Pabrik Miras Pertama Berdiri di Pakistan, Mengungkap Klaim Palsu Imran Khan tentang Negara Madinah

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL – Perusahaan minuman keras Cina berencana untuk mendirikan pabrik pembuatan bir dan alkohol pertama di negara Pakistan, lapor Khamaa Press (31/3/2021). Perusahaan Hui Coastal Brewery and Distillery Limited China dilaporkan telah terdaftar dan masuk ke pasar Pakistan sejak 30/4/2020.

Mohammad Zaman Khan, Direktur Jenderal Cukai dan Perpajakan Pakistan, mengatakan kepada Dawn News bahwa perusahaan tersebut secara resmi telah memulai produksi birnya pekan lalu.

Menurutnya, produk hasil pabrikan di Pakistan itu diperuntukkan bagi warga negara Cina yang bekerja di berbagai proyek kerja sama Cina–Pakistan, khususnya yang berada di Balochistan.

“Permohonan pendirian pabrik minuman keras tersebut telah dilakukan lebih dari setahun yang lalu. Hingga akhirnya disetujui oleh pemerintahan lokal di Balochistan,” tambah Zaman Khan.

Sebelumnya, dalam aturan hukum di Pakistan, minuman beralkohol dilarang keberadaannya di Pakistan dan ilegal untuk dikonsumsi.

Sumpah Imran Khan

Pada tahun 2018 ketika pemilihan umum berlangsung, Perdana Menteri Pakistan yang sekarang, Imran Khan, bersumpah untuk mengubah Pakistan menjadi negara seperti Madinah, negara yang akan mengikuti prinsip-prinsip panduan Nabi besar kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam.

Namun, dengan keberadaan perusahaan minuman keras Cina yang beroperasi, orang bertanya-tanya tentang “prinsip-prinsip panduan” yang dimaksud oleh Perdana Menteri. Bagaimana dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam berikut?

Baca juga:  Istilah “Mabuk Agama”, Upaya Menjauhkan Umat dari Islam

«لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ»

“Allah melaknat minuman keras, peminumnya, pemberi minum (orang lain), penjualnya, yang menikmati harganya, pemerasnya, yang minta diperaskan, pengantarnya, dan yang minta diantarkan khamr.” (HR Ahmad)

Jadi, bagaimana dan dengan prinsip yang mana Perdana Menteri dapat membenarkan pendirian pabrik minuman keras?

Rezim tidak hanya akan berdosa karena mengambil keuntungan dari alkohol, tetapi juga dari mengambil pajak atas ekspor dan penjualan domestiknya. Bahkan, produksi massal minuman beralkohol yang dikomersialkan seperti itu jauh melampaui toleransi Islam terhadap warga nonmuslim dalam negara Khilafah, yaitu Yahudi dan Kristen.

Selain itu, konsumsi alkohol oleh minoritas nonmuslim hanyalah taktik penutup untuk memastikan normalisasi konsumsi alkohol dalam populasi muslim, seperti yang terjadi pada tahun 80-an di beberapa lapisan masyarakat.

Bagaimana bisa ada harapan untuk mendirikan negara Madinah, sementara kita melakukan pelanggaran yang begitu kejam terhadap prinsip-prinsip Islam yang disponsori oleh pemerintah sendiri?

Allah subhānahu wa ta’āla memerintahkan orang-orang beriman dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya,

﴿كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ﴾

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (TQS Ali Imran [3] : 110)

Baca juga:  Islam Tegas Mengharamkan Miras

Namun, jelas bahwa sejauh yang menyangkut Perdana Menteri Pakistan, satu-satunya prinsip panduan yang harus diperhatikan adalah kebijakan ekonomi Cina, dengan memperluas fasilitas ke semua perusahaannya di Pakistan, terlepas dari perdagangan mereka.

Jangan lupa bahwa Cina adalah negara yang sama yang secara aktif menindas saudara-saudari muslim kita di Provinsi Xinjiang. Sejak tahun 2017, pemerintah Cina telah terlibat dalam penganiayaan massal terhadap kaum muslim Uighur.

Mereka dikumpulkan dan dikurung dalam kamp-kamp interniran di mana mereka mengalami berbagai bentuk penyiksaan. Namun, ketika membicarakan tentang pemerintah Cina dan perlakuannya terhadap orang Uighur, pemerintah Imran Khan tidak memiliki apa-apa selain mengaku tidak tahu dan tetap diam.

Alih-alih memperlakukan Cina dengan pijakan perang, sehingga setidaknya Cina berhenti dari penganiayaannya terhadap kaum muslim, justru rezim Bajwa-Imran telah memasuki aliansi ekonomi dan militer yang luas dengannya. Mereka melakukannya, padahal Allah subhānahu wa ta’āla berfirman,

﴿إِنَّمَا يَنْهَاكُمْ اللَّهُ عَنْ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الظَّالِمُونَ﴾

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (TQS Al-Mumtahanah [60] : 9)

Baca juga:  [News] Ustaz Hafidz: Islam Konsisten Melarang Miras

Jika kita memiliki harapan untuk mendirikan negara Madinah, yang didasarkan pada prinsip-prinsip Al-Qur’an dan Sunah, jelas bahwa pemerintahan Imran Khan adalah penghinaan terhadap tujuan mulia seperti itu. Allah subhānahu wa ta’āla berfirman dalam Al-Qur’an,

﴿وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ﴾

“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (TQS Al-Maidah [5] : 45) [MNews/Rgl]

Sumber: Mediaumat.news dan Arrahmah.id

Tinggalkan Balasan