Penghinaan terhadap Islam dan Ajarannya Kembali Berulang, Hanya Khilafah yang Mampu Melindungi Islam dan Kaum Muslimin


Penulis: Najmah Saiidah


MuslimahNews.com, FOKUS – Kasus penghinaan terhadap Islam dan ajaran Islam kembali berulang, baik berupa penghinaan terhadap Allah, Rasulullah saw., tempat ibadah kaum muslimin maupun terhadap ajaran Islam.

Masih segar dalam ingatan kita penyobekan dan pembuangan lembaran Al-Qur’an di jalanan Medan, yang dilakukan oleh Doni Irawan Malay. Berikutnya penghinaan terhadap perempuan bercadar di akun Facebook, lalu pelemparan Al-Qur’an di Makassar.

Beberapa hari lalu, Sekolah West Yorkshire, Inggris, didemo orang tua murid selama dua hari berturut-turut karena ada salah satu guru yang menunjukkan sebuah gambar satir Nabi Muhammad kepada murid-muridnya. Dilansir dari english.araby.co pada Sabtu (27/3), orang tua murid mengklaim gambar-gambar itu diambil dari majalah satir Prancis yang kontroversial Charlie Hebdo. Mereka menunjukkan kepada negara kalau Islamofobia tidak akan ditoleransi karena gambar tersebut sangat menyinggung bagi mereka. (Republika.co.id/27 Maret 2021)

Beberapa hari lalu, fasad (tampak depan) masjid di Siprus dirusak oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Mereka menggambar bendera dan slogan Yunani. Aksi vandalisme ini mendapat kecaman keras dari pihak berwenang. Bagian luar masjid, dicat biru agar mirip bendera Yunani dengan stensil. Selain itu, mereka juga melukis salib di dua pintu kayunya. (Republika.co.id/27 Maret 2021).

Tidak hanya itu, Menteri Luar Negeri India untuk Urusan Parlemen dan Pembangunan Pedesaan Anand Swaroop Shukla menyebut, burqa sebagai praktik yang jahat dan tidak manusiawi. Burqa dituding sebagai atribut pakaian yang tidak manusiawi bagi Muslimah. “Burqa adalah praktik tidak manusiawi yang dipaksakan pada wanita Muslim. Banyak negara telah melarangnya. Seperti kita telah menghapus talak tiga, burqa juga harus dilarang di negara ini,” kata Shukla dalam sebuah video. Sebelumnya, Shukla telah menulis surat kepada DM pada hari Selasa meminta tindakan terhadap adzan melalui pengeras suara. Dia menuduh bahwa tingginya volume pengeras suara masjid Madinah di Kajipur menyebabkan gangguan pada tiga institusi pendidikan terdekat dan juga mempengaruhi dia ketika dia melakukan yoga, meditasi, ibadah atau pekerjaan resmi di rumahnya.

“Volume tinggi adzan sebanyak lima kali dan pesan sumbangan untuk pembangunan masjid terus berlanjut sepanjang hari. Polusi suara meninggalkan dampak buruk bagi kesehatan anak-anak, orang sakit dan orang tua selain mengganggu siswa belajar untuk ujian mereka,” kata Shukla. (Republika.co.id/26 Maret 2021).

Terus Berulang

Sungguh sangat menyedihkan, penistaan dan penodaan terhadap Rasulullah, ajaran-ajaran Islam terus berulang dan berulang lagi. Bahkan saat ini, tempat beribadah kaum muslimin diganggu dan dilecehkan. Hal ini tidak hanya terjadi di negeri kita saja, tapi di berbagai negeri baik yang penduduk muslimnya minoritas maupun mayoritas. Berulangnya kasus penodaan dsn penistaan agama ini membuktikan bahwa negara telah gagal dalam menjamin serta melindungi agama dan penganutnya. Undang-undang buatan manusia tidak efektif untuk menghentikan semua itu. Ditambah lagi penegakan hukumnya seringkali tidak memenuhi rasa keadilan. Ini yang membuat orang tidak jera untuk menista agama, justru malah menambah daftar nama penista agama.

