Sutayta al-Mahamali, Muslimah Pengembang Aljabar dari Baghdad


Penulis: Ruruh Anjar


MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Perempuan pada era Kekhilafahan Islam memiliki peran besar dalam membangun peradaban. Selain sebagai pencetak generasi khairu ummah dan mengemban dakwah Islam, perempuan juga diberi kesempatan yang luas untuk berkiprah dalam ilmu dan teknologi.

Peran penting ini tetap dijaga sesuai fitrahnya, berjalan dalam koridor syariat, dan tidak menghalanginya untuk meraih predikat tertinggi yang Allah janjikan: Takwa.

Sutayta al-Mahamali (wafat 987 M) adalah putri dari seorang qadhi, Abu Abdallah al-Hussein, yang berasal dari Baghdad dan hidup pada paruh kedua abad ke-10 M.

Kala itu Baghdad dipimpin Khalifah Abu Ja’far al-Mansur yang sangat memperhatikan perkembangan ilmu dan teknologi, sehingga Baghdad pun menjadi pusat pengetahuan dunia.

Di saat yang sama, Eropa sedang terjebak dalam kejumudan dan takhayul. Bahkan, Kekhilafahan Islam berhasil menjadi mercusuar yang memberikan banyak kontribusi bagi peradaban semesta yang gemilang.

Selain dikenal sebagai penghafal Al-Qur’an dan sosok yang rendah hati, Sutayta sangat antusias untuk mengeksplorasi minatnya di bidang agama dan sains.

Ayahnya, yang juga penulis kitab Fi al-Fiqh dan Salat al-‘Idayn, mengajarkan aneka pengetahuan untuk Sutayta.

Lebih dari itu, ia berinisiatif pula mendatangkan banyak guru untuk Sutayta. Sebut saja Abu Hamza bin Qasim, Omar bin Abdul Aziz al-Hashimi, Ismail bin al-Abbas al-Warraq, dan Abdul al-Ghafir bin Salamah al-Khamsi.

Baca juga:  Maryam Al-Asturlabi, Perintis Awal GPS

Dari sini, Sutayta mendalami sastra Arab, ilmu hadis, ilmu hukum, naskah-naskah, dan matematika, dua ratus tahun sebelum Eropa menghasilkan perempuan dengan pendidikan dan ketenaran yang sebanding dalam bentuk Heloise of Argenteuil dan Trota of Salerno.

Ia pun mampu memberikan rekomendasi-rekomendasi terhadap wawasan hukum dan matematika.

Bahkan, dengan kecerdasan yang dikaruniakan Allah kepadanya, Sutayta berhasil memecahkan ragam persoalan waris yang menyiratkan adanya tahap lanjut dari bidang ilmu yang sedang berkembang di masa tersebut, yaitu aljabar.

Pertanyaan terkait warisan dan jumlah nominal yang tepat dalam pendistribusian yang sesuai alur ahli waris, dapat dipecahkan secara baik oleh Sutayta.

Jika dibandingkan dengan teori-teori dari dua pakar matematika klasik sebelumnya, Al-Khawarizmi (satu abad sebelum kelahiran Sutayta) dan Abu Kamil (850—930 M, tepat sebelum Sutayta), yang memberi perhatian lebih dalam menyusun kategori seluruh sistem persamaan.

Seperti pemecahan Al-Khawarizmi, atau pemecahan Abu Kamil yang melibatkan nilai irasional, maka akan tampak adanya kecanggihan pemecahan aljabar yang ditawarkan Sutayta.

Sutayta juga dikenal dapat memecahkan persoalan individu dan umum yang terkait dengan tindak lanjut karya Al-Khawarizmi dan Abu Kamil.

Lebih dari itu, Sutayta berhasil memodifikasinya, termasuk memecahkan persamaan tipe kubik yang masih dianggap sulit oleh para matematikawan setelahnya yaitu Ibnu al-Haytham (965—1040 M) dan Umar Khayyam (1048—1130 M).

Baca juga:  Khilafah Melahirkan Intelektual Inovatif Pembangun Peradaban Islam

Kemahiran Sutayta menarik simpati sejumlah sejarawan. Ibnu al-Jawzi, Ibnu al-Khatib Baghdadi, dan Ibnu Katsir mengakui serta memuji kemampuannya di bidang matematika.

Ia pun sangat menguasai ilmu hisab atau aritmetika, dan perhitungan waris. Bahkan Sutayta juga diakui sebagai pakar di bidang sastra Arab, ilmu hadis, dan hukum.

Sosok Sutayta al-Mahamali memberikan gambaran bahwa penerapan sistim pendidikan Islam mampu membidani lahirnya kaum intelektual yang menjadikan agama sebagai penopangnya, termasuk bagi perempuan.

Dengan sistem ini, terbentuk manusia-manusia berkepribadian (syakhsiyah) Islam sekaligus menjadikannya pakar di berbagai disiplin ilmu yang diminatinya. Tanpa batas usia, tanpa sekat pembeda, tanpa batas wilayah, dan menjadi tanggung jawab penuh bagi negara.

Seluruhnya ditujukan dalam rangka mengamalkan Islam sebagai jalan hidup dan solusi semua persoalan. Hingga akhirnya, muncullah generasi emas yang memberi kontribusi nyata dalam peradaban dunia. Bukan untuk harta dan tahta, melainkan demi rida-Nya semata. [MNews/Juan]

*Diolah dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan