[Sirah Nabawiyah] Khotbah Perpisahan Rasulullah saw.


Penulis: Nabila Ummu Anas


MuslimahNews.com, SIRAH NABAWIYAH — Setelah seluruh penjuru Jazirah Arab tunduk kepada kekuasaan Negara Islam, Rasulullah saw. mengumumkan kepada para pemimpin kaum bahwa beliau hendak melakukan ibadah haji. Beliau saw. meminta dengan sungguh-sungguh agar seluruh kaum muslimin ikut serta bersamanya dan meminta mereka agar mempersiapkannya.

Rasulullah saw. berangkat bersama-sama kaum muslimin yang jumlahnya sangat banyak. Ibadah haji kali ini bersih dari setiap bentuk peribadatan dan pemujaan terhadap berhala. Di sanalah Rasulullah saw. berdiri dan berkhotbah di tengah-tengah kerumunan orang-orang.

“Wahai manusia sekalian! Perhatikanlah kata-kataku ini! Aku tidak tahu, kalau-kalau sesudah tahun ini, dalam keadaan seperti ini, tidak lagi aku akan bertemu dengan kamu sekalian.”

“Saudara-saudara! Bahwasanya darah kamu dan harta benda kamu sekalian adalah suci buat kamu, seperti hari ini dan bulan ini yang suci sampai datang masanya kamu sekalian menghadap Tuhan. Dan pasti kamu akan menghadap Tuhan; pada waktu itu kamu dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatanmu. Ya, aku sudah menyampaikan ini!” 

“Barang siapa telah diserahi amanat, tunaikanlah amanat itu kepada yang berhak menerimanya.”

“Bahwa semua riba sudah tidak berlaku. Tetapi kamu berhak menerima kembali modalmu. Janganlah kamu berbuat aniaya terhadap orang lain, dan jangan pula kamu teraniaya. Allah telah menentukan bahwa tidak boleh lagi ada riba dan bahwa riba Abbas bin Abdul Muththalib semua sudah tidak berlaku.”

“Bahwa semua tuntutan darah selama masa jahiliah tidak berlaku lagi, dan bahwa tuntutan darah pertama yang kuhapuskan ialah darah Ibn Rabi’a bin Harits bin ‘Abdul Muththalib!—dulu ia mencari wanita yang menyusui di Bani Laits, lalu ia dibunuh orang-orang Hudzail. Ini adalah hutang darah pada masa jahiliah yang pertama aku hapus.”

 “Kemudian daripada itu saudara-saudara. Hari ini nafsu setan yang minta disembah di negeri ini sudah putus buat selama-lamanya. Tetapi, kalau kamu turutkan dia walaupun dalam hal yang kamu anggap kecil, yang berarti merendahkan segala amal perbuatanmu, niscaya akan senanglah dia. Oleh karena itu peliharalah agamamu ini baik-baik.”

“Saudara-saudara. Menunda-nunda berlakunya larangan bulan suci berarti memperbesar kekufuran. Dengan itu orang-orang kafir itu tersesat. Pada satu tahun mereka langgar dan pada tahun lain mereka sucikan, untuk disesuaikan dengan jumlah yang sudah disucikan Tuhan. Kemudian mereka menghalalkan apa yang sudah diharamkan Allah dan mengharamkan mana yang sudah dihalalkan.”

“Zaman itu berputar sejak Allah menciptakan langit dan bumi ini. Jumlah bilangan bulan menurut Tuhan ada dua belas bulan, empat bulan di antaranya ialah bulan suci, tiga bulan berturut-turut dan bulan Rajab itu antara bulan Jumadilakhir dan Syakban.”

“Kemudian daripada itu, saudara-saudara. Sebagaimana kamu mempunyai hak atas istri kamu, juga istrimu sama mempunyai hak atas kamu. Hak kamu atas mereka ialah untuk tidak mengizinkan orang yang tidak kamu sukai menginjakkan kaki ke atas lantaimu, dan jangan sampai mereka secara jelas membawa perbuatan keji. Kalau sampai mereka melakukan semua itu Tuhan mengizinkan kamu berpisah tempat tidur dengan mereka dan boleh memukul mereka dengan suatu pukulan yang tidak sampai mengganggu.

Bila mereka sudah tidak lagi melakukan itu, maka kewajiban kamulah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan sopan santun. Berlaku baiklah terhadap istri kamu, mereka itu kawan-kawan yang membantumu, mereka tidak memiliki sesuatu untuk diri mereka. Kamu mengambil mereka sebagai amanat Tuhan, dan kehormatan mereka dihalalkan buat kamu dengan nama Tuhan.”

“Perhatikanlah kata-kataku ini, saudara-saudara. Aku sudah menyampaikan ini. Ada masalah yang sudah jelas kutinggalkan di tangan kamu, yang jika kamu pegang teguh, kamu takkan sesat selama-lamanya; Kitabullah dan Sunah Rasulullah.”

“Wahai Manusia sekalian! Dengarkan kata-kataku ini dan perhatikan! Kamu akan mengerti, bahwa setiap muslim adalah saudara buat muslim yang lain, dan kaum muslimin semua bersaudara. Tetapi seseorang tidak dibenarkan (mengambil sesuatu) dari saudaranya, kecuali jika dengan senang hati diberikan kepadanya. Janganlah kamu menganiaya diri sendiri.”

“Ya Allah! Sudahkah kusampaikan.” 

Setelah sampai pada penutup kata-katanya itu Nabi berkata lagi, “Ya Allah! Sudahkah kusampaikan?”

Maka serentak dari segenap penjuru orang menjawab,“Ya!”

Lalu Nabi berkata, “Ya Allah, saksikanlah ini!” 

Baca juga:  [Tapak Tilas] Arafah dan Khotbah Politik Rasulullah ﷺ

Inilah khotbah terakhir Rasulullah saw. di hadapan kaum muslimin. Khotbah yang menyampaikan sempurnanya risalah Islam yang beliau bawa. Landasan utama penerapan Islam secara sempurna jika berpegang teguh terhadap Al-Qur’an dan Sunah. Rasulullah saw. menyeru agar kaum muslimin berpegang teguh kepada keduanya, berhukum hanya kepada keduanya.

Meski khotbah Rasulullah saw. ini pendek, namun ia merupakan serat tali ideologi yang kuat dan mampu memperbaiki individu dan masyarakat. Untuk itu, Rasulullah saw. mempertegas dan minta disaksikan bahwa beliau benar-benar telah menyampaikan. [MNews/Rgl]

Sumber: Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah saw., Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, Al Azhar Press

Tinggalkan Balasan