Senior PKAD Kritisi Narasi Radikalisme Versi BNPT

Program kontraradikalisme melalui moderasi Islam ini sangat layak untuk diwaspadai karena intinya adalah deislamisasi. Betapa tidak? Program ini banyak mereduksi ajaran Islam. Jihad terutama, yang berusaha untuk diubah makna dan hukumnya.

Jihad hanya dimaknai sebagai usaha sungguh-sungguh untuk berhasil, bukan berperang. Begitu pun umat dijauhkan dari politik, baik secara pemahaman maupun aktivitas politik yang benar.

Maka, umat boleh salat, berzakat, naik haji, dan berkegiatan Islam lainnya, tapi tidak boleh mengkritik penguasa, tidak boleh menuntut penerapan syariat oleh negara, tidak boleh menolak calon pemimpin kafir, dan harus mau menerima demokrasi dan HAM, serta mau terlibat dalam peringatan hari raya agama lain.

Intinya, mengubah pemahaman umat menjadi sekuler, moderat, liberal, dan “toleran”. Ini adalah agenda besar yang diusung musuh-musuh Islam untuk menghalangi kebangkitan Islam secara halus.

Mampukah Moderasi Islam Jadi Solusi?

Upaya moderasi Islam diyakini menjadi solusi bagi terorisme dan radikalisme. Faktanya, sekian tahun program ini dijalankan, kasus terorisme tidak berakhir. Mengapa?

Moderasi Islam merupakan bentuk penyimpangan pemahaman Islam. Justru ketika menghadapi moderasi Islam, seorang muslim yang telah memiliki pemahaman dasar akan menolaknya karena terlihat upaya penyesatan di baliknya.

Kondisi ini bisa berbalik menyebabkannya mencari pemahaman lain yang boleh jadi akan membuat terjerumus dalam pemahaman teroris. Ia menerimanya mentah-mentah karena menganggap inilah kebenaran yang disembunyikan.

Mengembangkan moderasi juga akan berbahaya bagi keberlangsungan umat Islam sendiri. Sebab, generasi penerus Islam akan kehilangan izzah-nya, mereka tidak tahu bagaimana mempertahankan agama dan negaranya dari musuh.

Kasus yang terjadi pada masyarakat Rohingya di Myanmar, yang memilih lari daripada berjihad sehingga terhina di negaranya dan terhina di negeri orang, cukuplah menjadi pelajaran bagi umat.

Hal ini tidak terjadi saat seorang muslim diberikan pemahaman Islam yang benar. Dengan dalil dan hujah yang kuat, ia akan tunduk dan mengambil pemahaman ini. Pemahaman yang benar terhadap jihad akan membuatnya menolak bom bunuh diri atau bentuk-bentuk teror lain.

Pemahaman yang benar terhadap proses pengambilan hukum Islam akan membuatnya memahami perbedaan dan menyikapinya dengan benar. Ia akan mengembangkan toleransi yang benar. Ia akan memahami seperti apa Islam sebagai rahmatan lil’alamiin.

Selain itu, perlu dipahami bahwa terorisme bukan hanya sekadar pemahaman. Ada faktor-faktor lain yang memicunya, seperti yang disampaikan Musni Umar, seorang sosiolog terkemuka.

Baca juga:  Proyek Deradikalisasi Tutupi Gagalnya Negara Atasi Pandemi

Beliau menyebutkan antara lain faktor ketidakadilan ekonomi, ketakadilan hukum, penjajahan, intervensi asing, pemahaman agama yang sempit, dan keinginan mengubah negara atau sistem.[4] Tentu faktor-faktor ini tidak akan bisa diselesaikan dengan Islam wasathiyah.

Solusi Terorisme pada Perempuan

Merupakan tugas dari seluruh pihak yang terkait dengan dakwah untuk mengajarkan umat tentang Islam kafah, menanamkan akidah yang lurus, dan membentuk kepribadian Islam.

Juga mengajarkan bahwa makna toleransi adalah “lakum dinukum waliyadiin”; mengajarkan untuk menerima pluralitas tetapi menolak pluralisme; dan mengajarkan untuk menerima Islam secara keseluruhan dan memperjuangkannya, bukan menerima sebagian dan menolak sebagiannya.

Islam kafah yang seperti ini tentu tidak bisa dikatakan sebagai Islam radikal dengan makna terorisme. Perempuan yang dididik dengan Islam kafah akan menjadi ibu yang salihah, menjaga kehormatan dirinya, mendidik anak dan keluarganya dengan benar, menjadikan keluarganya sebagai basis bagi dakwah Islam dan ikut menjaga kebaikan di masyarakatnya.

Sedangkan faktor lain seperti ketakadilan ekonomi, hukum, dan seterusnya, persoalan ini tidak akan mampu dihilangkan selama diterapkannya sistem kapitalisme.

Hanya Islam yang mampu memberikan solusi sempurna, karena syariat Islam diturunkan dari sang Maha Pencipta, yang mengetahui secara detail karakter ciptaan-Nya dan apa yang terbaik bagi mereka.

Maka, tak perlu takut menjadi radikal dalam makna menjalankan Islam secara kafah. Justru inilah yang akan mengantarkan perempuan menjadi ibu yang melahirkan umat terbaik bagi manusia. Insyaallah.

Sebagaimana firman Allah Swt. yang artinya,

Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh berbuat yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran[3]: 110). [MNews/Gz]

[1] https://www.nu.or.id/post/read/127775/soal-perempuan-jadi-target-aksi-terorisme

[2] https://www.republika.co.id/berita/qqv6b3/perempuan-terlibat-serangan-teror-tak-mengejutkan

[3] https://islam.nu.or.id/post/read/44965/khutbah-jumat-kebodohan-penyebab-ekstremisme?_ga=2.247581767.1569916601.1617437654-206342586.1539954381

[4] https://www.slideshare.net/musniumar/faktorfaktor-yang-menyebabkan-munculnya-gerakan-terorisme

Tinggalkan Balasan