[Tapak Tilas] Surat-Surat Politik Rasulullah saw.


Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.


MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Salah satu yang membuktikan bahwa Rasulullah saw. adalah figur politik, dan posisi Madinah adalah pusat institusi politik (negara) Islam, tampak dari pengiriman duta-duta beliau kepada para penguasa di jazirah dan sekitarnya.

Saat itu beliau bersengaja mengutus para sahabat terbaiknya sebagai duta-duta politik. Mereka dipilih dari kalangan Sahabat sesuai kapasitas yang dibutuhkan untuk menjadi wakil negara.

Bersama dengan mereka, Rasulullah saw. mengirimkan surat yang ditulis oleh para sekretarisnya. Surat itu dicap dengan stempel cincin bertuliskan “Muhammad Rasulullah”.

Sumber: spiritmuslim.com

Fakta ini sekaligus menepis pandangan yang menyatakan bahwa beliau bukan figur politik dan bahwa aktivitas dakwah yang beliau lakukan bukan aktivitas politik. Mengingat, meskipun berisi ajakan masuk Islam, surat-surat ini kental dengan nuansa politik.

Perluasan Pengaruh Islam Pascaperjanjian Hudaibiyah

Dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, Muhammad Husein Haikal menjelaskan bahwa sepintas, Perjanjian Hudaibiyah memang membawa kerugian bagi umat Islam.

Hal itulah yang membuat sebagian sahabat merasa kecewa, hingga saat perjalanan pulang ke Madinah turun QS Al-Fath yang menjanjikan kemenangan setelahnya.

Kemudian memang terbukti bahwa perjanjian Hudaibiyah menjadi momentum pelemahan kekuatan Quraisy di Jazirah. Sekaligus mampu mengisolir kekuatan Yahudi yang saat itu sudah mulai terkumpul di Khaibar dan sudah lama Rasulullah saw. membacanya sebagai ancaman besar.

Maka setelah perjanjian itu, beliau segera menyusun kekuatan untuk menumpas Yahudi di Khaibar tanpa khawatir akan terbentuk koalisi antara mereka dengan kaum musyrik di jazirah termasuk bangsa Quraisy. Perjanjian Hudaibiyah benra-benar berhasil memecah kekuatan mereka.

Bersamaan dengan manuver politik menghadapi Khaibar inilah, baginda Rasulullah melakukan penyebarluasan Islam. Caranya, mengirimkan surat melalui para duta pilihannya kepada para pembesar negara-negara kafir di istana-istana mereka.

Surat-surat ini beliau kirim sebagai bagian dari aktivitas politik luar negeri dalam rangka dakwah menyebarkan Islam. Sekaligus sebagai strategi mengukuhkan posisi negara Islam di hadapan negeri-negeri kafir.

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam karyanya, Ad-Daulah Al-Islamiyah, terjemahan hal 135 menyebutkan, Rasulullah tidak melakukan pengiriman para duta besar tersebut, kecuali setelah kondisi politik dalam negeri telah aman dan stabil. Kemudian beliau mempersiapkan kekuatan yang cukup untuk mendukung politik luar negerinya.

Adapun pembesar yang menjadi target adalah raja-raja Arab, seperti Harits al-Ghassani Raja Takhum Syam oleh Syuja’ bin Wahab, Harits Al-Himyari Raja Yaman oleh Muhajir bin Umayyah, Raja Bahrain oleh al-’Alla’ bin al-Hadhramiy, Raja Amman oleh Amr bin Ash, dan Raja Yamamah oleh Salit bin Amr.

Juga kepada raja-raja non-Arab yang terkenal dan adidaya seperti Heraklius Kaisar Romawi (Bizantium) Timur oleh sahabat Dihya bin Khalifa, Kisra Raja Persia oleh Abdullah bin Hudhafa, Muqauqis Raja Mesir oleh Hatib bin Abi Baltha’ah, dan Negus (Najasyi) di Abbesinia oleh Amr bin Umayyah.

Isi Surat dan Ragam Respons Para Raja

Dikisahkan bahwa para utusan itu berangkat dalam waktu yang bersamaan ke tempat tujuannya masing-masing sebagaimana yang telah Rasul saw. tetapkan.

Respons para raja itu berbeda-beda, tapi sebagian besarnya membalas dengan santun dan lembut. Namun, sebagian lainnya membalas dengan buruk.

Raja Yaman dan Raja ‘Amman misalnya membalas surat Nabi saw. dengan buruk, sementara Raja Bahrain membalasnya dengan baik, bahkan ia memeluk Islam.

