[Remaja] Isu Terorisme Bikin Insecure untuk Berislam Kafah?

MuslimahNews.com, REMAJA — Sobat remaja, pasti pada ngeh kan dengan peristiwa bom di Gereja Katedral Makassar kemarin? Ya, lagi-lagi bom bunuh diri. Kejadiannya terus saja berulang.

Heran juga sih ya, Indonesia dengan segala program pemberantasan terorisme ternyata belum juga mampu meredam berbagai aksi teror.

Anehnya lagi, aksi terorisme yang terjadi di Makassar dan Mabes Polri meninggalkan surat yang isinya mirip. Netizen negara +62 yang memang terkenal jeli dan lumayan ceriwis, gak luput untuk turut komen terkait beberapa kejanggalan dalam peristiwa ini.
Mabes Polri aja yang pengawalannya super duper ketat, kok bisa-bisanya kebobolan juga. Kan ajaib gitu, ya kan?

Terlepas dari semua kejanggalan yang ada, sebagai muslim, tentu saja hal yang penting bagi kita adalah meneliti setiap kejadian, memahami motifnya apa dan menentukan respons yang tepat terhadap suatu peristiwa. Gak asal mengunyah berita aja, gitu lho.

Mengapa kita perlu untuk menentukan sikap? Karena di tengah gencarnya dakwah Islam dan besarnya keinginan kaum muslimin untuk kembali ke Islam kafah, gak sedikit yang mengatakan bahwa penerapan syariat Islam akan berujung pada diskriminasi pada agama lain.

Makanya, label radikalis disematkan pada siapa saja yang menginginkan penerapan syariat Islam. Ada juga statement yang mengatakan bahwa mereka yang menginginkan syariat Islam diterapkan itu muslim yang fanatik, intoleran, antikeragaman dan label negatif lainnya yang sengaja mereka lontarkan.

Padahal nih ya, kalau kembali ke definisi radikal itu yang bermakna kembali ke asas, asas Islam ya akidah Islam, salahnya dimana coba?

Lebih jauh lagi, yang wajib diwaspadai adalah munculnya gelombang islamofobia pasca peristiwa terorisme. Islamofobia itu ya ketakutan akan segala hal yang berbau ajaran Islam.

Coba deh lihat berita bagaimana jihad yang notabene ajaran Islam itu didiskreditkan. Jilbab, cadar, celana cingkrang, jenggot, dan sejenisnya disimbolkan sebagai pakaian para pelaku teror. Kan jadinya Islam yang dirugikan, betul?

Di tengah gelombang hijrahnya para seleb, bangganya para milenial dengan pakaian yang sesuai tuntunan syariat, eh ada teror.
Bikin insecure kan bagi yang udah rapi jali dengan jilbab dan khimarnya.

Atau buat yang cowok, udah merasa ganteng maksimal dengan jenggot plus celana cingkrangnya.

Alhasil, isu terorisme bikin was-was juga. Orang tua pun jadi khawatir dengan anak-anaknya. Di sekolah hingga kampus juga gak ketinggalan mengawasi anak-anak Rohis atau Lembaga Dakwah Kampus.

Sobat remaja semua pasti gamang juga. Di satu sisi semangat berislam lagi membara, di sisi lain isu terorisme ini sedikit banyak punya kontribusi menimbulkan ketakutan untuk berislam kafah. Jadi, kita kudu gimana, dong?

Islam Bukan Teroris

Terkesan defensif sih, namun Islam jelas tidak membenarkan segala bentuk kekerasan, Sob. Meski demikian kita tetap mewaspadai adanya upaya untuk mengkriminalisasi sejumlah ajaran Islam dan menimbulkan ketakutan untuk kembali pada syariat Islam kafah.

Isu terorisme sendiri bukanlah hal yang baru. Pasca peristiwa 911 yang meruntuhkan menara kembar World Trade Center (WTC) di Amerika tahun 2001 lalu, George Bush yang saat itu menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat sesumbar bahwa peristiwa itu merupakan genderang perang antarperadaban. Bush sampai membagi dunia dalam dua kubu, kubu terorisme dan kubu AS.

Sebel banget kan dengarnya? Pasalnya Bush tanpa tedeng aling-aling menyebut Islam sebagai teroris. Pascakejadian itu, negara-negara di dunia disibukkan dengan isu terorisme yang di masa Trump beralih jadi war on radicalism.

Jadi, isu terorisme ini erat kaitannya dengan kondisi politik global. Kalau kata Samuel Hungtington dalam bukunya Clash Civilitation, ini adalah perang peradaban. Kapitalisme versus Islam. Hak versus batil.
Tindak lanjut isu terorisme di saat ini ya radikalisme itu. Berbagai program untuk menangani apa yang disebut sebagai tindakan radikal dilakukan. Definisi radikalisme, ciri-ciri radikalisme, tindakan yang terkategori radikal terus diperdengarkan di tengah-tengah masyarakat.

Untuk memahami ini tentu dibutuhkan proses belajar yang terus menerus. Sebagai generasi Islam, tak perlu takut untuk memahami ajaran Islam secara utuh.
Rasa takut terhadap ajaran sendiri justru hanya akan membuat kaum kafir bersorak-sorai. Mengapa? Karena generasi yang seharusnya menjadi pejuang dan pelanjut peradaban Islam, justru menjauhi ajaran Islam yang notebene merupakan rahasia bagi kebangkitan Islam di masa mendatang.
Islam bukan agama yang mengajarkan aktivitas terorisme. Dalam rentang peradaban Islam berjaya, Islam bahkan melindungi warga nonmuslim yang hidup di wilayah Khilafah.

Bisa dikatakan, Islam adalah satu-satunya agama sekaligus ideologi yang memiliki konsep yang jelas bagaimana menghormati hak nonmuslim.

Bukti konkritnya, kaum Nasrani dan Yahudi sampai sekarang, tetep ada kan meski dulu pernah berada di bawah kekuasaan Islam? Andai Islam membenci mereka, udah dari dulu kali diberangus, kali.

Berbeda banget dengan peradaban kapitalisme saat ini yang justru lebih banyak mengkambinghitamkan Islam atas kegagalannya menjaga keberagaman melalui isu terorisme. Betul? So, jangan lelah apalagi takut untuk belajar Islam ya! [MNews/Juan]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.