Di negeri yang menganut sistem demokrasi kapitalis –termasuk negeri kita — maka atas nama HAM seseorang bisa bebas bertindak sesuai dengan keinginannya. Selama tidak ada yang terganggu, maka dianggap sah-sah saja, termasuk kasus ini. Jika kaum muslimin — di manapun — diam saja terhadap penistaan Islam atau pelecehan terhadap Rasulullah, maka mereka akan merasa aman. Hal ini wajar, karena sistem demokrasi kapitalis, menjadikan manfaat sebagai asas dalam kehidupan dan dalam implementasinya, sistem demokrasi kapitalis melahirkan liberalisme atau kebebasan.

Liberalisme dalam sistem demokrasi kapitalis mengajarkan empat kebebasan yang sangat destruktif, yaitu kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan kepemilikan dan kebebasan berperilaku. Empat kebebasan inilah yang saat ini mencengkeram kuat negeri-negeri di dunia, termasuk negeri-negeri Islam. yang menjadi biang keladi munculnya berbagai macam pemikiran dan tingkah laku yang menyimpang dari Islam yang lurus.

Kebebasan berpendapat inilah yang melahirkan orang-orang yang berani mengeluarkan pendapat-pendapat yang kemudian menyimpangkan kebenaran Islam, menghina dan menghujat ajaran islam yang sudah pasti kebenarannya, seperti kebenaran al Quran, kemakshuman Rasulullah bahkan mengobrak-abrik ajaran Islam, yang sudah baku. Mereka bebas melontarkan pemikiran atau pendapatnya sesuai hawa nafsunya, tanpa berpikir apakah pemikiran atau pendapatnya itu benar atau tidak, menyakitkan orang banyak atau tidak, apakah pemikiranya itu sesat atau menyesatkan orang lain atau tidak, memberikan dampak buruk di tengah-tengah masyarakat atau tidak. Selama tidak mengganggu kebebasan orang lain, sah-sah saja. Inilah yang sesungguhnya membahayakan umat Islam, yang lambat laun kemudian semakin mengikis dan mengaburkan pemahaman Islam yang benar di tengah-tengah kaum muslimin.

Islam Punya Solusi

Islam, sebagai diin yang sempurna, tidak akan membiarkan tersebarnya pemikiran yang bertentangan dengan Islam. Dalam Islam, tidak ada larangan seseorang untuk berpendapat  selama tidak bertentangan dengan aqidah dan hukum-hukum Islam, bahkan berkewajiban untuk mengoreksi penguasa ketika ia melihat ada kebijakan khalifah atau penguasa lainnya yang menyimpang dari syariah. Islam memandang bahwa aqidah dan syariah Islam adalah perkara penting yang harus ada dan tetap eksis di tengah-tengah masyarakat. Negara adalah institusi yang bertugas mewujudkan pandangan ini. Atas dasar itu, negara tidak akan menoleransi pemikiran, pendapat, paham, aliran atau sistem hukum yang bertentangan dengan akidah dan syariah Islam. Negara juga tidak akan mentoleransi perbuatan-perbuatan yang menyalahi akidah dan syariah Islam.

Dalam kasus penistaan agama pun, Islam telah dengan sangat jelas memposisikan dan menanganinya. Sebuah kisah sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim dalam al-Jami as-Sahih dan beberapa kitab hadis lainnya, ada seorang budak yang sedang hamil. Kerjaannya selalu mencaci maki Nabi Muhammad saw.. Akhirnya karena merasa kesal dengan kelakuan perempuan ini, seorang sahabat Nabi yang buta, yang merupakan suaminya, membunuh istrinya yang bekas budak tersebut. Ketika peristiwa pembunuhan ini dilaporkan kepada Nabi, sang pembunuh tidak dihukum qishash. Masih dalam sumber yang sama juga disebutkan bahwa ada seorang Yahudi wanita yang tabiat buruknya membuatnya untuk terus-menerus menghina Nabi Muhammad saw.. Akhirnya ada seorang sahabat Nabi yang membunuhnya karena geram terhadap wanita Yahudi tersebut.