Gambar foto repro surat kepada Raja Amman. Sumber: Republika

Surat kepada Raja Bahrain. Sumber: kiblat.net

Adapun Raja Yamamah membalasnya dengan menampakkan kesiapannya menerima Islam, tapi memberi syarat diberi kedudukan sebagai penguasa. Maka Nabi pun melaknatnya karena ketamakannya.

Sedangkan para penguasa selain bangsa Arab, jawaban mereka juga beragam. Kisra, Kaisar Persia misalnya, ia sangat marah bahkan, tak lama setelah sampai kepadanya merobek-robek surat Rasulullah.

Bahkan ia memerintahkan Badzan, amilnya di wilayah Yaman untuk membawa kepala utusan Rasul yang sekarang ada di Hijaz kepadanya. Namun perintah itu ditolak oleh Badzan, bahkan ia justru masuk Islam dan menjadi amil (penguasa wilayah) bagi negara Islam.

Namun, tatkala berita tentang sikap buruk Kisra itu sampai pada Rasulullah saw., beliau pun mengutuknya dan berdoa agar Allah merobek-robek kerajaannya. Dan tak lama setelah itu, doa ini menjadi nyata.

Sementara Raja Muqauqis, penguasa Mesir atau Qibthi, telah membalasnya dengan balasan yang indah. Ia bahkan mengirimkan hadiah kepada Nabi saw., salah satunya adalah seorang budak bernama Mariah Al Qibthiyyah.

Surat kepada Raja Muqauqis. Sumber: Republika

Begitu pula Raja Najasyi. Ia membalas surat beliau dengan balasan yang indah pula. Rupanya ia kian tersentuh mengingat isi surat berisi perihal kedudukan Isa dan Maryam dalam Islam. Tak heran jika, dikatakan bahwa dia telah masuk Islam.

Surat kepada Raja Najasyi. Sumber: Blogspot

Adapun Raja Romawi, Heraklius, ia bersikap tak peduli dengan ajakan Rasulullah. Ia begitu menganggap enteng kekuatan negara Islam yang dipimpin Rasulullah.

Hingga saat sekutunya, al-Harits al-Ghassaaniy meminta izin kepadanya untuk memimpin pasukan menyerang kaum muslimin, ia tak memenuhi permintaannya tersebut.

Gambar foto surat kepada Heraklius. Sumber: mondok.id

Saat itu, ia malah mengundang al-Harits untuk menemuinya di Baitul Muqaddas. Ia tak pernah menyangka, bahwa kekuatan yang diabaikannya justru akan mengalahkan posisinya dalam waktu yang tak berapa lama.

Berikut contoh isi surat yang dikirimkan kepada Heraklius menurut para sejarawan Islam:

“ من محمد بن عبد الله إلى هرقل عظيم الروم: سلام على من اتبع الهدى، أما بعد فإنى أدعوك بدعوة الإسلام . أسلم تسلم ويؤتك الله أجرك مرتين ، فإن توليت فإن عليك إثم الأريسيِّين.

{قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ} [سورة آل عمران : 64].

Dengan nama Allah, Pengasih dan Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya kepada Heraklius pembesar Romawi. Salam sejahtera bagi yang mengikuti petunjuk yang benar. Dengan ini saya mengajak tuan menuruti ajaran Islam.

Terimalah ajaran Islam, tuan akan selamat. Tuhan akan memberi pahala dua kali kepada tuan. Kalau tuan menolak, maka dosa orang-orang Arisiyin menjadi tanggung jawab tuan.

“Wahai Ahli Kitab. Marilah kita berpegang pada kata yang sama antara kami dan kamu, yakni bahwa tak ada yang kita sembah selain Allah dan kita tidak akan mempersekutukan-Nya dengan apa pun, bahwa yang satu takkan mengambil yang lain menjadi Tuhan selain Allah. Tetapi kalau mereka mengelak juga, katakanlah kepada mereka, saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Islam.” (Quran 3:64)

Dampak Politik Pengiriman Surat

Pengiriman surat-surat Rasulullah bersama para dutanya yang luar biasa telah memberi pengaruh nyata bagi penyebaran ajaran Islam dan bagi kedudukan negaranya.

Bangsa-bangsa Arab mulai masuk ke dalam agama Allah berbondong- bondong, lalu diikuti delegasi mereka yang berturut-turut menemui Rasul saw. dan menyatakan keislamannya.

Sedangkan di tengah bangsa-bangsa selain Arab, posisi negara Islam juga bertambah kuat. Hingga baginda Rasul saw. makin mantap menjalankan politik luar negerinya, dengan melakukan dakwah masif oleh negara, sekaligus menyiapkan kekuatan untuk melaksanakan jihad menghadapi para penghalang sampainya dakwah Islam kepada manusia. [MNews/Juan]

Tinggalkan Balasan