Dzakwan bin Kaisan, si Burung Merak Ahli Fikih

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Sering kali kita mendengar hadis Nabi Saw., yang mengatakan jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di depan penguasa zalim.

Dakwah amar makruf nahi mungkar haruslah menjadi tabiat setiap muslim. Terutama dalam hal mengoreksi dan meluruskan kebijakan penguasa zalim.

Tokoh tabiin yang satu ini memberi keteladanan berharga tentang bagaimana sikap yang semestinya dilakukan seorang muslim melihat kezaliman dan kemungkaran di depan mata.

Ia kerap menasihati para khalifah dengan petuahnya yang tegas dan menggetarkan jiwa. Dialah Dzakwan bin Kaisan yang bergelar Thawus (Si Burung Merak). Gelar ini diberikan kepadanya karena ia merupakan Thawus Fukaha, pelopor ulama fikih di masanya.

Keteguhan Thawus

Thawus bin Kaisan merupakan warga negara Yaman. Ketika itu, provinsi Yaman berada di bawah kekuasaan Muhammad bin Yusuf ats-Tsaqafi, saudara Hajjaj bin Yusuf.

Ia ditunjuk oleh Hajjaj untuk menjabat sebagai gubernur wilayah Yaman, setelah kekuasaannya bertambah besar dan kuat. Pada diri Muhammad bin Yusuf ini terkumpul semua keburukan-keburukan saudaranya, al-Hajjaj.

Thawus adalah teladan yang mengesankan. Kemantapan imannya, tutur katanya yang jujur, zuhud terhadap dunia, dan keberaniannya mengatakan kebenaran di hadapan penguasa tidak pernah luntur meski penguasa memberinya banyak hadiah.

Ia kembalikan hadiah-hadiah itu secara langsung. Para penguasa kala itu banyak memberi hadiah kepada Thawus agar ia mengurangi kritik tajam yang senantiasa ia lakukan.

Suatu hari, di pagi yang dingin, Thawus bin Kaisan bersama Wahab bin Munabbih menghadap Muhammad bin Yusuf.

Setelah keduanya mengambil tempat duduknya masing-masing, mulailah Thawus menasihati Muhammad bin Yusuf. Di sekelilingnya, banyak warga ikut mendengarkan.

Kemudian gubernur berkata pada salah seorang penjaga, “Hai penjaga, ambilkanlah thailasan (jubah hijau yang biasa dipakai oleh ulama Persia) dan taruhlah di pundak Abu Abdurrahman (nama panggilan yang lain untuk Thawus bin Kaisan)!”

Penjaga itu mengambil sebuah jubah yang mahal harganya, lalu ia selubungkan ke pundak Thawus.

Thawus masih tetap memberikan nasihatnya sambil menggerak-gerakan pundaknya dengan perlahan hingga akhirnya jubah itu terlepas. Setelah itu, Thawus pun berdiri dan pergi meninggalkan tempat tersebut.

Bukan main murkanya Muhammad bin Yusuf melihat sikap Thawus. Tapi ia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Ketika Thawus dan sahabatnya telah berada di luar, berkatalah Wahab kepada Thawus, “Demi Allah, kita tidak perlu membangkitkan kemarahannya. Apa salahnya kalau jubah itu engkau ambil lalu engkau jual. Kemudian hasilnya engkau sedekahkan kepada kaum fakir dan miskin?”

Thawus menjawab, “Pendapatmu memang benar. Tapi aku khawatir para ulama sesudahku akan berkata, ‘Mari kita ikuti langkah Thawus,’ Tapi mereka tidak berbuat terhadap apa yang mereka ikuti itu seperti apa  yang engkau katakan.”

Upaya Muhammad bin Yusuf menghinakan martabat Thawus dengan menyogoknya tetap dilanjutkan. Meski usaha pertamanya gagal, dengan kekuasaan yang ia genggam, tak patah semangat.

Kali ini, ia ingin melipatgandakan pemberiannya 1.000 kali lebih mahal.

Diutuslah seorang pegawainya yang cerdik seraya berpesan kepadanya, “Pergilah! Bawa kantong ini pada Thawus bin Kaisan. Upayakan agar ia mau menerimanya. Kalau kau berhasil, maka aku akan memberi hadiah yang banyak kepadamu. Aku akan naikkan pangkatmu!”

Sambil membawa kantong uang tersebut, pegawai itu pun pergi ke rumah Thawus yang ketika itu tinggal di sebuah desa dekat Shan’a bernama Janad.

Sesampainya di sana, ia memberi salam pada Thawus dan mengucapkan kata-kata yang ramah, “Wahai Abu Abdurrahman! Sekantong uang ini dikirimkan oleh gubernur untuk Anda!”

Thawus menjawab, “Saya tidak membutuhkannya.”Orang itu berupaya dengan segala cara agar Thawus mau menerima uang itu. Tapi Thawus tetap tidak mau. Pegawai itu akhirnya secara diam-diam meletakkan kantong uang itu di sudut rumah Thawus.

Kemudian ia kembali pulang menemui gubernur, lalu berkata, “Kantong itu telah diambil oleh Thawus!” Mendengar laporan itu, Muhammad bin Yusuf pun senang.

