Surat Rasulullah Saw. kepada Para Raja Himyar

Para Raja Himyar mengirimkan utusan untuk memberitahukan tentang keislaman mereka. Sebagai balasan, Rasulullah saw. pun menulis surat untuk mereka. Seperti apa isinya?


Penulis: Nabila Ummu Anas


MuslimahNews.com, SIRAH NABAWIYAH — Setelah Rasulullah saw. pulang dari Tabuk, beliau mendapat kiriman surat dari para Raja Himyar. Mereka juga mengirimkan utusan untuk memberitahukan tentang keislaman mereka. Para raja yang masuk Islam adalah Harits bin Abdu Kulal, Nu’aim bin Abdu Kulal, Nu’man raja Dzu Ru’ain, Ma’afir, dan Hamdan.

Zur’ah Dzu Yayan juga mengirim seorang utusan, Malik bin Murrah ar Rahawi kepada Rasulullah saw. guna melaporkan bahwa kabilah mereka telah masuk Islam, mereka menentang kesyirikan dan para penganutnya. Rasulullah saw. pun menulis surat untuk mereka.

Surat Rasulullah Saw. kepada Harits bin Abdu Kulal, Nu’aim bin Abdu Kulal, Nu’man raja Dzu Ru’ain, Ma’afir, dan Hamdan

Bismillahirrahmannirrahim. Dari Muhammad utusan Allah dan Nabi-Nya kepada Harits bin Abdu Kulal, Nu’aim bin Abdu Kulal, Nu’man Raja Dzu Ru’ain, Ma’afir, dan Hamdan. Aku memuji Allah atas nikmat yang Allah karuniakan kepada kalian, yang tidak ada Tuhan kecuali Dia.

Amma ba’du. Utusan kalian tiba di tempat kami tidak lama setelah kami pulang dari Romawi. Kami bertemu utusan kalian di Madinah. Utusan kalian telah menyampaikan kepada kami apa saja yang kalian pesankan kepadanya.

Mereka menjelaskan tentang posisi kalian, tentang masuk Islamnya kalian, dan tentang tindakan kalian yang memerangi orang-orang  musyrik.

Allah Swt. telah memberi petunjuk kalian dengan petunjuk-Nya dan telah memperbaiki diri kalian. Untuk itu taatilah Allah dan Rasul-Nya, dirikanlah salat, bayarlah zakat, dan berikanlah seperlima dari hasil rampasan perang yang menjadi hak Allah dan Rasul-Nya, serta berikanlah sebagian harta rampasan perang yang dikhususkan untuk pemimpin sebelum harta rampasan perang itu dibagi.

Allah mewajibkan orang-orang beriman untuk mengeluarkan zakat dari hasil bumi, yaitu sepersepuluh dari hasil tanaman jika diairi dengan mata air atau air hujan, dan seperduapuluh dari hasil tanaman jika diairi dengan menggunakan timba (tenaga manusia). Zakat binatang yaitu ibnatu labun (anak unta betina yang berumur dua tahun) untuk setiap empat puluh ekor unta. Ibnu labun (anak unta jantan yang berumur dua tahun) untuk setiap tiga puluh ekor unta, seekor kambing untuk setiap lima ekor unta, dua ekor kambing untuk setiap sepuluh ekor unta, seekor sapi untuk setiap empat puluh ekor sapi, seekor anak sapi jantan atau betina yang berumur satu tahun (tabi’ jadza’ atau jadza’ah) untuk setiap tiga puluh ekor sapi, dan seekor kambing untuk setiap empat puluh ekor kambing yang digembalakan.

Semua itu merupakan kewajiban dari Allah tentang masalah zakat yang diwajibkan atas orang-orang yang beriman. Siapa saja yang mau menambah kebaikan itu, maka itu lebih baik baginya. Siapa saja yang menunaikan kewajiban-kewajiban tersebut, maka aku akan menjadi saksi atas keislamannya. Siapa saja yang membantu kaum mukmin dalam menghadapi orang-orang musyrik, maka ia termasuk golongan kaum mukminin. Dengan demikian ia mempunyai hak dan kewajiban sebagaimana mereka, dan dia berhak mendapatkan jaminan Allah dan Rasul-Nya.

