[Tapak Tilas] Wilayah Daulah Islam, di Antara Kekuatan Adidaya

Pascaperang Tabuk, Rasulullah saw. berhasil membangun posisi negara Islam dalam konstelasi politik Internasional. Bangsa-bangsa Arab di Jazirah kala itu mulai memperhitungkan kedudukan kaum muslimin dan negara mereka. Bahkan akhirnya Jazirah pun tunduk pada kekuasaan Islam.


Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.


MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Sebelumnya, selama berabad-abad, peta politik dunia sudah didominasi dua kekuatan besar, yakni Persia (Dinasti Sasaniyah) yang berakidah Zoroaster atau Majusi dan Imperium Romawi (Bizantium Timur) yang berakidah Kristen.

Saat itu, keduanya memang sudah menjadi sebuah peradaban besar yang berlangsung sejak ribuan tahun, yakni peradaban Persia di satu sisi dan Romawi di sisi yang lain.

Posisi Jazirah Arab kala itu bak pelanduk di antara dua ekor gajah, baik sejak sebelum masa Islam hingga masa tegaknya negara Islam di Madinah.

Peta Wilayah Pengaruh Romawi dan Persia

Gambar ilustrasi: tribunnews

Sejarah mencatat, kekuasaan Bizantium atau Romawi kala itu pengaruhnya cukup luas. Mencakup wilayah barat hingga timur Mediterania. Termasuk jazirah Arab bagian utara dan beribu kota di Konstantinopel (sekarang Istanbul). Jika dikonversi ke masa sekarang, wilayah kekuasaan Bizantium ini setara dengan 30 negara.

Peta wilayah kekuasaan Romawi. Sumber: Wikipedia

Di pihak lain, wilayah pengaruh Sasaniyah atau Persia meliputi wilayah Timur, yakni sekitar Iran, Irak, Asia Tengah, hingga semenanjung Arab bagian timur. Jika dikonversi ke masa sekarang, wilayah Sasaniyah pun meliputi lebih dari 30 negara.

Sebagai negara adidaya, keduanya memiliki tradisi imperialisme yang sangat kental. Di tengah ambisi penjajahan itu, termasuk di jazirah Arab, wilayah Makkah dan Madinah nyaris luput dari radar pantau mereka. Kedua wilayah ini bisa dikatakan terbebas dari pengaruh politik keduanya, baik di masa pra-Islam maupun di masa Islam.

Sumber: portal-islam.id

Meski demikian, penduduk di wilayah ini memiliki pengetahuan yang cukup terkait konstelasi internasional. Hal ini tampak dalam riwayat yang menceritakan tentang asbabunnuzul QS Ar-Rum yang mengisahkan tentang terjadinya perang antara kedua imperium yang diakhiri kekalahan bangsa Romawi oleh bangsa Persia (tahun 614-615 M).

Kala itu, kondisi umat Islam di Makkah masih dalam keadaan teraniaya. Bahkan, pada tahun-tahun itulah terjadi peristiwa hijrah yang pertama ke wilayah Nasrani Abbesinia dan di sana mereka mendapat perlindungan yang sangat baik dari rajanya.

Dalam kasus perang antara Persia dan Romawi itu, penduduk Makkah yang musyrik dikabarkan begitu gembira mendapati kemenangan bangsa Persia yang juga musyrik. Sementara, kaum muslim bersedih karena kekalahan bangsa Romawi yang agamanya dekat dengan agama mereka.

Namun, turunnya surah Ar-Rum itu justru menjadi penghibur bagi kaum muslim. Allah Swt. memberi kabar gembira bahwa kekalahan bangsa Romawi di perang itu akan terbayar di beberapa tahun kemudian.

Nyatanya, sekira tujuh tahun kemudian (tahun 622 M), imperium Romawi mampu mengalahkan bangsa Persia. Peristiwa ini sekaligus menjadi bukti kemukjizatan Al-Qur’an yang menambah keimanan bagi mereka.

Persinggungan Ekonomi dan Budaya

Meski tak terpengaruh secara politik, bukan berarti Makkah dan Madinah sama sekali tak bersinggungan dengan peradaban Romawi dan Persia.