Beberapa hari setelah itu, sang gubernur itu mengutus dua orang dan diikuti pula oleh utusan yang membawakan hadiah untuk Thawus.

Tujuannya adalah mengambil kembali hadiah yang tempo hari itu diberikan kepada Thawus. Agar tidak ketahuan kelicikannnya, sang gubernur meminta utusannya berkilah jika hadiah tersebut keliru.

“Untuk itu, sekarang kami datang untuk menariknya kembali dan menyampaikannya kepada orang yang benar,” kata pegawai  itu kepada Thawus.

Meski tidak tahu bahwa pertanyaan itu adalah jebakan untuk menjatuhkan martabatnya. Thawus menjawab dengan tenang dan apa adanya. “Aku tidak menerima apa-apa dari Anda, apanya yang harus aku kembalikan?”

Kedua orang itu bersikeras, “Anda memang telah mengambilnya!” Lalu Thawus berpaling kepada orang yang membawa kantong tempo hari, kemudian ia bertanya, ‘Apakah memang saya telah mengambil sesuatu darimu?”

Orang itu menjawab ketakutan, “Tidak. Tapi saya telah meletakkan uang itu di sudut rumah ketika Anda lalai!”

Thawus berkata, “Kalau begitu, periksalah sudut rumah itu!” Ketika mereka memeriksanya, ternyata kantong uang itu masih berada di sana.

Lalu mereka pun mengambilnya dan membawanya kembali pada gubernur dengan rasa malu.

Kisah Thawus dengan Khalifah

Ketika Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik sampai di pinggir Baitullah dan memuaskan kerinduannya kepada Ka’bah yang mulia, tiba-tiba ia menoleh kepada pengawalnya dan berkata, “Carilah seorang alim yang bisa mengingatkan kita akan hari yang amat panas di antara hari-hari Allah Azza wa Jalla ini!”

Pergilah pengawal itu mencari orang yang dimaksud di antara orang-orang yang naik haji pada saat itu.

Setelah bertemu dengan orang yang dicarinya, pengawal itu berkata pada Sulaiman, “Orang yang tuan maksud adalah Thawus bin Kaisan. Dia adalah penghulu para ahli fikih di masanya. Dia yang paling benar ucapannya dalam menyeru kepada Allah.”

Khalifah Sulaiman pun memanggil Thawus. Sesampainya Thawus tiba bersama pengawal utusan Khalifah, ia memberi salam lalu duduk.

Lalu Khalifah mulai mengajukan soal-soal tentang manasik haji yang belum ia pahami. Khalifah dengan seksama dan penuh penghormatan mendengarkan jawaban Thawus.

Berkesempatan bertemu Khalifah tidak menyurutkan langkah Thawus dalam memberikan nasihat kepada penguasa di hadapannya.

Ia berkata kepada Khalifah, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya di dalam neraka jahanam itu ada sebuah sumur yang kalau dilemparkan sebuah batu dari tepi atasnya, batu tersebut akan melayang-layang di dalamnya selama 70 tahun sebelum ia tiba di dasarnya. Tahukah Anda, bagi siapakah Allah menyediakan sumur jahanam itu, wahai Amirul Mukminin?”

Khalifah menjawab tanpa pertimbangan, “Tidak.” Namun, tiba-tiba ia tersadar dan berkata, “Celaka, untuk siapa sumur itu disediakan?”

Thawus menjawab, “Disediakan oleh-Nya untuk mereka yang menyekutukan Allah dalam kekuasaan-Nya lalu mereka berbuat aniaya.”

Mendengar penjelasan ini, gemetarlah tubuh sang Khalifah. seakan ruhnya akan melayang dari kedua rusuknya. Kemudian ia menangis terisak-isak, isakannya menyayat hati orang yang mendengarnya.

Thawus lalu pergi meninggalkannya, dan sang Khalifah mengulang-ulang ucapannya terima kasihnya pada Thawus karena telah mengingatkan dengan nasihat berharga.

Ketika Umar bin Abdul Aziz memegang tampuk pemerintahan ia mengirim sepucuk surat kepada Thawus bin Kaisan, “Berilah saya nasihat, wahai Abu Abdirrahman!”

Thawus menjawab surat itu dengan satu baris kalimat saja, “Jika Anda ingin agar amal Anda semuanya adalah kebaikan semata, maka pergunakanlah untuk  kebaikan. Wassalam.”

Setelah Umar membaca isi surat tersebut, ia berkata, “Nasihat ini telah mencukupi. Nasihat telah mencukupi!”

————

Keteguhan hati dan keberanian Thawus menyisakan tanya untuk kita. Seteguh apa kita mengimani Allah dan Rasul-Nya? Sudahkah kita lantang menyuarakan kebenaran Islam dan melawan segala bentuk kezaliman dengan berani?

Bagi Thawus, kebaikan secara total dapat terwujud bila dimulai dari penguasa. Penguasa yang menerapkan Islam secara kaffah berimbas pula pada rakyat yang dipimpinnya.

Jika penguasa bertakwa, negara melaksanakan sistem syariat secara menyeluruh, rakyat pasti menaatinya. [MNews/Chs]

Tinggalkan Balasan