Siapa saja di antara orang-orang Yahudi dan Nasrani masuk Islam, maka ia menjadi bagian dari kaum mukminin, sehingga ia memiliki hak dan kewajiban sebagaimana mereka. Siapa saja yang memilih tetap memeluk agama Yahudi atau Nasrani, maka ia tidak boleh dipalingkan dari agamanya, namun ia berkewajiban membayar jizyah sebesar satu dinar yang seharga dengan harga al Ma’afir (sejenis pakaian Yaman) atau yang seharga dengannya.

Jizyah itu diambil dari orang Yahudi atau Nasrani yang telah bermimpi (balig). Siapa saja menunaikan hal tersebut kepada Rasulullah saw., maka ia berhak atas jaminan Allah dan Rasul-Nya. Siapa saja yang menolak menunaikan hal tersebut, maka ia musuh Allah dan Rasul-Nya.

Surat Rasulullah Saw. kepada Zur’ah Dzu Yayan

Amma ba’du. Sesungguhnya Muhammad Nabi Allah dan sekaligus utusan-Nya telah mengirim para utusan kepada Zur’ah Dzu Yayan. Sehingga apabila para utusanku itu datang kepada kalian, maka hendaklah kalian berbuat baik kepada mereka. Para utusanku adalah Mu’adz bin Jabal, Abdullah bin Zaid, Malik bin Ubadah, Uqbah bin Namir, Malik bin Murrah dan sahabat mereka yang lain.

Hendaklah kalian mengumpulkan zakat dan jizyah kalian dari daerah-daerah kalian. Kemudian, berikanlah zakat dan jizyah kalian itu kepada para utusanku. Sedang yang menjadi pemimpin utusanku adalah Mu’adz bin Jabal. Untuk itu, jangan dibiarkan ia pulang kecuali dalam keadaan rida.

Amma ba’du. Sesungguhnya Muhammad bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Malik bin Murrah ar Rahawi telah memberitahu aku bahwa engkau (Zur’ah Dzu Yayan) adalah orang Himyar yang pertama kali masuk Islam dan engkau telah memerangi orang-orang musyrik.

Oleh karena itu, aku sampaikan berita gembira, menyuruhmu agar berbuat  baik kepada orang-orang Himyar, jangan berkhianat, dan jangan saling menelantarkan, sebab Rasulullah saw. adalah pelindung kalian, yang kaya dan miskin.

Sesungguhnya zakat tidak halal bagi Muhammad dan keluarganya, namun zakat adalah untuk orang-orang fakir dan para musafir di antara kaum muslimin. Sesungguhnya Malik bin Murrah ar Rahawi adalah orang yang amanah, dapat dipercaya dan mampu menjaga rahasia. Oleh karena itu, aku perintahkan kalian agar berbuat baik kepadanya.

Aku telah mengirim kepada kalian orang-orang yang paling saleh di antara keluargaku, orang-orang yang paling baik agamanya, dan orang-orang yang paling banyak ilmunya. Oleh karena itu aku perintahkan kalian berbuat baik kepada mereka. Sebab banyak orang yang sedang menantikan kebaikan mereka.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Isi surat Rasulullah saw. ini menunjukkan kebijakan beliau saw. sebagai kepala negara Madinah yang menerapkan syariat Islam kepada seluruh warga negara Madinah. Sebagai warga negara, mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kaum mukminin. Ketika mereka menaati aturan negara Islam, mereka berhak mendapatkan jaminan Allah dan Rasul-Nya. [MNews/Rgl]

Sumber: Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, Al Azhar Press

Tinggalkan Balasan