Sejak lama, kontak-kontak perdagangan sudah terjalin intens antara bangsa Arab, termasuk bangsa Quraisy di Makkah dan suku-suku Arab di Madinah dengan bangsa-bangsa yang ada di bawah kekuasaan Romawi dan Persia, bahkan hingga ke jantung kekuasaan mereka.

Begitu pun sebaliknya. Pedagang-pedagang dari wilayah kekuasaan Persia dan Romawi, kerap datang ke wilayah Arab, termasuk Makkah.

Hal ini terutama karena wilayah Arab, termasuk kota Makkah, meskipun kondisinya gersang, ia terletak di daerah pertemuan antara jalur perdagangan dunia antara wilayah barat dan kawasan timur jauh, sekaligus antara utara dan selatan.

Terlebih, seperti ditulis Phillip K. Hitti dalam History of The Arabs halaman 58, semua semenanjung Arab dikenal sebagai negeri wewangian.

Untuk jalur darat misalnya, terdapat jalur perdagangan dari India melalui Asia Tengah menuju Iran, Irak, dan Laut Tengah. Sementara untuk jalur laut, terdapat jalur dagang melalui teluk Arab dan sekitar jazirah hingga ke Laut Merah.

Khusus Makkah, menjadi tempat singgah pada jalur dagang dari Ma’rib ke Ghaza. Sedangkan Madinah menjadi persinggahan antara Yaman dan Suriah dengan kurma sebagai komoditas utama.

Wajar jika perdagangan menjadi sektor ekonomi utama untuk wilayah ini dari masa ke masa. Bahkan, mata uang mereka, sistem administrasi mereka, teknologi mereka juga berpengaruh di wilayah Arab dan sekitarnya.

Termasuk di masa awal negara Islam, mata uang mereka (dinar Romawi dan dirham Persia) digunakan sebagai alat tukar resmi negara.

Sumber gambar: salsa.com

Terkait tradisi bangsa Quraisy tadi, Allah Swt. bahkan mengabadikannya di dalam Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman,

لِاِيۡلٰفِ قُرَيۡشٍ

اٖلٰفِهِمۡ رِحۡلَةَ الشِّتَآءِ وَالصَّيۡفِ‌ۚ

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy,(yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.” (QS Al-Quraisy: 1-2)

Beberapa ahli tafsir menyebut perjalanan dagang musim dingin dilakukan ke utara, sementara perjalanan musim panas dilakukan ke selatan.

Dengan Islam, Madinah dan Jazirah Berhasil Menjadi Pusat Kekuasaan Negara Adidaya

Dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, Muhammad Husein Haikal (hal. XlII) dan kitab sejarah lainnya menyebutkan bahwa tak sampai 150 tahun sejak kepemimpinan Rasulullah saw. di Madinah, lalu berganti kepemimpinan oleh para khalifah, baik masa Khalifah Rasyidah yang empat, hingga masa kekuasaan Bani Umayyah dan Abbasiyah, bendera Islam sudah berkibar ke wilayah yang sangat luas.

Yakni meliputi jazirah Arab, Syam (meliputi Suriah, Lebanon, Yordania, dan Palestina sekarang), Irak, Persia (Iran), Afghanistan, Mesir, Tunis, Aljazair, Maroko sampai ke Andalusia di Eropa bagian Barat. Lalu ke India, Turkistan hingga ke Tiongkok di Asia Timur.

Pada masa pemerintahan Bani Umayyah (41-133 H/661-750M) misalnya, perluasan wilayah kekuasaan Khilafah Islamiah dilakukan ke wilayah timur, utara, dan barat.

Perluasan ke utara dilakukan dengan menyerang wilayah Kekaisaran Bizantium. Hingga di bawah kepemimpinan panglima Thariq bin Ziyad misalnya, kota Cordoba, Granada, dan Toledo yang merupakan ibu kota Visigoth di semenanjung Iberia (Andalusia atau Spanyol) berhasil ditaklukkan.

Sumber gambar: googlesites

Dalam buku Api Sejarah I halaman 65, sejarawan Mansyur Suryanegara menyebut, di masa dinasti ini pula penaklukan sudah sampai ke wilayah Savoya Italia, Swiss, Bordeuaux, hingga Poitiers di Prancis.

Adapun di masa kekuasaan Bani Abbasiyah (133-656 H/750-1258 M), penaklukan memang tidak semasif dinasti Ummayah, meskipun misi-misi dakwah dan jihad tetap berjalan.

Di masa inilah pusat kekuasaan pindah ke Cordoba dan fokus mengukuhkan penegakan sistem Islam di seluruh wilayah Khilafah Islam yang sudah sedemikian luas. Hingga di masa ini peradaban Islam demikian memancar hingga Cordoba benar-benar menjadi pusat peradaban dunia.

Tatkala estafet kekuasaan politik Islam berpindah pada dinasti Utsmaniyah tegak (1055-1924 M), pusat kekuasaan Bizantium di Konstantinopel berhasil ditaklukkan pada tahun 1453 M.

Sejak masa inilah Islam makin menyebar ke wilayah lainnya hingga Balkan, Rusia, Polandia ter-sibghah oleh Islam. Begitu pun dakwah, makin masif dilakukan Khilafah ke wilayah Timur Jauh termasuk wilayah Nusantara.

Sumber: hayaatuna.com.

Tak heran jika agama fitrah ini dengan mudah menyebar ke seantero jagat. Kekuasaan politik Khilafah sampai meliputi 2/3 dunia, yang mana sebagian besar penguasa wilayah menerima kekuasaan Islam itu dengan damai tanpa peperangan.

Hal ini sejalan dengan penerimaan mereka dan penduduknya terhadap dakwah Islam serta kian tampilnya wibawa Khilafah dalam percaturan politik internasional.

Mengembalikan Peta Kekuatan Politik Umat Islam

Hari ini, peta demografi dunia memang didominasi negeri-negeri berpenduduk muslim. Namun, sebagaimana hadis Rasulullah saw. yang disabdakan 14 abad silam, eksistensi mereka bak buih di lautan. Terserak, tapi tak punya kekuatan.

Sumber: wikipedia

Sejak Khilafah Islam diruntuhkan pada tahun 1924, umat Islam tak lagi memiliki kepemimpinan politik. Jumlah penduduk yang besar, wilayah penyebaran atau negeri-negeri yang luas, serta aneka potensi kekayaan yang melimpah ruah, tak mampu menjadi modal membangun posisi politik dan strategis di hadapan kekuatan lawan.

Tak heran jika umat Islam hari ini terposisi sebagai pecundang, bahkan menjadi objek penjajahan. Kehormatan dan harta mereka direnggut, bahkan agama mereka dihinakan.

Melalui perang pemikiran dan budaya yang masif dilancarkan musuh-musuh Islam, benak-benak umat dijauhkan dari sejatinya Islam.

Padahal Islamlah yang dulu telah memuliakan mereka, dan mengangkat harkat martabat mereka hingga menjadi sebaik-baik umat yang dihadirkan di antara manusia.

Pertanyaannya, hingga kapan kondisi ini dibiarkan?

Sungguh, musuh–yakni negara-negara pengusung ideologi kapitalisme–tidak akan membiarkan bandul sejarah kembali kepada umat Islam.

Maka, umat Islam sendirilah yang harus mengubah keadaan, yakni dengan mengembalikan Islam sebagai sumber kekuatan.

Islam yang hari ini ada pada diri umat harus kembali direvitalisasi hingga dipahami bukan sekadar agama ritual yang tak memberi arti bagi sebuah peradaban. Islam harus dikembalikan pada jati dirinya sebagai sebuah ideologi kehidupan.

Caranya, dengan menggencarkan dakwah Islam kafah dengan gambaran konstruktif dalam menyelesaikan aneka problem hidup yang mereka hadapi. Hingga muncul pada diri umat kerinduan untuk kembali hidup di bawah naungan hukum-hukum Islam. [MNews/Juan]

Dinarasikan ulang dari berbagai bacaan.

Tinggalkan Balasan