Berdasarkan kepada dua riwayat terakhir, para ulama sepenuhnya sepakat dijatuhkannya hukuman mati bagi seorang muslim yang menghina dan mengejek Nabi Muhammad saw.. Bahkan ejekan dan hinaan terhadap Nabi ini telah membuatnya murtad dari Islam dan karenanya harus dibunuh. Demikian seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah dalam as-Saif al-Maslul dan al-Qadhi Iyadh dalam as-Saif as-Sharim.

Hanya Khilafah yang Mampu Melindungi Islam dan Kaum Muslimin

Maka, telah sangat jelas, mengapa kasus penistaan agama masih ada dan terus berulang. Di samping karena diterapkannya sistem demokrasi kapitalis, di sisi lain … tidak adanya daya negara dalam memberikan sanksi yang membuat efek jera pada mereka, bahkan terkesan didiamkan dan dilindungi. Sehingga tidak heran jika penistaan agama itu akan terus ada selama tidak diterapkannya Islam dalam kehidupan bernegara.

Terabaikannya hukum-hukum Islam, maraknya penistaan agama dan kezaliman yang terus-menerus ditimpakan pada umat. Semestinya semua itu menumbuhkan kesadaran bahwa hari ini tak ada yang melindungi umat dan menegakkan Islam. Para pemimpin Dunia Islam sibuk dengan urusan dalam negeri mereka masing-masing. Sibuk mempertahankan kekuasaan mereka. Mereka malah menjadi kaki tangan imperialisme Barat.

Umat memang membutuhkan pelindung, baik untuk menjamin kehidupan mereka maupun menjaga mereka dari serangan musuh-musuh Allah SWT. Umat membutuhkan pembelaan dan perlindungan negara dari para penista dan perusak agama. Dalam sistem Islam, negara berperan besar dalam melindungi umat dari segala keburukan dan terabaikannya hukum syara, aturan Allah dan RasulNya. Sangat berbeda dengan sistem demokrasi kapitalis saat ini. Islam memposisikan kepala negara sebagai penaggungjawab bagi urusan rakyatnya dan ia sebagai perisai bagi umat yang akan menjaga dan melindungi rakyatnya, sebagaimana yang tercantum dalam hadits-hadits Rasulullah saw.:

رَعِيَّتِهِ عَنْ وَمَسْئُولٌ رَاعٍ الإِمَامُ

“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR Bukhari).

بِهِ وَيُتَّقَى وَرَائِهِ مِنْ يُقَاتَلُ جُنَّةٌ اْلإِمَامُ إِنَّمَا

Sungguh Imam/Khalifah adalah perisai; orang-orang berperang di belakang dia dan berlindung kepada dirinya (HR Muslim).

Kita bisa mengambil pelajaran di masa Islam berjaya, dimana Khilafah Utsmaniyah sanggup menghentikan rencana pementasan drama karya Voltaire yang akan menista kemuliaan Nabi Muhammad saw.. Saat itu Khalifah Abdul Hamid II langsung mengultimatum Kerajaan Inggris yang bersikukuh tetap akan mengizinkan pementasan drama murahan tersebut. Khalifah berkata, “Kalau begitu, saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengatakan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasul kita! Saya akan mengobarkan jihad akbar!” Kerajaan Inggris pun ketakutan. Pementasan itu dibatalkan. Sungguh, saat ini umat membutuhkan pelindung yang agung itu. Itulah Khilafah. Allahu Akbar !

Marilah kita tinggalkan sistem demokrasi kapitalisme yang hanya akan membawa kesengsaraan dan malapetaka bagi umat. Sudah tiba waktunya untuk menerapkan hukum Allah dan RasulNya secara kaaffah di muka bumi ini, yang akan melindungi Islam dan kaum muslimin dari setiap upaya yang ditujukan untuk menggerus, menistakan dan melenyapkan aqidah Islam. Semua ini hanya mungkin dilakukan jika syariah Islam diterapkan secara total dalam sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah ’ala minhâj an-Nubuwwah. Mari berjuang bersama, bergandengan tangan, bahu membahu untuk mewujudkan kemuliaan Allah, RasulNya dan umat Islam secara keseluruhan dengan berjuang menegakkan khilafah di muka bumi ini. []

Tinggalkan Balasan