[News] Madrasah Vokasi, Madrasah Hebat Bermartabat Kelas Dunia?

MuslimahNews.com, NASIONAL — Kementerian Agama terus berupaya memajukan pendidikan madrasah, sehingga mampu beradaptasi dan berdaya saing di era digitalisasi. Hal ini disampaikan Sekjen Kemenag Nizar Ali pada Sarasehan Akbar Launching Sistem Informasi Digital Madrasah (27/3/2021).

Menurutnya, ada empat fokus program Kemenag untuk mewujudkan madrasah hebat bermartabat menuju kelas dunia.

Pertama, madrasah aliyah vokasi, yakni peningkatan mutu sarana prasarana pendukung teaching factory. Talenta siswa dapat diserap di dunia kerja dan pemagangan siswa di dunia industri.

Kedua, penguasaan science, technology, engineering, and mathematics (STEM) untuk meningkatkan daya saing dan kompetensi.

Ketiga, peningkatan keterampilan dan literasi teknologi informasi.

Keempat, peningkatan daya saing dengan penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Arab dan Inggris. Direncanakan pula ada penguasaan bahasa Mandarin karena prediksi ke depan yang menguasai ekonomi dunia adalah Cina.

Ia berpendapat, perkembangan madrasah menuju kelas dunia semakin nyata setelah dilakukan Gerakan Budaya Digitalisasi Madrasah.

“Sekarang sudah ada kerja sama dengan platform Google for Madrasah yang berisi Buku Digital Madrasah dan partisipasi referensi digital melalui Madrasah Berbagi,” ujarnya.

Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Agama No. 184 tahun 2019 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum pada Madrasah bahwa madrasah wajib menanamkan nilai moderasi beragama, pendidikan kekuatan karakter, dan pendidikan antikorupsi.

Baca juga:  Quo Vadis Program Pendidikan Vokasi?

Kemudian, dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0, madrasah harus dapat menyiapkan kompetensi peserta didik di era milenial untuk dapat melaksanakan pendidikan abad ke-21 yakni memiliki kemampuan 4 C (critical thinking, creativity, communication, and collaboration).

Pendidikan yang Memuluskan Agenda RI 4.0?

Pemerhati kebijakan pendidikan, Ustazah Noor Afeefa menyayangkan konsep pendidikan yang hanya akan memuluskan agenda Revolusi Industri 4.0.

“RI 4.0 yang digagas Barat sejatinya adalah penjajahan gaya baru berkedok kemajuan teknologi. Indonesia menjadi salah satu pangsa pasar terbesar jualan teknologi tersebut. Pendidikan pun berfungsi sebagai sarana untuk mencetak tenaga terdidik yang akan memenuhi pasar tenaga kerja bagi jualan teknologi yang mereka buat,” ujarnya.

Padahal menurutnya, pendidikan hakikinya bertujuan menghasilkan manusia terdidik, bertambah baik bukan sekadar pintar, apalagi sekadar bisa bekerja. Manusia cerdas dalam pandangan Islam adalah mereka yang memiliki ilmu.

“Dengannya mereka semakin takut dan taat kepada Allah, sehingga mampu mengelola bumi ini, baik dengan tenaganya maupun hartanya, sesuai aturan Allah subhanahu wa ta’ala. Inilah target pendidikan sesungguhnya,” paparnya.

Problem Utama, Kapitalisme Sekuler

Ustazah Afeefa mengkritisi program ini yang tidak sinkron dengan problem utama pendidikan di Indonesia. Sebab, hanya di tataran teknis semata dan dianggap bisa diselesaikan dengan rancangan teknologi yang tepat.

Baca juga:  Rekomendasi RNPK: Solusi atau Masalah?

Jika dilihat, jelasnya, problem utama pendidikan bukan di teknis atau penggunaan teknologi pendidikan misalnya aplikasi dalam pengelolaan pembelajaran.

Problem utamanya justru terkait sudut pandang penguasa terhadap tugas melayani pendidikan rakyat. Juga terkait asas kapitalisme sekuler yang selama ini mendasari sistem pendidikan Indonesia, sehingga kurikulum dan tata kelola sekolahnya jauh dari konsep Islam. Inilah yang ia sebut menjadikan pendidikan mandul dan tidak produktif.

“Perbaikan teknis memang bisa membawa perubahan, tetapi tidak signifikan dan tidak menyelesaikan problem utama,” tegasnya.

Ia menekankan, solusi teknis model begini bahkan bisa berbahaya karena mengakibatkan pendidikan jauh dari hakikatnya. Contohnya, ketika masyarakat merasa puas hanya dengan bisa bersekolah dan bisa bekerja.

“Lantas (masyarakat) berpikir, buat apa harus terikat dengan aturan agama dan perilaku yang dituntut agama (baca: Islam)?” tanyanya retoris.

Sistem Pendidikan Sahih dalam Khilafah

Ustazah Afeefa menggambarkan bagaimana negara Khilafah menyelenggarakan sistem pendidikan Islam berdasar akidah Islam.

“Pendidikan ditujukan untuk mewujudkan manusia berkepribadian Islam di samping membekali manusia dengan ilmu dan pengetahuan berkaitan dengan kehidupan. Negara bertanggung jawab penuh untuk melayani. Yakni dengan memastikan kebutuhan rakyat untuk memperoleh pendidikan terbaik bisa terpenuhi,” urainya

Baca juga:  [Editorial] Guru Kristen di Madrasah, Moderasi Islam Makin Parah

Ia pun menekankan, di tengah banyaknya problem generasi yang makin mengkhawatirkan, masyarakat harus dicerdaskan tentang sistem pendidikan sahih dalam Khilafah.

“Kita hanya bisa mengharapkan perubahan signifikan dalam pendidikan ketika diatur dengan syariat Islam kaffah dalam bingkai Khilafah agar terhindar dari kesempitan hidup di dunia dan akhirat,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan